
Setelah hari itu. Kedua insan itu belajar untuk memahami satu sama lain. Terutama Aira yang mencoba membuka hati untuk menerima kehadiran Alex. Gadis itu tidak memungkiri sikapnya selalu sama bahkan sulit untuk dirubah, sedangkan si pemuda perlahan mengerti seperti apa karakter dari sang kekasih. Secara perlahan-lahan ada sedikit kehangatan diantara mereka berdua.
Tiga bulan telah berlalu dari hari keputusan menjalani hubungan dengan nama sepasang kekasih. Alex sedikit demi sedikit mulai meluluhkan hati Aira dan semua itu tak luput dari bantuan Lia. Sang sahabat dari kekasih hatinya yang selalu memberikan saran bagaimana bersabar menghadapi si gadis dingin. Apalagi ia pemuda pendiam sehingga harus mengubah sifatnya terlebih dulu.
Hari ini ingin sekali menikmati waktu bersama kekasihnya, sontak ia mengirim pesan pada Aira agar mereka bisa bertemu di taman.
[Rara, ayo kita ke taman hari ini.]~ isi pesan yang langsung sukses terkirim.
[Hmm, ok.]~balas Aira singkat dan itu sudah tidak aneh lagi bagi Alex.
[Aku jemput aja, ya. Jadi ke taman jam berapa?]~tanya Alex agar bisa mempersiapkan diri.
[Stand by jam tiga or cancel.]~balas Aira lagi dengan ancaman seperti biasa karena memang tidak suka membuang waktu.
Suara dering ponsel yang menandakan ada pesan masuk diabaikannya, lalu ia kembali berbicara dengan sang ibu. Kemana pun ia akan pergi selalu izin terlebih dulu, apalagi saat ini keduanya tengah membicarakan soal pekerjaan yang baru saja ditawarkan oleh seseorang. Hanya saja pekerjaan itu ada di luar kota.
Jadi selama satu minggu ke depan adalah waktu terakhirnya berada di kota tersebut. Sebab itulah ia menerima ajakan Alex untuk bertemu karena selama mereka berdua pacaran hanya memiliki beberapa tempat yang menjadi destinasi pertemuan. Sang ibu bahkan memberikan keringanan pada untuk berkumpul bersama teman-teman dengan syarat tahu siapa yang mengajak pergi putrinya.
Sore harinya Alex menjemput Aira dirumah sesuatu kesepakatan waktu tetapi langsung disambut Ibu Sonia. Sang ibu kekasih hati yang memang ramah pada siapapun karena wanita itu menganggap semua teman Aira sebagai anak sendiri. Sikap yang hangat membuat rasa nyaman dari dalam hati. Jujur saja ia benar-benar ingin memiliki keluarga yang begitu saling menyayangi dan bukan menganaktirikan.
Alex mengetuk pintu seraya mengatur napasnya, "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Nak Alex. Masuklah, Aira masih bersiap." Pintu rumah yang terbuka membuat Ibu Sonia mempersilahkan Alex tanpa harus berjalan menghampiri, lalu ia meminta pemuda itu untuk duduk terlebih dahulu.
Kemudian Ibu Sonia kembali masuk ke dalam sekedar memberitahu Aira bahwa Alex sudah menunggu. Padahal dari dalam kamar pun sudah mendengar suara salam sang pacar. Apalagi permintaan ibunya hanya ingin dia tidak pulang malam. Tentu saja semua akan dipatuhi karena itu menjadi kewajibannya. Tanpa mengurangi rasa hormat semua akan seperti yang diharapkan sang Ibu.
Aira merapikan tasnya, lalu berjalan menghampiri Ibu Sonia. "Iya, Bu. Aira nggak kemaleman. Ini cuma mau ke taman baca buku bentar seperti biasa. Jadi ibu jangan khawatir karena putrimu pasti pulang tepat waktu."
Alex dan Aira pun pamit pergi ke taman. Keduanya harus berboncengan yang mengikis jarak. Kadang perjalanan hanya dijadikan alasan oleh pemuda agar bisa dekat dengan pujaan hatinya. Hal seperti itu wajar 'kan? Cinta di hati tidak bisa memungkiri akan berlabuh pada siapa. Seperti kisah mereka yang diselimuti ketegangan diantara pembelajaran saling memahani.
__ADS_1
Di taman Aira memilih menuju ayunan dan diikuti Alex. Keduanya bermain ayunan sebentar sebelum mencari tempat duduk yang nyaman. Lalu Aira meminta kekasihnya untuk bersikap serius meski di hati masih memiliki keraguan atas apa yang akan dikatakannya. t sudah mendapatkan tempat yang nyaman. Kedua tangan saling bertautan dengan wajah sedikit masam.
"Alex, aku mau mengatakan sesuatu tapi mungkin ini kabar tidak baik untukmu." ucap Aira memulai obrolan, membuat Alex menatapnya tak berkedip. "Satu minggu lagi aku berangkat ke luar kota sebagai pelayan. Kamu disini bisa fokus dengan sekolah dan jangan sering main."
Alex terkejut dengan pengakuan Aira. Tiba-tiba saja berita itu menyesakkan dada. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga sang pujaan hati mau bekerja diluar kota. Ia tahu Aira tidak lagi bersekolah, tapi apa harus mencari rezeki di kota lain? Bukankah di kota sendiri juga bisa. Apalagi berita itu mendadak, dan jika dipikirkan lagi nilai hasil ujian nasional sang kekasih bisa mendaftar di SMA favorit.
Alex yang tidak tahu begitu banyak mengenai kehidupan Aira meski sudah menjadi pacar. Tentu kebingungan dengan keputusan yang dibuat sang kekasih. Dimana gadis itu menegaskan apapun pilihan hidupnya sudah menjadi keputusan final. Tidak ada jalan untuk melangkah mundur.
Alex terdiam sesaat mencoba mencerna situasi yang ada. Setelah lebih tenang, barulah Ia meraih tangan gadis yang duduk di hadapannya. "Aku akan setuju atas keputusanmu, lalu bagaimana hubungan kita?"
"Masa depan tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa membiarkan mengalir seperti air. Jangan membuat tebing yang bisa saja roboh karena jarak sudah cukup memisahkan raga." jawab Aira dengan puitis yang membuat Alex menggaruk kepala.
"Kamu itu selalu dengan teka teki. Aira, kamu tahu 'kan jika aku tidak paham dengan ucapanmu yang seperti seorang penyair." balas Alex sedikit kesal.
Aira tak ingin menjelaskan, Ia tau hanya beberapa orang yang bisa paham dirinya. "Suatu saat nanti kamu paham, Lex. Kuharap kamu tetap tersenyum seperti biasa. Jalani hidup sebagaimana sinar mentari memberikan harapan baru."
Obrolan serius berakhir dengan candaan yang bisa mengurai ketegangan. Meski Alex seringkali dibuat pusing dengan jawaban Aira. Pemuda itu tetap mencintai sang kekasih lebih dari apapun. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat hingga satu minggu telah berlalu. Aira berangkat ke luar kota untuk memulai kehidupan baru di dunia kerja.
Perjalanan yang memakan waktu delapan jam menggunakan bus travel membuat gadis itu duduk termenung sembari menatap keluar jendela. Sepintas ingatan kembali muncul melintas menyapa kesendirian. Dimana tiga hari sebelum keberangkatan Alex mengajaknya main kerumah. Akan tetapi sambutan dari bunda Alex tak bersahabat.
Ia tidak tahu apa kesalahannya hingga wanita paruh baya yang dipanggil bunda oleh Alex memilih ke luar dari rumah. Di saat Ia datang berkunjung. Alex yang merasa tidak enak hati mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjukkan beberapa ruangan di rumahnya. Rumah dengan desain minimalis yang memiliki lahan di belakang rumah dengan kamar mandi di luar.
Selama beberapa waktu bertamu, bunda dari Alex kembali ke rumah tetapi saat itu Ia pamit ke kamar mandi dan begitu ingin masuk ke ruang tamu. Ia tak sengaja mendengar perdebatan antara Ibu dan anak. Jelas sekali bahwa hubungan mereka ditentang karena alasan yang bisa dipahami yaitu Alex masih sekolah.
Bunda Alex menatap putranya sedih, "Apa dia alasanmu selalu ke luar rumah? Kamu masih sekolah dan sudah berani bawa gadis. Mau jadi apa anakku yang satu ini."
"Bunda, dia punya nama. Namanya Aira. Alex mencintainya karena dia baik bahkan demi orang tua siap bekerja dan meninggalkan pendidikannya." ucap Alex membela Aira. Sebenarnya Ia tahu alasan sang kekasih menerima pekerjaan di luar kota karena Lia menceritakan kehidupan Aira tanpa ada yang ditutupi.
Bunda Alex menggelengkan kepala heran karena Alex semakin susah dikendalikan dan semua itu pasti karena pengaruh si gadis yang baru masuk ke dalam kehidupan sang putra. "Bunda tidak menyukai gadis itu. Jika kamu ingin restu maka carilah yang lain. Gadis yang bisa menyamakan pendidikannya dengan pendidikanmu."
__ADS_1
"Bunda, dia itu pintar meski tidak melanjutkan pendidikannya, dia tetap pandai." Alex mencoba memberikan bundanya pemahaman agar tidak menilai seseorang begitu saja. Sayangnya semua dianggap angin lalu.
Diamnya sang bunda membuat Alex ke luar dari kamar. Tatapan mata terperanjat begitu melihat keberadaan Aira yang sudah duduk manis di ruang tamu. Senyuman manis dan tanpa ragu meminta izin untuk pamit. Tentu saja harus berpamitan pada bunda sang pemilik rumah sebagai bentuk kesopanan.
Di perjalanan Aira hanya terdiam, membuat Alex yang memperhatikan itu memilih menghentikan motor. Ia meminta Aira untuk turun dan ikut bersamanya jalan sebentar di sebuah taman kecil dekat area asrama tentara. Suasana yang sepi meski masih ada beberapa anak kecil yang bermain bola menghantarkan kedua insan itu duduk di salah satu bangku taman.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tatapan mata menatap Aira dengan serius. Wajah murung gadisnya sungguh tidak biasa.
Aira membalas tatapan Alex seraya tersenyum samar, "Apa kamu mencintai ku?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa ada yang mengganggumu? Katakanlah!" Tangan menyentuh dagu Aira. Ia memaksa gadis itu agar kembali menatapnya.
Aira melepaskan tangan Alex, lalu mengalihkan perhatian menatap anak-anak yang bermain bola dilapangan kecil. "Aku tidak apa-apa, tapi bundamu benar. Kita tidak sepadan. Masihkah kamu mengerti akan kemana hubungan kita?"
"Ini berarti kamu mendengar semua yang bunda ku katakan. Iya 'kan? Aira dengarkan aku baik-baik. Cintaku itu kamu dan tentang latar belakang keluarga kita tidak akan mempengaruhi apapun. Cinta di hati atas namamu bukan tentang perbedaan status yang menghalangi hubungan kita." Direngkuhnya tangan yang saling bertautan, Ia melihat rasa sedih yang terpancar dari tatapan mata sang gadis pujaan hati.
Suasana yang mendung menjadikan saat itu semakin terlihat galau. Tiba-tiba saja rintik hujan turun begitu derasnya sehingga memaksa kedua insan itu berpindah ke parkiran untuk berteduh. Bahkan Anak-anak langsung berlarian membubarkan diri. Sepi dan senyap menyapa secara bersamaan.
Aira memandang Alex yang berdiri di sebelahnya. "Alex, bisakah kamu melupakan hubungan kita demi kebahagiaan bundamu. Bunda lebih berhak dan aku tidak ingin membuat beliau sedih hanya karena kehadiran gadis sepertiku."
Pernyataan Aira sangat mengejutkan. Sontak Ia berbalik, lalu membalas tatapan mata gadis yang dengan teguh mengucapkan pemikiran yang pasti mengusik hati sejak beberapa waktu yang lalu. "Aku mencintai mu dan itu cukup bagiku untuk menjadi alasan bertahan denganmu."
Tatapan mata semakin dalam, membuat pemuda itu mendekatkan wajahnya ke Aira. Tangan terangkat menyentuh dagu sang pujaan hati. Dibiarkannya saling beradu semakin dalam hingga setetes air mata jatuh membasahi pipi Aira. Melihat kesedihan yang mendalam dari sang kekasih. Pemuda itu merengkuh tubuh yang kali ini diam tanpa pemberontakan.
Untuk pertama kalinya. Sentuhan kedua insan itu lebih dari sekedar bergandengan tangan yang biasanya saja selalu mendapatkan teguran. Meski tidak ada balasan. Alex bisa merasakan tubuh Aira membutuhkan dukungannya. Pelukan dilepaskan dengan tatapan mata masih saling bertautan.
Sentuhan lembut tiba-tiba menyentuh bibir yang saling berkenalan. Alex tanpa izin mencuri ciuman pertama Aira. Ciuman yang meredam rasa di hati. Keduanya larut menikmati sensasi kenyal yang mengalihkan perhatian hingga tersadar telah memberikan tanda cinta sebagai salam perpisahan.
Aira yang terkejut dengan apa yang baru saja terjadi hanya minta diantar pulang tanpa menunggu hujan reda. Alex sedikit merasa bersalah, bukan maksudnya melakukan itu tetapi air mata yang membasahi pipi membuat hatinya ikut terluka.
__ADS_1