Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 49 Bantuan Dan Keinginan Zarah


__ADS_3

Keluarga kerajaan Al Amin tiba di istana AlHambra dengan membawa banyak hadiah untuk semua orang di kerajaan itu. Mereka ingin berbagi bahagia atas lahirnya penerus kerajaan AlHambra yang sudah lama dinanti-nantikan itu.


Rasa syukur akan kehadiran dua putra kembar yang diberi nama Hasan dan Husain seperti nama cucu Rasulullah SAW itu membuat pimpinan kerajaan Al Amin itu membuat sebuah acara besar.


Mereka semua berpesta dengan mengundang banyak tamu meskipun putri Medina Al-Akhmaar tidak terlalu setuju. Karena sesungguhnya ia ingin kelahiran putra-putranya ini disyukuri dengan sewajarnya saja.


"Mohon maafkan aku pangeran, bisakah anda meminta ayah dan ibu untuk tidak melakukan hal yang terlalu berlebihan atas kelahiran putra-putra kita?"


"Tuan putriku yang cantik, aku sudah memperingatkan ibu Permaisuri tetapi anda tahu kan, kalau ia tidak suka kalau niat dan rencananya dihalangi oleh orang lain termasuk paduka raja ataupun aku. Jadi biarkan saja ya," jelas pangeran ElRasyid Al-Hasan mencoba memberikan pemahaman pada istrinya itu.


"Tapi pangeran, bukankah berlebih-lebihan itu sangat dibenci oleh Allah?"


"Wahai istriku tersayang, yang dilakukan oleh ibu adalah memberi banyak sedekah pada rakyat, itu bukan berlebihan namanya."


"Ibu permaisuri ingin semua rakyat merasakan kegembiraan yang sama seperti yang kita rasakan sekarang ini istriku," lanjut pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan senyum menenangkan.


"Dengan memberikan sedekah dan hadiah pada semua orang, hati ibu permaisuri akan bahagia."


"Iya suamiku, aku mengerti itu. Maafkan aku kalau berpikir yang tidak-tidak."


"Anda tidak salah tuan putri, anda cuma ingin segala sesuatunya dilakukan sederhana saja, dan aku juga setuju. Tetapi kita akan selalu menghargai keinginan ibu permaisuri."


"Iya pangeran. Aku mengerti."


"Nah kalau begitu, mari kita siapkan putra-putra kita untuk diaqiqah sesuai perintah agama kita."


"Ah iya pangeran. Bantu aku untuk memanggil Zarah agar memakaikan pakaian yang bagus untuk Hasan dan Husain."


"Dengan senang hati tuan putri, aku akan memanggil Zarah untuk datang kemari."


"Terimakasih banyak Pangeran." ucap putri Medina Al-Akhmaar yang dibalas dengan senyum manis saja oleh sang suami.

__ADS_1


Tak lama kemudian Zarah pun masuk ke kamar yang luas itu.


"Maaf tuan putri, apa yang bisa saya lakukan untuk anda?" tanya Zarah binti Abdullah saat tiba di dalam kamar itu.


"Bayi pangeran Hasan dan pangeran Husain belum mandi Zarah, bisakah aku meminta tolong untuk memandikannya?" pinta putri Medina Al-Akhmaar dengan senyum diwajahnya. Nampak sekali kalau ekspresinya menunjukkan permohonan.


"Sungguh mulia budi anda tuan putri, saya akan melakukan perintah anda meskipun anda tidak memohon seperti itu." ucap sang pelayan dengan hati tidak nyaman.


Zarah binti Abdullah sangat menghormati putri mahkota itu sebagai orang yang pantas diagungkan tetapi sifat rendah hati sang putri membuatnya tidak nyaman.


"Zarah, jangan pernah berkata seperti itu ya, aku tetap harus meminta tolong jika ingin dibantu oleh kamu. Jasamu banyak sekali adikku." ucap putri Medina Al-Akhmaar kemudian meraih Zarah sang pelayan kedalam pelukannya.


Mereka berdua seperti seorang saudara kandung dan bukan lagi seperti seorang pelayan dan tuannya.


Oeeeek Oeeeek Oeeeek


Tangisan dua bayi itu kembar itu membuat mereka berdua saling melepaskan diri sembari menghapus airmata harunya masing-masing.


"Bayi pangeran Hasan dan pangeran Husain sudah sangat ingin mandi rupanya, cup cup cup." Zarah meraih salah satu dari mereka berdua kedalam gendongannya. Kemudian memanggil pelayan lain untuk menyiapkan air mandi untuk dua pangeran itu.


"MasyaAllah, cucuku yang sangat tampan. Sebaiknya dimandikan oleh pelayan yang berpengalaman putriku."


"Ibu permaisuri? Anda berada disini?" tanya putri Medina Al-Akhmaar dengan wajah gembira.


"Iya putriku, aku sudah lama berada di aula istana dan pangeran ElRasyid Al-Hasan yang memintaku ke kamar ini untuk membantumu mengurus putra-putra tampan ini."


"Aku juga membawa pelayan yang lebih berpengalaman mengurus bayi kecil." jelas ibu mertua dari putri mahkota kerajaan AlHambra itu.


"Oh terimakasih banyak ibu, aku sangat senang sekali dan juga supaya Zarah ikut belajar, iyakan Zarah?"


"Iya tuan putri." jawab Zarah dengan terus memberi sabun pada bayi yang baru berusia 7 hari itu.

__ADS_1


"MasyaAllah pangeran Hasan dan pangeran Husain semakin tampan dan gagah setelah mandi." ucap Permaisuri Umi Kalsum sembari menciumi pipi gemuk dan harum bayi-bayi itu.


Pelayan yang dibawa dari kerajaan Al Amin itu pun mengambil alih tugas Zarah untuk mengurus kedua pangeran tampan itu.


Zarah tersenyum maklum, hatinya tidak kecewa sama sekali. Ia memang belum pantas mengurus bayi kecil karena belum punya pengalaman khusus dengan bayi-bayi.


Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana telatennya pelayan senior itu mengurus kedua bayi kembar itu. Dalam hati ia terus berdoa agar diberi kesempatan oleh Allah untuk mempunyai bayi juga.


"Zarah, kamu sudah lihat 'kan bagaimana cara mengurus bayi kecil supaya dia nyaman?" ucap permaisuri Umi Kalsum itu dengan wajah gembira. Niatnya membawa pelayan berpengalaman untuk membuat putri Medina Al-Akhmaar dan Zarah belajar cara mengurus bayi sendiri.


Bagi permaisuri itu, meskipun kita seorang putri kerajaan atau ratu sekalipun yang mempunyai banyak pelayan yang akan melayanimu tetapi menjadi seorang ibu haruslah bisa mengurus sendiri anak-anak.


Untuk Apa? supaya ikatan batin yang terhubung diantara ibu dan anak itu selalu dekat dan terikat.


"Ia permaisuri, saya sudah melihat dan belajar. Semoga saya dan juga tuan Abu Zubair segera memiliki bayi sendiri untuk dirawat seperti bayi pangeran Hasan dan pangeran Husain."


"Aamiin, semoga Allah mengabulkan keinginanmu Zarah. Karena Abu Zubair memang sangat menginginkan anak." Zarah menunduk dan berharap keinginannya itu segera tercapai.


"Maaf permaisuri, pangeran tampan ini sekarang sudah sangat lapar setelah mandi." ucap pelayan dari kerajaan Al Amin itu.


"Ah iya bibi. Aku minta tolong memberikannya padaku, aku akan memberikan mereka air susu dariku."


Pelayan itu pun menyerahkan pangeran Hasan terlebih dahulu pada putri mahkota itu.


"Kamu harus bahkan meminum susu segar putriku, supaya air susumu melimpah untuk kedua putramu, nak."


"Iya ibu terimakasih banyak. pangeran ElRasyid Al-Hasan juga selalu ikut menyediakan susu segar dan buah-buahan untukku ibu."


"Ah iya, aku percaya sama putraku itu karena ia sangat mencintaimu."


🍀🍀🍀

__ADS_1


Bersambung.


.Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


__ADS_2