
Perjalanan kembali ke istana AlHambra begitu terasa sangat menyenangkan bagi kedua pasangan pengantin baru itu.
Sepanjang jalan yang mereka lalui terasa dipenuhi oleh hamparan bunga-bunga yang sangat indah. Padahal ini saat ini adalah musim panas dan bukan musim semi.
Terletak persis di titik pertemuan antara pengunungan Sierra Nevada dan dataran Vega yang subur menjadikan kota ini istimewa.
Pegunungan Sierra Nevada bisa diselimuti salju yang cukup tebal, layaknya di wilayah Eropa Utara. Padahal cuaca di daerah tersebut cenderung hangat.
Granada bahkan bisa mencapai suhu yang tinggi saat musim panas tiba. Namun, ajaibnya tanah mereka yaitu dataran Vega akan tetap subur.
Bahkan memiliki cadangan air yang cukup untuk tanaman bisa tumbuh. Menarik bukan ?Pegunungan Sierra Nevada biasanya akan diselimuti salju dari bulan November hingga Juni.
Saat musim panas tiba salju yang berada di puncak pegunungan Sierra Nevada tersebut perlahan akan mulai mencair.
Nah, menjadi titik pertemuan antara pegunungan Sierra Nevada menjadikan dataran Vega Granada tempat yang tepat untuk tanaman bisa tumbuh subur.
Bukit La Sabica dimana Kerajaan AlHambra sudah tampak di depan mata. Istana yang bernuansa merah yang sangat indah itu semakin dekat saja.
Pangeran ElRasyid Al-Hasan dan juga putri Medina Al-Akhmaar yang menggunakan kuda kini menambah laju langkah kudanya bersama. Mereka berdua seakan ingin berlomba agar cepat sampai.
"Ayo pangeran kejar aku!" teriak putri mahkota kerajaan merah itu sambil tertawa.
Hiyaa
Lari kuda itu semakin kencang dibuatnya hingga membuat pangeran ElRasyid Al-Hasan sangat khawatir. Ia pernah mengalahkan putri mahkota itu dulu jadi ia masih sangat was-was kalau seandainya sang istri terjatuh.
Hiyaaa
Dengan cepat ia mengejar laju kuda putih milik sang istri. Abu Zubair dan para pengawal mengikuti mereka dari belakang dengan kecepatan yang sama.
"Tuan putri, lajunya pelan-pelan saja. Pemandangan disini masih bisa kita nikmati dengan tenang!" teriak pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan suaranya keras. Jaraknya yang masih agak jauh ia usahakan untuk lebih dekat.
"Katakan pangeran kalau aku bisa mengalahkan anda, hahaha," tawa putri Medina Al-Akhmaar yang selama ini tak pernah kedengaran kini terasa mengisi suasana sepi perjalanan mereka.
"Iya, aku mengaku kalah tuan putri. Andalah pemenangnya."
"Hahahaha." tawa putri cantik itu kembali berderai. Hingga ia menarik tali kekang pada kuda kesayangannya dan menunggu pangeran ElRasyid Al-Hasan yang nampak sangat khawatir.
__ADS_1
Laju kuda putih putri Medina Al-Akhmaar perlahan melambat dan akhirnya bersisian dengan kuda sang pangeran.
"Aku sudah tidak sabar sampai ke istana pangeran. Aku ingin menikmati kembali kamar pribadiku."
Pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum penuh makna. Ia juga sudah sangat ingin kembali ke istana dan berdua saja dengan sang putri mahkota. Mereka berdua saling bertatapan dengan dada berdebar keras.
Hati mereka berdua sudah tertaut satu sama lainnya hingga rasanya tak sabar untuk sampai ke istana dan melanjutkan kegiatan menyenangkan yang tak bebas mereka lakukan selama beberapa hari di kota Cordoba.
Hiyaaaa
Rombongan mereka dengan laju perlahan menaiki bukit untuk sampai ke kerajaan AlHambra. Kerajaan yang sangat sulit ditaklukkan oleh kerajaan-kerajaan kecil non muslim yang ada di sekitar Granada.
Raja Lukman Al-Akhmaar menyambut kedatangan putri mahkota dan menantunya itu dengan suka cita. Untuk pertama kalinya ia meregangkan tangannya dan menyambut putri Medina Al-Akhmaar kedalam pelukannya.
"Paduka raja," putri Medina Al-Akhmaar menyambut pelukan ayahnya dengan hati gembira. Ia tak menyangka kalau ayahnya itu mau memeluknya setelah sekian lama.
"Panggil aku ayah putri Medina." putri cantik itu menatap mata sang ayah dengan hati menghangat. Airmata haru menetes keluar dari kelopak matanya yang Indah.
"Ayah," ucap Putri Medina Al-Akhmaar dengan suara bergetar.
"Katakan sekali lagi putriku."
"Aku sangat merindukanmu putriku." raja Lukman Al-Akhmaar mencium kening putrinya dengan perasaan rindu yang teramat sangat.
Pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum penuh haru dengan interaksi dua orang yang ada dihadapannya. Ia pernah mendengar jika hubungan ayah dan anak itu tidak begitu baik.
Dan sekarang raja dan putri mahkota itu bisa sangat nampak saling merindu dan menyayangi itu adalah hal yang sangat luar biasa.
"Pangeran ElRasyid Al-Hasan, bolehkah aku meminjam istrimu ini untuk sementara waktu?" tanya raja Lukman Al-Akhmaar pada dirinya yang masih berdiri saja di ruang kesultanan raja kerajaan AlHambra itu.
"Tentu saja paduka raja, aku akan menunggu di luar saja." jawab pangeran tampan itu sembari mengundurkan dirinya dan keluar dari ruangan itu.
Meskipun ia ingin beristirahat berdua di dalam kamar bersama dengan putri Medina Al-Akhmaar tetapi ia harus mengalah untuk mereka berdua yang saling merindu itu.
"Bagaimana dengan perjalanan mu putri Medina?" tanya sang paduka raja saat mereka berdua duduk di atas sebuah permadani di dalam ruangan itu.
"Aku sangat senang paduka. Kota Cordoba sangatlah indah dan juga ilmu pengetahuan disana sudah sangat maju mengikuti perkembangan zaman."
__ADS_1
"Ya itu betul sekali. Dan aku harap setelah kunjungan kalian berdua di tempat itu dan sekitarnya. Kamu dan pangeran ElRasyid Al-Hasan bisa memajukan kerajaan AlHambra ini dengan hal yang sama."
"Tentu saja paduka. Aku ingin menjadi seperti sayyidah Zubaidah istri Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad yang sangat menghargai Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan."
"Insyaallah dengan izin Allah kamu bisa mewujudkan impian itu putriku. Almarhumah Ibumu juga pernah bercita-cita seperti itu sewaktu kami baru menikah." raja Lukman Al-Akhmaar tiba-tiba berwajah sendu.
Hatinya sungguh nyeri jika membayangkan dirinya yang hanya bisa memberi kesengsaraan pada istri yang sangat ia cintai itu.
"Paduka raja, apakah baginda pernah merindukan ibuku?" putri Medina Al-Akhmaar bertanya pelan-pelan takut ayahnya itu tersinggung.
"Panggil aku ayah Medina, aku ingin hubungan kita lebih baik kedepannya selayaknya hubungan ayah dan anak." raja Lukman Al-Akhmaar kembali meraih putrinya itu kedalam pelukannya.
"Iya ayah."
"Sesungguhnya rinduku pada Ibumu saat ini sangat menyiksaku putriku. Aku merasa sangat bersalah padanya. Aku tidak tahu apakah Allah SWT masih akan mengampuni semua kesalahanku ini."
Putri Medina Al-Akhmaar menyusut airmatanya yang semakin deras keluar dari kelopak matanya. Ia sangat tahu bagaimana penderitaan Ibunya saat itu.
Fitnah yang begitu banyak padanya membuatnya tidak pernah merasakan kebahagiaan bersama dengan sang paduka raja.
"Doakan saja ibuku ayah, semoga kuburannya dilapangkan oleh sang kuasa. Dengan begitu hatimu juga bisa lebih tenang."
"Buatlah amalan jariyah atas namanya hingga bisa memberatkan amal kebaikan untuk ibuku ayah."
"Iya putriku. Semua cita-citanya akan aku kabulkan putriku. Dan semoga engkau juga memaafkan aku "
"Iya ayah, aku memaafkanmu."
"Terimakasih banyak putriku. Terimakasih banyak."
Mereka berdua kembali saling berpelukan dibawah pandangan benci dari permaisuri Hindun yang ternyata sudah lama berada disana mendengarkan percakapan kedua orang itu.
Perempuan itu kembali berniat merusak kebahagiaan Medina Al-Akhmaar seperti ia dulu merusak kebahagiaan permaisuri Sabrina.
🍀🍀🍀
Bersambung.
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍