
Pangeran ElRasyid Al-Hasan melajukan kudanya dengan sangat cepat diikuti oleh Abu Zubair disampingnya.
Hiyaaa
Hiyaaa
Panglima perang kerajaan Al Amin itu merasakan hatinya sangat gelisah dan sangat ingin bertemu dengan putri Medina Al-Akhmaar sang istri tercinta.
Beberapa hari ini putri mahkota itu tidak terlalu sehat dan sering mengeluh sakit kepala hingga kunjungannya hari ini yang rencananya akan ia lakukan berdua terpaksa ia lakukan sendiri.
Hiyaaa
Derap langkah kuda rombongan pangeran ElRasyid Al-Hasan itu semakin membuat jalanan setapak menuju bukit La Sabica itu cukup ramai.
Tak berapa lama kemudian Istana merah AlHambra sudah tampak di depan matanya. Pangeran tampan itu langsung melompat turun dari kudanya ketika sudah sampai di depan pintu istana.
"Ada apa?" tanyanya pada para pelayan yang sepertinya ramai di sudut-sudut istana sedang berbicara dengan berbisik-bisik.
"Assalamualaikum pangeran," sapa semua pelayan itu sembari menundukkan wajahnya.
"Waalaikumussalam warahmatullahi. Apa yang terjadi di sini selama aku tidak ada?" tanyanya dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Tuan putri sedang tidak baik-baik saja tuanku." jawab salah satu dari mereka dengan wajah ikut khawatir. Pangeran ElRasyid Al-Hasan langsung berlari ke arah kamar pribadinya yang cukup jauh dari pintu istana.
Panglima perang itu harus melewati banyak ruangan yang sangat banyak untuk sampai ke kamar pribadinya.
"Assalamualaikum warahmatullahi pangeran."
"Waalaikumussalam warahmatullahi. Dimana tuan putri, Zarah?"
"Tuan putri ada di dalam kamar Pangeran." jawab Zarah dengan wajah gembira. Ia berharap dengan kedatangan sang pangeran maka keadaan tuan putrinya bisa lebih baik.
"Assalamualaikum istriku," sapanya saat melihat istrinya itu begitu pucat.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh pangeran."
"Apa yang terjadi padamu sayangku?" tanyanya sembari mencium kening istrinya yang sangat dingin dan pucat itu.
"Ueeeekkk," Putri Medina Al-Akhmaar bangun dari tidurnya karena merasa sangat mual.
"Zarah!" panggil pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari memijit tengkuk istrinya dengan lembut agar sang istri merasa lebih baik.
__ADS_1
"Iya tuan," Zarah dengan cepat sudah berada di depan Pangeran ElRasyid Al-Hasan sembari membungkukkan badannya hormat.
"Katakan Zarah, Apa yang sudah dimakan atau diminum tuan putri kenapa bisa seperti ini?"
"Ueeeekkk,"
"Ampun tuanku. Saya yang bersalah karena tidak memperhatikan makanan tuan putri. Izinkan saya yang memijit tubuh putri mahkota tuan." pelayan itu ingin memberikan bantuan kepada sang putri tetapi dilarang oleh pangeran ElRasyid Al-Hasan.
"Biar aku saja Zarah. Sekarang katakan apa yang sudah diminum oleh tuan putri sampai bisa seperti ini. Dan kamu tidak membawa Tabib kesini."
"Mohon maaf tuanku. Semua tabib istana sedang berada di kamar pribadi putri Jasmine."
"Memangnya apa yang terjadi pada putri Jasmine, Zarah?" tanya pangeran ElRasyid Al-Hasan dengan wajah penasaran. Ia sedikit tidak percaya kalau adik iparnya itu sedang sakit.
Pangeran ElRasyid Al-Hasan ingat kalau ia bertemu dengan putri kedua raja Lukman Al-Akhmaar itu masih tampak sehat-sehat saja beberapa waktu yang lalu.
Lamunannya terjeda dengan suara putri Medina Al-Akhmaar yang memanggilnya.
"Pangeran,"
"Ueeeekkk, pangeran kepalaku sangat sakit." ucap putri Medina Al-Akhmaar dengan suara lemah.
"Tidurlah lagi tuan putri. Aku akan memeriksa tubuh anda." pangeran ElRasyid Al-Hasan membaringkan perempuan itu dan memeriksa denyut nadinya yang sangat lemah.
"Dimana dan bersama siapa?" tanya pangeran lagi dengan wajah khawatir. Ia sangat takut kalau ada yang memberinya minuman seperti kecurigaannya waktu itu. Putri Medina Al-Akhmaar menutup kelopak matanya dan tidak menjawab.
"Katakan Zarah! engkau yang selalu bersama dengan tuan putri di istana ini."
"Maafkan saya tuan. Putri Mahkota diundang oleh putri Jasmine sebelum kejadian ini terjadi. Mereka berdua sama-sama meminum minuman khas Andalusia."
"Dan setelah itu kedua tuan putri itu sakit. Putri Jasmine keracunan dan sampai sekarang sedang kritis sedangkan putri Medina Al-Akhmaar juga sedang sakit seperti ini."
"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun." pangeran ElRasyid Al-Hasan mengucapkan kalimat istirja' sembari meraup wajahnya dengan kasar.
"Aku akan memanggil salah satu tabib untuk memeriksa kesehatan anda tuan putri. Anda juga berhak mendapatkan pelayanan kesehatan di istana ini Meskipun putri Jasmine sedang dalam masa kritis."
Putri Medina Al-Akhmaar hanya bisa tersenyum tipis dengan perhatian penuh cinta dari suaminya. Tubuhnya sungguh sangat lemas sekarang.
"Tunggu aku di sini sayangku." pangeran ElRasyid Al-Hasan mengecup lembut kening istrinya dan segera keluar dari kamar itu.
Zarah langsung mengelus lembut tangan sang putri mahkota dengan penuh kasih sayang. Mereka berdua bagaikan saudara yang saling menyayangi.
__ADS_1
Untunglah keadaan putri Medina Al-Akhmaar saat ini tidak lebih parah daripada keadaan putri Jasmine yang sedang diujung tanduk.
Sementara itu di ruang kesultanan raja Lukman Al-Akhmaar.
Beberapa orang kepercayaan sang raja sedang berkumpul untuk membahas kejadian yang terjadi pada kedua putri raja yang tiba-tiba sakit setelah meminum minuman yang telah dibuat oleh seorang pelayan istana.
"Panggil pelayan itu kemari!" titah sang raja dengan suara menggelegar marah. Tak lama kemudian seorang pelayan perempuan pun masuk ke ruangan itu dengan wajah menunduk.
"Siapa namamu?" tanya sang raja dengan berusaha menahan rasa marahnya.
"Nama saya Ummi Maktum, paduka raja."
"Sudah berapa lama engkau bekerja melayani putri Jasmine?"
"Sudah sekitar lima tahun paduka raja."
"Selama itu engkau bekerja dan berniat membunuh tuan putrimu sendiri Ummi Maktum?"
"Tidak benar seutuhnya paduka raja."
"Kalau begitu ceritakan pembelaanmu sekarang juga. Sebelum kami memutuskan hukuman yang setimpal untukmu."
"Maafkan saya paduka raja. Minuman itu sebenarnya adalah untuk tuan putri mahkota atas perintah putri Jasmine. Tetapi aku menukarnya dengan minuman putri Jasmine."
"Saya sadar kalau perintah tuan putri Jasmine itu tidak benar karena putri Medina Al-Akhmaar adalah seorang yang sangat baik tuanku. Tidak mungkin tangan saya ini rela membunuhnya paduka raja "
"Akhirnya saya menukar minuman kedua putri itu agar menjadi pelajaran bagi setiap orang bahwa dengan mencari keburukan untuk orang lain maka semua akibatnya pastinya akan kembali ke dirinya sendiri." jelas Uni Maktum dengan wajah tegas tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Dan apakah kamu yakin hanya menukar minuman itu? lalu kenapa putri Medina Al-Akhmaar juga sakit setelah itu?"
"Saya sangat yakin tuanku paduka raja. Minuman putri mahkota kerajaan ini aman dan tidak mengandung racun yang berbahaya."
"Meskipun kamu mengakui kesalahanmu tetapi kamu tetap mendapatkan hukuman Umi Maktum!"
"Putri Jasmine sekarang sedang dalam masa kritis jadi kamu akan dipenjara sesuai dengan kesalahanmu."
"Saya menerima keputusan paduka raja. Apapun itu asalkan saya tidak bekerja dibawah perintah putri Jasmine." raja Lukman Al-Akhmaar terdiam. Ia tidak menyangka putri Jasmine begitu sangat jahat karena ingin membunuh saudaranya sendiri.
🍀
Bersambung
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍