
Minuman di tangannya disodorkannya ke depan Aira. Gadis itu mendengar suara seseorang sehingga mengerjapkan mata. Sesaat menatap wajah yang menatapnya dengan intens, lalu ia melepaskan earphones dari telinganya. Kenapa anak lelaki itu berdiri di hadapan dia? Entahlah. Selain diam menunggu bibir sang pemuda menyapa.
"Hei," Pemuda itu melambaikan tangan setelah meletakkan botol di hadapan Aira. "Kita ketemu lagi. Aku tidak sengaja melihatmu duduk sendiri, ini minuman untukmu. Maaf karena tadi kami mengganggu kenyamanan mu."
Aira tak ingin begitu peduli, membuat pemuda di hadapannya serba salah. Lelaki itu membuka botol minuman, lalu meneguknya sekedar untuk mengurangi rasa gugup. Apalagi tatapan mata sang gadis masih tertuju padanya. Detakan jantung kian berdebar. Apa yang terjadi? Kenapa begitu sulit mengatasi keadaan saat ini.
"Hm, mana yang lain?" Aira melihat sekitar tetapi tidak ada anak-anak yang tadi bersama pemuda itu. Pertanyaan sederhana untuk lelaki yang dilanda kegelisahan hati.
Si Pendiam yang merasa tak karuan berusaha mengendalikan dirinya sendiri, "Mereka sudah pulang, kamu kenapa belum pulang? Atau nunggu seseorang?"
"Ouh, hanya ingin tenang." balas Aira sambil mengambil earphones yang tergeletak di bahunya.
"Begitu, apa kamu tinggal dekat sini atau kamu sering ke taman ini?" tanya si Pemuda itu lagi membuat Aira menahan dirinya agar tetap tenang.
Aira kembali memasang earphones tanpa menambah volume suara musik yang terdengar, "Dekat, masih ada lagi?"
"Ngomong-ngomong, apa boleh aku tahu nama kamu?" Si Pemuda sedikit ragu karena sikap Aira yang dingin bahkan semakin tidak bersahabat.
Wajah manis tak lagi nampak ketika tatapan mata serius menatap tajam ke arahnya. Sebagai seorang lelaki, ia sadar sikap penolakan sang gadis. Apa tindakannya sudah berlebihan? Entahlah. Saat ini yang ada di pikiran hanya ingin mengenal seperti apa seorang Aira. Si gadis manis nan acuh.
Aira beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil minuman yang diberikan si pemuda. "Thanks minuman nya. Next kamu bisa tanya lagi. Bye."
Setelah mengatakan apa yang seharusnya. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan si pemuda yang tertegun. Seulas senyum tersungging menghiasi wajahnya. Tatapan mata tak melepaskan kepergian Aira hingga punggung si gadis menghilang di balik tembok. Dia hanya berpikir kenapa ada gadis yang sangat dingin. Tak ingin terlalu larut, ia pun juga pergi meninggalkan taman.
__ADS_1
Selang beberapa hari Aira kembali ke taman itu dan duduk di tempat terakhir kali ia duduk.. kali ini ia pergi sore hari.. Sambil mendengarkan music.. Aira juga membaca novel fantasy...
Beberapa hari telah berlalu. Hari ini Aira kembali ke taman yang sama dan duduk di bangku terakhir kali menjadi tempatnya terlelap. Alam yang bersahabat membuat gadis itu lebih merasa nyaman. Sebuah buku novel fantasi berjudul Harry Potter karya JK. Rowling menjadi teman siang hari. Imajinasi terus berselancar bagaikan rintik air hujan.
Di sisi lain, tepatnya di salah satu sudut taman. Seorang pemuda terpana melihat keberadaan Aira yang disibukkan membolak balik halaman buku. Sesekali tampan senyum manis yang terbit. Entah keberuntungan atau apa tapi yang jelas hati berbunga-bunga bisa mendapatkan kesempatan kedua bertemu si gadis dingin. Keraguan di hati terpaksa ia pendam karena tugas sekolah.
Saat ini, tumpukan buku menunggunya untuk diselesaikan. Suka, tidak suka fokus mulai terpecah belah hingga begitu sulit menyelesaikan satu per satu soal yang biasanya mudah. Apalagi suara degup jantung terdengar begitu jelas. Bukan hanya itu masalahnya karena ia juga bersama teman lain sehingga tidak mungkin melenggang kaki pergi menghampiri Aira begitu saja.
Satu jam kemudian Aira lelah membaca dan menutup bukunya. Gadis itu beranjak dari beranjak dari tempat duduk. Saking asiknya berkeliaran di dunia sihir hingga lupa rasa haus yang melanda. Langkah kaki berjalan ke toko untuk membeli minuman. Hanya sesaat mendapatkan keinginannya, lalu setelah mendapatkan minuman yang diharapkan ia kembali ke tempat semula.
Sementara di sisi lain, sang Pemuda masih setia mengawasi Aira tanpa sepengetahuan temannya. Padahal tugas sekolah masih tersisa satu soal tetapi hati sudah tidak sabar ingin selesai. Sedangkan satu soal memerlukan waktu sepuluh menit. Tanpa menunda waktu tugas diselesaikan membuat hati begitu lega. Sayangnya bagaimana ia pergi?
Ketika semua teman sekelas masih bersamanya saat ini. Sontak ia berpikir keras harus melakukan apa hingga sadar bahwa waktu semakin beranjak sore. "Alhamdulillah sudah selesai. Ayo, kita pulang." ajak Pemuda itu sambil memasukkan buku ke dalam tas yang diikuti oleh lainnya juga.
"Ayo! Sudah sore juga. Jadi kita mau pulang bareng atau gimana, nih?" tanya salah satu teman sekelas.
Kepergian temannya membuat Si Pemuda berjalan menuju toko. Lalu membeli minuman untuknya. Kemudian ia memilih bangku yang sekiranya bisa dilihat Aira. Entah kenapa hanya itu yang terlintas di dalam kepala. Jujur saja semua ide lenyap begitu melihat diamnya sang gadis dingin. Benar saja seperti dugaan, gadis itu menyadari keberadaannya yang duduk tak jauh dari bangku kemarin.
Sayangnya hanya melirik sekilas tanpa peduli akan kehadirannya. Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa satu jam telah berlalu tanpa ada hal berarti. Aira yang masih sibuk mendengarkan musik tiba-tiba melepaskan earphones begitu dua pemuda asing datang menghampiri mejanya. Feeling mengatakan sesuatu tak benar sehingga ia berniat beranjak dari tempat duduknya tetapi salah satu pemuda menahan pergerakannya.
"Mau kemana, Neng? Kami baru mau duduk, kamunya sudah main pergi begitu saja. Temanin kami, ya." celetuk seorang pemuda satunya sambil merentangkan tangannya ke arah Aira seakan menginginkan pelukan hangat.
"Iya bener kata temen Abang ini, mending duduk lagi. Mari ngobrol." sahut Pemuda yang menarik tangannya dari bahu Aira, lalu duduk dengan tenang.
__ADS_1
Aira hanya diam. Tanpa rasa ragu, apalagi takut. Ia tetap berdiri seraya berpikir bagaimana harus pergi tanpa ada keributan. Disisi lain yang melihat pemandangan itu merasa sangat kesal. Gemuruh hati ba-tiba memanas. Tidak bisa dibiarkan sontak ia bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Aira yang terjebak dua pemuda kurang ajar.
"Kalian mau apa dengan kekasih ku? Maaf sayang, Aku terlambat tadi harus tugas sekolah dulu." sapa Pemuda yang mencoba membuat Aira paham dengan ucapannya karena ia ingin gadis itu bisa terbebas dari rasa tak nyaman.
Aira yang masih polos hanya bisa diam tanpa kata. Untung saja perdebatan kecil berakhir. Dimana ia bergegas pergi meninggalkan kedua pemuda yang bersikap tidak sopan. Meski tangannya tanpa sadar digandeng pemuda lain yang juga asing tetapi tentu memiliki perbedaan nyata. Keduanya memilih bangku lain sebagai tempat duduk yang baru.
"Apa kamu baik-baik saja? Maaf tadi Aku lancang dengan ucapanku." ujar Pemuda itu sedikit merasa khawatir karena ia takut Aira marah atas tindakannya yang memang melewati batas.
Aira bukan gadis tidak tahu terima kasih, tanpa sungkan mengucapkan terimakasih seraya mengulurkan tangan tanda pertemanan. "Aira. Thanks sekali lagi, tapi aku harus pulang. Assalamu'alaikum."
Nama yang terdengar indah di telinga. Satu fase perkenalan telah dilewatinya. Kini hanya menunggu kesempatan ketiga untuk melanjutkan fase berikutnya. Hanya saja sikap dingin dan penyendiri Aira tampak menjadi tembok penghalang utama. Bagaimana cara ia merobohkan pembatas itu? Ditengah rasa bahagia ia lupa langkah si gadis semakin menjauh.
"Aira! Nama ku Alex." Suara yang cukup didengar meski jarak sudah mulai terpisahkan. Acungan tangan kanan Aira menjadi kode bahwa gadis itu mendengarnya. "Yes, sekarang aku bisa menyebut nama tanpa ragu."
Pemuda itu masih belum tahu seperti apa Aira. Meski telah menerima pertemanan. Aira hanya peduli dengan kamarnya yang selalu menjadi tempat ternyaman. Pertemuannya dengan Alex tidak membuat si gadis terbuka begitu saja bahkan di setiap kali bertemu hanya ada sikap dingin dan obrolan sesaat. Alex tidak menyerah begitu saja.
Selama dua bulan dengan kurangnya intensitas pertemuan, membuat Alex memberanikan diri meminta nomor telepon Aira. Kala senja yang enggan menuju peraduan. Taman sepi tanpa ada ketegangan dalam pertemuan kesekian kalinya. Pemuda itu melambungkan harapan yang tersisa di hati.
"Sore, Aira. Setiap kali ke taman Aku lihat kamu sendiri trus. Kemana temanmu? Apa tidak bosan?" tanya Alex tanpa permisi duduk di bangku lain yang semeja dengan gadis dinginnya. Ia mencoba lebih akrab dengan Aira, meski tahu akan diacuhkan seperti hembusan semilir angin.
Aira menatap Alex sesaat, lalu kembali sibuk dengan bukunya. Seperti biasa tidak peduli dengan pertanyaan tak penting yang selalu di dengar setiap kali pertemuan. Kenapa orang suka basa-basi? Terlalu membosankan. Padahal sudah jelas melihat dengan mata kepala, anehnya masih saja tanya tanpa keraguan. Heran? Yah seperti itulah.
Alex menghela napas kasar, "Aku rasa kamu mau fokus membaca. Jadi sebaiknya Aku permisi, tapi sebelum itu. Bolehkah aku minta nomor handphone mu? Siapa tahu lain kali bisa ajak kamu bermain dengan teman ku juga." Jujur saja hati merasa tidak enak didiamkan bak patung pancuran, tapi Ia tak ingin menyerah begitu saja.
__ADS_1
Aira hanya diam tanpa melepaskan pandangan mata dari bukunya. Sepuluh menit kemudian seseorang datang dan memanggil Aira membuat Alex yang masih menunggu membalik persetujuan seketika menoleh ke belakang. Ia melihat siapa yang bisa memanggil Aira tanpa rasa segan karena menggunakan nama panggilan sayang.
"Raraaaa ... Maaf lama, Aku masih ada tugas tadi." Seorang gadis datang dengan langkah kaki tergesa-gesa menghampiri Aira.