
Pertemuan di cafe berakhir tanpa ada kecurigaan bahkan Mawar terlihat begitu menerima Alex sebagai pasangan hidupnya. Melihat kebersamaan sang kekasih bersama calon istri ternyata sakit hingga ke ujung sisa kesabaran. Miris mencintai pemuda yang tidak bisa memperjuangkan hubungan dan justru bersikap seolah semua baik.
Hari ini adalah hari pertunangan Alex bersama Mawar. Hari yang dinanti semua orang karena hubungan baru akan terjalin dengan restu kedua keluarga besar. Sayangnya acara tersebut hanya para tamu khusus yang memiliki undangan. Beruntungnya Rei menawarkan diri untuk menjadi pasangan di acara Alex agar Aira bisa ikut masuk melihat pertunangan secara langsung.
Rei yang memang belum punya pasangan tidak keberatan mengajak Aira sebagai pasangannya. Pemuda itu bahkan menolak ajakan teman sekelas yang ingin datang rombongan. Baginya lebih baik untuk membantu Aira agar bisa mendapatkan keadilan. Ia tahu hati gadis itu hancur meski terlihat tenang tanpa melakukan kerusuhan. Tegar, yah itulah si gadis kutub utara.
Aira sengaja menunda keberangkatan mereka agar bisa muncul di saat yang tepat. Dimana Ia meminta Rei selalu menanyakan situasi di rumah Alex kepada teman lain yang sudah ada di tempat acara. Rencana gadis itu sangat sederhana yaitu masuk menikmati pertunjukan yang harus dijadikan dasar melepaskan rasa di hati.
Suasana tampak begitu ceria dengan hiasan menghiasi seluruh sudut ruangan. Kedua keluarga besar bahkan sudah berkumpul menunggu acara dimulai. Sang pembawa acara tampak bersemangat empat lima menyambut para tamu hingga waktu yang sudah ditentukan. Barulah ia memulai ritual pembukaan.
Rei Dan Aira bahkan sudah sampai ke tempat acara hanya saja masih menunggu pesan dari teman lainnya. Si gadis kutub utara dengan penampilan anggun yang memeluk kotak kado hitam berhias bunga mawar segar tampak menarik perhatian. Meski begitu ia tak berani bertanya karena apapun isi kotak itu pasti hadiah istimewa.
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Rei yang langsung memeriksa si benda pipih tanpa menunda waktu. Pesan dari salah satu teman yang mengatakan acara segera dimulai karena kedua mempelai sudah berdiri saling berhadapan. "Ayo, kita masuk! Aira, apa kamu yakin dengan semua ini?"
"Aku siap karena semua harus diakhiri. Dia memilih masa depan tanpa memikirkan dampaknya. Aku bisa melepaskan seratus pria demi hati seorang ibu." jawab Aira tanpa keraguan membuat Rei tersenyum hangat.
Keduanya berjalan bersama menyusuri setapak yang mengarah ke rumah Alex. Dimana terlihat beberapa orang berjaga untuk memeriksa kartu undangan. Situasi begitu ketat, membuat Rei memberikan jaketnya agar dikenakan Aira. Pemuda itu membiarkan wajah si gadis kutub utara tertutup tudung jaket. Tak lupa ia menggenggam tangan yang terasa dingin.
"Tetaplah di sisiku dan jangan menjauh! Aku tidak mau orang lain mengenalmu sebelum waktunya." bisiknya yang hanya dibalas deheman pelan.
Kartu undangan diperiksa, lalu kedua tamu dipersilahkan masuk tanpa ada sesi wawancara. Langkah kaki berjalan semakin pelan. Rasa sesak di dada begitu menyakitkan. Aira mengedarkan pandangannya melihat betapa indah seluruh penjuru ruangan. Apalagi rangkaian nama kedua mempelai di sudut sana terlihat serasi. Suara bahagia tersebar menyadarkan diri yang patah.
Acara berlangsung dengan khidmat. Rei tak lupa mengabadikan momen tukar cincin Alex dan Mawar seperti keinginan Aira semalam. Pemuda itu hanya ingin membantu sebisanya agar si gadis kutub utara bicara move on dari sang teman yang memang bertindak di luar batas. Sesi tukar cincin berakhir dengan suara iringan tepuk tangan yang meriah.
__ADS_1
Para tamu dipersilahkan menikmati jamuan atau untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai yang tampak begitu bahagia. Satu persatu mendekati Alex dan Mawar terutama teman-teman sekelas yang ikut bersuka ria atas kebahagiaan teman mereka. Akan tetapi setelah semua memberikan ucapan selamat. Rei masih berdiri di sudut ruangan bersama Aira.
"Rei, kemarilah!" panggil Leo membuat Rei menganggukkan kepala.
Langkah kaki seirama berjalan melewati beberapa tamu undangan. Dua insan yang melangkahkan kaki menghampiri kedua mempelai tanpa keraguan. Tatapan mata bingung jelas terpancar dari anak-anak tertuju pada Aira yang menundukkan kepala dengan tudung besar sehingga tak seorangpun mengenali gadis itu.
Rei mengulurkan tangan kanannya, ''Selamat menempuh hidup baru, Lex. Semoga hubungan kali ini berlandaskan kejujuran sejati." Sindiran yang dirasa bisa menyadarkan sang teman terdengar begitu menohok hati sang pendengar.
Ditengah situasi yang menegang tiba-tiba Aira menitipkan kadonya kepada Rei. Lalu dilepaskannya tudung dari kepala, kemudian perlahan mendongak menatap netra yang tertegun akan keberadaannya. Tubuh terhuyung ke belakang tetapi sentuhan tangan berkulit putih mampu menjadi sandaran sang kekasih hati. Semua teman sekelas yang mengenal siapa Aira hanya bisa meneguk saliva dengan kasar, sedangkan Mawar hanya berpikir Alex kurang istirahat.
Begitu jaket terlepas dari tubuh Aira. Penampilan gadis itu berubah seratus delapan puluh derajat menjadi anggun meski make up tipis menutupi wajah pucatnya. Kado kembali ke tangan Aira tetapi Rei dengan sengaja menggandeng tangan gadis yang kini membutuhkan dukungannya. Ia tidak peduli jika nanti ada yang marah sekalipun.
Tatapan mata saling beradu tak melepaskan rasa sakit diantara lara hati dan kenyataan pahit. Cincin yang melingkar sudah cukup menjadi akhir dari hubungan palsu mereka. Cinta? Apakah rasa itu hanya ada untuk kebohongan? Sungguh miris atas duka yang seharusnya bisa berubah menjadi keikhlasan. Sesaat Alex mampu membalas tatapannya hingga wajah pemuda itu menunduk.
"Pengkhianatanmu akan menjadi kekuatanku. Alex, apapun yang terjadi antara kita. Semua itu sudah berakhir. Ku harap setelah ini hubungan kalian bisa langgeng dan jaga Mawar sebagaimana posisi dia dalam hidupmu. Berbahagialah dengan pilihan bunda, dan jangan ulangi hal sama untuk hubungan kedua."
Tangannya melepaskan dagu sang pemuda yang tidak mampu menatapnya walau hanya sekian detik. Diraihnya tangan yang terbebas dari genggaman tangan Mawar, lalu Ia meletakkan kotak kado hitam sebagai hadiah pertama untuk sang pujaan hati. "Hadiah untukmu dariku sebagai salam perpisahan. Mulai detik ini, tidak ada lagi yang tersisa antara aku dan kamu. Semua tentangmu hanya masa lalu yang sudah kuikhlaskan."
Aira terdiam sesaat, lalu mengambil ponselnya. Ia tahu Rei sudah mengirim hadiah kedua seperti yang diharapkannya. Kemudian ia meneruskan video pertukaran cincin Alex dan Mawar ke nomor sang mantan kekasih. "Hadiah kedua dariku. Kini kamu hanyalah orang asing dan tidak ada ruang bagimu dalam kehidupan seorang Aira."
"Mawar, kamu tenang saja setelah hari ini Alex hanya milikmu. Kamulah masa depannya karena aku hanya masa lalu. Buatlah dia melupakan semua kenangan kami. Jadikan hatimu seluas samudera agar bisa meluluhkan hati Alex." Aira mengulurkan tangan yang disambut Mawar dengan wajah bingung mencerna kejadian yang ada.
Semua kata sudah diungkapkan tanpa keraguan. Aira melangkahkan kaki mundur meninggalkan kenangan pahit yang mungkin tidak bisa dia lupakan, sedangkan Alex langsung menatap Rei tajam. Temannya sendiri menusuk dari belakang. Keadaan berubah menjadi berantakan bahkan rencananya seketika gagal total.
__ADS_1
"Kenapa kamu melakukan semua ini? Hah!?" tanya murka Alex hampir saja memukul Rei tetapi ditahan Mawar.
Rei tersenyum sinis, tak habis pikir dengan akal sehat Alex. "Hatinya memang milikmu tapi kamu tidak berhak mempermainkan Aira. Dia gadis baik bahkan tulus mencintai pria sepertimu. Lalu apa aku harus membela kesalahan temanku sendiri? Ingatlah permainan cinta bukan untuk gadis seperti Aira. Dia pantas bahagia."
Semua teman yang melihat dan mendengar seluruh pertunjukan benar-benar tak bisa berkomentar. Aira yang terbiasa irit bicara bahkan selalu mengabaikan hal di sekitarnya. Hari ini menunjukkan sisi dewasa dengan bahasanya yang tidak sekalipun menyalahkan Alex atas pengkhianatan. Seketika hati tercubit ikut merasa bersalah.
Mereka membenarkan tindakan Rei yang mau berjuang melindungi bahkan membantu Aira tanpa memikirkan akhir dari pertemanan. Kepergian Aira yang disusul Rei membuat suasana hati kian meredup bahkan suara pertanyaan Mawar dianggap angin lalu oleh Alex. Pemuda itu hanya bisa diam selama sisa acara.
Tanpa sadar semua yang terjadi tak luput dari perhatian Bunda Alex. Dimana wanita berhijab itu menyadari penilaiannya tentang Aira sudah salah besar. Ia pun bergegas menyusul Aira untuk berterima kasih.
"Nak, tunggu!" panggil Bunda Alex membuat langkah Aira terhenti, lalu berbalik. "Bisa kita bicara? Ayo duduk disina bareng Bunda."
Ajakan Bunda Alex cukup mengejutkan tetapi Aira hanya mengangguk menyetujui. Kedua wanita itu duduk di pinggir jalan saling terdiam sesaat dengan rasa canggung hingga satu pertanyaan mengurai kesunyian. "Apa yang ingin ibu bicarakan denganku?"
"Nak, maafkan ibu karena pernah menganggapmu sebagai gadis perebut putraku. Ibu berterima kasih karena kamu memberikan Alex kesempatan untuk menjalani hubungan bersama Mawar." Bunda Alex menggenggam tangan Aira dengan perasaan tulus.
Aira menatap wanita berhijab yang terlihat benar-benar lega atas hubungan baru sang putra tercinta. "Tenanglah, Bu. Apapun yang saya lakukan demi kebaikan bersama. Saya ikhlas melepaskan Alex dan tidak akan mengganggu karena apapun yang terjadi saat ini demi bakti seorang anak."
"Maaf, Bu karena saya harus pulang untuk bersiap kembali ke kota." Aira tak ingin larut sehingga memilih berpamitan. Ia tak lupa menyalami tangan Bunda Alex sebagai salam perpisahan.
Disisi lain Rei yang melihat itu semua sengaja merekamnya. Lalu mengirim ke Alex, dimana sang teman yang melamun tersentak kembali ke dalam dunia nyata karena suara suara dering ponsel. Notifikasi dari Rei dan juga Aira menarik perhatiannya. Apalagi kedua nomor berbeda mengirimkan video tetapi waktu pengirimannya yang tidak sama.
Rasa sakitmu hanya karena egoku. Rasa sakit ini tak sebanding dengan luka yang kamu rasakan. Maafkan aku, Aira.~ucap hati Alex seraya memejamkan mata tanpa ingin membuka isi pesan dari kedua insan yang hari ini memberi pelajaran besar.
__ADS_1