Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 25#Sarapan Kedua


__ADS_3

Pertemuan antara Rei dan Aira berjalan lancar, sedangkan di sisi lain Arkha masih terlelap hingga suara dering ponsel mengusik mimpi indahnya. Ternyata sang ibu yang menelpon untuk menanyakan kabar. Tentu saja pria itu tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan sang kekasih.


Rona wajah dipenuhi binar kebahagiaan. Sebagai seorang ibu tentu bersyukur karena anaknya mendapatkan kenyataan sesuai harapan. Obrolan selama lima belas menit menghantarkan ketenangan di hati keduanya. Lalu ia bangun dari tempat tidur untuk membersihkan diri. Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit penampilannya sudah berubah harum rapi.


Niat hati ingin mengajak Aira untuk sarapan bersama tetapi disaat melihat jam yang baru saja terpasang di tangan kanannya. Ternyata waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih dan itu artinya waktu makan pagi sudah terlewat. Buru-buru ia keluar menghampiri kamar sang kekasih hati tetapi justru Lia yang membukakan pintu.


"Where is Aira? I want to invite him to breakfast together." ucap Arkha begitu melihat Lia yang muncul dari balik pintu.


Gadis yang masih merasa mengantuk harus menjaga matanya agar tetap terbuka. "Aira has an important job so her permission goes, just look at the message on your mobile. Definitely send an apology message."


"Sorry, I did not check the message after receiving a phone call from Mother. When can Aira come back?" tanya lagi Arkha karena berharap bisa mendapatkan jawaban pasti dari Lia.


Lia melebarkan pintu, lalu mengulurkan tangan mempersilahkan Arkha agar masuk. "Maybe soon because since morning. So, you can wait for she in the room."


Akan tetapi ketika keduanya masih berdiri di depan pintu kamar. Sayup-sayup terdengar suara obrolan santai dari arah lorong lain. Suara yang begitu familiar untuk Lia. Tatapan mata menunggu wujud dari si pemilik suara yang ternyata Aira dan Rei.


Kebersamaan Aira dan Rei tampak begitu akrab bahkan senyuman sang kekasih tak sungkan menghiasi wajahnya yang manis. Untuk Lia pemandangan itu sudah biasa tetapi bagi Arkha? Tentu pria itu penasaran dengan Rei. Suara canda tawa yang menghadirkan rasa senang membuat hubungan mereka berdua tampak nyata.


Hati merasa panas tak bisa ditahannya lagi, "Aira, where are you going in morning? All fine na?"


Dipeluknya sang kekasih agar tetap tenang dan tidak berpikir aneh-aneh tentang ia dan Rei. "All fine, but I have little work. So I need handle."

__ADS_1


Kemesraan itu begitu jelas menyayat rasa yang tersisa. Rei diam tersenyum mencoba ikhlas akan perpisahan tanpa takdir penyatuan. Semua adil karena ia mendapatkan sahabat yang baik dan masih mau mengerti akan perasaannya. Meski tak memberikan harapan.


"Astaga, mataku ternoda. Masih pagi ini, udah main peluk aja. Gak kasian disini ada yang jomblo?" tukas Lia komplain yang sebenarnya hanya candaan.


Diabaikannya godaan dari Lia karena saat ini ada hati yang masih merasa panas. "Arkha, are you ready breakfast or still not?" Sang kekasih hanya menggeleng kepala, "I think, you wake up very lately. Okay, come to my room and we can breakfast together."


Aira menggandeng tangan Arkha, "Lia ajak Rei masuk juga! Kalian bukan satpam 'kan?"


Rei dan Lia hanya mengikuti maunya Aira. Mereka berempat berkumpul di ruangan yang sama. Aira sibuk memesan makanan dan minuman untuk sarapan pagi. Meski sudah kenyang, ia tak mau ada yang kelaparan. Apalagi anak orang yang jauh-jauh datang untuk menemuinya.


Tiga puluh menit kemudian akhirnya sarapan datang dan sudah tersaji diatas meja kamar. Rei enggan untuk menikmati makanan baru tetapi melihat banyaknya makanan yang tidak begitu berat. Ia paham Aira juga memikirkan keadaan perut mereka berdua yang sudah terisi. Sehingga pilihan jatuh pada salad buah.


Arkha dan Rei pun sudah selesai makan dan menikmati minuman masing-masing.. Aira masih sibuk dengan santai memakan buah nya...


Ketika semua orang sudah selesai menikmati sarapan. Tidak dengan Aira, gadis itu sangat menikmati makanannya bahkan sesekali Lia mencomot buah dari piring yang sama. Pemandangan yang wajar saja karena kedua gadis itu sudah bersahabat sejak lama.


Tatapan mata berharap dengan senyum tipis, "Aira, don't you want to share your food with me?"


"You want to? Of course I will share with you." Aira tersenyum, lalu menyendok buah. Kemudian mengulurkan ke arah Arkha yang langsung dicekal sang kekasih untuk dibimbing memasukkan makanan itu ke mulut sang pria.


Alhasil Aira menyuapi Arkha seperti anak kecil membuat Rei melengos menatap ke arah lain.

__ADS_1


Rei yang melihat itu serasa ingin menghilang saja. Rasa sakit semalam belum hilang tapi kini sudah di tambah lagi sedangkan Lia hanya menggelengkan kepala melihat sahabatnya itu sangat perhatian dengan Arkha. Akhirnya sesi makan selesai.


Aira menggandeng tangan Arkha sesaat sebelum kembali dilepaskan. "Rain, he is my best friend Reihan Andika. Rei, this is my beloved Arkha Khan."


"Apa kita akan bicara dengan bahasa inggris atau bahasa kita?" tanya Lia bingung seraya membiarkan kedua pria asing itu saling berjabat tangan.


Bahasa Inggris akan dipahami Arkha tetapi bahasa Indonesia? Tentu pria itu harus berlatih terlebih dahulu. "Kita bicara dengan bahasa yang bisa dipahami semua. Arkha tell me, about your life."


"Me too want listen," sahut Lia mengangkat tangan ke atas dengan penuh semangat.


Kini Arkha, Rei dan Lia berbincang. Akan tetapi Aira hanya diam mendengarkan. Gadis itu tidak berkomentar ataupun bereaksi. Padahal Arkha berulang kali melirik untuk memastikan apa yang terjadi. Bingung dengan apa yang akan dilakukan.


Terlalu diam bahkan di saat kumpul bersama. Tentu membuat Arkha khawatir. Tubuh yang duduk di sebelah direngkuhnya ke dalam dekapan. "Aira, honey you why? Not normally quiet like this, is everything all right? Tell me, what happened?"


Pertanyaan itu mengalihkan perhatian Rei dan Lia. Mereka juga heran atas kebisuan seorang Aira. Meski di dalam hati Rei cukup bisa menebak apa yang dipikirkan oleh gadis satu itu. Yah, semua pasti menjadi putaran waktu yang tidak bisa diubah.


Seulas senyum tipis tersungging menghiasi wajah, "Everything is fine, it's just that I want to be a listener. My feelings did not expect more than that."


"Your silence is too calm, I expect more mischief from you because that's my Aira. I love you always My madness." sahut Arkha mengutarakan pendapatnya segenap hati agar Aira bisa dibujuk.


Obrolan sepasang kekasih yang melupakan dua insan lainnya. Diam bukanlah solusi meski bisa menjadi jalan. Kini mereka berusaha untuk saling memahami. Apalagi setelah melihat Aira bisa tersenyum lebih lebar lagi. Diamnya gadis itu merubah suasana yang kian mencekam. Padahal bukan horor.

__ADS_1


__ADS_2