
Setiap pertemuan akan berakhir perpisahan tetapi setiap perpisahan, tidak selalu memiliki takdir bertemu kembali. Perpisahan itu membuat Aira tetap kembali bekerja di tempat sebelumnya bahkan gadis itu menolak tawaran Rei untuk bekerja di tempat si pemuda. Keputusannya sudah bulat karena ingin melupakan masa lalu hingga ia bisa mendapatkan ketenangan.
Sebagai seorang lelaki hanya bisa memahami tanpa memaksa. Sekilas obrolan kembali teringat. Dimana pembicaraan dua insan yang memiliki tujuan masing-masing.
Rei mencoba membujuk Aira, "Apa kamu tetap akan pergi? Tidak bisakah tetap disini. Setidaknya demi kedua orang tuamu."
"Aku harus pergi, Rei." Ditatapnya sang teman tanpa sungkan. Setelah pertolongan yang dilakukan pemuda itu, ia menerima Rei sebagai teman tanpa syarat.
Kekeh akan pendirian membuat Rei menghela napas panjang. Lalu ia mengangkat tangan, kemudian menyentuh kepala Aira tanpa permisi. "Jaga dirimu baik-baik. Ingatlah ada aku untukmu yang selalu siap menjadi pendukung nomor satu. Aira, aku janji akan datang disaat kau membutuhkanku."
"Kita ada untuk saling menguatkan. Aku hanya ingin kamu selalu bahagia, Aira." sambung Rei setulus hati mengutarakan rasa di hati dalam bentuk pertemanan.
Aira menarik tangan si pemuda tanpa melepaskan tatapan matanya. "Jangan berjanji ketika kamu tidak tahu masa depan Rei. Sebagai manusia sudah cukup berjalan diatas janji. Jalan satu itu selalu terjal tanpa pemberitahuan." Ia mencoba membuat Rei paham bahwa janji yang diucapkan bisa saja menjadi rasa sakit ketika tidak terjadi seperti yang diharapkan.
"Aku tahu itu, namun kamu penting untukku. Jika kamu menolak, biarkan aku menjaga janji ku dengan caraku sendiri. Cukup sedikit percaya padaku karena itu membantu langkahku." balasnya tulus tanpa ingin memikirkan hasil akhir.
Tubuh yang mampu dia rengkuh tanpa rasa takut menghadirkan rasa nyaman. Pertemanannya sudah cukup menjadi kebahagiaan sederhana. "Thanks for everything Rei Andika. Always support me in my down life." Sekali lagi air mata jatuh membasahi pipi.
Ia menangis bukan karena mengingat luka hatinya tetapi bersyukur karena Rei ada bersamanya dan mau menjadi teman seperjuangan. Apalagi yang dibutuhkan selain dukungan? Harta pun tidak bisa memberikan ketenangan karena bahasa cinta yang mampu mengobati luka hati.
Dilepaskannya pelukan, lalu Ia merengkuh wajah basah dengan aliran air mata. "Dimana gadis dinginku? Apa perlu kucarikan kerang di lautan?"
"Dia akan kembali setelah hidupnya pada kehidupan lama. Suatu hari nanti disaat bisa berpijak pada kakinya sendiri." balas Aira tanpa keraguan karena saat ini hati tak bisa berbohong.
Tatapan mata hangat terpatri menatap Aira. "Aku akan menunggu saat itu tiba. Gadis yang selalu kurindukan."
__ADS_1
Tatapan mata tak mampu mengalihkan rasa yang terpendam. Ia tahu akan hati yang semakin jatuh cinta pada si gadis dingin. Sadar akan rasa itu, membuatnya tak sanggup berpaling. Namun apa daya, Ia hanya bisa menjadi kekasih tak dianggap.
"Jangan menatapku lama. Nanti kamu jatuh cinta. Bagaimana akan melupakanku?" candanya seraya menyunggingkan seulas senyum tanpa paksaan.
Rei hanya ikut tersenyum, lalu Ia mengulurkan tangan. "Genggamlah tanganku, kita bisa bangkit bersama. Aira, aku rela terjatuh karenamu."
"Jika kamu menjadikan aku sandaran, lalu bagaimana disaat aku membutuhkanmu? Tetaplah berdiri di kakimu sendiri." Keseriusan Rei mengubah arah pembicaraan. Mana mungkin Ia membiarkan pemuda itu merasakan luka seperti miliknya.
Rei mengangguk paham, "Like your wish, Aira."
Obrolan itu cukup menghangatkan hati keduanya. Meski Aira menyimpan luka tetapi tak ingin menambah rasa sakit di hati, sedangkan Rei menjadikan momen kebersamaan mereka sebagai penyemangat hidup. Setelah tiga tahun, akhirnya gadis dingin itu kembali ke kota.
Hari yang ditunggu berkumpul bersama keluarga karena selama bekerja Aira jarang berkomunikasi dengan orang-orang terkasihnya. Semua itu tentu dengan alasan sibuk pada dunia masing-masing. Lia dan Rei juga sibuk dengan pekerjaan. Meski begitu di saat free baik Rei maupun Lia selalu bertanya kabar meski dalam waktu hitungan minggu atau bulan.
Baginya, Arkha Khan seorang pemuda dengan pemikiran dewasa. Sikap humble yang disukai banyak orang. Meski kenyataannya adalah kedua insan itu belum pernah saling bertemu secara face to face. Hati tidak bisa berbohong telah datang buih cinta di antara mereka.
Semua pria yang dekat hanya ingin cinta bukan pertemanan, sedangkan Arkha sejak awal berusaha memahami dengan sabar mau membiasakan diri akan sikap dinginnya. Arkha seperti hujan di musim kemarau.
Rasa sesak di dada bersambut cerai air mata menyadarkan nya akan sebuah rasa. Mungkinkan ia jatuh cinta atau hanya sekedar suka? Meski ingatan dulu tak lagi menyakiti hati. Nyatanya kehadiran Arkha membawa perubahan dalam kehidupan yang sendiri. Perlahan tapi pasti kembali menjadi diri sendiri.
Keajaiban apa yang dimiliki Arkha? Sikap dingin tak membuat pemuda itu pergi menjauh. Justru perhatian yang begitu banyak dicurahkan tanpa mengharap balasannya. Waktu yang berlalu mendekatkan keduanya seperti saling membutuhkan. Bagaimana kepercayaan datang tanpa diminta.
Yah, jatuh cinta itu indah hanya saja rasa takut enggan beranjak dari sudut hati terdalamnya. Perlahan mulai menyadari arti Arkha dalam kehidupan yang selalu sendiri. Dia berharap sang pemuda masih sanggup menunggu di waktu yang tepat. Meski musim tlah berganti tetapi hati tenggelam dalam kegelapan. Ketulusan adalah satu jalan tanpa meminta balasan.
Tak ada lagi canda ketika hati ingin memahami. Aira memutuskan akan berbicara serius dengan Arkha. Hanya saja menunggu satu bulan setelah kemarahan Arkha karena obrolan di grup. Waktu yang cukup untuk saling menikmati arti perpisahan sementara tanpa ikatan pasti. Iya 'kan?
__ADS_1
[ Assalamu'alaikum. If you free, I want talk with you serious.]~satu pesan pembuka telah dikirimkan, kini Aira hanya bisa menunggu jawaban.
Sepuluh menit kemudian, notif pesan masuk mengalihkan perhatian Aira. Ponsel yang tergeletak diatas meja diambilnya, lalu memeriksa siapa yang mengirim pesan. Ternyata Arkha menjawab salam serta bertanya kabar. Akan tetapi saat ini, ia hanya ingin serius bukan hal lainnya yang akan dibahas.
Jemari sibuk mengetik seraya bergumam, "Arkha Khan, tell me one thing. You really love me?"
[I really love you and I'm willing to do anything for you. Test me if you doubt me.]~jawab Arkha meyakinkan Aira.
Cinta itu terlalu rumit untuk dijabarkan. Seperti emosi yang tidak bisa dibebaskan. Sekali lagi ia memastikan akan perasaan yang bisa menjadi luka atau suka. Bukan tentang ujian karena masa lalu cukup menjadi pelajaran.
[Can you take care of my heart and always be honest with me?]~tanya Aira membalas pesan Arkha.
Satu pertanyaan yang mengubah hubungan pertemanan menjadi sepasang kekasih. Arkha berjanji akan selalu jujur dan menjaga hatinya. Pemuda itu siap melakukan apapun agar kehidupan mereka bahagia. Secara perlahan kebiasaan buruk seperti meminum kopi yang berlebihan mulai dihentikan.
Meski terkadang jatuh, lalu bangkit untuk bertahan. Cinta yang saling menguatkan memiliki keyakinan. Seiring berjalannya waktu, keduanya lebih dekat bahkan mulai saling terbuka satu sama lain masalah pribadi. Rasa manis dari setiap situasi membuat kedua insan itu selalu belajar lebih dekat.
Apalagi Arkha seringkali mengancam ketika tidak mau menurut. Ancaman demi kebaikan dan bukan bermaksud hal lain selama mereka menjalin kasih. Bukan hanya itu saja karena nama panggilan mereka sudah berubah menjadi nama kesayangan.
Anehnya meski menjadi sepasang kekasih. Kedua insan itu hanya berkomunikasi melalui aplikasi messenger hingga Arkha meminta nomor. Barulah mulai beralih pada aplikasi whatsapp. Perubahan tempat komunikasi semakin menambah intens jam terbang keduanya membuat momen bersama.
Andaikan hati tidak pernah jatuh cinta lagi. Mungkin saat ini hanya ada kehidupan didalam kehidupannya. Sebuah pertemuan yang menjadi takdir Allah. Pemahaman sebagai sesama manusia karena harus belajar menyelesaikan setiap ujian hidup yang menjadi badai nyata. Kini Arkha dan Aira menjadi kekasih online tanpa ada pertemuan fisik.
Keduanya hanya saling percaya. Apalagi hubungan jarak jauh tanpa mengenal kehidupan masing-masing secara nyata dan juga perbedaan budaya. Tentu semakin menambah problematika kisah cinta mereka. Orang-orang pasti berpikir hubungan online hanya membuang waktu.
Namun kedekatan itu bukan tentang jarak. Melainkan hati yang saling mengasihi tanpa rasa ragu. Sejauh apapun jarak itu akan menjadi baik ketika tidak terjadi miskomunikasi alias kesalahpahaman. Bukankah seperti itu?
__ADS_1