Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 22#Pertemuan Pertama


__ADS_3

Siang berlalu begitu cepat berganti malam yang berteman arak awan menjelaga. Malam ini Aira pergi ditemani Lia ke acara yang sudah dinanti keluarga yaitu pertemuan pertama dengan calon pasangan masa depan. Sementara di hotel Arkha sudah selesai dengan persiapan makan malam romantis untuk menyambut sang pujaan hati.


Dimana semua dilakukan Rudi seperti keinginannya Ruangan khusus yang dipesan dihias sedemikian rupa dengan karpet kelopak bunga mawar, balon yang berlarian ke sana kemari. Buket bunga dan kotak hadiah yang sudah diletakkan di atas meja bahkan jalan menuju ruangan itu juga diberikan arah petunjuk yang benar.


Hasil yang memuaskan membuat Arkha tersenyum puas. Pria itu tak sabar menunggu kedatangan Aira. Tentu ia sudah siap dengan pertemuan pertama mereka dan berharap sang kekasih mau memaafkan atas keterlambatan atas kedatangannya. Yah semoga saja pertemuan menjadi awal hubungan yang baru.


"Gaunnya sangat pas dan cantik." Lia memutar tubuhnya di depan cermin seperti anak kecil, lalu menoleh ke arah Aira yang masih berwajah polos. "Rara, kemarilah! Aku akan mendandani kamu malam ini." Tangan sang sahabat ditarik tanpa permisi, membuat gadis polos itu duduk.


"Sudahlah, kita berangkat saja. Daripada nanti telat." tolak Aira ingin beranjak tetapi pundaknya ditahan Lia.


Diambilnya kuas dari atas meja, "Malam ini hanya aku yang berhak memberikan perintah. Anggap sebagai upah menemanimu seharian ini. Apa salahnya tampil cantik? Sekali saja bahagiakan diri sendiri dan itu perlu."


Sentuhan terampil Lia membuat Aira diam agar tidak mendapatkan ceramah dari sahabatnya. Sepuluh menit akhirnya selesai mendapatkan polesan make up natural hanya saja penampilan berubah lebih manis. Setelah puas melihat hasilnya, kedua gadis itu memilih menyewa mobil karena gaun mereka terlalu ribet.


Perjalanan selama lima belas menit terasa begitu singkat. Tanpa disadari sudah sampai hotel saja. Aira dan Lia turun lalu tak lupa membayar mobil sewaan. Secarik kertas kembali dibaca kemana ia harus melangkahkan kaki. Entah kenapa degup jantung berdetak begitu cepat. Padahal semua baik dan aman.



Lia menggandeng Aira. Kedua gadis itu melangkah bersama menyongsong malam panjang. Langkah kaki yang terhenti di depan resepsionis sekedar untuk bertanya cafe tujuan. Rudi yang sudah mewanti si resepsionis segera menunjukkan jalan untuk tamu spesial salah satu pelanggan


Lorong hotel yang panjang teramat begitu sepi hingga mencapai persimpangan. Dimana mereka melihat sebuah papan yang bertuliskan welcome my Aira dengan jalanan bertabur kelopak bunga. Siapa yang melakukan itu? Kenapa bisa seromantis itu? Rasa penasaran kian melanda.

__ADS_1


Namun tak ingin salah jalan, Aira memilih menghubungi ibunya untuk bertanya bagaimana calon yang dijodohkan akan menemuinya nanti. Jujur saja meski sudah tahu memiliki jodoh, bukan berarti berkomunikasi seperti kebanyakan orang lain. Sayangnya tidak ada kepastian membuat ia tetap jalan kedepan ditemani Lia.


Kelopak bunga mencapai akhir dengan batas sebuah pintu masuk ke arah taman. Tatapan mata terpesona melihat pemandangan yang begitu sweet. Persiapan sebagus itu? Apakah benar untuknya, hati merasa ragu dan ingin pergi saja. Akan tetapi Lia menahan pergerakannya dan meminta ia tetap masuk.


"Aku akan ke toilet, gak tahan nih. Masuk duluan, ya." pamit Lia berjalan menjauhi Aira yang terdiam dengan rasa was-was.



Di hati merasa ada ketenangan yang menyapa tetapi ada rasa takut yang merasuk ke dalam pikirannya. Cemas akan kenyataan yang mungkin tidak sesuai ekspektasi hingga langkah kakinya melewati pintu tiba-tiba sesuatu jatuh menimpa atas kepalanya. Hujan bunga memudarkan kekhawatiran yang membelenggu jiwa.


Aira melihat sekeliling namun tidak Menemukan siapa pun.. saat hendak berbalik, Seseorang menutup mata nya dan berbisik dengan sangat lembut...


"Wow, so sweet." gumamnya seraya mengedarkan pandangan mata menelusuri area yang menjadi tempat romantis, tetapi tidak ada siapapun. Niat hati ingin berbalik hingga seseorang menutup matanya dengan bisikan lembut si pemilik suara tak asing di telinganya.


Tanpa mengeluh, Aira melanjutkan perjalanan menghampiri meja. Diambilnya bunga mawar yang sama seperti tadi pagi, kemudian beralih ke sebuah kotak kado kecil. Kotak yang dibuka dengan begitu mudahnya ternyata berisi sebuah gelang emas rantai yang memiliki berbagai hiasan menggantung. Cantik sih, tapi diletakkannya lagi ke atas meja.


Lalu ia berbalik menatap siapa yang berdiri di belakangnya. Seorang pria dengan wajah tertutup topeng membuat Aira penasaran. Baru saja ingin melangkahkan kaki ke depan tapi pria itu sudah berjalan mendekat ke arahnya. Sehingga mengikis jarak diantara mereka berdua. Tatapan mata saling terpaut dan tangan Aira terangkat menyentuh topeng.



Satu gerakan saja cukup untuk melepaskan topeng hanya saja pria itu menahan tangan Aira. Lalu semakin mendekatkan wajah mereka berdua hingga menyisakan jarak sepuluh sentimeter. Detak jantung terdengar begitu jelas, membuat gadis itu tidak sabar melihat siapa yang ada di depannya.

__ADS_1



Rasa penasaran yang tersentak tak mampu berucap ketika topeng terlepas dengan sendirinya. Wajah bule dengan bibir kelopak bunga, hidung mancung, alis tebal, mata unik yang sudah berdiri di depan mata. Tidak mungkin khayalan menjadi kenyataan dalam sekejap mata. Pasti ia salah lihat.


Wajah terkejut sang kekasih membuat Arkha menangkup wajah Aira. Tatapan matanya begitu lembut menyambut pertemuan pertama mereka. "Aira, I come to you. Now we can be together.''


"Aku pikir semua ini hanya mimpi." Ia bingung dan masih tidak percaya akan apa yang dilihatnya.


Kebingungan yang melanda Aira, membuat Arkha merengkuh tubuh wanitanya. Sekali saja biarkan raga saling menyapa agar merasakan rindu yang terpendam. Dekapan yang menghantarkan kehangatan di jiwa, dan raga. Pelukan yang sudah lama dinanti sekedar tuh menyatakan emosi hati.


Pelukan yang kian mengalirkan rasa nyaman. Perlahan Aira membalas dengan mencoba memejamkan mata menikmati rasa yang ada. Sejenak keduanya terdiam meresapi makna kerinduan dari kisah cinta beda negara. Sepuluh menit kemudian, pelukan diakhiri. Apalagi kepala sudah berisi banyak pertanyaan yang wajib Arkha jawab.



Keduanya beralih duduk tanpa melepaskan pandangan mata satu sama lain. Seakan jika berkedip, dunia akan mengambil momen bersama mereka berdua. Sesi tanya jawab dimulai tanpa mengharapkan jeda untuk saling berbagi kisah kehidupan masing-masing.


Aira sangat bahagia karena Arkha mau menjawab semua pertanyaan tanpa pilih-pilih. Hal itu seperti harapan bersambut kenyataan. Tak memungkiri hati pernah dikecewakan tetapi masih aman tanpa ada luka yang berarti. Malam yang menjadi saksi pertemuan pertama pun ikut larut mendengarkan celotehan panjang kali lebar sepasang kekasih yang dimabuk rindu.


Setelah dirasa cukup melakukan tanya jawab. Arkha mengajak Aira untuk makan malam romantis yang pasti tidak bisa ditolak tapi tiba-tiba ia ingin tentang Lia. Kemana sahabatnya itu pergi? Sepertinya terlalu fokus pada kebahagiaan sendiri hingga lupa yang datang bersamanya.


Perjalanan ini adalah awal. Badai menanti tuk mengoyak keyakinan. Cinta bertahanlah tuk lewati rintangan. Kehadiranmu menjadi nadi dalam raga ku. Tetaplah bersinar sebagai pelitaku._Aira.

__ADS_1


Sementara disisi lain, Lia terlihat sibuk berbicara dengan seseorang. Entah siapa tetapi seorang pria. Keduanya terlihat begitu akrab. Obrolan yang terus bergulir membuat gadis itu tidak bosan menunggu sendirian.


__ADS_2