
Gadis itu sengaja berpamitan ke toilet ketika melihat ayah sahabatnya meningggalkan tempat acara. Entah pria dewasa itu akan kemana tetapi ia hanya ingin bertemu membicarakan hal yang seharusnya diketahui seorang ayah tentang putranya. Langkah kaki berjalan menyusuri lorong hotel mengikuti kepergian ayah Rei.
Awalnya tak merasakan ada yang aneh hingga ia melihat pria dewasa itu berjalan memasuki sebuah kamar hotel yang ia pikir itu kamar Rei. Pengaturan acara yang diadakan secara mendadak sehingga tak sempat mengecek dimana saja kamar mempelai. Akan tetapi bagaimana ia masuk tanpa permisi?
Bingung karena tidak mungkin untuk nyelonong begitu saja hingga ia ingat sesuatu yang bisa dijadikan alasan. Tanpa mengetuk, pintu di dorong ke depan tetapi suasana di dalam remang-remang. Kenapa lampunya tidak dinyalakan? Apa hanya ingin ke toilet saja?
Rasa was-was tak menghentikan langkah kaki Aira untuk tetap berjalan maju karena sayup-sayup terdengar suara obrolan dari arah kamar mandi. Obrolan itu terdengar begitu akrab bahkan begitu manja hanya saja suara itu tampak tak asing di telinganya. Tak ingin berburuk sangka sehingga ia memutuskan untuk lebih berhati-hati.
Sorot lampu dari kamar mandi terlihat jelas menunjukkan dua bayangan yang bisa dilihat Aira dari tempatnya berdiri. Tatapan mata mencoba mengamati apa yang dilakukan bayangan itu hingga suara lenguhan manja lolos menyadarkan Aira akan situasi panas dikamar mandi.
Entah kenapa, hatinya ingin melakukan sesuatu dan tanpa basa-basi ia mengambil ponsel. Lalu menyalakan video yang sengaja digunakan untuk merekam adegan di dalam kamar mandi. Tatapan mata tak mampu berbohong, ia terkejut dengan kenyataan yang ada di depan mata. Bagaimana tidak?
Di dalam kamar mandi Jihan tengah asyik menikmati singkong milik ayah Rei bahkan begitu bersemangat seakan ini malam pengantin keduanya. Dari adegan itu menunjukkan apa yang tidak pernah terpikirkan. Video yang dengan jelas merekam langsung dihentikan dan tak lupa disimpan.
Tanpa ingin menunda apapun. Aira pergi meninggalkan kamar itu bahkan dengan sengaja menguncinya dari luar, lalu ia menelpon suaminya agar membawa Rei secepat mungkin ke kamar yang dimaksudkan. Penantian tak begitu panjang karena Arkha, dan Rei benar-benar datang.
"Lihatlah!" Diberikannya ponsel yang masih di tempat rekaman live, "Kamu harus tahu sebagai anaknya."
Rei mengernyit tak paham tapi begitu memutar rekaman yang ada di ponsel Aira. Darahnya mendidih tak kuasa menahan amarah. Geram akan kelakuan ayahnya sendiri. Jika memang Jihan ingin dijadikan ibu, kenapa harus menjodohkan dengan dirinya yang jelas menolak sejak awal.
Kunci dirampas, lalu pria itu membuka kamar. Aira tak ingin membiarkan sahabatnya bertindak gegabah sehingga ia bergegas ikut masuk ke kamar itu kembali tetapi sungguh mengejutkan ketika pemandangan di depan mata lebih menjijikkan. Ayah Rei dan Jihan tengah asyik bergelut memulai perjalanan sampai tidak menyadari ada orang yang menonton secara langsung.
Tangan Rei mengepal. Wajahnya merah padam menatap pakaian yang berserakan di lantai ditambah bringasnya kedua insan di atas ranjang. Bagaimana bisa seperti itu? Ayahnya benar-benar menyodorkan bekas jajahan hanya untuk dijadikan kambing hitam.
Arkha yang melihat semua itu, akhirnya menekan saklar lampu utama hingga membuat seluruh ruangan terang benderang yang seketika menyadarkan insan berkabut di atas ranjang. Ayah Rei gelagapan dan langsung memungut semua pakaian dan bergegas memakainya kembali sedangkan Jihan menunduk menarik selimut agar tubuh tak polos lagi.
__ADS_1
Suara tepuk tangan kecewa bergema memenuhi ruangan kamar. Aira mencoba untuk mendekati Rei ingin menenangkan sahabatnya tetapi Arkha menahan agar tetap diam di tempat. Saat ini adalah urusan antara ayah dan anak, jadi tak seorangpun dibenarkan untuk masuk ke dalam lingkaran hubungan tersebut.
Baru saja ingin mengucapkan kata. Rei melayangkan tamparan begitu keras membuat pipi ayahnya memiliki cap jari yang terlihat begitu jelas. Hanya satu tamparan untuk menjadi akhir pergulatan batinnya. Tak ada kata yang bisa diucapkan selain tatapan mata merah menahan amarah.
"Pernikahan kita batal. Jangan pernah tunjukkan wajah kalian di hadapanku!" putus Rei yang tak sudi menatap Jihan sedikitpun.
Pria itu berlalu meninggalkan kamar bahkan melewati Aira dan Arkha tanpa kata. Pasti sedih, kecewa tetapi tak bisa mengubah takdir yang ada. Setidaknya ia sadar pernikahan tidak bisa dilanjutkan. Apalagi harus menjadi kambing hitam ayahnya sendiri. Secara tidak langsung Jihan akan mendapatkan kehangatan dari dua lelaki di dalam satu atap.
"Aku pikir pernikahan ini untuk kebahagiaan sahabatku. Anda menjadi seorang ayah yang hebat karena memiliki putra yang selalu berusaha membanggakan orang tuanya tapi setelah hari ini? Nikahilah gadis yang Anda nikmati secara cuma-cuma.
"Jihan, jujur aku salut dengan hapalan Al Quran yang kamu punya. Sayangnya jilbab hanya menjadi penutup kesenangan sesaatmu. Jangan minta maaf pada manusia tapi minta maaflah pada Allah SWT. Jangan jadikan jilbab sebagai topeng karena itu sama saja dengan perbuatan yang melanggar norma.
"Silahkan lanjutkan jika kalian tidak memiliki rasa malu lagi." Aira berbalik, lalu menggenggam tangan Arkha. Ia memilih ikut pergi meninggalkan kamar membuat Ayah Rei tersungkur tak berdaya sedangkan Jihan benar-benar merasa tak punya muka lagi.
Disisi lain Rei tengah meluapkan emosinya dengan minuman yang ada di tangannya. Aroma menyengat tak dipedulikan lagi. Seteguk saja sudah membuat kepalanya melayang seakan terbang diawan. Danish yang tak sengaja melihat kelakuan sahabat bosnya itu segera mengirim pesan pada Aira.
Biarlah kedua insan itu saling melengkapi karena kebersamaan sepasang kekasih mampu mengurangi duka yang ada di hati, sedangkan ia dan Arkha juga menginap di hotel yang sama karena esok adalah hari yang penting. Yah, tanpa meminta persetujuan siapapun, gadis itu memutuskan untuk menikahkan Rei dan Lia.
Ia tak ingin keponakannya lahir tanpa ayahnya. Jadi hadiah pertama yang akan diberikan adalah pernikahan kedua orang tuanya. Bukankah itu adil? Yah, kedua sahabatnya harus bahagia menjadi keluarga kecil yang harmonis. Meski di hati ingin juga bisa segera memiliki momongan.
Arak awan beranjak dari peraduan meninggalkan sang malam menjemput sinar harapan. Hati dan pikiran kembali tenang setelah meluapkan seluruh emosi membuat tubuh sang lawan tak kunjung terbangun karena ulahnya. Wajah lelah Lia menyambut paginya.
Dikecupnya kening sang kekasih dengan rasa sayang yang begitu dalam, "Morning, Sayangku."
"Biarkan aku tidur, Rei. Tubuhku remuk karena ulahmu." gumam Lia begitu lirih membuat Rei terkekeh pelan.
__ADS_1
Tak ingin mengganggu waktu istirahat sang kekasih. Pria itu beranjak dari ranjang dan berlari kecil menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Lia tak ingin memperdulikan apapun. Sudah cukup menjadi pelampiasan emosi yang justru menambah durasi permainan.
Satu jam kemudian rasa lelah masih terasa tapi perutnya merasa lapar. Tak ayal harus bangun untuk mencari makanan tetapi di saat membuka mata. Ia dikejutkan dengan penampilan yang benar-benar tidak pernah dibayangkannya. Siapa yang melakukan semua itu?
"Sudah bangun? Bagaimana hasilnya? Bagus 'kan." tanya seseorang yang duduk di belakang sana hanya saja terlihat dari pantulan cermin yang ada di depannya.
Aira tersenyum tipis menatapnya dengan tatapan penuh makna. Jika saat ini, ia tengah dirias dan sudah memakai gaun pengantin. Siapa yang mengganti pakaiannya? Rei atau Aira? Bingung tapi malu ingin bertanya.
"Rei mengganti pakaianmu karena dia tak ingin aset miliknya dilirik orang lain. Termasuk itu aku, jadi jangan pikirkan hal lain lagi." ujar Aira memberikan jawaban yang pasti tengah menjadi perdebatan batin sahabatnya.
Malu? Jelas dan rasanya ingin menenggelamkan diri ke dasar lautan bahkan para perias hanya bisa diam menyimak tanpa berani memberikan komentar. Setelah riasan sesi terakhir, Aira baru membiarkan para perias pergi meninggalkan ruang ganti. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya.
Langkah kaki berjalan menghampiri sang sahabat, lalu berdiri di belakang mempelai wanita yang malu-malu. "Jujur aku kecewa dengan kalian atas apa yang sudah terjadi tapi doaku akan selalu untuk kebahagiaan kalian berdua. By the way, jaga keponakanku dengan baik dan jangan keseringan melakukan olahraga ranjang.
"Dokter sudah memberikan peringatan agar kamu menjaga kehamilan pertama. Jadi pernikahan ini bukan untuk mempermudah kalian bermain tetapi aku ingin keponakanku mendapatkan kasih sayang dari ayah ibunya. Paham?" lanjutnya tanpa mengedipkan mata menatap Lia dari pantulan cermin.
Lia tak sanggup berkata-kata lagi. Kebenaran tentang kehamilannya sudah cukup memperjelas bahwa Aira tahu hubungan dirinya dan Rei. Melihat tatapan mata teduh sang sahahat, ia sadar gadis satu itu benar-benar tidak memiliki perasaan lebih terhadap kekasihnya.
Tak ingin mengucapkan apapun tapi ia langsung beranjak dari tempatnya, kemudian memeluk Aira dengan erat. Pelukan sahabat yang selalu menjadi kekuatan tambahan. Bersyukur karena di kehidupan singkat mendapatkan sahabat yang luar biasa pengertian.
Akhirnya janji ikrar suci mengikat Lia dan Rei sebagai pasangan suami istri yang sah secara agama dan negara. Satu kebaikan lagi karena Ayah Rei mau bertanggung jawab dan menjadikan Jihan sebagai istri untuk mama baru yang pasti terasa canggung.
Kebahagiaan semakin lengkap ketika kado dari Aira berupa hasil laporan medis yang menyatakan Lia tengah hamil anaknya. Tak ada yang berkomentar karena cinta sudah menemukan jalan pulang. Jodoh siapa yang tahu?
Seperti kisahnya dan Arkha, lalu kisah Rei dan Lia bahkan Ayah Rei menemukan jodoh kedua dengan menjadi Jihan sebagai istri. Kehidupan selalu tentang misteri, begitu juga dengan jodoh, rezeki dan kematian.
__ADS_1
Pada intinya, selama itu bukan yang ditakdirkan untuk kita. Maka sekuat apapun memperjuangkan untuk tetap dijadikan milik. Takdir akan meluluhlantakkan semua menjadi debu tak berarti. Ras cinta saja bisa berubah menjadi kehampaan nyata.