
Keputusan final sudah ditetapkan sedangkan di negara lain masih terjadi perdebatan. Arkha berusaha membujuk keluarganya untuk menerima Aira sebagai calon istri yang sudah dipilih dari hati. Apalagi adat istiadat di negara Pakistan memang lebih sering menjodohkan anak-anak dari marga yang sama.
Seperti pernikahan dengan sepupu sendiri yang notabene di negara Indonesia menjadi saudara. Termasuk Arkha yang pernah dijodohkan tetapi sudah diakhiri dengan alasan ingin fokus bekerja. Lalu tiba-tiba memberi kabar akan meminang gadis dari negara lain. Siapa yang tidak terkejut?
Selama sebulan terakhir Arkha sibuk membujuk keluarga hingga tak sempat mengabari Aira. Satu per satu anggota keluarga mulai setuju hanya saja sang ayah masih dalam mode marah akan permintaannya. Hal itu semakin menyita waktu untuk fokus menenangkan keluarga.
Setelah semua usaha dilakukan sebaik mungkin. Pemuda itu tersadar akan waktu yang berlalu begitu cepat. Ponsel yang seringkali diabaikan kembali menarik perhatiannya. Betapa terkejut ketika melihat notif pesan masuk serta panggilan yang begitu banyak dari Aira. Rupanya ia lupa mengabari sang kekasih akan kepergian. Semua pesan dibaca hingga pesan terakhir yang membuat tubuh jatuh tak berdaya.
[My rain, I hope you are well there. If indeed your departure is because you cannot come to Indonesia, then I understand that. Stay happy there and with this, I would like to say that one more week will be held for the first meeting on the boy's side of the family. I love you but promises must be kept.]
Pesan dua hari lalu baru saja dibaca. Pikirannya hanya ingin segera datang ke Indonesia hanya saja ia harus menyiapkan segala sesuatunya, jika ingin Aira menjadi pasangan yang diterima oleh keluarga. Kini ia bertekad dalam hati akan membuat sang pujaan menjadi istri.
Arkha mempersiapkan diri untuk pergi ke Indonesia seorang diri, dan hal itu dilakukan sebelum pertemuan Aira bersama pria lain dipastikan. Kepergiannya dari negara Pakistan untuk memenuhi janji yang memang bukanlah permainan. Cinta yang dia miliki sejati. Sementara itu, Aira hanya sibuk menikmati sisa hari tanpa ingin berpikir jauh.
__ADS_1
Seandainya kenyataan adalah mimpi, lalu mimpi manis berubah menjadi kenyataan. Sudah pasti lebih memilih terlelap dalam dunia angan tanpa bayangan. Cinta tumbuh menjadi mekar dikala menebarkan aroma wewangian. Bersemi dalam kerinduan, layu karena perpisahan.
Satu hari sebelum pertemuan. Akhirnya langkah kaki sang pemuda Pakistan menginjakkan tanah Indonesia. Arkha sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta. Pemuda itu sudah mempersiapkan semuanya dan bergegas meninggalkan bandara dengan memesan taksi. Alamat yang pernah diberikan Aira mempermudah perjalanan pertamanya.
Sayangnya jarak dari Jakarta ke kota tempat tinggal Aira sangatlah jauh bahkan membutuhkan waktu berjam-jam. Sehingga harapannya hanya satu yaitu bertemu Aira sebelum pertemuan keluarga dilakukan. Perjalanan selama kurang lebih sembilan jam menjadi penantian panjang.
Rasa lelah membuat Arkha terlelap dan melupakan melupakan segalanya. Malam yang larut beranjak menuju cahaya mentari. Namun tak terasa hingga waktu terlewat begitu saja. Keesokan hari pemuda itu terbangun karena suara ketukan pintu. Ternyata salah satu pelayan laki-laki datang ingin membersihkan kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya Arkha pada pelayan itu begitu membukakan pintu.
Sang pelayan menundukkan pandangan, "Maaf, Tuan. Waktu sarapan telah berakhir, jadi saya pikir Anda telah meninggalkan hotel. Apakah Anda ingin sesuatu untuk sarapan?"
__ADS_1
Penjelasan pelayan itu, membuat Arkha langsung berlari mengambil ponsel untuk melihat jam. Betapa terkejutnya ia karena waktu hampir menunjukkan waktu sholat. Lalu ia menoleh ke arah pintu dan mengatakan hanya ingin segelas jus mangga. Sehingga pelayan itu pergi berlalu untuk mendapatkan keinginannya.
Kepergian si pelayan, membuat Arkha bergegas menutup pintu. Lalu melesat menuju kamar mandi melakukan ritual mandi kilat. Lima belas menit sudah cukup mengubah penampilannya menjadi segar dan harum hingga terdengar suara ketukan pintu sekali lagi.
Tanpa ingin menunda apapun ia menerima sarapan pagi dari si pelayan. Segelas jus mangga dan setangkup roti bakar. Arkha bahkan masih sempat menanyakan sebuah alamat agar lebih mudah menemukan rumah Aira. Kata pelayan itu hanya membutuhkan tiga puluh menit dari hotel.
Arkha tak ingin salah jalan sehingga meminta pelayan itu untuk mengatakan pada sopir yang menjadi tour guide dadakan. Setidaknya perjalanan akan lebih mudah. Bukankah demikian? Sebenarnya ia hanya ingin segera bertemu Aira karena waktu sudah begitu sempit.
Si pelayan mengangguk, "Of course, sir. After you are ready, ask another waiter where my presence is. Just say want to meet Rudi. Excuse me."
Sesi sarapan hanya sebentar, lalu ia bersiap-siap dan hanya membawa barang penting saja. Ia bahkan sengaja tidak menelpon Aira. Jangankan meminta maaf, memberikan kabar pun tidak. Semua itu agar bisa memberikan kejutan pada sang kekasih hati.
__ADS_1