Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 39#KWI Celin


__ADS_3

Danish yang memang seringkali datang berkunjung ke cafe milik Celin cukup mengenal setiap karyawan yang bekerja disitu bahkan tampak akrab seperti bertemu teman lama. Meski begitu bukan berarti bisa seenaknya sendiri sehingga harus mencari tempat yang memang belum ada pelanggan lainnya.


"Tempatnya nyaman, kreatif lagi." celetuk Rei yang memang masih mencari refensi untuk usaha terbarunya. Niat hati juga ingin membuka cafe atau hotel tetapi belum menemukan konsep yang tepat.


"Sayang, mau tidur di mobil?" Arkha mengusap kepala Aira yang masih saja bersandar memejamkan mata. Wajah istrinya tampak lelah padahal lebih banyak duduk tapi mungkin karena beberapa hari lalu banyak lembur melakukan pekerjaan.


Tidak ada jawaban selain deheman pelan yang membuat Arkha tersenyum karena sikap manja istrinya. Meja yang dipilih merupakan meja utama dimana khusus untuk tamu berjumlah banyak dan berada diruangan khusus. Danish sudah memesan menu makan malam.


Penantian selama tiga puluh menit hanya ada keheningan dari para wanita sedangkan para pria mengobrol tentang olahraga. Tentu terdengar seru bagi yang mengerti tapi bagaimana dengan yang polos? Hanya bisa melongo.


Pintu ruangan terbuka bersama datangnya tiga pelayan yang berseragam khusus cafe. Troli meja berisi makanan mulai dipindahkan ke meja pelanggan, "Tumben nih, Mas Dan kesini bareng keluarga besar. Kemana si mbak centilnya?"


"Hus, kau ini beb. Jangan canda berlebihan kek gitu." tegur sang teman mengingatkan demi kenyamanan pelanggan.


"Tumben juga, kalian sift malem. Kagak ngantuk?" Dan mengabaikan pertanyaan yang sebenarnya adalah godaan dari si kembar.


Lulu dan Loli merupakan sepupu dari Celin yang masih baru berusia delapan belas tahun. Kedua gadis itu kembar tak identik tetapi memiliki kesamaan dengan model rambut tak ada bedanya. Sebenarnya masih sekolah hanya saja seperti biasa akan membantu di saat liburan sekolah tiba.


"Ini udah dari siang kok, Mas. Tadinya mau pulang cuma dibelakang masih repot, bantuin sebentar lagi gak papa kok." jelas Lulu sopan membuat Aira terbangun.

__ADS_1


Tatapan mata tak sengaja saling bertemu. Seolah familiar akan wajah yang ada di depannya, "Riuna Lulu Morata!" panggil Aira mendadak menghentikan pergerakan tangan Lulu yang hampir mengambil mangkuk sup iga dari atas meja troli.


Loli yang juga mendengar menatap Aira. Tatapannya menyelidik karena nama lengkap dari dia dan saudaranya tak semua orang tau. Apalagi bisa mengenali wajah yang memang jarang terekspos oleh kamera. Siapa Aira? Kenapa tahu identitas mereka?


"Anda siapa?" tanya Lulu tak ingin gegabah dalam bertindak, membuat Aira merenggangkan tubuh. Lalu mengambil ponsel dari saku celananya. "Jangan ambil foto ...,"


"Aku mau telpon nyonya Morata." ucap Aira menyela ucapan Lulu. "Kalian makan dulu. Aku ada urusan."


Aira beranjak dari tempat duduknya dan benar-benar melakukan panggilan yang seperti diucapkannya. Apa yang akan dilakukan gadis itu? Hanya dia seorang yang tahu tetapi Lulu dan Loli tidak khawatir lagi setelah mendengar ucapan Aira.


Meski masih memiliki rasa penasaran. Keduanya cukup bisa menahan diri agar tidak melakukan hal yang bisa menjadi permasalahan dikemudian hari. Apalagi menyadari bahwa orang yang tau identitas mereka pasti mengenal mama mereka dengan baik. Tidak mungkin orang sembarangan bisa mengenali wajah yang jarang terlihat oleh kamera.


Andai saja pria itu tahu siapa mereka berdua mungkin tidak akan bertanya hal yang tidak harus ditanyakan. Jengkel rasanya harus berpura-pura menjadi orang lain agar bisa mengenali musuh dalam selimut. Jika bisa langsung pasti tak harus menjadi seorang pelayan.


Lulu menganggukkan kepala, "Semua sudah dihidangkan. Selamat menikmati, kami permisi. Ayo, beb!" Troli meja di dorong menjauh dari meja pelanggan setelah memberikan jawaban singkat tanpa kata.


Kepergian kedua pelayan itu juga mengakhiri panggilan yang dilakukan Aira. Dimana gadis itu kembali ke meja makan tanpa menjelaskan apapun pada siapapun. Sekarang apa yang menjadi pertanyaan sudah dijawab oleh orang yang bersangkutan. Jadi ia bisa tenang dan tidak harus bertindak apapun.


Suasana makan malam tampak tenang meski tidak ada percakapan. Selama hampir satu jam menu makanan di atas meja baru terlihat tinggal sedikit. Sepertinya Dan memang sengaja memesan banyak makanan agar tidak kelaparan. Tidak masalah asal dihabiskan.

__ADS_1


"Maaf, saya permisi ke toilet." pamit Jihan yang sebenarnya hanya menikmati segelas jus mangga dan semangkuk sup iga yang dicampur bakso.


Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menjauh meninggalkan ruang jamuan makan. Kesempatan yang sama di gunakan Aira dengan memberi kode Lia agar menyusul Jihan. Sementara ia sendiri meminta izin suami untuk mengajak Rei berbicara empat mata.


Sebagai suami yang tau hubungan diantara kedua insan non muhrim itu. Arkha mempersilahkan karena tau dan percaya Aira bisa menjaga diri sendiri. Akhirnya ruangan makan semakin berkurang penghuninya. Jihan dan Lia di kamar mandi, sedangkan Rei serta Aira memilih duduk di taman samping cafe yang masih termasuk area cafe juga.


"Apa berat bagimu membuka hati, Rei?" tanya Aira menatap langit malam di atas sana, sedangkan yang ditanda hanya menghela napas panjang. "Aku merasa kita sama-sama dewasa dan tidak perlu memperdebatkan hal yang sudah jelas. Iya 'kan?"


"Aku tahu dan kamu benar. Katakan padaku, apa perjodohan bisa mengubah perasaan dihatiku? Hubungan yang hanya didasari kesepakatan bisakah menjadi pondasi untuk masa depan? Sungguh aku tidak tau harus bagaimana karena saat ini masih belajar untuk merelakan." tutur Rei terus terang tak ingin lagi bermain petak umpet hanya karena perasaan di hatinya.


Ingin sekali mendapatkan impian hati, namun kesadaran diri masih tetap bersamanya. Bagaimana ia akan berpaling dari senyuman yang memang tercipta bukan untuknya? Yah, ikhlash tetapi masih belajar merelakan. Sabar pun tak akan cukup karena kenyataan selalu menjadi hal yang bisa diukur.


"Jadi, katakan apa maumu? Sendiri dengan menjadi bujangan?" Aira menoleh ke arah Rei yang menundukkan wajahnya. "Rei, ayahmu hanya ingin melihat kebahagiaan putranya. Aku juga mengharapkan hal sama. Bukan maksudku untuk egois tapi masa depanmu harus menjadi masa yang paling membahagiakan."


"Apa semudah itu? Begini saja, aku akan Terima Jihan sebagai pasanganku tapi dengan satu syarat. Apa kamu bisa penuhi?" tukas Rei sudah kehabisan kata untuk menjelaskan dirinya masih belum siap untuk memulai hubungan baru.


Tanpa pria itu sadari, dibalik setiap ucapan Aira memiliki alasan yang kuat bahkan untuk memenuhi janjinya pada seseorang. Entah syarat apa yang akan diajukan hanya saja ia harus melakukannya demi kebaikan bersama. Tangannya terulur mengalihkan perhatian Rei yang langsung menyambut hangat sebagai kesepakatan bersama.


"Disetiap acara yang akan dilakukan nanti, kamu harus ada di sisiku." ucap Rei mengatakan syarat yang terdengar berat tetapi tidak sesulit yang dipikirkan.

__ADS_1


__ADS_2