Medina Al-Akhmaar

Medina Al-Akhmaar
Bab 25 Hukuman Untuk Jasmine


__ADS_3

Pangeran ElRasyid Al-Hasan kembali ke kamarnya dengan perasaan bahagia. Dengan melihat istrinya kembali akur dan memaafkan perbuatan paduka raja selama ini, ia jadi merasa tenang. Itu berarti putri Medina Al-Akhmaar akan lebih nyaman hidup di istana yang kelak akan dipimpinnya.


Pangeran tampan itu merasa semakin jatuh cinta pada sang putri mahkota. Kecerdasan dan kebaikan hatinya sangat pantas untuk memimpin kerajaan AlHambra ini kedepannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi pangeran ElRasyid Al-Hasan."


Langkah pangeran ElRasyid Al-Hasan terhenti ketika seorang yang ia kenal suaranya menyapanya dengan sangat ramah. Dia adalah putri Jasmine, adik tiri istrinya.


"Waalaikumussalam warahmatullahi putri Jasmine."


"Bagaimana perjalanan anda dari Cordoba pangeran?"


"Alhamdulillah, sangat menyenangkan. Banyak pelajaran bermakna yang kami dapatkan di kota itu." jawab pangeran tampan itu dengan mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"MasyaAllah. Aku juga sangat ingin melakukan perjalanan ke tempat itu pangeran. Dan kalau anda tidak keberatan. Anda bisa menemani aku kesana suatu saat nanti." pangeran ElRasyid Al-Hasan melongo tidak percaya dengan pendengarannya.


"Maafkan aku putri Jasmine. Aku hanya akan pergi bersama putri Medina Al-Akhmaar saja karena dia adalah istriku. Dan lagipula anda mempunyai banyak pelayan dan pengawal."


"Tapi kan mereka belum berpengalaman mengunjungi tempat-tempat menarik seperti itu. Dan anda yang sudah sering keluar kerajaan pasti lebih menguasai tempatnya. Dan juga anda bisa melindungiku."


Pangeran ElRasyid Al-Hasan tersenyum dan sudah mulai menebak arah pembicaraan yang sangat tidak bermanfaat ini.


"Maafkan aku putri Jasmine. Aku dan tuan putri Medina Al-Akhmaar baru saja tiba dari perjalanan jauh. Tubuh kami sangat lelah dan ingin beristirahat. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan langkah cepat meninggalkan adik iparnya itu dan menuju ke kamar pribadinya.


Sedangkan Abu Zubair sang pengawal mengikutinya di belakang dengan senyum samar diwajahnya.


Putri Jasmine mendengus kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai. Ia sangat tidak suka kalau pangeran itu tidak memberinya kesempatan untuk mendekatinya.


"Apa yang sudah diberikan putri Medina padanya, kenapa ia sama sekali tidak mau melihatku." geramnya menahan emosi didadanya.


Lama ia berdiri di sana dan akhirnya melangkahkan kakinya ke arah Arrayyaan, yaitu kolam besar yang ada ditengah-tengah istana. Putri Jasmine ingin menenangkan hatinya yang kecewa dengan memandang kolam besar itu.


Dan tidak ia sangka kalau akan bertemu dengan putri Medina Al-Akhmaar di tempat itu yang sedang berdiri di sana dengan wajah sedih. Rupanya sang putri sedang mengingat kebersamaannya dengan sang permaisuri Sabrina ibundanya tersayang.

__ADS_1


Perlahan putri Medina Al-Akhmaar menghapus airmatanya sembari memandang kolam besar itu. Ingatan masa kecilnya yang selalu ia habiskan di kolam itu bersama ibunya kini berputar kembali dalam memorinya.


Putri Jasmine mencibir. Ia mendekati kakak tirinya itu dengan wajah gembira. Ia paling suka jika melihat saudara perempuannya itu jika bersedih dan mengeluarkan airmatanya.


"Assalamualaikum warahmatullahi tuan putri mahkota yang terhormat. Apa perjalanan anda tidak menyenangkan bersama pangeran hingga menangis di tempat ini?" tanyanya dengan wajah terangkat. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan.


Putri Jasmine yakin sekali kalau saudaranya itu sedang tidak bahagia bersama dengan pangeran ElRasyid Al-Hasan.


Putri Medina Al-Akhmaar segera menghapus airmatanya dan berniat meninggalkan tempat itu. Ia selalu berusaha menghindari sebuah perdebatan yang tidak bermanfaat dengan saudara tirinya itu. Tetapi tangannya dicekal oleh putri Jasmine.


"Mau kemana tuan putri? mau menangis di depan pangeran ElRasyid Al-Hasan atau mau menangis di perpustakaan?" putri Jasmine mencibir. Ia sangat tahu kakak tirinya itu, jika sedang bersedih pasti mendatangi perpustakaan dan mengurung diri di sana.


"Itu bukan urusanmu putri Jasmine. Jadi biarkan aku kembali ke kamarku sekarang juga."


"Tinggallah dulu di sini kakakku tersayang, aku ingin berbagi cerita denganmu tentang banyak hal."


"Tidak. Aku sedang ingin beristirahat sekarang. Aku lelah." putri Medina Al-Akhmaar berusaha melepaskan cekalan tangannya sampai terlepas.


"Apa maumu putri Jasmine?" tanya putri Medina Al-Akhmaar dengan suara tegasnya.


"Aku yang bertanya apa maumu putri Medina, kenapa kamu mendorongku ke kolam?" putri Medina Al-Akhmaar menyeringai. Ia sudah tahu sifat dari adik tirinya itu. Putri Jasmine paling bisa kalau soal memutar balikkan fakta.


"Oh ya? aku sebenarnya malas berdebat denganmu putri Jasmine. Tapi kalau kamu meminta maka aku akan siapkan waktuku untukmu." putri Jasmine hanya diam sembari berusaha berdiri dengan tegak.


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku adikku sayang?" tanya putri Medina Al-Akhmaar dengan pandangan tajam.


"Aku ingin memberitahumu kalau ibumu itu benar-benar berselingkuh dengan pengawalnya. Jadi jangan sampai itu terulang padamu dengan Abu Zubair yang selalu berjaga di depan kamarmu tuan putri."


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat cantik dipipi mulus putri Jasmine. Gadis itu meringis dan meradang karena tidak menyangka putri Medina Al-Akhmaar bisa secepat itu menyerangnya.


Ia segera menyerang balik putri mahkota itu tetapi gerakannya sudah bisa terbaca oleh putri Medina Al-Akhmaar.

__ADS_1


Byurrr


"Brengsek kamu putri Medina!" teriak putri Jasmine dari dalam kolam. Tangannya menggapai meminta tolong karena tak mampu berenang.


Beberapa pengawal istana segera berlari ke arah kolam besar Arrayyaan untuk menolong sang putri sedangkan putri Medina Al-Akhmaar meninggalkan kolam itu dengan senyum menyeringai.


Putri Mahkota kerajaan AlHambra itu berharap putri Jasmine berhenti mengganggunya atau ia bisa memberikan hukuman yang lebih berat daripada itu semua.


Permaisuri Hindun yang mendengar kabar kalau putrinya jatuh ke dalam kolam Arrayyaan segera menemui putrinya itu di dalam kamar pribadinya.


"Ada apa Jasmine? kenapa bisa kamu terjatuh ke dalam kolam itu hah? Dimana kamu taruh matamu?"


"Apa ibu tidak bisa bertanya satu-satu?" putri Jasmine menggerutu kesal dengan rambut yang masih basah.


"Kalau begitu ceritakan pada ibu apa yang terjadi padamu?"


"Ini semua karena putri mahkota sialan itu ibu, dia yang mendorongku ke kolam."


"Ya ampun. Kenapa kamu tidak membalasnya Jasmine?"


"Aku sudah membalasnya ibu tapi ia sudah lebih kuat dan juga berani ibu."


"Sepertinya kita harus lebih berhati-hati padanya Jasmine. Apalagi sekarang paduka raja sudah menyayanginya kembali."


"Apa ibu?"


🍀🍀🍀


Bersambung


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍

__ADS_1


__ADS_2