Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 43#Happy Ending


__ADS_3

Setelah pernikahan Rei dan Lia. Kehidupan Aira tampak begitu tenang selain mengurus pekerjaan dan beradaptasi dengan kehidupan rumah tangganya yang harus mengajari Arkha bahasa Indonesia sederhana. Lima bulan telah berlalu. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Yah seperti embusan angin yang terus berganti haluan.


"Rain, aku ingin makan." rajuk Aira dengan suara manjanya membuat Arkha tersenyum manis.


Pria itu beranjak dari tempat duduknya seraya mengulurkan tangan, "Ayo, kita makan sekarang sayang."


Pasutri itu meninggal ruang tamu dan berjalan menghampiri ruang makan. Dimana Bi Lis baru saja menyelesaikan pekerjaan pertama yaitu memotong buah untuk dimasukkan ke dalam kulkas. Kebiasaan Aira ngemil buah mengharuskan setiap hari ada buah potong agar tidak dilakukan secara mendadak.


"Bi, tolong masakkan sesuatu untuk kami." kata Arkha dengan sopan membuat Bi Lis mengangguk, tetapi Aira langsung cemberut.


Ditariknya tangan Arkha dengan tatapan memelas. "Sayang, aku tidak mau masakan Bi Lis. Bibi bisa lanjut pekerjaan saja biar suamiku yang masak."


Tak ingin membantah sang majikan. Bi Lis pamit meninggal pasutri itu, membuat Arkha menghela napas pelan. Rupanya sang istri ingin dimanja. Jelas sekali tingkah lakunya mode merajuk yang tidak bisa ditolaknya.


"Aku ingin melihat suamiku memasak untukku." tegas Aira seraya menarik tangan Arkha. Keduanya melanjutkan perjalanan menuju dapur.


Arkha merasa gemas dengan tingkah istrinya dan tanpa permisi mengacak rambut Aira. Kebersamaan di dapur cukup menyenangkan meski memiliki istri yang memang suka jahil. Bagaimana tidak? Ketika dia pikir sudah menyiapkan sepuluh cabe tiba-tiba menghilang hanya karena ditinggal mengambil bahan lain dari dalam kulkas.


Pelakunya ya Aira yang suka mengerjai sehingga membuat waktu memasak lebih lama. Seharusnya setengah jam sudah seperti tapi kehebohan menambah durasi menjadi satu jam kurang lima menit. Arkha menyajikan makanannya di mangkuk, lalu mengajak sang istri kembali ke ruang makan.


"Silahkan Tuan Putri, makanan yang Anda inginkan telah siap dinikmati. I love you, Istriku." Ia duduk disebelah Aira tetapi sang istri masih menatap makanan seakan tengah sibuk menilai. ''Mau menu yang lain?"


Aira menggelengkan kepala pelan, "Suapin donk, aku ingin makan dari tangan suamiku."


"Sure, Honey." Arkha mulai menyuapi Aira dengan telaten bahkan meski tengah makan. Istrinya masih saja memasukkan keripik kentang ke dalam mulut.


Tingkah Aira benar-benar berubah drastis bahkan selalu membuatnya geleng-geleng kepala. Istrinya semakin hari makan banyak seakan perut yang biasa makan sedikit muat menampung banyak makanan. Bukannya tidak boleh tapi kebiasaan itu membuat seorang suami khawatir.


Selama menyuapi dibiarkan sebagaimana mestinya. Tak ingin mengeluh apalagi berkomentar hingga suapan terakhir toples keripik sudah tinggal setengah saja. "Aira, are you okay? Kenapa beberapa hari ini sikapmu berubah, sayang."


"Sangat baik, aku hanya lapar jadi ya makan." jawab Aira seadanya tanpa beban menyudahi obrolan yang memang tidak seharusnya dimulai.


Setelah selesai makan. Keduanya kembali ke kamar dan setiap kali perlakuan manis dari suaminya menyenangkan hati. Gadis itu mempersilahkan Arkha menenggelamkan diri dalam kehangatan pergulatan ranjang. Makanan yang baru masuk justru hanya dijadikan bahan amunisi sebelum melewati medan pertempuran.

__ADS_1


Kehidupan semakin menyatu dalam kebersamaan. Waktu tak terasa menyudahi kenikmatan yang berakhir diatas ranjang. Rasa lelah yang mendera membuat pasutri itu terlelap tanpa mengenal waktu tetapi di tengah malam hari Aira terbangun merasakan eneg dan ingin muntah.


Tanpa hati-hati turun dari ranjang membuat Arkha ikut terbangun. Pria itu memperhatikan istrinya yang masuk ke kamar mandi, lalu terdengar suara orang muntah. Sontak ia ikut turun dan menghampiri kamar mandi. Wajah Aira pucat seperti orang sakit.


"Apa yang terjadi, Sayang?" tanyanya seraya merengkuh tubuh Aira. Ia membantu istrinya agar duduk di sofa, lalu memberikan segelas air hangat.


Aira hanya meneguk beberapa teguk, "Aku baik kok, mungkin cuma masuk angin."


Wajahnya begitu pucat dengan keringat dingin yang membanjiri wajah. Belum lagi mata sayu dengan helaan napas tak beraturan. Jika hanya masuk angin, bisa saja diberi minyak angin untuk meredakan tetapi hati merasa istrinya mengalami sakit yang lain.


"Besok kita akan ke dokter dan tidak ada penolakan." Tanpa permisi tangan kekarnya meraih tubuh Aira. Digendongnya sang istri agar kembali bisa beristirahat di atas ranjang. Ia dengan pelan membaringkan tubuh Aira, lalu tak lupa menyelimuti. "Sekarang tidurlah, Sayang?"


Keesokan harinya, Arkha tak melupakan keinginannya membawa Aira ke dokter. Pukul sembilan pagi pria itu sudah stand by menunggu antrian menemani istrinya. Apalagi kondisi Aira semakin memprihatinkan karena sering mondar-mandir ke toilet.


Ketika tiba giliran mereka berdua. Dokter melakukan pemeriksaan lebih lama dari biasanya. Hal itu semakin membuat Arkha cemas dan tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan. Begitu dokter selesai Ia langsung bertanya bagaimana keadaan istrinya.


Dokter memahami kekhawatiran suami pasiennya tapi tak ingin membuat hati berdetak cepat karena scott jantung dadakan. "Istri Anda baik-baik saja, Tuan. Sebelum itu, saya ingin mengucapkan selamat pada Anda."


Dokter merasa lucu dengan suami pasiennya yang bule bucin tetapi begitu polos. "Saya mengucapkan selamat bukan karena istri Anda sakit tapi selamat Anda akan menjadi seorang ayah."


Arkha mencoba mencerna ucapan dokter yang terlihat begitu bersemangat. Akan tetapi rasa khawatir masih menguasai hatinya hingga Aira membisikkan sesuatu yang membuatnya mengerjap tak percaya. Hati seakan di penuhi bunga dengan harum mawar yang begitu semerbak.


"Istri saya hamil, Dok?" tanya Arkha memastikan yang rasanya seperti mimpi.


Dokter menganggukkan kepala, "Nona sudah hamil empat minggu, tapi karena sangat sensitif jadi gejala awal sudah membuat kejadian seperti hari ini."


"Apa anak kami baik-baik saja? Maksudku kehamilan ini tidak ada masalah apapun 'kan, Dok?" tanya Aira yang ingin melakukan antisipasi.


"Alhamdulillah, ibu dan bayinya sehat tapi ini masih awal kehamilan jadi harap berhati-hati. Saya akan berikan resep vitamin serta obat penguat kandungan. Tuan, tolong jaga istri Anda lebih dari sebelumnya." jelas Dokter begitu serius karena Ia ingin bisa melihat bayi dan ibunya selalu sehat walafiat.


Berita kehamilannya adalah kebahagiaan yang menyatukan keluarga tetapi satu rencana yang sudah disiapkan. Bagaimana akan memenuhi itu? Tak ingin bertindak gegabah. Aira menanyakan satu pertanyaan yang memang dianggap penting agar tidak salah ambil keputusan.


"Apa saya bisa bepergian menggunakan pesawat, Dok?" tanya bumil yang agak mencemaskan sesuatu membuat Arkha mengusap punggungnya agar tetap tenang.

__ADS_1


Dokter mengerti maksud Aira, "Sebaiknya tunggu tiga minggu lagi. Kondisi kehamilan Nona tampaknya akan merepotkan karena si jabang bayi menolak beberapa makanan. Jika setelah tiga minggu keadaan membaik, silahkan bepergian menggunakan pesawat."


Obrolan dengan dokter sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia sehingga Arkha harus mencerna baik-baik. Sang istri yang paham akan kebingungan suaminya. Tentu saja menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami hanya saja penjelasan diberikan setelah mereka berdua berada di rumah.


Berita kehamilan Aira menjadi kebahagiaan semua orang bahkan Arkha tak hentinya mencurahkan kasih sayang terhadap calon buah hatinya. Setelah mendapat penjelasan yang dikatakan dokter. Pria itu mengalah menunda kepulangan ke Pakistan demi keselamatan istri dan anaknya.


Apalagi dari kedua belah pihak keluarga merasa ikut bahagia dengan kabar tersebut dan memberikan dukungan agar bisa menjalani masa menjadi orang tua pertama. Sesuai permintaan Arkha, dimana tiga bulan kehamilan Aira akan tetap berada di Indonesia dan membiarkan orang tua sang istri memberikan banyak cinta pada calon cucu pertama mereka.


Setelah itu, Ia akan membawa Aira dan calon buah hatinya kembali ke Pakistan. Meski orang tua Aira merasa kecewa, tetap saja menyadari akan tanggung jawab yang sudah lama tertunda. Arkha bahkan tidak masalah mengalah selama ini karena pekerjaan sang putri.


Awal kehamilan dipenuhi dengan kebahagiaan serta cinta dari suami dan orang-orang terkasihnya. Rei dan Lia pun turut bahagia, kehamilan yang berselang beberapa bulan, membuat Rei mengirim buah yang sama ke rumah sahabatnya itu. Tak ada yang mempermasalahkan itu karena bumil memang menyukai buah.


Namun selama sisa waktu yang ada. Aira juga mengajari Danish tentang beberapa pekerjaan yang memang selama ini hanya dihandle sendiri. Sang asisten harus menerima ilmu lebih cepat dari sebelumnya. Bukan hanya itu saja karena sebagai ganti atas kesibukan dunia nyata, maka Arkha ikut terjun membantunya menangani perusahaan.


Arkha yang memang memiliki basic lain harus memahami cara kerja AF company. Bisnis yang bertolak belakang membuat pria itu sering mengganggu Danish. Satu permasalahan dasar adalah bahasa yang tidak satu arah. Sehingga Danish menyiapkan dua dokumen dengan dua bahasa berbeda.


Perlahan tapi pasti akhirnya perusahaan bisa dihandle oleh suaminya dan Danish meskipun sebagai pemimpin tidak lepas tangan begitu saja. Waktu berlalu begitu cepat dan tak terasa tibalah hari keberangkatannya ke negara yang akan menjadi awal kehidupan pernikahan cinta mereka.


Perpisahan yang terjadi membuat Aira dan Arkha terharu. Kini pesawat membawa pasutri itu melintasi arak awan yang bergelung indah. Perjalanan panjang untuk memenuhi tanggung jawab seorang istri sekaligus menantu. Takdir begitu indah mempertemukan jodoh dari dua negara dengan budaya berbeda.


Pesawat mendarat sesuai jadwal karena perjalanan begitu lancar tanpa ada halangan apapun. Di bandara Arsha sudah menunggu kedatangan pasutri itu,


sambutan hangat di dapatkan Arkha dan Aira begitu tiba di kediaman Khan. Sanak saudara mulai memperhatikan dan tanpa sungkan mengajukan banyak pertanyaan namun Arkha menjawabnya dengan tenang.


Sementara Aira hanya bisa tersenyum karena tidak memahami bahasa mereka. Hari yang dilewati bersama keluarga Arkha mungkin berbeda dengan kebiasaannya selama beberapa bulan terakhir ini. Akan tetapi sang suami dengan sabar membantunya untuk beradaptasi dengan keluarga besar.


Tak jarang Arsha ikut membantu Aira untuk bisa berkomunikasi dengan keluarganya disaat Arkha sibuk bekerja. Apalagi kini kebiasaan Aira untuk bekerja tetap diizinkan selama itu tidak mengganggu kehamilan. Waktu yang dilewati menjadi manis karena jodohnya pilihan Allah SWT.


Arkha dengan tulus mencintai Aira, membuat keluarganya menerima sang istri. Sehingga gadis itu belajar hidup memahami setiap anggota keluarga Arkha. Kehidupan pasutri itu menjadi lengkap karena cinta yang saling mendukung satu sama lain.


Kutemukan cinta yang lebih dalam dari lautan. Kurasakan cinta yang lebih hangat dari embusan napas. Cinta ini berawal darimu dan berakhir padamu.


Tidak ada alasan berhenti mencintai ketika cinta itu masih dalam batasan. Langkah cinta selalu sebuah kebahagiaan. Lepaskan cinta kyika itu hanya sebuah obsesi. Biarlah cinta memilih jalannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2