Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 37 Insiden Batuk Lagi


__ADS_3

Pangeran ElRasyid Al-Hasan benar-benar memanjakan sang istri dengan sangat sempurna. Berkali-kali putri Medina Al-Akhmaar mendessah nikmat karena perbuatannya.


Kenikmatan dunia itu mereka raih bersama dengan penuh cinta sampai pangeran ElRasyid Al-Hasan meledakkan dirinya di dalam tubuh putri mahkota itu dengan senyum puas diwajahnya.


"MasyaAllah, hari ini kita melakukan banyak hal tuan putri." ucap pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari melakukan ritual perawatan pada daerah inti sang putri. Pria tampan itu selalu melakukannya agar tubuh sang putri selalu sehat dan terawat dengan baik.


Putri Medina Al-Akhmaar tidak menjawab. Ia hanya memejamkan matanya menikmati kelihaian tangan suaminya dibawah sana yang sangat perhatian padanya setelah selesai melakukan ritual ibadah yang sangat menyenangkan itu.


"Insyaallah apa yang kita lakukan hari ini bernilai pahala. Menyambut tamu dengan suka cita dan melakukan hal yang sangat indah seperti ini tuan putri."


"Anda tahu tubuh ini, sangat lezat dan nikmat lebih dari biasanya." Tangannya terus bergerak membelai dan mendorong mahkota tersembunyi dari putri Medina Al-Akhmaar itu.


"Hummm..." pangeran ElRasyid Al-Hasan terus berbicara seakan membacakan sebuah dongeng pada istrinya yang sudah nampak mengantuk itu.


"Alhamdulillah selesai. Sekarang tidurlah sayangku." pangeran ElRasyid Al-Hasan menarik selimut yang terbuat dari bulu domba yang sangat lembut untuk menutupi tubuh sang putri mahkota.


Untuk kali ini tidak ada ritual berendam bersama karena rasa lelah dan kantuk yang dirasakan oleh putri Medina Al-Akhmaar begitu sangat menderanya.


Pangeran ElRasyid Al-Hasan lantas ke kamar mandi untuk bersuci. Ia masih harus kembali ke Ambajadores, aula istana AlHambra. Sebagai tuan rumah pesta itu, ia harus membuat tamu-tamunya nyaman dan menikmati pesta itu.


Jubah terbaiknya ia pakai kembali dengan senyum merekah di wajahnya. Semangat baru kembali hadir karena telah melepas rindu pada sang istri tercinta.


Sebelum keluar dari kamar ia menyempatkan diri untuk mengecup lembut kening dan bibir putri mahkota yang sedang tertidur itu dan memberi pesan kepada Zarah binti Abdullah untuk selalu menjaga istrinya.


"Zarah, putri mahkota sedang beristirahat. Kamu tetap disampingnya jangan sampai tuan putri mencariku."


"Baik tuan."


"Katakan padanya aku kembali ke aula istana."


"Baik tuan."


Pangeran ElRasyid Al-Hasan pun pergi dari kamar itu diikuti oleh Abu Zubair dibelakangnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi putraku yang sangat tampan." permaisuri Umi Kalsum menyapa putranya itu dengan penuh kasih sayang saat bertemu dengan pangeran ElRasyid Al-Hasan di pintu masuk aula istana.


"Waalaikumussalam warahmatullahi ibunda." jawab pangeran ElRasyid itu sembari meraih tangan ibunya untuk dicium.


"Kamu darimana saja? ada banyak tamu yang mencarimu Pangeran." pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum meringis sembari menatap wajah ibunya yang juga menatapnya. Pria tampan itu kemudian menjawab,


"Aku bersama putri mahkota kerajaan AlHambra ini ibu. Aku memintanya untuk beristirahat di dalam kamar."


"Ya ya itu bagus putraku. Ibu juga yang memintanya untuk beristirahat. Membawa dua bayi dalam kandungan itu sungguh sangat berat. Ia harus lebih banyak waktu untuk membuat tubuhnya tidak terlalu melakukan hal-hal berat."

__ADS_1


"Iya ibu. Aku juga sudah memijat kakinya dan seluruh anggota tubuhnya "


"Seluruh?"


"Iya ibu, Apa ada yang salah?" pangeran ElRasyid Al-Hasan mengernyit bingung dengan ekspresi wajah sang ibu.


"Kalau begitu masuklah ke Aula. Ibu akan mengunjungi putri Medina Al-Akhmaar menantuku. Ibu ingin melihat pijatan apa saja yang sudah kamu lakukan untuknya."


"Ah ibu." pangeran ElRasyid Al-Hasan merasakan wajahnya menghangat. Ia jadi khawatir kalau perempuan yang melahirkannya itu akan tahu apa yang sudah dilakukannya pada sang istri.


"Kenapa pangeran? jangan katakan kalau kamu melarangku untuk memenuhi istrimu."


"Tidak ibu, silahkan saja ke kamarku. Ibu akan melihat putri mahkota pasti sedang tertidur karena kelelahan."


"Sesungguhnya ibu sangat ingin memeriksa keadaan perut putri Medina Al-Akhmaar. Membawa bayi kembar tidaklah mudah Pangeran. Anda harus lebih banyak memperhatikan kondisi tubuhnya."


"Iya ibu, aku baru saja memeriksa kedua anakku di dalam perut putri mahkota. Mereka bertiga baik-baik saja. Jadi ibu tidak perlu khawatir."


"Ya Allah, pantas saja para tamu mencarimu pangeran. Kamu benar-benar seperti paduka raja." permaisuri Umi Kalsum itu tersenyum samar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sangat dramatis.


Pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum kemudian segera meninggalkan ibunya karena malu.


"Assalamualaikum warahmatullahi ibu. Aku akan menemui para tamu. Ibu silahkan ke kamar pribadi kami. Akan ada pelayan yang akan mengantarmu ibu."


Di dalam kamar mewah dan sangat luas itu ia menemukan menantu yang sangat disayanginya itu masih tertidur dengan sangat pulas dibawah balutan selimut berwarna putih itu.


"Selamat datang, Assalamualaikum warahmatullahi permaisuri." ucap Zarah binti Abdullah yang sejak tadi duduk disamping tempat tidur sang putri mahkota.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Apa kamu yang bernama Zarah binti Abdullah?"


"Iya permaisuri, saya adalah Zarah binti Abdullah pelayan pribadi tuan putri Medina Al-Akhmaar sejak masih kecil."


"Oh, kamu sangat cantik dan baik hati."


"Terimakasih banyak permaisuri atas pujiannya." Zarah tersenyum malu kemudian menundukkan wajahnya.


"Saya yang ingin sekali berterima kasih padamu Zarah. Karena sudah menjaga tuan putri dengan sangat baik seperti ini. Andai almarhumah ibunya permaisuri Sabrina masih hidup pasti akan selalu berterima kasih juga padamu."


Permaisuri Umi Kalsum dari kerajaan Al Amin itu berjalan berkeliling di dalam kamar yang sangat luas dengan arsitektur yang sangat indah itu.


Sekeliling dinding kamar terdapat relief-relief bertuliskan kaligrafi Arab berisi Syair-syair yang sangat indah.


Istri dari raja Hasan Ishaaq itu menoleh ke arah ranjang besar di kamar itu ketika mendengar suara putri Medina Al-Akhmaar sang menantu.

__ADS_1


"Hummm Zarah, aku minta tolong berikan pakaianku di sebelah sana." ucap sang putri sembari berusaha bangun dengan pelan karena takut perutnya akan terjadi sesuatu pada Perutnya.


"Hati-hati putri." ujar permaisuri Umi Kalsum dan segera melangkah ke arah tempat tidur dan membantu menantunya itu untuk bangun. Selimut yang menutupi tubuh polos menantunya ia pegang karena melorot kebawah.


"Ibu, anda ada disini?" tanya putri Medina Al-Akhmaar dengan wajah kaget tidak percaya. Permaisuri Umi Kalsum itu tersenyum kemudian menatap bekas-bekas perbuatan putranya itu ditubuh bagian atas menantunya.


"Iya putri, ibu sudah berada di sini beberapa saat yang lalu saat anda masih beristirahat."


"Maafkan aku ibu, karena menyambutmu dengan penampilan seperti ini. Aku jadi malu ibu. Ini sangat tidak pantas." putri Medina Al-Akhmaar merasakan wajahnya menghangat. Perasaan malu benar-benar mendera hatinya saat ini.


"Tidak apa sayang, ini karena perbuatan putraku itu kan, sampai kamu kelelahan seperti ini."


"Ah ibu, aku sungguh malu. Maafkan aku."


"Hey, jangan malu seperti itu Anakku. Ibu sangat mengerti keadaanmu. Saat-saat, mengandung seperti ini perasaan ingin selalu bersama dengan suami itu pasti terjadi. Pangeran ElRasyid Al-Hasan milikmu. Manfaatkan ia dengan baik. hahaha."


"Ibu,.." putri Medina Al-Akhmaar menyembunyikan rasa malu dan bahagianya dengan menarik kembali selimut tebalnya untuk menutupi wajahnya.


"Jangan malu putri, anggap aku sebagai ibu kandungmu pengganti permaisuri Sabrina. Ceritakan apa saja pada ibu apa keluhanmu pada putraku."


"Aku samasekali tidak ada keluhan tentangnya ibu. Pangeran ElRasyid Al-Hasan sangat menyayangiku. Semua cinta ia limpahkan padaku ibu."


"Terimakasih karena telah melahirkan putra yang sangat tampan dan baik hati itu." putri Medina Al-Akhmaar langsung menghambur ke pelukan ibu mertuanya. Ia menumpahkan rasa bahagianya pada perempuan yang melahirkan suaminya itu.


"Ibu yang ingin berterimakasih padamu sayang, karena engkaulah yang berhasil mengambil hatinya yang selama ini tidak berniat untuk menikah."


"Benarkah ibu?"


"Iya, pangeran ElRasyid Al-Hasan itu sangat arogan dan tidak menyukai perempuan. Tetapi ketika mulai bertemu denganmu, ia memaksa kami untuk menjodohkan kamu dengannya." wajah cantik putri Medina Al-Akhmaar memerah karena bahagia.


"Dan Zarah, bolehkah ibu melamarnya untuk Abu Zubair?"


"Hah?" putri Medina Al-Akhmaar melotot tak percaya dengan kata-kata ibu mertuanya. Sedangkan Zarah binti Abdullah kembali terbatuk-batuk tanpa henti.


Uhukkkk uhukkkk uhukkkk


🍀


Bersambung


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2