Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 40#Ending 1- Karena Cinta


__ADS_3

Syarat yang diberikan Rei menjadi kesepakatan di antara dua sahabat. Keduanya kembali ke ruang makan bahkan sebelum Jihan dan Lia datang. Tidak ada yang bertanya apapun hingga mereka pergi meninggalkan cafe untuk kembali kerumah masing-masing.


Lia yang harus tetap semobil dengan Rei akhirnya pulang ke kost. Tentu setelah Rei mengantar Jihan sampai ke rumah. Pria itu memilih untuk mengantarkan Lia belakang agar tidak canggung. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam begitu sampai di kost pribadi.


"Mau kopi?" tawar Lia pada Rei seperti biasanya. Meski sekedar basa-basi, ia tak akan melupakan sopan santun sebagai seorang tuan rumah.


Rei yang biasanya menolak dengan alasan ingin segera istirahat tetapi malam ini masih enggan pulang kerumah. "Boleh, gulanya sesendok saja ya."


"Masuk saja! Di luar banyak nyamuk dan lihat mendung," ujar Lia seraya mendorong pintu setelah berhasil membuka kuncinya. "Ayo, Rei!"


Langkah kaki malas hanya saja ucapan Lia memang benar. Suara nyamuk terdengar begitu keras mengganggu tiba-tiba bersambut gelegar petir yang menyambar. Kedua insan itu masuk ke dalam rumah kost yang memang hanya ditinggali seorang diri.


Ruangan tak begitu banyak karena hanya ada satu kamar, satu ruang tamu, dapur, ruang makan, kamar mandi dan ruang belajar khusus. Rumah minimalis itu tampak nyaman untuk menjadi tempat kesendirian. Rei duduk di sofa depan kamar yang tertutup separuh.


Sejenak menyandarkan tubuh ke belakang sembari memejamkan mata. Pikiran terbang melayang menikmati sapuan kenangan. Hatinya benar-benar lelah akan kenyataan yang kian mendekap. Haruskah menerima perjodohan? Kenapa tidak semudah itu.


Aroma kopi nan menggoda membuat matanya kembali terbuka. "Thanks, ya." Untuk pertama kalinya ia berani menatap Lia yang berjalan menghampirinya. "Buat satu, kamu gak minum?"


"Aku gak ngopi kecuali pas tugas aja. Minumlah! Aku tinggal bersih-bersih dulu," ujar Lia setelah meletakkan kopi di atas meja.


Tanpa menunggu jawaban Rei. Gadis itu beranjak ke kamarnya tanpa rasa takut. Diambilnya pakaian ganti dan juga keperluan mandi. Tubuh terasa begitu lengket setelah seharian berada di luar ruangan. Guyuran air shower pasti akan menyegarkan. Yah begitulah pemikirannya.


Dua puluh menit kemudian sesi ritual mandi berakhir. Langkah kaki keluar dari kamar mandi tanpa memperhatikan lantainya basah hingga ia terhuyung jatuh menghasilkan suara yang cukup keras membuat Rei terkejut dan lari masuk ke dalam tanpa permisi.


"Lia, kamu kenapa?" Tatapan mata khawatir, ia melihat bagaimana sahabatnya menahan sakit bahkan kesulitan untuk bangun. "Tenang! Aku bantu."


Tanpa basa-basi, Rei menggendong Lia dengan begitu hati-hati. Pria itu mendudukkan sang sahabat ke atas ranjang, lalu mencoba memeriksa apa yang terjadi. Sentuhan tangannya begitu mengubah suasana hati insan yang tengah merasa serba salah.


Lia menarik kakinya dari tangan Rei, "Biarin saja, besok juga sembuh." elaknya tak ingin semakin memberikan keleluasaan pada Rei karena itu akan semakin membuatnya jatuh ke dalam rasa tanpa nama.


"Kamu itu, diem deh. Kakimu ini kekilir, besok gak bisa jalan. Siapa yang salah?" cecar Rei kembali menyentuh kaki kanan Lia, lalu memijatnya secara perlahan hingga satu tarikan membuat Lia harus menggigit bibirnya sendiri menahan rasa sakit.


Tak hanya sampai disitu. Pria itu bergegas mengambil es batu dari dalam kulkas, lalu mengompres agar rasa nyeri mereda. Sentuhan perawatan penuh perasaan semakin membuat hati Lia tak karuan. Tidak seharusnya mereka berdua berada di dalam satu ruangan.


Lima belas menit kemudian, Rei selesai merawat kaki Lia. Lalu meletakkan kain berisi es kompres ke atas mangkuk yang ada di nakas. Kemudian membantu sahabatnya melepaskan handuk dari kepala sekedar untuk mempermudah gadis itu. Yah setidaknya tetap berada di atas ranjang.


Namun belum sempat ia melangkah dari tempatnya berdiri tiba-tiba Lia menarik tangan hingga tak sengaja jatuh ke atas tubuh gadis itu. Tatapan mata saling terpaut tak berkedip. Jarak hanya sejengkal dengan deru napas saling bersentuhan. Entah apa yang merasuki kepala hingga sentuhan lembut dibiarkan menenggelamkan diri dalam rasa baru.


Tarikan tangan semakin terasa erat dengan decapan pagutan bibir yang kian mendalami peran. Tanpa sadar keduanya semakin menikmati kehangatan yang menyambut rintik hujan di luar sana. Pagutan terlepas begitu tak kuasa menahan napas.


"Thanks, Rei." bisik Lia menahan malu karena mencuri perhatian sahabatnya sendiri dengan memaksakan diri membungkam bibir pria itu dengan bibirnya.


Rei masih berdiam diri dengan posisinya seakan enggan beranjak. Tatapan mata menelusuri wajah Lia yang sangat jarang dia perhatikan hingga jatuh pada bibir basah sang gadis. Bibir yang berani menguasai dirinya tanpa permisi. Satu sentuhan saja ia langsung menyadari akan perasaan di hati si gadis.


Entah kenapa tetapi hati ingin membuktikan sesuatu. Tatapan mata Lia menunduk merasa bersalah, membuatnya menyentuh dagu gadis itu. Perlahan mendekat dengan sapuan deru napas, "One again."


"... Eemmpptt ...,"


Lia tersentak begitu Rei menautkan bibir mereka bahkan kali ini tampak menormalkan pagutan seraya memejamkan mata menikmati setiap sentuhan. Perasaan yang semakin campur aduk membuat hatinya kian memberontak. Pagutan kian terasa ketika sentuhan lain mulai dirasakan Lia.


Entah sadar atau tidak, keduanya benar-benar kehilangan akal sehat membiarkan rasa ingin di hati menyelimuti malam kelam menjadi malam kehangatan. Aroma sabun nan harum semakin membuat jiwa Rei berkelana. Akal sehat telah pergi menyisakan sekeping keputusasaan.


"Maaf, tidak seharusnya aku ...," cicit Rei melepaskan diri dari tubuh yang kini setengah terbuka tanpa penutup apapun.


Lia tak membiarkan Rei pergi begitu saja. Sontak mengalungkan kedua tangan membuat Rei tak bisa berkutik, "Jangan pergi, biarkan malam ini jadi milikku. Aku mohon, Rei."


"Lia, tapi ini salah." Rei mengingatkan, sayangnya Lia justru mengubah posisi keduanya hingga beralih menguasai tubuhnya. "Apa yang ...,"


Tak ada lagi kata selain mengikuti alur permainan. Tersentak ketika Lia mengambil alih permainan dengan begitu lihainya. Sentuhan demi sentuhan semakin liar membuatnya terbawa arus kehangatan. Tanpa sadar lenguhan manja lolos begitu saja.


"Give me one night, Rei." bisik Lia membuat Rei yang sudah berkabut menganggukkan kepala.


Satu gerakan kembali mengubah keadaan. Tatapan mata saling melengkapi tanpa melepaskan sentuhan yang kian memanaskan ruangan. Akhirnya semua penghalang tak lagi menyulitkan perjalanan. Rei begitu menikmati persembahan yang didapatkannya.

__ADS_1


Perjalanan dengan jejak tak bertuan mulai memenuhi raga Lia yang pasrah dengan sentuhan Rei hingga sesuatu mulai berusaha menerobos dinding guanya. Sakit dan terasa kesulitan membuat Rei terdiam sejenak. Ia tahu pria itu bisa berubah pikiran tetapi sekarang sudah nanggung.


"Lakukanlah, Rei!" pintanya dengan senyum keikhlasan membuat Rei memejamkan mata. Entah apa yang dipikirkan pria itu tetapi perlahan memposisikan diri seraya mengatur tanpa melihat.


Tak pernah menyangka. Sekali hentakan menggetarkan jiwa raganya dengan suara jerit tertahan berteman setetes air mata kepemilikan. Di bawah terasa aliran hangat mengalir. Kini mahkotanya sudah lepas di tangan sang pujaan hati.


Rei yang menyadari Lia masih dalam keadaan perawan benar-benar tidak habis pikir tetapi hasratnya tak bisa dibendung. Perlahan ia mulai menggerakkan kekuasaannya menikmati persembahan yang pasrah akan penjajahan. Pergulatan kian panjang dengan suara derit ranjang.


Suara lenguhan manja berulang kali lolos dari bibir Lia membuat Rei bersemangat terus memompa tenaga gadis itu hingga peluh semakin membanjiri tubuhnya. Permainan yang benar-benar mengubah adrenaline menjadi kenikmatan nyata.


Ketika merasa Lia sudah mencapai puncaknya. Rei mempercepat ritme permainannya hingga terasa junior berkedut kencang. Baru saja ingin melepaskan diri dari gua yang berhasil memuaskan hasrat tiba-tiba gerakannya tertahan karena kaki Lia membelit pinggang.


Tak ada jalan lain selain menumpahkan semua bibit unggulnya menerobos mendiami dinding rahim sang sahabat. Seketika tubuh merasa lega seakan semua beban terangkat. Ia tak menyangka jika melakukan hubungan badan bisa menetralisir semua tekanan batin di dalam hidupnya.


Tubuh tak berbalut benang jatuh ke samping tempat Lia yang mulai memejamkan mata karena kelelahan melayaninya. Lirikan mata terpatri pada hasil pahatan jejak malam percintaan mereka. Satu kata yang bisa dikatakan. Buas.


Lihat saja warna merah yang terukir di setiap jejak perjalanan bahkan tak melepaskan satu senti pun. "Kenapa kamu memberikan mahkota yang seharusnya untuk suamimu?"


"Kamu sadar dengan semuanya. Apa masih jatuh kujawab, Rei?" Ia membuka mata hingga terpaut pada netra sang pujaan hati. "Alasanku cuma satu, aku mencintaimu. Apa ada masalah?"


"Lia, kamu ... Bagaimana jika ke depannya nanti benihku tumbuh di rahimmu? Apa kamu tahu akibatnya?" tanya Rei menahan diri untuk tidak bertindak di luar kendali.


Bagaimanapun sekarang keduanya sudah melewati batasan dan itu atas kemauan masing-masing tanpa ada paksaan. Lia kembali memejamkan mata enggan menjawab pertanyaan Rei. Bagi gadis itu, semua akan dipikirkan nanti.


Melihat Lia memilih menjemput alam mimpi. Rei dengan sadar memakaikan pakaian ganti yang mudah agar Lia tidak masuk angin. Hujan semakin deras membuatnya terjebak. Rasa lelah juga mulai menyambut kantuk. Perlahan memejamkan mata bersebelahan dengan Lia yang sebenarnya masih terjaga.


Beberapa waktu kemudian terdengar suara dengkuran halus yang membuat Lia membuka matanya secara perlahan-lahan, lalu memastikan Rei benar-benar sudah tertidur. Seulas senyum tersungging mengingat pria yang selama ini tidak memperhatikan dirinya dan malam ini justru memberikan kepuasan yang tak ingin dia sesali.


"Jika benihmu memang tumbuh di rahimku, aku janji akan merawatnya. Rei, aku mencintaimu." Dikecupnya bibir Rei hanya bersentuhan menyalurkan rasa yang terpendam.


Pergulatan tlah berakhir menjadi babak baru dalam kehidupan. Sementara di kamar lain sentuhan pertama baru dimulai. Sentuhan manja yang memberikan kebahagiaan. Tangan nakal mulai melepaskan helai benang dari tubuh halal yang ingin dikunjungi malam ini.


"Apa kamu tidak lelah, Sayang?" tanyanya mencoba melarikan diri. Sayangnya bukan jawaban yang didapat melainkan bungkaman bibir penuh tuntutan.


"Love you, Aira." bisiknya membuat sang istri mempermudah jalannya menenggelamkan diri dalam tubuh yang kini disajikan untuknya. "Be mine, my wife." Dikecupnya bibir menggoda sang istri sekali lagi, lalu beranjak turun meninggalkan stempel ke leher jenjang Aira.


Pergulatan dimulai dengan permainan yang seimbang. Kini Aira mulai terbiasa dimanja suami bulenya yang memiliki belut Alaska. Meski setiap kali memulai penyatuan pasti menikmati rasa sakit yang seperti baru pertama kali melakukan saja.


Seperti malam ini tangannya begitu erat mencengkram punggung Arkha yang memasuki tahap pertama penyatuan. Rintihan pelan selalu menjadi permulaan, "Hubby, slowly ...,"


Arkha menurut membiarkan Aira mendapatkan ketenangan terlebih dulu. Gerakan pelan yang disengaja seraya memberikan sentuhan nakal lainnya hingga beberapa waktu. Sang istri mulai melenguh manja yang menjadi kode mempercepat ritme permainan.


Rasanya benar-benar nikmat ketika belutnya bisa menguasai rumah baru yang selalu menghadirkan sengatan listrik. Suara derit ranjang terdengar kian menyatukan keduanya hingga rasa ingin lebih semakin menguasai pikiran. Arkha tak henti menjerit kenikmatan dengan mata terpejam.


"Aaarrrggghhh, love you Aira." serunya dengan sengatan listrik yang melepaskan semua bibit belutnya membuat Aira merasakan penuh dirahimnya.


Tubuh tak lagi merasa lelah setelah melakukan pergulatan panas yang membuat peluh membasahi tubuhnya, sedangkan Aira hanya tersenyum dengan tubuh yang terasa remuk. Ia memiliki suami yang bisa membuat ranjang bergoyang semalaman tapi Arkha berusaha menahan diri untuk tidak berlebihan.


Malam kian menjelaga berteman arak awan yang temaram. Keesokan harinya tubuh terasa begitu lelah dengan rasa malas yang mendera. Hawa dingin yang menyusup ke tulang, seketika menyadarkan diri akan tubuh polos tanpa sehelai benangpun. Tatapan mata beralih ke sisi tempat tidur.


"Apa aku melakukannya lagi?" tanyanya pada diri sendiri dengan rasa bingung yang melanda membuat pria yang terlelap terbangun dari rasa kantuknya.


Pria itu beranjak sekedar untuk duduk disebelah sang gadis yang membuatnya kelabakan semalaman. "Apa kamu mau mandi atau lainnya?" tanyanya santai tak ingin membebani pikiran si gadis.


Namun tatapan gadis itu justru fokus pada tubuhnya yang sama-sama polos, "Rei, apa kita ...," belum usai memberikan pertanyaan. Sang sahabat sudah menganggukkan kepala, ia tak habis pikir bagaimana melakukan hal itu lebih dari sekali di malam yang sama. "Maaaf, aku tidak tahu."


Tangan mengangkat dagu Lia agar gadis itu menatap ke arahnya tanpa rasa takut. Apalagi rasa bersalah, "Kita melakukan ini tanpa paksaan. Memang benar aku larut dalam kehangatan yang kamu tawarkan tapi aku tidak sebrengsek itu. Aku akan menikahimu, Lia."


"Tidak, Rei. Ayahmu sudah menjodohkan kalian." Lia melepaskan tangan Rei, lalu beranjak dari tempat duduknya tetapi ia lupa kakinya masih sakit sehingga tanpa sengaja jatuh ke belakang membuat Rei menangkapnya. "Rei ...,"


Diam dengan mata terbelalak menyadari sentuhan menuntut Rei yang membungkam bibirnya. Pria itu benar-benar melumpuhkan saraf tanpa diminta. Bagaimana melarikan diri ketika sentuhan lain mulai menyentak kesadarannya ke awan.


Rei kembali mengabsen miliknya tanpa permisi. Sesaat Lia memberontak tetapi akhirnya menurut memberikan jalan untuk memulai perjalanan panjang dengan tujuan menghasilkan suara derit ranjang. Kedua insan itu benar-benar dimabuk kenikmatan yang tidak bisa ditolak.

__ADS_1


"Rei, apa kamu menyadari kita melakukan ini lagi." ucap Lia di tengah perjuangan Rei menjelajahi hutan mulus tanpa dedaunan.


Sesaat Rei mendongak menatap ke arah Lia. Tatapan mata sudah berkabut menandakan hasrat kian menggebu, "Apa kamu siap menjadi candu obat dalam hidupku? Jika iya, aku akan melanjutkan permainan ini. Katakan apa maumu, Lia."


"Lakukanlah! Aku, milikmu Rei." balas Lia langsung menahan bibirnya karena Rei menyerang guanya dengan beringas. "Rei more, I want moree." Tangannya ikut menekan kepala Rei yang membuat pria itu harus mencengkram pahanya lebih erat.


Suara lenguhan pertama lolos bersamaan dengan keluarnya cairan putih kental. Melihat itu Rei memposisikan diri, lalu melakukan yang seharusnya dengan mempertemukan junior ke rumah barunya. Pergulatan ranjang yang mengubah suasana tak henti menyapu angan yang dari kedua insan.


Entah permainan yang ke berapa hingga sisa tenaga juga dihabiskan tanpa pikir panjang. Satu jam kemudian kedua insan itu berdiri dibawah shower bersamaan tanpa melepaskan pagutan. Tidak ada habisnya bahkan pengantin baru kalah dengan permainan pertama mereka.


"Rei, aku tidak akan menuntutmu apapun. Apapun yang terjadi di antara kita. Aku ikhlas memberikannya padamu. Satu pintaku, jangan berpikir aku murahan karena melakukan malam pertama denganmu." bisik Lia setelah terlepas dari bibir Rei yang terus menguasainya.


Rei tahu seperti apa Lia bahkan berkat malam ini. Kini dia tahu harus apa. "Kamu tidak akan kemana-mana karena mulai semalam, kamu hanya milikku sebagai candu obatku. Ingat itu, Lia."


Rasanya campur aduk karena ia tak pernah menyangka akan menjadi seperti ini. Awalnya hanya untuk memberikan rasa pada Rei bahwa di dunia ini bukan hanya pria itu yang memiliki cinta. Dia juga punya sehingga berani menyerahkan mahkota tanpa pikir dua kali.


Kebersamaan keduanya benar-benar mengubah jalur kehidupan yang tidak pernah terbayangkan. Hari ini keduanya memutuskan untuk menjalin hubungan tapi situasi yang ada membuat Rei harus membujuk ayahnya terlebih dahulu agar membatalkan perjodohan bersama Jihan.


Satu bulan setengah telah berlalu. Waktu terlalu cepat berlalu bahkan tidak disadari sudah ada perkembangan bisnis yang mulai meningkat pesan membuat Aira begitu sibuk selama beberapa minggu dan hari ini akhirnya bisa istirahat sejenak. Selama tiga hari terakhir ia mencemaskan sesuatu tapi masih bingung cemas karena apa.


Tiba-tiba ada tangan yang melingkar seraya kepala yang bersandar di bahu kanannya. "Arkha, kamu kenapa?"


"Aku merindukanmu, apa kamu lupa beberapa waktu sibuk dan mengabaikan suami." sahut Arkha berterus terang membuat Aira mengusap tangan kekar yang melingkar di perutnya. "Sayang, kapan kamu bisa ikut ke Pakistan?"


Pertanyaan itu menyadarkan Aira akan waktu yang sudah berlalu. Pasti suaminya merindukan rumah dan keluarga tetapi karena pekerjaannya sehingga mau mengalah. Bukan bermaksud egois hanya saja sampai detik ini belum bisa meninggalkan begitu saja.


Meski ada Danish yang sangat dipercaya. Ia sadar sang asisten masih bersedih setelah mengetahui kebenaran Mawar yang ternyata masih memiliki tabiat sama yaitu bergonta-ganti pria sekedar untuk memuaskan hasrat. Wajar sekali bersedih karena Dan tulus mencintai sang mantan pacar.


"Berikan aku sedikit waktu. Aku janji setelah pernikahan Rei dan Jihan. Kita akan ke Pakistan." jawab Aira dengan pasti, tanpa disadarinya saat ini Lia tengah memegang hasil testpack yang sengaja dibeli di apotik terdekat.


Testpack yang membuat tatapan mata terbelalak. Garis dua berarti ia positif hamil. Awalnya tidak ingin melakukan pengecekan tapi melihat tanggal halangannya sudah terlewat seminggu. Maka dari itu terpaksa mengambil tindakan cepat.


"Bagaimana ini? Pernikahan Rei dan Jihan sudah dipersiapkan. Aku tidak mungkin membuat banyak orang kecewa." Tubuh lelah merosot bersandar menatap atap kamar mandi dengan nanar. "Aku bahagia jika melihatmu bahagia. Lia, sekarang kamu tidak sendiri. Sebaiknya mama bawa kamu pergi saja, maafin mama ya, Nak."


Tak kuasa menahan isak tangis yang menyeruak. Derai air mata menguasai pagi harinya hingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Buru-buru gadis itu membasuh wajahnya agar tampak lebih segar. Lalu ia beranjak pergi keluar meninggalkan kamar menuju pintu depan.


Perlahan pintu dibuka dan ternyata wajah tampan yang berdiri di depannya seraya menjinjing kresek makanan. "Aku lapar, makan bareng ya, please." Tatapan mata mengerjap bak anak kecil membuat Lia seketika melupakan rasa sedihnya.


Dibiarkannya Rei masuk dan langsung pergi ke dapur ntah mengambil apa tapi ia kembali ke kamar dan langsung menyembunyikan testpack dari pandangan mata siapapun. Hal itu agar sang pujaan hati tidak tau tentang kondisinya yang sudah berbadan dua.


Di atas meja tergeletak sepiring rujak buah dengan aromanya yang khas. Lutisan dengan sambal colek dan cake coklat yang terlihat menggugah selera. Makanan yang seharusnya dihindari untuk dijadikan sarapan, tapi Rei terlihat menikmati suapan pertamanya.


"Rei, apa kamu sudah makan nasi?" tanya Lia menatap prianya lembut, sedangkan yang ditanda hanya menggelengkan kepala. "Stop! Makan yang lain dulu, tunggu."


Lia tanpa rasa canggung melayani Rei dengan menyendok nasi serta ayam rendang yang sudah dimasaknya sejak pagi buta. Sejak menjalin hubungan dengan sahabatnya itu, Rei terbiasa sarapan bersama. Yah hubungan semakin jauh hingga beberapa kali melakukan olahraga ranjang ketika hujan datang.


"Makan nasimu, dan baru makan semua makanan ini," Tangannya mengusap kepala Rei membuat pria itu membimbingnya untuk duduk dipangkuan, "Mau disuapi?"


Anggukan kepala seperti anak kecil tengah merajuk. Kebahagiaan sederhana yang semakin mendekatkan keduanya. Rasa sesak di dada kian terasa ketika Rei kini sudah terbiasa manja dengannya. Yah, semua terjadi begitu saja.


Rei begitu lahap menghabiskan makanannya, lalu beralih pada lutisan yang sangat menggiurkan. "Tumben makan yang seger. Biasanya aja cuma mau yang anget-anget."


"Sebelum makan yang anget, aku butuh tenaga. Buah bagus untuk meningkatkan stamina." goda Rei membuat Lia menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Lia, aku sudah memesan tiket ke Singapura. Kita akan tinggal di sana. Bagaimana?"


Pengakuan Rei mendadak menghentikan Lia menyuapi pria itu, lalu piring diletakkan ke atas meja. "Rei, sudah terlambat. Pernikahanmu dan Jihan hanya tinggal hitungan hari. Aku ikhlas melepasmu. Sekarang jangan pikirkan itu lagi, selama beberapa kita bisa saling berbagi kisah kehidupan."


"Apa kamu menolak hidup bersamaku?" Rei menatap Lia serius dengan tatapan matanya yang tajam menusuk seakan tengah dikhianati.


Apa yang akan dikatakannya? Apakah tentang kehamilan atau hubungan mereka yang memang disembunyikan dari semua orang. Siapa sih yang mau melepaskan kebahagiaan untuk orang lain? Dia tak sebodoh itu hanya saja saat ini situasi sudah tidak bisa diganggu gugat.


Undangan atas nama Rei dan Jihan sudah tersebar bahkan semua persiapan mencapai tahap akhir. Semua itu menjelaskan bahwa hubungan mereka berdua harus diakhiri tanpa memikirkan masa yang berlalu. Kenyataannya sesederhana itu.


"Rei, aku bukan menolak tapi pernikahan kalian sudah dipastikan. Cobalah pahami aku." ucap Lia membalas tatapan mata sang kekasih dengan lembut. "Aku bukan perebut, dan sadar akan posisiku."

__ADS_1


__ADS_2