Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 55 Perkenalan Bayi Kecil


__ADS_3

Putri Medina Al-Akhmaar tak berhenti mengucapkan kalimat syukur atas berita gembira yang didapatkan pagi ini dari suaminya, pangeran ElRasyid Al-Hasan.


"MasyaAllah, pengawal anda ternyata bisa juga menjadi seorang tabib ya suamiku." ucap putri mahkota itu dengan senyum diwajahnya.


"Alhamdulillah. Abu Zubair memang pengawal terbaik. Ia banyak belajar dan juga sangat perhatian terhadap semua hal di sekitarnya. Tidak heran paduka raja mempercayakannya padaku."


"Aku ingin segera melihat kondisi Zarah dan bayinya pangeran."


"Baiklah, kita akan kesana sekarang tuan putri." ucap pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari menyambut tangan istrinya untuk melangkah keluar dari kamar mereka berdua.


"Aku juga mau ikut ibu,"


"Aku juga,"


Dua pangeran kecil Hasan dan Husain bersamaan mengikuti langkah kedua orang tua mereka untuk melihat bayi kecil yang sudah lama membuatnya penasaran.


"Baiklah, kalian bisa ikut. Tapi harus jadi anak yang baik ya, tidak boleh ribut."


"Tentu saja ibu, kami akan jadi anak yang sangat baik. Kami berdua kan sangat menyayangi bibi Zarah." jawab pangeran Hasan yang disetujui oleh pangeran Husain sang adik.


Mereka pun melangkah bersama menuju kamar Zarah binti Abdullah yang merupakan pelayan pribadi yang sekaligus dianggap sebagai adik oleh putri Medina Al-Akhmaar.


"Assalamualaikum warahmatullahi bayi cantik," sapa putri mahkota kerajaan AlHambra itu saat sampai di dalam kamar Zarah dan Abu Zubair.


Para pelayan yang mengikutinya menyimpan begitu banyak hadiah yang ia bawa sebagai hadiah bagi bayi yang baru lahir itu.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh tuan putri." jawab Zarah tersenyum dengan wajah bahagianya. Ia berusaha untuk bangun dan menyambut kedatangan tuan putrinya itu tetapi dilarang oleh sang putri mahkota.


"Istirahatlah Zarah, kamu pasti masih sangat lelah."


"Ah iya tuan putri. Ternyata melahirkan itu sangat menyakitkan tetapi setelah itu Alhamdulillah rasanya langsung ringan."

__ADS_1


"Iya Zarah. Dibalik rasa sakit itu ada rasa nikmat yang tak bisa kita lukisan. Subhanallah, maha suci Allah."


"Ah iya tuan putri. Menjadi seorang ibu adalah nikmat yang tak terhitung nilainya. Saya sangat bahagia." ucap Zarah dengan lelehan air mata bahagia dipipinya.


"Selamat bibi Zarah. Bayi kecil yang ada di dalam perut bibi akhirnya keluar juga." ucap pangeran Husain dengan senyum di wajahnya. Dan membuat istri dari Abu Zubair itu semakin merasakan perasaan haru. Tangannya pun bergerak menghapus air mata yang semakin keluar dari kelopak matanya.


"Wahai bibi Zarah, jangan menangis. Bibi seharusnya sangat bahagia karena perut bibi sudah kempes dan bisa ikut berolahraga bersama kami, hahaha." pangeran Hasan tertawa terpingkal-pingkal dengan ucapannya sendiri dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari ibunya.


"Ibu sudah bilang kan sama kalian kalau tidak boleh ribut karena ada bayi kecil di sini." Dua pangeran kecil itu langsung menutup mulutnya dengan tangan mereka masing-masing.


"Apakah bayi kecilnya sudah bisa mendengar wahai ibu?" bisik pangeran Hasan ditelinga sang ibu.


"Tentu saja sayang, karena sesungguhnya indra pendengaranlah yang pertama kali di berikan oleh Tuhan pada manusia."


"MasyaAllah. Berarti bayi kecilnya sudah bisa mendengar suaraku ibu?" tanya pangeran Hasan sembari memandang wajah mungil cantik yang sedang dibalut selimut itu.


"Iya, makanya itu kalian jangan ribut agar adik bayinya tidak terganggu dan berakhir menangis."


"Tapi kan ia sedang tidur ibu," ucap pangeran Husain tanpa melepaskan tatapannya pada bayi yang sedang tertidur itu.


Oeeeek Oeeeek Oeeeek


Oeeeek Oeeeek Oeeeek


"Zarah, sepertinya bayimu sedang lapar. Kamu berikan ia susu terlebih dahulu."


"Iya tuan putri. Akan saya berikan susunya."


"Apakah air susumu lancar Zarah?"


"Alhamdulillah, lancar tuan putri." jawab perempuan itu tersenyum kemudian meraih putrinya dan segera ia berikan makanan pokoknya itu dengan wajah gembira.

__ADS_1


"Apakah tidak sakit Zarah?" tanya putri Medina Al-Akhmaar melihat pelayannya itu tidak mengernyit sama sekali saat bayi mungil itu melahapnya dengan rakus.


"Alhamdulillah sangat sakit juga tuan putri, tapi berusaha saya tahan. Saya ingat sewaktu anda baru menyusui kedua pangeran ini. Pasti awalnya akan sakit dan lama-kelamaan akan membaik kan?"


Putri Medina Al-Akhmaar tersenyum. Ternyata Zarah binti Abdullah lebih dewasa daripada dirinya sendiri.


"Kamu hebat Zarah, kamu tidak pernah mengeluh dan juga cepat belajar dari apa yang kamu lihat di depan matamu."


"Terimakasih banyak tuan putri, tetapi itu semua karena anda. Anda yang banyak mengajarkan saya banyak hal." ucap perempuan cantik yang baru melahirkan itu dengan senyum diwajahnya.


"Kamu selalu merendah Zarah." ucap putri Medina Al-Akhmaar kemudian berdiri dari duduknya.


"Istirahatlah yang baik. Dan makan makanan yang bergizi agar produksi ASI-mu semakin baik dan lancar."


"Iya tuan putri. Terimakasih banyak."


"Wahai putra-putra ku ayo kita kembali. Adik bayi sedang minum susu jadi kita tidak boleh mengganggunya."


"Tapi Ibu, kami kan belum tahu namanya, boleh kami berkenalan dengannya terlebih dahulu?" timpal pangeran Hasan pada sang ibu.


"Nanti saja kalian berkenalan setelah tujuh hari. Saat itu nama bayi cantik ini akan dimungkinkan di dalam istana." jawab putri Medina Al-Akhmaar tersenyum.


"Baiklah ibu, kami akan menunggu selama satu Minggu."


"Assalamualaikum warahmatullahi Zarah."


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh tuan putri."


🍀


Bersambung.

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2