
Raja Hasan Ishaaq dan permaisurinya tiba di kerajaan AlHambra dengan membawa banyak hadiah.
Selain untuk ikut merayakan kemenangan atas perang yang baru saja terjadi, mereka juga datang khusus untuk melaksanakan pernikahan Abu Zubair sang pengawal.
Disaksikan oleh petinggi dua kerajaan besar di Andalusia, Abu Zubair sah menjadi suami Zarah binti Abdullah. Doa dan ucapan selamat tertuju pada mereka berdua.
"Selamat Abu Zubair, semoga keberkahan selalu berada pada keluarga kalian berdua," ucap pangeran ElRasyid Al-Hasan pada pengawal pribadinya itu.
"Terimakasih banyak pangeran. Doa yang sama untuk anda dan putri mahkota. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada keluarga anda dan juga untuk calon penerus kerajaan AlHambra ini."
"Aaamiin Ya rabbal Aalamiin," balas pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari tersenyum bahagia. Abu Zubair bukan hanya pengawal pribadinya tetapi sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.
Mereka berdua pun saling berpelukan dengan penuh rasa haru dan gembira. Permaisuri Umi Kalsum yang melihat mereka tampak sangat bahagia ikut terharu dengan kebahagiaan mereka berdua.
"Abu Zubair, aku merasa bersyukur karena sudah bisa menyaksikan pernikahanmu sesuai pesan kedua orangtuamu."
"Terimakasih banyak permaisuri. Keluarga kerajaan begitu peduli padaku selama ini."
"Sekarang temui istrimu Abu Zubair. Aku yakin kamu sudah sangat ingin bertemu dengannya." ucap permaisuri Umi Kalsum pada sang pengantin baru. Senyum samar tampak dibibirnya hingga membuat pangeran ElRasyid Al-Hasan justru menggodanya.
"Aku beri kamu istirahat selama seminggu Abu Zubair. Kamu tidak perlu mengawalku kemanapun." sang pengawal hanya tersenyum kemudian menundukkan wajahnya.
"Hayya, temui istrimu sekarang juga." titah pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari mendorong pelan tubuh sang pengawal.
"Pesta belum usai dan tamu semakin banyak. Aku tidak akan meninggalkan acara ini sampai selesai." ujar Abu Zubair bertahan tidak ingin meninggalkan tempat itu.
Meskipun hatinya sangat ingin bertemu dengan Zarah binti Abdullah sang kekasih hatinya tetapi ia adalah seorang pengawal sejati. Ia tidak ingin meninggalkan sebuah pekerjaan sebelum selesai.
"Aku yang memerintahkanmu Abu Zubair!" tatap tajam mata pangeran ElRasyid Al-Hasan.
"Ampuni aku tuan. Tetapi aku benar-benar ingin menyambut tamu yang datang jauh-jauh untuk mendoakan pernikahanku ini. Aku tidak ingin mengecewakan mereka dengan meninggalkan tempat ini." pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum kemudian menepuk bahu sang pengawal.
"MasyaAllah, sungguh mulia keteguhan hatimu Abu Zubair. Aku sangat senang mendengarnya."
__ADS_1
"Aku yakin istrimu pasti akan sangat bahagia denganmu."
"Aamiin ya Allah. Aku berharap bisa membahagiakan Zarah seperti anda memperlakukan tuan putri Medina Al-Akhmaar."
"Hahahaha, memangnya apa yang aku lakukan pada sang putri sering kamu perhatikan Abu Zubair?" pengawal itu tidak menjawab. Ia merasa malu karena sudah sangat lancang memperhatikan tuannya.
"Ya ya ya, Aku memang sangat mencintai putri mahkota kerajaan ini Abu Zubair. Hingga aku yakin engkaupun bisa melihat begitu besar perasaanku padanya."
"Nah sekarang kamu bisa menyapa semua tamu yang datang. Mereka pasti ingin bertemu denganmu. Karena sekarang aku ingin bertemu juga dengan ibu dari anak-anakku."
Mereka kemudian berpisah dan melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.
Hari itu semua orang bersuka cita kecuali permaisuri Hindun dan putri Jasmina. Mereka berdua yang sedang berada di dalam dinginnya penjara bawah tanah kerajaan hanya bisa menangisi nasib mereka.
Seorang pelayan yang membawakan mereka makanan bercerita kalau istana AlHambra sedang diliputi kebahagiaan.
"Katakan apa yang terjadi di dalam istana kerajaan tanpa kami pelayan?!" bentak putri Jasmine pada pelayan itu.
Putri Jasmine dan permaisuri Hindun saling bertatapan dengan perasaan marah. Mereka sangat tidak suka mendengar Kebahagiaan orang-orang apalagi tanpa mereka disana.
"Pangeran ElRasyid Al-Hasan pulang dengan membawa kemenangan dari medan perang."
"Dan sekarang, pengawal sang pangeran,. yaitu tuan Abu Zubair sedang merayakan pernikahannya dengan Zarah binti Abdullah."
"Ooooh tidak ibu, aku tidak suka melihat mereka semua bahagia. Aku benci!" putri Jasmine melempar makanan ala tawanan yang baru diantar oleh pelayan itu.
"Jasmine, jaga sikapmu! kita tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya bisa menunggu hukuman kita." ucap Permaisuri Hindun dengan senyum sedihnya.
"Ibu, ada apa denganmu? dimana semangatmu untuk merebut tahta kerajaan ini?" putri Jasmine meraih bahu perempuan paruh baya itu yang sudah tidak mempunyai semangat untuk hidup.
"Semua rencana kita sudah gagal Jasmine. Tidak ada lagi yang berpihak pada kita. Sekarang aku sudah merasa kalah."
"Ibu harus kuat. Kita harus merencanakan untuk melarikan diri dari sini. Yakinlah ibu, kita pasti masih memiliki harapan."
__ADS_1
"Tidak Jasmine. Aku sudah tidak kuat lagi. Kita sebaiknya menunggu keputusan pengadilan tinggi di kerajaan ini."
"Hey ibu, makanan apa yang sudah kamu makan hingga membuatmu kehilangan nyali seperti ini? dimana semangatmu untuk menjadi penguasa kerajaan ini."
"Jasmine! jaga mulutmu! ada banyak penjaga disini. Jangan sampai mereka menyampaikan laporan kalau kita masih akan melakukan kudeta." putri Jasmine tersenyum. Ia sekarang sudah mengerti kenapa ibunya tampak sangat tak bersemangat seperti itu.
"Oh jadi ibu punya rencana lain ya?" permaisuri Hindun tersenyum samar kemudian meraih putrinya kedalam pelukannya.
"Kita harus hidup Jasmine. Maka itu bersabarlah. Dan kita akan membuat rencana baru." bisik permaisuri Hindun ditelinga sang putri. Putri Jasmine seolah mendapatkan suntikan energi baru. Ia tersenyum lebar dan balas memeluk perempuan yang sudah melahirkannya itu.
Mereka berdua kembali meraih kebahagiaan semu yang berbalut kebencian yang menggerogoti hati mereka.
Sementara itu, di aula kerajaan. Dimana pesta pernikahan Abu Zubair dan Zarah berlangsung. Beberapa tamu sudah meninggalkan acara. Semua orang ingin kembali beristirahat karena istana itu sudah berselimutkan malam.
Abu Zubair meninggalkan tempat itu juga dan mendatangi kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh putri Medina Al-Akhmaar.
Ada rasa tak percaya ketika membuka pintu kamar itu saat melihat seorang perempuan cantik yang sudah lama ia ingin nikahi duduk di atas ranjang pengantin yang sangat indah itu.
Zarah menatapnya dengan senyum malu-malu. Perempuan itu kemudian menundukkan wajahnya saat ia balas menatapnya dengan penuh cinta.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh Zarah," sapanya dengan suara serak. Hatinya terlalu senang sampai membuatnya gemetar sendiri.
Entah apa yang terjadi pada dirinya kini. Padahal pertempuran dahsyat baru saja ia hadapi tetapi tidak membuat tubuhnya gemetar seperti saat ini.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh tuan Abu Zubair." suara Zarah yang cukup pelan itu membuatnya semakin merasakan perasaan berbeda.
🍀🍀🍀
Bersambung.
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya Okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1