
Aira paham akan apa yang dirasakan oleh Arkha tetapi bukan berarti mencurigai Danish. Baginya Dan adalah asisten sekaligus sahabat yang bisa diandalkan bahkan pria yang menjadi pusat perhatian suaminya itu akan selalu berdiri di sebelahnya demi kebaikan.
Selama ini, Danish lah yang menjadi tempat untuk memenuhi semua keterbatasannya. Bukan karena tidak mampu tetapi demi menjaga identitas maka setiap pertemuan dengan klien akan diwakilkan. Bisa saja orang berpikir untuk menjadi pengkhianat ketika mendapatkan kepercayaan lebih.
Namun Danish lebih mencintai hidup sederhana. Sehingga pria itu pantas menjadi tangan kanannya. Tak ingin ada salah paham, apalagi berusaha membuat Arkha curiga lebih jauh lagi. Aira menjelaskan secara singkat, jelas dan padat agar sang suami paham tempat seorang Dan di dalam hidup serta bisnis yang dia bangun.
Sesi makan siang berakhir dengan baik bahkan Arkha mau meminta maaf membuat Dan menerima uluran tangan suaminya. Arsha pun ikut berkenalan. Suasana rumah kembali membaik dengan kebersamaan sebagai satu keluarga yang saling mengasihi.
"Bos, sekarang kan sudah punya suami. Bolehkah aku cuti beberapa hari," goda Danish yang memang selama ini tidak memiliki waktu liburan kecuali pekerjaan sudah selesai. Akan tetapi tatapan tajam Aira menciutkan nyali, "Iya gak cuti, aku mau melanjutkan pekerjaan dulu. Apa ada hal lain yang harus kulakukan?"
"Berikan semua file yang harus diperiksa. Taruh saja semua informasi di atas meja kerjaku. Semua klien yang memiliki jadwal pertemuan. Aku akan segera ke ruang kerja." jawab Aira lalu menghabiskan jus mangganya.
Danish mengangguk paham. Pria itu beranjak dari tempat duduknya, sedangkan Arkha menatap Aira yang terlihat tenang meski tidak dengan pikirannya. Sebagai seorang pebisnis ia tengah memikirkan langkah baru. Setelah semua yang terjadi, mungkin sudah waktunya untuk muncul ke publik.
"Aira, apa yang kalian bicarakan?" tanya Arkha karena pembicaraan istri dan asistennya menggunakan bahasa Indonesia.
Sontak saja Aira menepuk dahinya. Dia lupa kakak beradik itu tidak tahu bahasa Indonesia. "Aku bilang padanya agar memberikan semua berkas yang akan aku periksa karena semua pekerjaan menjadi tertinggal saat acara pernikahan berlangsung. Sekarang semua harus di handle. Kuharap suamiku tidak masalah.
Arsha banya mendengarkan karena ia sendiri sedikit pusing dengan hal baru yang terjadi. Semua terjadi begitu cepat sehingga ia memilih pamit kembali ke kamar untuk beristirahat. Sementara Arkha merasa khawatir sebab Aira belum memiliki waktu istirahat yang cukup. Tentu saja ia memilih memberikan nasehat sebagai seorang suami.
Tatapan mata suaminya begitu khawatir. Wajar saja tetapi pekerjaan tidak bisa ditunda lagi. "Aku hanya membutuhkan sedikit waktu. Selama kita mempersiapkan pernikahan, Danish sudah mengurus segalanya bahkan tidak punya waktu istirahat. Rain, seorang pemimpin harus bertanggung jawab hanya saja aku meninggalkan karena keadaan yang mendesak."
"Sebenarnya beberapa hari lagi ada klien yang sangat penting. Jadi aku akan memulai pertemuan yang sudah lama tertunda." sambung Aira mencoba memberi pemahaman pada suaminya.
Arkha pasrah dengan keputusan Aira tetapi bukan berarti menyerah. Pria itu memberikan syarat untuk ikut ke ruang kerja dan menemani bekerja sang istri. Tak ingin memperdebatkan lagi. Keduanya beralih ke ruang kerja yang terasa lebih dingin karena AC menyala.
__ADS_1
Danish yang datang membawa file lebih banyak dari di caffe membuat Arkha melongo tak percaya. Sang asisten memang tinggal di rumah yang terpisah dari rumah Aira. Meskipun begitu, Aira tak mempermasalahkan. Jadi selain membangun rumah utama, gadis itu juga mendirikan pondok untuk Danish.
"Semua file yang harus di cek dan membutuhkan tanda tangan persetujuan." Danish memisahkan sembilan file ke meja sisi kanan, lalu memindahkan empat file ke meja sisi kiri. "Ini file informasi klien yang akan melakukan pertemuan minggu depan. Apa masih ada pekerjaan lain, Bos?"
Semua file dirasa sudah cukup seperti penjelasan Danish. "Sudah, kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu. Nanti jika butuh sesuatu, aku bisa hubungi kamu, Dan."
"Oh iya, Bi Lis sedang istirahat. Mau aku buatkan cappucino favoritmu, Bos?" tawarnya sebelum benar-benar pergi. Ia sengaja mempelajari semua pekerjaan bahkan termasuk cara membuat secangkir cappucino yang selalu menjadi teman Aira selama bekerja.
Langkah kaki berjalan menghampiri kursi kerjanya, "Why not, aku tunggu. Rain, kamu bisa membaca beberapa buku yang ada di rak. Jadi tidak akan bosan menunggu aku sampai selesai bekerja."
Arkha duduk didepan Aira dan hanya membalikkan setiap halaman buku tanpa membacanya begitu Danish pergi meninggalkan ruangan. Sang istri tampan begitu serius dengan file terbuka. Pemandangan langka sisi lain seorang Aira.
Selama beberapa waktu hanya sibuk menatap bahkan tak menyadari kedatangan Danish yang membawa pesanan istrinya. Sang asisten membawa nampan dengan empat cangkir cappucino, lalu meletakkan di atas meja. Seperti biasa yang akan menjadi penyemangat selama melakukan pekerjaan.
"Thank's, Dan." ucap Aira dengan senyum manisnya membuat Dan mengangguk setuju.
"Honey, kenapa ada empat cangkir cappucino?" tanya Arkha membuat Aira menghentikan pekerjaan sesaat, lalu mengambil satu cangkir untuknya.
"Aku membutuhkannya untuk fokus dengan pekerjaan tapi satu itu untukmu dan tiga cangkir untukku. Aku memang minum cappucino banyak sekedar sebagai teman bekerja. Sekarang biarkan aku fokus untuk dulu." jawab Aira kembali menatap file yang ada di depannya, sedangkan Arkha hanya bisa menghela napas panjang.
Jawaban Aira membuat Arkha terdiam. Apa yang bisa dilakukannya? Jika memang itu yang menjadi kebiasaan sang istri. Tak ingin mengganggu maka ia memilih membaca buku yang sebenarnya sangat membosankan. Detik berlalu berganti menit menjadi jam.
Tanpa disadari dua jam telah berlalu. Akan tetapi gadis itu masih menyelesaikan pekerjaan dan sesekali menyeruput cappucino yang sudah dingin. Rasa lelah yang melanda menghentikan aktivitasnya. Kini tatapan mata terpatri pada wajah yang lebih lelah menunggunya.
__ADS_1
Ditutupnya file, lalu beranjak dari tempat duduk. Langkahnya berjalan mendekati Arkha, "My Rain, ayo kita tidur."
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Ia bertanya karena melihat masih ada dua file yang belum tersentuh. Tentu saja itu harus diselesaikan juga 'kan?
Ponsel diambil hanya untuk mengirim pesan pada asistennya, "Jangan khawatir karena aku bisa memeriksa nanti, jadi semua pekerjaan akan selesai. Sekarang kita bisa istirahat. Ayo!"
Ia sengaja mengirim pesan meminta Danish mengambil berkas yang sudah ditandatangani. Sementara dia sendiri akan istirahat siang bersama suaminya. Waktu berlalu begitu cepat. Dimana hari telah berganti tanpa disadari. Sudah tiga hari dari sejak pertama kali masuk ke rumah.
Selama itu Aira hanya di rumah bersama keluarga. Sebagai seorang pebisnis, Ia memilih bekerja di balik layar. Simple karena tidak harus menjadi beban orang lain hanya untuk antar jemput. Bahkan kini Arkha mulai terbiasa dengan kebiasaan hariannya, sedangkan Arsha mulai memilih teman yang bisa diajak keluar bersama.
Hari ini akan ada pertemuan klien. Aira sudah melihat bagaimana latar belakang sang klien hanya saja informasi tanpa foto membuatnya penasaran. Ternyata ada klien yang tidak mempublikasikan jati diri melalui selembar kertas.
Untuk pertama kali dan tidak bisa melihat calon partner sebelum rapat tetapi mengingat kerja sama yang akan dilakukan berpengaruh penting. Gadis itu telah memutuskan akan menemui klien sendiri tanpa perwakilan. Bagaimanapun hasil harus sesuai ekspektasi karena satu langkah cukup menjadi awal baru bagi bisnisnya.
Aira menghentikan kepergian Danish disaat berpapasan di dapur, "Dan, siapkan semuanya! Pastikan sesuai keinginan klien tapi tidak mengurangi kualitas dari perusahaan kita."
Danish memberikan hormat, ''Okay, Bos."
Kepergian Dan, membuat Aira kembali menuju kamar. Ia melihat pintu ke ruang ganti yang setengah terbuka. Ternyata ada Arkha, pria itu sibuk di depan lemari. Entah apa yang dipikirkan sang suami hingga melamun seperti tengah kebingungan.
Diam-diam menyandarkan tubuh ke belakang dengan deheman sedikit keras yang mengalihkan perhatian Arkha hingga menoleh ke arahnya. Tatapan mata saling bertemu memeluk kehangatan cinta yang selalu memenuhi lubuk hati keduanya.
"Apa yang kamu lakukan, Rain? Apa memerlukan sesuatu?" Langkah kaki berjalan mendekati Arkha, tetapi pria itu justru menyambar handuk yang langsung diberikan tanpa basa basi. "Handuk, tapi kenapa?"
"Pergilah mandi! Kamu akan pergi rapat bukan? Jadi bersiaplah." jawab Arkha tanpa beban hati. "Aku hanya ingin melihat semua gaunmu, sekarang pergilah! Aku tunggu kamu disini, Sayang."
__ADS_1
Tak ingin berdebat yang membuat waktu semakin terulur. Akhirnya Aira menurut keinginan Arkha yaitu pergi mandi dan meninggalkan suaminya yang entah ingin melakukan apa. Ia pun merasa penasaran hanya saja lebih baik membiarkan tanpa bertanya lagi.