Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 41 Perayaan Kemenangan


__ADS_3

Cling


Cling


Cling


Bunyi pedang saling beradu dengan sangat nyaring antara prajurit kerajaan AlHambra yang menjaga Istana dan prajurit dari pasukan khusus yang tidak dikenal itu.


Dua kubu itu mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk saling menjatuhkan lawan. Beberapa diantara prajurit penyerang berusaha mencari jalan untuk membuka gerbang utama istana agar mereka bisa menguasai Medan dengan cepat.


Prajurit koalisi Permaisuri Hindun itu sudah lama menunggu perintah untuk menyerang tetapi sampai dua hari mereka menunggu tidak ada kabar atau pesan dari permaisuri Raja Lukman Al-Akhmaar itu.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang sendiri untuk kepentingan dan keuntungan mereka sendiri. Panglima perang mereka yakin kalau otak penghianatan ini pasti sudah tidak punya nyali atau mungkin sudah tertangkap.


Nasib baik masih berpihak pada kerajaan AlHambra. Ketika prajurit mereka sudah hampir dilumpuhkan, Pangeran ElRasyid Al-Hasan yang baru pulang berperang tiba tepat waktu.


Mereka yang merasa sangat bahagia karena membawa kemenangan itu harus bertemu lagi dengan prajurit asing yang sengaja ingin menyerang langsung kerajaan yang sedang tidak siap itu.


Di depan gerbang istana, dua kekuatan itu kembali beradu.


"Hancuran pengacau keamanan istana! Allahu Akbar!" teriak pangeran ElRasyid Al-Hasan membakar semangat kembali para prajuritnya.


"Sedikit lagi kita sampai. Jangan sampai mereka menghancurkan Kebahagiaan kita. Serang!" titah penuh semangat itu membakar kembali semangat prajurit kompak dan penuh semangat itu.


Cling


Cling


Bugh


Bugh


Meskipun lelah tetapi semangat mereka tidak berkurang samasekali. Bagi mereka, membela tanah air adalah sebagian daripada iman.


Prajurit terbaik kerajaan AlHambra yang disambut dengan hunusan pedang dan juga senjata lainnya itu tidak tinggal diam.


Dibawah perintah dan arahan pangeran ElRasyid Al-Hasan mereka melawan dengan segenap jiwa dan raga mereka.


"Allahu Akbar! kemenangan sudah ada ditangan kita!" teriak pangeran ElRasyid Al-Hasan untuk membakar semangat para prajuritnya.

__ADS_1


Cling


Cling


Boom


Boom


Bunyi tembakan meriyam dari prajurit AlHambra sangat nyaring kedengaran dan ternyata berhasil membombardir camp-camp pertahanan Prajurit lawan.


Mereka kocar-kacir dan mencari tempat aman untuk berlindung. Bukit La Sabica itu mereka gunakan untuk melarikan diri.


"Allahu Akbar!" prajurit koalisi Permaisuri Hindun itu hancur dan menyisakan beberapa orang yang berhasil melarikan diri dan meninggalkan kerajaan AlHambra.


"Terimakasih banyak atas kegigihan para prajurit AlHambra dan Al Amin. Kalian pantas mendapatkan penghargaan yang setinggi-tingginya dari kerajaan AlHambra."


Gerbang istana dibuka setelah kesan Kemenangan sudah sampai ke dalam istana. Raja Lukman Al-Akhmaar bersama putri mahkota kerajaan AlHambra itu menyambut kedatangan prajurit dengan suka cita.


Para perawat dari tim kesehatan kerajaan AlHambra sudah bersiap di sebuah ruangan khusus untuk memberikan perawatan bagi para prajurit yang mungkin terluka.


Peralatan kesehatan makanan dan juga minuman sudah diatur sedemikian rupa agar para prajurit itu merasa nyaman. Istri-istri mereka sudah menunggu dengan sangat gembira dan berharap suami-suami mereka tidak mendapatkan luka yang parah.


"Tuan putri menunggu anda di dalam kamar tuan," ucap Zarah binti Abdullah yang menyambut kedatangan pangeran ElRasyid Al-Hasan itu di depan pintu kamar pribadi sang putri.


"Terimakasih banyak Zarah." pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan langkah cepat memasuki kamar pribadinya dengan tak sabar.


"Apa engkau menungguku juga Zarah?" tanya Abu Zubair dengan tatapan penuh rindu pada calon istrinya itu. Pelayan pribadi putri Medina Al-Akhmaar itu tertunduk malu. Hatinya berdebar sangat kencang dengan tatapan intens pengawal itu padanya.


"Apa aku harus mengatakannya tuan?"


"Tentu saja Zarah, aku sangat ingin mendengar itu dari bibirmu."


"Anda kembali dengan membawa kemenangan ini sudah membuat semua rakyat Andalusia gembira, tuan." wajah Zarah semakin menunduk karena tak mampu membalas tatapan tajam sang pengawal.


"Apakah engkau juga gembira Zarah?" pipi gadis itu menghangat. Warnanya memerah menahan rasa yang sangat syahdu dari dalam hatinya. Apalagi pengawal itu mengikis jarak dengannya.


Dada Zarah semakin berdebar sangat kencang. Ia rasanya lupa untuk bernafas saking groginya.


"Aku sudah tidak sabar menikahimu Zarah binti Abdullah. Sesungguhnya Allah maha tahu apa yang aku rasakan ini." bisik pria itu dengan suara bergetar. Dengan sangat terpaksa ia menjauhkan dirinya atau ia akan melakukan sebuah kesalahan besar pada gadis itu.

__ADS_1


Tubuh Zarah membeku. Ia tidak bisa berkata-kata. Wajahnya ia angkat dan mulai berani menatap mata elang Abu Zubair.


"Aku menunggumu tuan Abu Zubair." ucapnya pelan kemudian segera meninggalkan tempat itu atau hati mereka benar-benar kacau dan tidak bisa menghalau perasaan rindu yang tak terbendung itu.


Abu Zubair menarik nafas dalam-dalam. Tangannya yang terluka karena sabetan pedang tak ia rasakan sakitnya.


Hatinya yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran mengalahkan rasa sakit dan perih sabetan pedang lawan.


Ia hanya berharap pernikahannya dengan gadis itu segera dilaksanakan hari ini juga. Atau ia akan sangat tersiksa sepanjang waktu.


Dengan langkah cepat pengawal kepercayaan pangeran ElRasyid Al-Hasan itu segera melangkah ke ruangan raja Lukman Al-Akhmaar.


Ia ingin meminta pimpinan tertinggi kerajaan AlHambra itu memuluskan keinginannya menikahi Zarah binti Abdullah itu.


Sementara itu di dalam kamar pribadi calon penerus kerajaan AlHambra. Putri Medina Al-Akhmaar menyambut kedatangan sang suami tercinta dengan wajah yang sangat gembira.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh ya putri mahkota kerajaan AlHambra." salam pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan wajah dibuat seformal mungkin. Pria itu berdiri saja memandang sang istri yang menatapnya dengan binar bahagia.


Berita kemenangan atas perang yang dilakukan oleh para prajurit dari dua kerajaan AlHambra dan Al Amin itu membuatnya ingin berterima kasih dengan cara yang sangat istimewa.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh wahai panglima perang. Tahniah. Anda sudah membawa kemenangan yang sangat rakyat inginkan tuan ElRasyid Al-Hasan." putri Medina Al-Akhmaar menjawab tak kalah formalnya.


Pangeran tampan itu melangkah mendekat sembari meletakkan Mahkotanya di atas meja. Ia sangat rindu dengan perempuan cantik yang sedang mengandung dua anak kembarnya itu.


"Apakah ada ucapan terimakasih khusus atas kemenangan ini tuan putri?" tanyanya sembari tangannya meraih pinggang sang putri agar lebih dekat dengannya.


"Ada pangeran. Sangat khusus sampai anda tak akan bisa melukiskannya dengan kata-kata." putri Medina Al-Akhmaar menatap mata elang suaminya dengan pandangan tak biasa.


Beberapa hari ditinggal oleh sang suami cukup menguji adrenalinnya dengan pengkhianatan permaisuri Hindun dan putri Jasmine. Dan sekarang ia ingin sekali membuat tubuh dan pikirannya rileks bersama dengan sang pangeran.


Pangeran ElRasyid Al-Hasan ternyata sangat menginginkan hal yang sama.


Ketegangan dan emosi yang pria itu rasakan selama berada di dalam medan peperangan ingin ia obati dengan menyelam bersama sang istri untuk meraih kenikmatan dunia yang sangat indah.


🍀🍀🍀


Bersambung


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2