Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 48 Drama Berpamitan


__ADS_3

Abu Zubair membawa Zarah binti Abdullah ke kamar pribadi mereka untuk berpamitan dengan baik pada sang istri.


"Aku akan berangkat ke kerajaan Al Amin saat ini juga Zarah."


"Apakah aku boleh tahu ada keperluan apa anda kesana tuan?" tanya Zarah saat melihat pria bertubuh kekar itu memasukkan beberapa potong pakaian kedalam sebuah tas.


"Aku akan membawa kabar gembira tentang kelahiran putra-putra pangeran ElRasyid Al-Hasan kepada paduka raja dan permaisuri."


"Anda tidak akan lama kan? kenapa membawa pakaian sebanyak itu?" perasaan Zarah langsung tidak nyaman melihat persiapan sang suami.


Abu Zubair menghentikan kegiatannya dan melangkah mendekati perempuan yang sudah dinikahinya itu. Ia meraih kedua bahu sang istri tercinta dengan senyum diwajahnya.


"Aku tidak akan lama Zarah, istriku. Karena sesungguhnya aku tidak akan kuat jika berjauhan denganmu." ucap pria itu kemudian meraih tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya.


"Aku juga tuan, aku pasti akan kesepian." jawab Zarah dengan tangan ia beranikan untuk memeluk erat tubuh tinggi besar itu. Untuk pertama kalinya sejak menikah ia berinisiatif untuk membalas perlakuan suaminya.


Dan ternyata hal itu membuat sang suami merasa sangat senang. Abu Zubair tersenyum kemudian mengangkat tubuh mungil itu keatas ranjang.


"Berikan aku bekal Zarah, agar perjalanan jauh ini tidak membosankan." ucap pengawal tampan itu dengan tatapan penuh hasrat pada sang istri. Zarah binti Abdullah mengangguk kemudian berusaha untuk bangun dari posisinya.


"Kamu mau kemana Zarah, kamu disini saja istriku. Biar aku yang akan bekerja." ucap Abu Zubair sembari menahan tangan perempuan itu agar tidak meninggalkan ranjang itu.


"Eh mana bisa begitu tuan, aku akan membuat Qatayef yang enak buat anda yang bisa anda makan dalam perjalanan nantinya." otak polos Zarah saat ini sedang mendominasi care berpikirnya hingga membuat Abu Zubair menarik nafas dalam-dalam.


"Aku ingin Qatayef yang lezat yang ada di sini Zarah," ucap Abu Zubair Sembari tangan bergerak ke bagian bawah istrinya. Ia menyibak kain panjang yang menutupi tubuh istrinya itu dan mulai menyentuh Qatayef lezat milik istrinya.


Seketika wajah Zarah berubah kemerahan. Ia benar-benar malu karena tidak mengerti keinginan suaminya itu.


"Ya Allah, jadi anda menginginkan yang itu?" dengan wajah polos ia menatap wajah suaminya yang juga sedang menatapnya.


"Tentu saja Zarah sayangku. Aku ingin melahap Qatayefmu ini agar aku semangat dan kuat melakukan perjalanan ini."

__ADS_1


"Baiklah, permintaan anda adalah perintah yang harus aku lakukan, Hem." Zarah tersenyum dengan semangat diwajahnya. Ia langsung membuka pakaiannya di depan sang suami dan mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh Abu Zubair selama ini.


Perempuan cantik bertubuh mungil itu membuka seluruh kain yang menutupi tubuh kekar sang pengawal kemudian menyerang pria itu terlebih dahulu.


"Zarah?" tanya Abu Zubair dengan wajah tak percaya. Beberapa saat yang lalu ia melihat istrinya itu begitu polos dan seolah-olah tidak mengerti keinginannya tetapi sekarang?


"Aaaaaakh Zarah..." tanpa sadar ia mengerang nikmat dengan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya dibawah sana. Ia sampai menggenggam erat tangannya sendiri karena tak kuasa menahan rasa yang sedang menyerangnya ini.


Zarah tidak berhenti melakukan kegiatannya. Ia terus berusaha membuat suaminya puas agar tidak pernah berpikir untuk meninggalkannya.


"Zarah, kamu tidak perlu melakukan ini istriku," ucapnya setelah perempuan itu beristirahat sejenak. Tubuh mungilnya diangkatnya ke atas ranjang.


"Aku akan melakukan apa saja agar anda tidak pernah berpikir untuk meninggalkan aku dan memikirkan perempuan lain tuan."


"Ya Allah Zarah, jadi itu yang ada di dalam kepalamu Hem?" tanya Abu Zubair sembari menggerakkan tangannya ke daerah sensitif sang istri untuk membalas perlakuan perempuan itu tadi.


"Para pelayan yang mengatakan itu padaku tuan, kalau semua laki-laki akan mencari perempuan lain untuk dijadikan istri jika kami tidak bisa memberikan kepuasan pada mereka."


"Insyaallah aku tidak akan melakukannya Zarah, tanpa kamu melakukan hal seperti tadi saja aku sudah sangat puas sayang, jadi jangan bicara seperti itu ya?"


"Aku tidak cantik tuan dan masih banyak perempuan cantik di luar sana yang mungkin kedudukannya juga lebih baik."


"Aku menikahimu karena Allah Zarah. Kamu mempunyai sifat yang baik yang insyaallah bisa menjadi salah ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Dan juga siapa bilang kamu tidak cantik Hem?" Zarah merasakan tubuhnya bergetar hebat. Kata-kata suaminya rasanya hanya menjadi suara-suara tak bermakna.


Ia menggeliat hebat karena tangan suaminya benar-benar memanjakannya. Perempuan itu menutup matanya menikmati sensasi yang sangat nikmat yang ia rasakan ini.


"Zarah, kamu mendengarku sayang?" tanya Abu Zubair sembari menyiapkan dirinya untuk berkunjung dengan indah. Perempuan itu mengangguk pelan.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah merahmati kita Zarah dan menjadikan ini penyebab kita mendapatkan keturunan."


Desh

__ADS_1


Mata Zarah langsung membulat sempurna ketika secara tiba-tiba merasakan bagian dari suaminya itu sudah berada di dalam tubuhnya.


Mereka berdua pun saling berbagi kehangatan dan kebahagiaan. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan keturunan yang baik.


"Terimakasih banyak Zarah, aku rasa hari ini sampai beberapa hari kedepan bekalku ini sudah sangat cukup." ucap Abu Zubair saat segala urusannya dengan istrinya telah selesai. Dan ia sekarang sudah bersiap untuk berangkat ke kerajaan Al Amin.


"Hati-hati ya tuan."


"Iya istriku."


"Cepatlah kembali tuan karena aku pasti akan cepat rindu." Abu Zubair mengecup lembut kening istrinya itu dengan berbisik.


"Aku juga sudah rindu Zarah, padahal aku belum berangkat selangkah pun." perempuan itu tersenyum kemudian mendorong tubuh kekar suaminya itu keluar dari pintu atau ia tak akan berangkat untuk melakukan tugasnya dari pangeran ElRasyid Al-Hasan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh tuan."


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh Zarah istriku."


Mereka pun benar-benar berpisah setelah melalui drama yang sangat lama itu. Zarah menutup pintu kamarnya dan segera melangkah ke arah kamar putri Medina Al-Akhmaar.


Tugasnya melayani putri mahkota kerajaan AlHambra itu harus ia laksanakan sekarang juga. Ia harus memberi perawatan pada putri yang baru melahirkan itu agar segera sehat untuk beraktivitas kembali.


Ia juga sangat ingin bertemu lagi dengan dua bayi kembar tampan yang ada di dalam kamar itu. Dengan harapan ia juga bisa mempunyai anak agar hati Abu Zubair menjadi tenang.


🍀


Bersambung.


hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2