Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 31 Rencana Perjalanan Jauh


__ADS_3

Zarah binti Abdullah akhirnya keluar dari kamar pribadi sang tuan putri setelah ia membantu perempuan cantik itu bersiap beraktivitas hari ini.


Entah kenapa pikirannya terganggu dengan apa yang ia lihat dan ia dengar di dalam kamar pribadi sang putri tersebut.


"Aaawww maafkan saya tuan." Zarah binti Abdullah berteriak keras karena tiba-tiba saja menabrak tubuh Abu Zubair sang pengawal berwajah datar dan dingin itu. Ia sampai terjengkang ke belakang dan jatuh ke lantai.


"Kalau berjalan jangan menghayal atau kamu akan jatuh dan tidak ada yang menolongmu." ucap Abu Zubair dengan wajah datar.


Pria itu berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tak mau melihat wajah Zarah yang menahan sakit di bokongnya.


"Dan terjatuh dihadapan anda yang tidak punya perikemanusiaan adalah nasib yang sungguh buruk." ujar Zarah dengan rasa kesal karena pria itu sama sekali tidak bergerak untuk menolongnya.


Abu Zubair tersenyum samar dan memanggil pelayan perempuan untuk membantu gadis itu untuk bangun.


"Lain kali berlatihlah juga bersama tuan putri supaya tubuhmu kuat. Hanya karena menabrak tubuh saya saja kamu sudah terjatuh. Itu sangat payah Zarah." ucap Abu Zubair dengan sangat santai tetapi terasa sangat tajam bagai sembilu di telinga pelayan perempuan itu.


"Terimakasih banyak nasehatnya tuan Abu Zubair." ujar Zarah dengan bibir mencibir lalu pergi dari hadapan pengawal itu sembari memegang bokongnya yang terasa sangat nyeri.


Sedangkan pengawal pribadi pangeran ElRasyid Al-Hasan itu langsung meminta satu lagi pelayan putri Medina Al-Akhmaar untuk segera mengikuti Zarah dan membawakannya minyak obat yang sangat ampuh dari dalam jubahnya.


Pria itu memang selalu siap sedia dengan benda-benda seperti itu di tubuhnya selain pedang untuk melindungi pangeran ElRasyid Al-Hasan dan juga dirinya sendiri.


Tak lama kemudian pangeran ElRasyid Al-Hasan keluar dari kamarnya bersama dengan sang istri tercinta dengan semangat dan tenaga baru.


Mereka berdua berencana berangkat ke kerajaan Al Amin untuk bertemu dengan orang tua dan keluarga Pangeran tampan itu.


"Abu Zubair dimana Zarah?" tanya putri Medina Al-Akhmaar pada pengawal suaminya itu.


"Mohon maaf tuan putri. Zarah tadi mengalami kecelakaan dan terjatuh di lantai." Abu Zubair menunduk dalam sembari menjawab pertanyaan putri mahkota kerajaan AlHambra itu.


"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun. Lalu kemana gadis itu sekarang?"


"Ia kembali ke kamarnya tuan putri."


"Maafkan aku pangeran. Aku harus melihat pelayanku itu terlebih dahulu. Pasti ia sangat kesakitan." putri Medina Al-Akhmaar segera meminta izin pada sang suami untuk pergi melihat keadaan Zarah di kamarnya.

__ADS_1


"Silahkan tuan putri. Aku dan Abu Zubair akan menjumpai paduka raja terlebih dahulu." pangeran ElRasyid Al-Hasan pergi ke ruang pribadi raja AlHambra sedangkan putri Medina Al-Akhmaar mengunjungi kamar pelayan pribadinya.


"Apa yang terjadi Zarah? tanyanya saat melihat gadis itu berbaring di atas tempat tidurnya. Nampak sekali kalau ia sangat khawatir dengan keadaan pelayan


"Mohon maaf tuan putri. Saya cuma jatuh dan tidak parah. Anda tidak perlu khawatir seperti itu."


"Zarah, kamu seperti adikku sendiri. Apa yang terjadi padamu harus aku tahu."


"Tuan putri. Saya terharu. Tapi sungguh ini hanya sakit sedikit." Zarah menyentuh bagian tubuhnya yang sakit itu dengan tersenyum meringis.


"Itu bukan sakit sedikit Zarah. Bisa berbahaya. Mari sini aku periksa." putri Medina Al-Akhmaar memaksa untuk memeriksa keadaan pelayan pribadinya itu dengan tangannya sendiri.


"Innalilahi, ini sampai berwarna kebiruan seperti ini bagaimana bisa Zarah?" putri Medina Al-Akhmaar tampak bertambah khawatir saja.


"Saya tidak sengaja menabrak tubuh besi tuan Abu Zubair tuan putri dan langsung terjatuh ke atas lantai keras itu."


"Ya Allah. Abu Zubair harus bertanggung jawab padamu Zarah."


"Pengawal kepercayaan pangeran ElRasyid Al-Hasan itu sudah memberikan obat ini untukku tuan putri." jawab Zarah tak enak hati sembari memperlihatkan sebotol minyak obat titipan dari pengawal itu.


"Saya sudah sembuh tuan putri. Saya bisa ikut bersama dengan anda."


"Tidak Zarah. Kamu tidak perlu ikut kalau masih sakit. Beristirahatlah di sini. Aku tidak akan lama." nampak sekali kalau Zarah kecewa. Ia sudah lama ingin mengunjungi kerajaan Al Amin yang terkenal indah dan sangat teratur dalam penataan kota dan semua bangunannya itu.


Dan yang ia tahu itu adalah keahlian dari Pangeran ElRasyid Al-Hasan yang terkenal dengan keahliannya dalam bidang pemerintahan dan tata kota.


"Zarah, baiklah. Kamu boleh ikut."


"Terimakasih banyak atas kebaikan hati anda tuan putri. Saya senang sekali."


"Kalau begitu bersiaplah dan pastikan tubuhmu untuk tidak kelelahan."


"Baiklah tuan putri. Saya akan segera bersiap."


"Aku menunggumu di kamarku Zarah beberapa saat lagi."

__ADS_1


"Iya tuan putri. Terimakasih banyak. Semoga Allah selalu memberi anda kebahagiaan."


"Aamiin ya rabbal Aaamiin. Kamu juga Zarah, semoga kamu segera menikah."


"Ya Allah tuan putri, anda membuatku malu."'


"Insyaallah kamu akan dinikahi oleh laki-laki yang baik hati dan sangat mencintaimu Zarah karena harimu juga sangat baik." Zarah mengaminkan kata-kata putri Medina Al-Akhmaar didalam hatinya.


"Baiklah aku akan menemui paduka raja. Assalamualaikum Zarah,"


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh tuan putri."


Putri Medina Al-Akhmaar pun segera keluar dari kamar pelayan pribadinya itu menuju ruang kesultanan raja Lukman Al-Akhmaar di dalam istana itu.


"Assalamualaikum warahmatullahi ayah." putri Medina Al-Akhmaar memasuki sebuah ruangan tempat raja Lukman Al-Akhmaar selama ini bekerja untuk membicarakan dan memikirkan rakyat AlHambra.


"Waalaikumussalam warahmatullahi putriku," jawab sang paduka raja sembari berdiri dari duduknya. Ternyata pria itu sedang berbincang bersama dengan pangeran ElRasyid Al-Hasan sang menantu.


"Apa kabarmu ayah?" putri mahkota itu langsung menghambur ke dalam pelukan sang ayah yang mendapat tatapan dari sang suami. Entah kenapa ada rasa bahagia dan cemburu dalam mata elang sang pangeran.


"Alhamdulillah, ayah sehat. Dan sedang sangat bahagia melihat kalian berdua tampak sangat cerah hari ini." putri Medina Al-Akhmaar tersenyum kemudian melepaskan pelukannya.


"Tundalah dulu perjalanan kalian ke kerajaan Al Amin. Baru sehari kalian pulang dari perjalanan jauh Cordoba dan sebagian kota di Andalusia."


Pangeran ElRasyid Al-Hasan dan putri Medina Al-Akhmaar saling berpandangan membenarkan kata-kata sang paduka Raja.


"Pengantin baru harus lebih banyak menghabiskan waktu di kamar saja dan jaga kesehatan supaya kalian cepat memberiku cucu yang banyak. hahahaha."


Semburat merah tiba-tiba muncul di wajah putri Medina Al-Akhmaar. Pangeran ElRasyid Al-Hasan langsung menyetujui keinginan raja tersebut. Ia bisa menunda keberangkatan mereka untuk beberapa hari ke depan demi untuk menjaga kesehatan sang istri tercinta.


🍀🍀🍀


Bersambung.


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍


__ADS_2