Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 21 Penyesalan Raja AlHambra


__ADS_3

Istana kerajaan AlHambra.


Permaisuri Hindun sedang berbincang dengan raja Lukman Al-Akhmaar di dalam kamar pribadinya. Perempuan itu sedang berusaha membujuk sang raja agar putri kandungnya yaitu putri Jasmine mendapat kedudukan yang tinggi di kerajaan.


"Aku berharap sekali paduka raja bisa mempertimbangkan putri Jasmine untuk menjadi menteri di dalam kerajaan ini."


"Menurutmu apakah putrimu itu mempunyai keahlian atau ilmu pengetahuan tentang kerajaan ini permaisuri?" raja Lukman Al-Akhmaar memandang wajah perempuan pengganti permaisuri Sabrina itu dengan wajah datar.


Entah kenapa hatinya begitu rindu pada permaisuri Sabrina, istri pertama yang sangat dicintainya itu yang justru pergi meninggalkannya tanpa sempat melihat pernikahan putri Medina Al-Akhmaar.


"Kalau anda memberinya kesempatan kenapa tidak? putri Medina Al-Akhmaar saja bisa anda beri kesempatan kenapa putriku tidak paduka?" Raja Lukman Al-Akhmaar terdiam. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan permaisuri Hindun itu dengan gegabah.


"Paduka raja bisa melihat sendiri kemampuan putri Jasmine. Ia paling menguasai hukum dan perundang-undangan."


"Nanti kita lihat sendiri kemampuan putri Jasmine. Kerajaan tidak boleh asal menunjuk pejabat jika belum memberinya tes kemampuan."


"Baiklah paduka raja. Aku masih menuggu keputusan terbaikmu untuk putriku putri Jasmine."


"Hem,"


"Apakah malam ini, anda akan menghabiskan malam bersamaku paduka?" tanya Permaisuri Jasmine dengan penuh harap. Ia sangat berharap raja Lukman Al-Akhmaar menemaninya malam ini setelah sekian lama mereka tidak pernah tidur bersama.


"Maafkan aku Hindun, aku belum bisa." jawab raja Lukman Al-Akhmaar sembari melepaskan belaian tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa? anda sungguh tidak adil padaku paduka." permaisuri Hindun mulai merajuk manja. Ia berusaha memeluk tubuh suaminya dengan sangat berani.


"Maafkan aku Hindun, aku belum bisa melupakan Sabrina." seketika pelukan permaisuri Hindun terlepas dari tubuh pimpinan tertinggi di kerajaan AlHambra itu.


Raja Lukman Al-Akhmaar pun meninggalkan istrinya dengan langkah cepat keluar dari kamar pribadi sang permaisuri. Rasa rindu dan bersalah akan selalu muncul didalam hatinya ketika sedang bersama dengan para selir-selir nya.


Permaisuri Hindun mendengus kesal. Dengan emosi dihatinya ia membanting semua barang yang berada di dalam kamarnya. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya. Untuk pertama kalinya ia menyesal melenyapkan nyawa permaisuri Sabrina.


Sewaktu permaisuri Sabrina itu masih hidup, ia lebih bisa menguasai tubuh dan hati raja Lukman Al-Akhmaar dengan cerita dan fitnah buruk pada ibunda putri mahkota itu.


Tetapi sekarang justru ketika wujud permaisuri Sabrina sudah tidak ada ia malah kesulitan mendapatkan hati dan tubuh suaminya sendiri.


"Ibu apa yang terjadi? kenapa kamar ini seperti sedang terjadi gempa bumi?" tanya putri Jasmine dengan wajah bingung.


Gadis itu baru saja masuk ke kamar pribadi sang ibu setelah sibuk bersenang-senang dengan para pelayannya.


"Ibu katakan sesuatu? siapa yang berani menyakitimu? kenapa kamu menangis ibu?" putri Jasmine meraih dua bahu ibunya yang belum menjawab pertanyaannya.


Perempuan paruh baya itu tidak mungkin menceritakan nasib buruknya selama ini pada putrinya.Bahwa raja Lukman Al-Akhmaar tidak pernah lagi memberinya nafkah batin sejak kematian permaisuri Sabrina.


Raja itu menganggapnya sebagai permaisuri pengganti dalam kedudukan di kerajaan AlHambra tetapi justru memudar dan menghilang di dalam kedudukan hati sang paduka raja.


"Ibu, katakan sesuatu ibu," putri Jasmine terus menerus memaksa ibu kandungnya itu untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Kembalilah ke kamarmu Jasmine. Ibu sedang tidak ingin berbicara pada siapapun saat ini." permaisuri Hindun berdiri dari duduknya kemudian melangkah ke arah ranjangnya yang sudah bertahun-tahun terasa sangat dingin.


"Ibu, aku akan menemani di sini. Aku takut ibu sakit." putri Jasmine bertahan tidak ingin keluar dari kamar pribadi ibunya. Ia takut meninggalkan ibunya yang sedang tidak baik-baik saja itu.


"Jasmine! ibu bilang keluar sekarang juga!" teriak perempuan itu dengan suara bergetar menahan emosi. Sungguh ia tidak ingin putrinya melihatnya dalam keadaan lemah seperti itu. Ia ingin selalu menunjukkan kalau ia mampu dan kuat mendampingi raja Lukman Al-Akhmaar.


"Ibu, jangan seperti ini."


"Keluar sekarang juga!"


"Baiklah ibu. Aku keluar." putri Jasmine akhirnya meninggalkan kamar ibunya


Sementara itu raja Lukman Al-Akhmaar membaringkan tubuhnya di ranjang permaisuri Sabrina istri pertama dan cinta pertamanya.


Ia merasakan sesal yang sangat pada hatinya. Sampai ibu kandung putri Medina Al-Akhmaar itu meninggal tak ada kebahagiaan yang ia berikan pada perempuan cantik dan sabar itu.


"Maafkan aku Sabrina. Aku termakan fitnah orang-orang tentang dirimu sayang,"


"Aku tidak tahu apa aku bisa mengobati rasa rindu dan sakit hati ini Sabrina."


🍀🍀🍀


Bersambung

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2