
Zarah binti Abdullah tidak berhenti tersenyum melihat kesialan yang dialami oleh putri Jasmine. Rasanya ia ingin melompat-lompat untuk merayakan apa yang terjadi pada saudara tiri tuan putrinya itu.
Langkah pelayan itu terhenti karena putri Medina Al-Akhmaar juga berhenti dihadapannya.
"Ada apa tuan putri? apa ad masalah?" tanya pelayan muda itu dengan wajah penasaran.
"Kamu yang sepertinya ada masalah Zarah. Kenapa kamu sedari tadi tersenyum terus?" putri Medina Al-Akhmaar menatapnya dengan tatapan tajam.
Zarah binti Abdullah menunduk karena ia masih tidak bisa menahan kelucuan yang menggelitik hatinya.
"Zarah? katakan sesuatu, apakah penampilanku tidak layak sekarang ini sampai kamu terus tersenyum seperti itu?"
"Maafkan saya tuan putri. Bukan penampilan anda yang menarik perhatian saya untuk tersenyum."
"Lalu apa Zarah? kamu jadi tampak seperti orang gila karena tersenyum terus. Dan apa kamu tahu aku takut kalau ada orang gila yang ikut di belakangku." putri Medina Al-Akhmaar bergidik ngeri dan langsung membuat Zarah sang pelayan malah tertawa dengan keras.
Hahahaha
"Jaga sikapmu Zarah. Kamu tidak malu dengan pandangan mata tajam Abu Zubair?" pandangan mata putri Medina Al-Akhmaar menunjuk Abu Zubair sang pengawal berwajah tampan dan tegas yang sedang menatap mereka berdua dari kejauhan.
"Ampun tuan putri. Saya akan menjaga sikap. Dan juga saya sangat takut dengan pengawal pangeran ElRasyid Al-Hasan."
"Kenapa kamu takut Zarah, bukanlah ia sangat tampan dan gagah sesuai dengan harapanmu?" semburat merah tiba-tiba muncul di wajah Zarah binti Abdullah.
Pelayan muda itu merasa sangat
malu karena tuan putrinya bisa menebak apa yang ia pikirkan.
"Anda membuatku malu tuan putri," ujar gadis itu sembari melanjutkan langkahnya karena sang putri mahkota juga sudah mulai melangkah ke arah kamar pribadinya.
"Tidak perlu malu Zarah, aku bisa meminta pangeran ElRasyid Al-Hasan agar beliau memerintahkan Abu Zubair untuk melamarmu."
Uhukkkk uhukkkk uhukkkk
Zarah binti Abdullah terbatuk-batuk karena tidak menyangka tuan putrinya bisa mengatakan itu dengan sangat ringan seringan kapas.
__ADS_1
Abu Zubair yang sedang berdiri tegap dengan pedang ditangannya entah kenapa bergerak sedikit saat Zarah binti Abdullah terbatuk-batuk di hadapannya. Dan itu tidak luput dari pengamatan mata tajam putri Medina Al-Akhmaar.
Abu Zubair kembali berdiri tegak laksana patung ketika Zarah binti Abdullah sudah berhenti batuk. Gadis muda itu jadi malu sendiri pada dua orang dihadapannya.
"Silahkan masuk tuan putri," Zarah membuka pintu kamar pribadi sang putri mahkota dan mempersilahkan istri dari pangeran ElRasyid Al-Hasan itu masuk.
"Terimakasih banyak Zarah. Kamu bisa beristirahat sekarang. Dan ya minumlah air hangat dan ramuan yang pernah aku buat agar batukmu tidak menggangu istirahatmu."
Uhukkkk uhukkkk uhukkkk
Kembali gadis itu terbatuk tiada henti hingga membuat Abu Zubair menjatuhkan pedangnya ke lantai karena perhatian.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Abu Zubair dengan wajah khawatir.
"Aku akan ambilkan air hangat untuk Zarah." ucap putri Medina Al-Akhmaar sembari berlari ke dalam kamarnya untuk mengambilkan segelas air hangat pada pelayan pribadinya itu.
Putri raja Lukman Al-Akhmaar itu tidak menyangka kalau niatnya untuk hanya bercanda pada pelayannya itu malah berakibat fatal seperti itu.
"Ada apa tuan putri?" tanya pangeran ElRasyid Al-Hasan yang melihat kepanikan dari istri tercintanya itu.
Pangeran ElRasyid Al-Hasan mengikuti langkah istrinya menemui Zarah binti Abdullah pelayan pribadi putri Medina Al-Akhmaar.
"Minumlah Zarah. Dengan nama Allah engkau insyaallah akan sembuh."
"Terimakasih banyak tuan putri, bismillahirrahmanirrahim." gadis muda itu meminum air putih hangat itu sampai habis. Setelah itu ia memandang semua orang yang nampak sangat khawatir padanya.
"Alhamdulillah. Saya sudah sehat dan akan kembali ke kamar saya tuan putri." ucapnya dengan wajah meringis tak nyaman dengan tatapan semua orang padanya.
"Bolehkan kalau Abu Zubair mengantar Zarah ke kamarnya pangeran?" izin putri Medina Al-Akhmaar kepada suaminya. Matanya yang bulat indah berkedip-kedip manja pada pria tampan di hadapannya dengan manja. Ia sampai lupa diri kalau ada Abu Zubair masih ada di tempat itu.
"Tentu saja boleh tuan putri." jawab pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan senyum diwajahnya. Rasanya ia sangat ingin segera menutup pintu kamar itu dan mengurung sang istri berdua saja di dalam kamar. Perempuan cantik itu terlalu menggemaskan.
"Abu Zubair antar Zarah ke kamarnya sekarang!" titah pangeran tampan itu dengan tegas.
"Baik tuanku."
__ADS_1
"Mohon maafkan hamba tuan. Saya tidak perlu diantar ke kamar. Saya tahu jalannya dan juga saya sudah sehat." Zarah binti Abdullah menundukkan wajahnya dengan tidak enak hati. Jari-jemarinya ia jalin karena sangat tak nyaman diperlakukan sangat istimewa oleh pangeran ElRasyid Al-Hasan dan istrinya itu.
"Tidak apa Zarah. Abu Zubair tidak akan macam-macam, iyakan Abu Zubair?"
"Iya tuan putri."
"Ayo cepat Zarah. Jangan sampai Abu Zubair mengundurkan niatnya untuk mengantarmu dan batukmu akan kembali kambuh."
"Iya tuan putri terimakasih banyak. Saya akan kembali ke kamar saya sekarang. Selamat istirahat." Zarah segera keluar dari kamar itu bersama dengan Abu Zubair di belakangnya. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan tanpa sengaja tubuh tinggi tegap itu menabraknya.
"Kenapa anda berhenti Zarah?" tanya Abu Zubair dengan wajah datar.
"Saya ingin menyampaikan satu hal pada tuan putri terlebih dahulu." Zarah segera berlari cepat ke arah pintu kamar pribadi putri mahkota dan suaminya itu.
"Maafkan saya tuan putri."
"Ada apalagi Zarah?" tanya putri Medina Al-Akhmaar dengan wajah penasaran.
"Bagaimana kalau tuan putri membutuhkan sesuatu sedangkan Abu Zubair dan saya tidak ada di sini." Zarah binti Abdullah nampak sangat khawatir untuk meninggalkan tugasnya sebagai pelayan tuan putri mahkota itu.
"Astagfirullah Zarah. Pelayan disini bukan cuma kamu. Setelah kamu beristirahat akan ada pelayan lain yang akan membantuku. Sekarang kamu istirahat cepat." putri Medina Al-Akhmaar menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum diwajahnya. Ia sangat tahu kesetiaan pelayan pribadinya itu.
"Baiklah kalau begitu tuan putri. Saya akan beristirahat sekarang. Dan anda juga beristirahatlah."
"Iya Zarah."
"Assalamualaikum warahmatullahi tuan putri."
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
🍀🍀🍀
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍