Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 18#Penantian Berakhir


__ADS_3

Kisah cinta ini melambungkan rasa ke negeri awan. Terbang bersamamu walau tanpa arah tujuan. Akankah sayap kita tetap bersatu? Diujung penantian masihlah hanya dirimu. Datanglah tuk temani sisa hidupku.


Hubungan online antara Arkha dan Aira sudah berjalan satu tahun tanpa permasalahan yang begitu pelik. Kehidupan keduanya pun semakin membaik. Dimana Aira sudah memiliki usaha yang cukup untuk menghidupi keluarganya bahkan gadis itu memulai beberapa usaha lain secara diam-diam. Hanya saja pekerjaan di balik layar masih menjadi rahasia seorang diri.


Sementara itu, Arkha pun sudah mapan dan memiliki usaha sendiri. Sehingga kesibukan keduanya mengurangi waktu komunikasi. Rasa rindu itu ada tetapi hanya bisa bersama sesaat. Kehidupan memang tentang adaptasi. Dari kebersamaan, lalu mulai merenggang, akhirnya siapa yang tahu?


Hingga suatu hari sebuah keputusan dari kedua orang tua Aira menjadi awal dari permasalahan serius. Dimana perjodohan telah ditetapkan. Hati terlanjur mencintai Arkha tetapi jika pemuda itu tidak datang, maka pernikahan akan terjadi tanpa bisa ditunda. Sementara ia sadar perbedaan negara menjadi faktor utama kesulitan dalam penyatuan.


Dengan beban yang ada, kebisuaan menjadi jawaban baginya. Kehadiran Arkha di setiap sesi video call akan selalu disambut seperti biasanya. waktu. Meski hati berteriak tak mampu bersuara. Selain tatapan mata sayu tak bersemangat.


Arkha menatap kekasihnya begitu intens, "My love, what happened? Is everything okay?"


"I am fine, my rain." Tatapan mata menunduk, ia tak berani memandang Arkha.


Arkha mengubah posisi duduknya agar bisa mendengarkan Aira. "Look me in the eye, then say! Don't make me worry honey."

__ADS_1


"I don't know what else to do. My parents have arranged someone for me. But I love you, how to make them agree?" Rasa sesak di dada begitu terasa menyayat hati. Sungguh semua kacau karena perjodohan yang ia sendiri tidak tahu harus bagaimana.


Pengakuan Aira membuat Arkha terdiam sesaat. Masalah kali ini cukup sensitif bahkan menyangkut masa depan. Apakah ia sanggup melepaskan sang kekasih hati untuk menjadi milik pria lain? Tentu saja tidak. Berpikir keras apa yang akan dilakukannya agar hati tetap bahagia.


"Give me one month to come to Indonesia. I promised to propose to your parents to be my wife."


Akhirnya perbincangan berakhir dengan janji penantian. Semua dilakukan agar hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius meski untuk bertahan harus menikmati ceramah dari orang tua masing-masing.


Sebulan terasa begitu lama hanya karena penantian panjang tiada tau kapan berakhirnya. Hari-hari yang disibukkan dengan usaha, membuat penantian Aira sedikit teralihkan. Seperti hari ini, didepan laporan semua hasil usaha. Gadis itu justru hanya melamun dengan harapan Arkha sungguh-sungguh datang untuknya.



Ketika cinta tulus, bukankah akan memiliki kesempatan bersama? Yah, ia sadar bahwa takdir Allah yang menetapkan. Sekejap menghabiskan sisa kehidupan bersama dengan orang yang paling dicintai sepenuh hati. Apalagi baginya, Arkha adalah obat serta alasan ia kembali menjadi diri sendiri. Kisah mereka menjadi lengkap.


Arkha, kamu adalah sumber sukacita saya, pusat duniaku dan seluruh hatiku~Aira.

__ADS_1


Perjanjian itu akan segera berakhir tapi anehnya tiba-tiba Arkha menghilang. Tidak ada kabar sehingga membuat Aira cemas. Gadis itu berharap sang kekasih baik-baik saja. Bagaimanapun penantian tak lebih besar dari kekhawatiran yang melanda hati. Hari demi hari berlalu dan semua berakhir tanpa ada penjelasan.


"Ibu, aku mohon berikan dia waktu sebentar lagi. Arkha pasti akan datang. Kami saling mencintai, Bu." pinta Aira membujuk sang ibu untuk terakhir kalinya.


Ibu sonia menatap putrinya dengan serius, "Apa dia akan datang?"


"Iya dia pasti datang setelah satu bulan." Aira meyakinkan orang tuanya berharap perjuangan cintanya tidak sia-sia.


ibu Sonia memandang suaminya yang dibalas anggukan. Persetujuan itu menjadi awal penantian Aira. "Mari tunggu calonmu satu bulan. Jika tidak datang, kamu harus siap bertemu pria pilihan kami."


"Aira setuju, Bu, Pak. Terima kasih."


Sesaat Ia mengingat perbincangannya bersama orang tua sebulan yang lalu. Dimana setelah itu langsung berterus-terang pada Arkha akan situasi di rumah. Hanya saja, kini entah dimana keberadaan Arkha. Gadis itu hanya bisa mendoakan keselamatan sang kekasih serta menyiapkan hati menerima perjanjian yang telah disepakati.


Siapa sangka, kedua orang tuanya hanya memberikan waktu tambahan satu minggu sebelum Ia bertemu calon jodohnya. Waktu yang hanya bisa dijadikan sebagai tempat doa tanpa ujung. Harapan tak lagi ada tetapi ia ingin melihat semua orang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2