
Abu Zubair tersenyum kemudian menghampiri ranjang dimana Zarah binti Abdullah sang istri sedang duduk dengan wajah menunduk.
"Zarah, boleh saya duduk di sini?" pinta Abu Zubair dengan tatapan tak berpindah pada wajah sang istri yang masih setia menundukkan pandangannya.
"Tentu saja tuan. Silahkan." jawab Perempuan itu kemudian menggeser duduknya ke samping agar sang pengawal yang merupakan suaminya itu bisa duduk dengan nyaman di tempat yang luas.
Abu Zubair tersenyum kemudian mulai meletakkan tubuhnya di samping istrinya dengan merapatkan tubuhnya dengan Perempuan itu.
Hati Zarah berdebar tak karuan. Ia merasakan dirinya sangat gugup dan tidak nyaman dengan posisi mereka saat itu. Ia lantas menggeser lagi duduknya ke tepi ranjang hingga ia tidak sadar hampir terjatuh ke lantai.
Tangan besar Abu Zubair segera menarik tubuhnya yang berhasil membuatnya jatuh ke pelukan sang suami.
Jarak dekat yang dihindari oleh pelayan pribadi putri Medina Al-Akhmaar itu kini justru membuatnya semakin rapat tak berjarak. Tangan besar dan kuat sang pengawal merengkuh pinggang rampingnya dengan sangat rapat.
"Kenapa Zarah? apa kamu belum siap berdekatan denganku Hem?" tanya Abu Zubair sembari menatap wajah istrinya yang sedang menutup matanya itu. Zarah terdiam. Ia sedang berusaha menata debaran jantungnya yang berdetak sangat cepat.
Perlahan Abu Zubair meniup lembut kelopak mata indah yang sedang tertutup itu membuat sang istri merasa geli.
Fiyuhhh
Akhirnya Zarah berani membuka kelopak matanya dan menatap mata tajam sang suami.
"Tuan, apa posisi kita tidak terlalu dekat?" tanyanya dengan sangat gugup karena wajah sang suami kurang berapa senti lagi sudah menyentuhnya.
"Kenapa Zarah? apakah kamu tidak nyaman?" Abu Zubair balas bertanya tanpa merubah posisinya.
"Ah tidak tuan, aku hanya..." Zarah tidak melanjutkan kata-katanya karena bibir sang pengawal sudah berhasil mendarat di atas Bibirnya.
Pria yang sudah sah menjadi suaminya itu mengulum bibirnya dengan sangat lembut dan lama. Ia pasrah dengan apa yang dilakukan oleh pria kuat itu padanya.
Tubuhnya lemas dalam rengkuhan sang suami hingga ia dengan berani mengangkat tangannya dan berpegangan pada bahu lebar dan kuat Abu Zubair.
"Zarah," panggil Abu Zubair sembari menyentuh bibir yang baru saja diciumnya itu dengan jari-jarinya.
"I-iya tuan," jawab Zarah dengan suara gugup. Perempuan itu berusaha menutupi semburat merah diwajahnya dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
__ADS_1
"Tatap mataku Zarah," bisik Abu Zubair dengan senyum samar diwajahnya.
"Aku malu tuan. Aku tidak akan sanggup." jawabnya dengan wajah semakin disembunyikan didalam jubah sang suami.
"Ya Allah Zarah sesungguhnya dengan caramu seperti ini membuatku semakin tidak sabar. Aku sangat menginginkanmu istriku." ucap Abu Zubair kemudian meletakkan tubuh sang istri dengan pelan ke atas ranjang.
"Aku ingin kamu mengenaliku istriku," lanjutnya sembari menatap wajah sang istri yang benar-benar sangat menggemaskan.
"Aku sudah mengenalmu tuan. Kamu pria yang setia dan bertanggung jawab." jawab Zarah dengan senyum diwajahnya. Ia sudah lama menyukai pengawal pribadi pangeran ElRasyid. Jadi ia bisa memberikan penilaian pada pria itu.
"Benarkah Zarah?" tanya sang pengawal dengan tatapan tertuju pada wajah sang istri. Zarah mengangguk.
"Jadi kamu sudah sering memperhatikan aku?"
"Tentu saja tuan Abu Zubair. Kita kan selalu bersama saat mendampingi pangeran ElRasyid Al-Hasan dan putri mahkota kerajaan ini."
"Jadi aku tidak perlu memperkenalkan diriku padamu Zarah?" perempuan cantik itu tersenyum kemudian mengangguk.
"Tapi aku ingin memperkenalkan diriku padamu istriku." ucap Abu Zubair sembari membuka jubah panjang yang sedang ia gunakan. Satu persatu ia buka pakaiannya di depan sang istri.
Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat bentuk tubuh kekar seperti yang ada dihadapannya. Entah kenapa gelenyar aneh seperti berlomba di dalam urat syarafnya.
Sangat kuat ujarnya dalam hati.
"Kenali aku Zarah dengan cara seperti ini." ucap Abu Zubair sembari meraih tangan istrinya untuk menyentuh tubuhnya yang sangat kuat dan alot itu.
"Tu-tuan ini keras dan kuat sekali, anda pasti rajin berolahraga." ucap Zarah sembari membelai lembut tubuh sang suami. Tangannya yang lembut dan halus itu terus bergerak berirama diatas tubuhnya yang tak berpenghalang itu.
"Apa yang kamu rasakan Zarah?" tanya Abu Zubair sembari menatap wajah sang istri yang sedang serius memeriksa otot-ototnya.
Pria itu merasakan kebahagiaan yang sangat karena sang istri sepertinya sangat terpesona dengan penampilannya sekarang. Dan itulah yang sangat ia inginkan.
"A-apa tuan?" Zarah tersentak kaget. Ia terlalu menikmati keindahan tubuh yang ada dihadapannya. Sampai ia tidak sadar kalau pakaiannya sedang dibuka oleh sang suami.
"Apa yang kamu rasakan sekarang Zarah, istriku?"
__ADS_1
"Eh?" Zarah memperhatikan tubuhnya yang sudah sangat terbuka di depan suaminya. Ia langsung menarik kembali kain yang sudah dibuka Abu Zubair untuk ia kenakan kembali.
"Aku rasa, aku takut tuan."
"Kenapa?"
"Tubuh anda sangat besar dan kuat. Aku takut tubuhku akan remuk karenanya." jawab perempuan cantik itu dengan wajah polos.
"Memangnya apa yang akan kita lakukan sampai tubuhmu akan remuk Zarah?" tanya sang suami sembari melanjutkan membuka pakaian yang membungkus tubuh sang istri tercinta.
"Kata putri mahkota, saat aku menikah maka tubuh ini akan..." Abu Zubair membungkam mulut Istrinya dengan cepat. Ia sepertinya sudah tidak sabar untuk memulai perkenalan yang sangat indah ini
"Hmmmpt," Zarah mendessah saat tangan besar suaminya mulai mengenali tubuhnya dengan sangat lembut.
"Izinkan aku mengenali semuanya Zarah, istriku." bisik pria itu dengan suara beratnya.
"Aku milikmu tuan Abu Zubair. Silahkan lakukan apa saja yang anda inginkan," jawab sang istri dengan suara bergetar menahan sesuatu yang sangat Indah yang baru pertama kali ini ia alami.
"Terimakasih banyak Zarah. Aku akan membawamu ke dunia lain istriku." balas sang suami sembari melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh sepasang pengantin baru. Sebuah ibadah yang sangat nikmat dan menjanjikan pahala yang banyak.
Zarah terus menggeliat nikmat dibawah kungkungan sang suami. Dawai-dawai indah terus menghiasi perjalanan mereka ke nirwana malam itu.
Mereka tak lupa mengucapkan banyak syukur kepada Allah SWT yang telah menjodohkan mereka berdua sehingga bisa menikmati indahnya salah satu kenikmatan dunia itu.
Zarah menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang teramat sangat saat bagian keras dari tubuh suaminya itu berhasil mengoyak pertahanan dirinya.
Abu Zubair meminta maaf berkali-kali ketika saat itu tiba dan berhasil membuat sang istri tak sadarkan diri.
🍀🍀🍀
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1