
Suara panggilan cukup keras bahkan beberapa orang menoleh ke arah Lia. Akan tetapi yang dipanggil justru masih diam tak bergeming. Ia hampir lupa tentang kebiasaan sang sahabat yang pasti mendengarkan musik menggunakan earphones. Satu kebiasaan yang selalu di anggap sebagai healing terbaik.
Disentuhnya bahu Aira membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Tanpa ingin mengusik, ia memilih ikut duduk di sebelah sang sahabat. Lautan yang tenang tetapi deburan ombak kian bergelombang menepikan buih putih selembut kapas. Pantai yang bisa menjadi destinasi pilihan untuk semua kalangan. Tentunya orang-orang sepakat dengan hal itu.
Musik yang masih terdengar di matikan tanpa melepaskan earphones dari telinganya. "Kamu udah disini? Lalu dimana yang lain?"
"Aku disini karena mencarimu, sedangkan yang lain ada disana. Apa sudah dapat yang kamu cari?" tanya balik Lia menggoda Aira.
"Sudah. See, aku duduk disini." Jawab Aira ingin memasang earphones kembali tapi tangannya ditahan Lia. "Ada apa lagi? Aku mau tenang."
Pernyataan Aira benar-benar memancing rasa gemas. Bisa-bisanya gadis itu ingin kembali tenggelam menikmati irama musik, sedangkan di sisi lain ada hati yang gelisah. Bukannya kasihan dengan Alex hanya saja ia memiliki hati dan tidak ingin ada perasaan yang terluka. Apalagi kesungguhan tampak nyata.
"Ra, kamu ini ya. Ayo ikut aku kesana! Asal kamu tahu Alex sedih tahu, dia mikir hanya aku yang. ikut ke pantai." Lia hanya berusaha membujuk Aira agar sang sahabat mulai membuka hati.
Aira tak peduli, lirikan mata mendongak menatap angkasa dengan hiasan awan berarak. "Lalu, apa hubungannya denganku? Kalau kamu udah bilang aku nggak ikut. Jadi bisa donk stay disini."
Pembelaan sang sahabat diabaikannya. Tanpa rasa sungkan ia menarik tangan Aira yang diminta bangun. Lalu ikut bersamanya, sedangkan yang dipaksa hanya diam menurut. Di sisi lain, Anak-anak sibuk mengobrol random. Tiba-tiba mereka dikejutkan kedatangan gadis berwajah tidak asing. Apalagi raut wajah Alex mendadak berseri bahagia.
Perubahan Alex membuat semua temannya sadar. Sudah pasti gadis itu diajak oleh si pemuda yang biasanya kalem. Sungguh hal diluar dugaan karena orang-orang tau Alex anak rumahan dan tidak suka berteman dengan banyak gadis bahkan teman sekelas pun karena tugas kelompok.
"Maaf nunggu lama. Aku cari sahabat ku dulu. Kenalin Aira namanya." Lia masih menggandeng tangan si gadis kutub karena ia khawatir sang sahabat pergi begitu saja.
Satu pee satu mengulurkan tangan. Mereka ingin berjabat tangan dengan Aira tetapi gadis itu hanya menyambut tangan dua gadis yang dianggap sebagai muhrim. Sambutan hangat membuat suasana lebih intens. Sayangnya ketiga lelaki teman Alex harus menahan malu karena diabaikan bahkan tidak dilirik sedikitpun. Melihat itu, Alex tersenyum puas.
Semua orang mulai ngobrol santai. Dari pembicaraan tentang tugas sekolah sampai ke ekstrakurikuler, sedangkan Aira memilih duduk di paling ujung mendengarkan musik volume kecil sekaligus menikmati semilir angin pantai yang selalu dirindukan.
Sementara Alex tengah disibukkan merenung memikirkan apa yang akan dilakukan karena meski bisa di satu tempat bersama sang pujaan hati. Tetap saja seperti berdiri di persimpangan jalan.
Rasa bosan melanda, membuat Aira memberitahu pada Lia. Jika ia ingin jalan-jalan di bibir pantai. Akan tetapi hanya ingin sendiri saja dan meminta sang sahabat untuk menemani Alex. Tanpa menunggu jawaban, gadis itu beranjak dari tempat duduk dan berhasil mengalihkan perhatian semua orang.
Mereka paham Aira tidak suka hanya diam di tempat. Apalagi di tempat keramaian, sedangkan Alex yang melihat itu sangat senang karena berpikir mendapatkan jalan untuk bicara berdua dengan gadis pujaan hatinya. Tanpa ingin menunda waktu, pemuda itu ikut beranjak dari tempat duduk, lalu menoleh ke arah depan.
__ADS_1
"Aku pergi temani Aira, ya. Kasihan kalau sendiri." Alex berlari pelan meninggalkan temannya tanpa menunggu jawaban.
Lia dan yang lain hanya tertawa melihat kelakuan Alex, namun seseorang diantara teman Alex ada yang penasaran dengan Aira. Meskipun begitu dia tetap bersama teman yang lain agar tidak kelihatan rasa ingin tahunya. Apalagi Alex setengah berlari hanya untuk mengejar seorang gadis yang berada sepuluh meter di depan si pemuda.
Aira begitu tenang. Ia sibuk mengedarkan pandangan mata mencari tempat yang nyaman. Pantai adalah tempat favoritnya tetapi tanpa duduk di spot terbaik untuk melihat keindahan alam. Bukankah rasanya ada yang kurang? Tiba-tiba ia melihat sebuah gubuk yang dirasa tempat bagus untuk duduk sembari mendengarkan musik.
Baru saja duduk dan si pengganggu sudah datang. Siapa lagi jika bukan Alex. Si pemuda menatapnya tak berkedip. "Kamu ngapain disini sendiri? Aira kebiasaanmu ini tidak baik. Lihatlah sekeliling sangat sepi."
Alex berusaha mengingatkan setelah sampai di dekat gubuk, tapi seperti biasa tidak mendapatkan jawaban dari Aira. Dilihatnya sang pujaan hati lebih seksama. Ternyata earphones sudah menutupi kedua telinga sempurna. Pantas saja tidak mendengarkan ucapannya. Sontak saja ia berjalan mendekati sang pujaan hati agar dapat terlihat.
Aira melepaskan earphones tanpa mematikan musiknya. "Ada apa?" Tatapan mata tak senang karena pemandangan indah di depan mata justru dihalangi tubuh yang berdiri bak patung.
"Kamu yang ngapain? Ditempat sepi nggak baik duduk sendirian." Alex melihat sekeliling. Dimana tempat Aira sedikit sepi karena hari sudah mulai siang dan orang lain beranjak mencari minum di warung.
Aira tersenyum tipis membalas tatapan Alex yang cemas. Ia tahu pemuda itu ingin membicarakan sesuatu, tapi masih bingung mau mulai dari mana. "Kamu orang 'kan? Jadi aku nggak sendiri."
"Aira, aku mau bicara denganmu." Tatapan mata menatap Aira semakin dalam tetapi yang ditatap hanya tersenyum samar.
Perdebatan kecil berakhir dengan duduk bersama di gubuk yang menjadi pilihan Aira. Sejenak hanya ada keheningan di antara kedua insan yang menikmati embusan semilir angin beraroma segar lautan. Emosi hati berusaha menuntut meminta penjelasan, tetapi logika tak ingin ada kecewa atas rasa yang membelenggu jiwa.
Tangannya saling bertautan. Suara tarikan napas terdengar begitu jelas, "Aira, apa kamu punya pacar?"
"Hmm." jawab Aira seperti biasanya. Gadis itu sudah tahu arah pembicaraan akan kemana.
Satu kata yang bisa berarti banyak makna. Apa gadis pujaan hatinya sudah memiliki kekasih? Jika iya, kenapa tidak pernah dikenalkan? Atau semua hanya ada dalam pikiran dia seorang? Entahlah tapi ia ingin tahu yang sebenarnya. Perubahan wajah yang tidak bisa dipungkiri.
"Aira, apa itu berarti kamu sudah punya kekasih?" tanyanya sekali lagi memastikan kebenaran itu nyata.
Sikap Alex yang terlalu bertele-tele, membuat Aira menahan diri untuk tetap tenang. "Sebenarnya kamu mau bicara apa? To the point saja." Ia menggeser tubuhnya agar bisa memandang Alex yang ternyata menunduk.
"Aira, sejak aku melihat mu. Di saat itu kamu menarik perhatianku. Pertemuan kita selalu menjadi kebahagiaan, tentu perasaan ini kamu lebih tahu. Apalagi sejak kita berteman, aku merasa hubungan kita semakin lebih dekat. Jujur saja saat ini rasa cinta di hati kian berbunga karena kebersamaan kita.
__ADS_1
"Air, aku mau menjadi orang yang selalu ada untukmu untuk memahami suka duka dalam kehidupanmu dan menjadi salah satu alasan dari senyuman manis di bibir manismu. Maukah kamu menjadi kekasih ku?" ungkap hati Alex yang masih menunduk tanpa menyadari Aira sedari tadi memandangnya.
Pernyataan cinta yang tidak mengejutkan lagi baginya hanya saja cara Alex tidak bisa dianggap serius. Berbicara tanpa menatap mata lawan bicara, bukanlah satu tindakan yang bisa dianggap bertanggung jawab pada ucapan yang keluar dari bibir. Baginya ada hal yang tidak perlu diungkapkan.
"Angkat kepalamu, tatap aku! Jika kamu ingin kepercayaan, katakan dengan menatapku." tantang Aira tanpa melepaskan pandangan matanya dari Alex.
Alex terkejut mendengar ucapan Aira. Apalagi begitu mendongak, tatapannya langsung terpatri pada netra coklat sang pujaan hati. Gadisnya tampak serius dengan mata yang tajam mengoyak rasa di hatinya. "Aira, aku mau kamu menjadi kekasihku. Apakah kamu bersedia menjadi teman sekaligus pacar lelaki seperti ku?"
"Apa kamu marah? Bicaralah padaku. Kamu baik-baik saja Aira?" Diamnya sang pujaan hati membuat Alex panik. Tanpa permisi ia memeriksa dahi sang gadis tetapi tidak panas.
Perlakuan Alex menghadirkan rasa tak nyaman. Sontak saja ia menepis tangan pemuda itu dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Jika kamu suka dengan jalan terjal, maka cobalah berjalan di atas bara api. Kamu ingin menyentuh rembulan yang ternoda? Lakukanlah."
Alex bingung dengan maksud Aira. Bahasa yang puitis membuat pemuda itu berpikir keras hanya saja tetap tidak sampai pada arti sesungguhnya. "Serius aku ...,"
"Apa yang kamu inginkan?" Sela Aira bertanya tetapi nada suara kembali tenang tak seperti sebelumnya.
Alex tersenyum meskipun masih terjebak dalam dilema. "Aku mau menjadi kekasihmu."
"Lakukan saja! Jika kamu siap terjatuh." balas Aira tersenyum samar membuat bulu kuduk Alex meremang.
Sikap luar biasa Aira semakin memperumit keadaan. Dia bukanlah pemuda yang memahami teka teki karena apapun yang dilakukan atas dasar rasa di hati. "Aira, bisa kamu jelaskan. Apa maksud dari lakukan saja?"
Aira mengalihkan pandangannya ke pantai. Lalu terdiam sesaat, kemudian melirik kearah Alex. "Sebuah Kesempatan hanya itu yang bisa ku berikan. Jangan banyak bertanya dan membuat ku berubah pikiran. Silahkan datang kedalam hidupku, tapi jangan mengeluh jika terjatuh."
"Aku setuju dan itu cukup untukku. Satu kesempatan yang kamu berikan pasti aku gunakan sebaik mungkin agar bisa mendapatkan hatimu." Pemuda itu tersenyum bahagia menyambut kisah yang akan mengubah waktunya.
Keduanya menjadi sangat pendiam setelah menyepakati hubungan baru mereka. Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah satu jam duduk terpisah dari yang lain. Aira bangkit dan berniat kembali menemui Lia tetapi tampaknya Alex betah duduk seperti patung di sebelah tempat duduknya.
"Aku mau pulang dan jika mau tinggal lah disini." ujar Aira berjalan meninggalkan Alex.
Waktu yang berlalu hanya sesaat menyisakan jejak kerinduan yang menyakitkan. Rasa di hati berbalut taman bunga walau sesak tak mampu berkelana. Lara yang nyata bagaikan derai bisikan asa.
__ADS_1