Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 23#Rasa Milik Rei


__ADS_3

Pertemuan antara Arkha dan Aira begitu hangat bahkan saling melengkapi. Malam yang sempurna untuk menyatakan cinta. Sementara disisi lain, Lia menemani seorang pria yang sangat familiar.


Lia mengulurkan tangannya menyambut sang pria tanpa sungkan. "Kamu disini? Bukankah kamu bilang masih diluar kota?"


"Aku baru saja pulang karena ada janji. By the way, apa kamu sendirian disini?" tanyanya seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tetapi tak menemukan gadis yang dicari.


"Seperti biasa Aira bersamaku hanya saja disini aku sedang menunggu orang yang akan bertemu dengan sahabatku itu. Sudah lama sekali menunggu, eh orangnya gak muncul." jawab Lia dengan bibir manyun, membuat sang lawan bicara tersenyum datar.


Ia mengangguk paham, "Gini saja, ajak aku bertemu Aira. Apalagi aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya." Bujukan yang bertujuan untuk mendapatkan keinginan hatinya.


"Aku tidak bisa ikut, nanti kalau orangnya dateng gimana? Begini saja, kamu lihat jalan itu." Ditunjuknya lorong dekat lobi, "Ikuti jalan sepanjang taburan bunga, nanti ada taman di sisi kanan ujung jalan. Nah, Aira ada disana dan entah bersama siapa. Pasti seseorang yang sweet karena membuat kejutan istimewa." jelas Lia tanpa basa-basi membuat lawan bicaranya beroh ria, lalu pergi meninggalkan gadis itu seorang diri.


Langkah kaki berjalan menyusuri lorong yang dimaksud Lia. Perasaan tak tenang tiba-tiba menelusup karena tebaran kelopak bunga yang sengaja dipersiapkan sedemikian rupa. Pasti buka orang iseng yang membuat kejutan seperti ini. Bunga dan ucapan selamat datang hingga sampai di depan taman.


Mata terus menerus mencari bayangan yang dirindukan tetapi melihat balon dan bunga memenuhi lantai taman. Sudah jelas yang melakukan semua itu adalah seseorang yang memiliki jiwa romantis. Terdiam tak mampu berucap ketika tatapan mata terpatri pada dua insan yang bermain ayunan dibawah rembulan.


Keduanya begitu dekat tanpa jarak. Aira yang duduk dan seorang pria berbaring di pangkuan gadis itu. Pemandangan indah yang menusuk hati. Sakit rasanya melihat wanita impiannya jatuh ke dalam pelukan pria asing. Andai bisa memilih, ia tidak ingin datang ke hotel hanya untuk melihat alasan hancur perasaannya sendiri.


Rasa sesak di dada menyadarkannya pukulan telak untuk kedua kalinya. Jika ada yang melihat bagaimana kondisi hati, pasti sudah hancur tak berbentuk. Setelah selama bertahun-tahun menikmati cinta satu sisi, lalu satu harapan datang berharap menjadi impian. Justru kembali terhempas ke dasar jurang.


Hati begitu mencintai Aira hingga tak mampu berpaling. Dunianya hanya memiliki tujuan sama yaitu Aira. Namun saat ini, ia tak tahu harus bagaimana lagi. Pemandangan romantis sudah mengakhiri debaran detak jantungnya. Rasa bahagia berubah duka. Semua itu menghancurkan rencana tanpa sisa.


Tak sanggup melanjutkan menatap kehangatan sepasang kekasih. Ia berjalan cepat meninggalkan hotel. Langkah kaki yang mengabaikan panggilan Lia. Yah, pergi adalah jalan satu-satunya.


Remuk redam tak mampu tertahan. Perjalanan tak lagi tuk digenggam. Sesaat teringat akan kenangan yang terjadi dua bulan lalu. Saat ia kembali dari luar kota, lalu mampir makan di sebuah rumah makan. Ia tak sengaja melihat Aira dan Lia.


Rasanya ingin sekali menghampiri tetapi diurungkan karena memilih menjadi pendengar secara diam-diam agar tau apa yang menjadi masalah kedua gadis itu. Perbincangan yang cukup mengubah sudut pandangnya.

__ADS_1


Aira menangkup wajahnya menahan air mata yang kian menyesakkan rasa. "Lia, aku takut dengan kenyataan. Apa aku bisa membuat semua baik-baik saja? Kamu tahu, setelah luka dari Alex. Hati ini takut terluka kembali. Salahkah merasa takut seperti ini?"


"Ra, kamu itu gadis yang kuat. Begitu juga dengan hatimu. Aku percaya, suatu saat nanti hatimu siap untuk memulai hubungan baru dan melepaskan luka yang menyayat menyisakan trauma." Diusapnya pundak sang sahabat berharap bisa memberikan ketenangan.


Aira tersenyum meski palsu, "Aku berharap kali ini tidak terluka lagi. Hanya itu."


Pembicaraan itu membuat Rei tanpa sadar meneteskan air mata. Rasa sakit ketika dia tidak bisa mendapatkan Aira tidak sesakit saat melihat orang terkasihnya terluka. Rei hanya terdiam mendengarkan semua itu, lalu memilih pergi sebelum hati meminta untuk menghampiri Aira.


Wanita yang selalu menguasai hati dan pikirannya. Sejak malam itu, Ia memikirkan cara bagaimana membuat Aira bahagia. Ketenangan sesaat mendatangkan sebuah ide. Dimana Ia menemui kedua orang Aira tanpa sepengetahuan gadis itu. Hal itu dilakukan agar tidak ada tekanan maupun merasa dikasihani.


Situasi memaksanya melakukan hal secara sembunyi. Bisa saja melamar langsung tapi takut Aira salah paham. Sehingga Ia mengharapkan perjodohan sebagai solusi terakhir. Demi kebaikan bersama, orang tua Aira menyetujui.


Namun, Aira menolak dengan alasan ingin bersama seseorang. Tentu saja ia tidak masalah dan siap menunggu satu bulan yang dijanjikan sang gadis. Kini setelah satu bulan berlalu dan malam pertemuan akhirnya membawa harapan. Lihatlah langsung terhempas tak mampu bangkit lagi.


Hatinya patah begitu melihat pemandangan yang menyayat hati. Semua itu terekam di dalam memorinya. Aira tersenyum bahagia membelai pria yang terbaring di pangkuan. Entah kemana malam akan membawanya pergi. Kenyataan tak akan berubah.


Jalan dan tujuanku satu, mimpi dan harapanku sama. Namun cinta dan kenyataan berbeda. Seperti sinar sang surya dan sinar rembulan. Dunia mengubah cintaku menjadi bayangan semu dalam kehidupan mu. Seperti waktu yang memudarkan rasaku. Waktu pula memisahkan takdir impianku. Jika cintaku tak sempurna, lalu kenapa hati ini tetap setia. _Rei


Duniaku menjadi abu. Tempatku berlari hanya diantara kesunyian malam. Kucoba mencari tabib tuk sembuhkan luka. Rasanya ingin kuakhiri dalam semalam. Hati tak mampu tuk bertahan lagi.


Namun disisa kesadaran ia ingat tentang orang tua Aira yang pasti menunggu kabarnya. Tak ingin membuat cemas sehingga dengan tangan gemetar memberikan kabar. "Malam, Bu."


"Nak, kamu belum istirahat? Aira tadi pamit menginap di rumah Lia. Apa semua berjalan lancar?" Ibu Sonia bertanya dengan harap-harap cemas.


Apa yang harus dikatakannya. Selain berkata kepalsuan. "Iya, Bu. Rei lupa ngabarin ibu. Jadi sebelum kelupaan dan keburu tidur, makanya telepon ibu dulu. Semua baik kok, kalau begitu Rei pamit istirahat dulu, Bu. Assalamualaikum."


Panggilan diakhiri begitu suara balasan salam terdengar. Akan tetapi hatinya ragu akan sesuatu. Benarkah Aira menginap di rumah Lia atau justru bersama pria asing? Rasa gelisah membuat pria itu tak ambil pikir panjang untuk kembali ke hotel. Keselamatan Aira lebih penting.

__ADS_1


Pencarian selama beberapa saat membuatnya lelah hingga akhirnya bertanya kepada resepsionis atas tamu yang bernama Aira sudah pergi dari hotel atau masih ditempat yang sama. Sang Resepsionis melihat daftar tamu, lalu mengatakan bahwa Aira masih di hotel bersama sahabatnya dan tamu hotel dari luar negeri. Mendengar hal itu membuatnya lebih khawatir.


Ditatapnya si resepsionis serius, "Apa mereka memesan kamar?"


"Tidak, Mas. Kamar hanya tamu kami yang memesan, sedangkan kedua gadis yang kamu cari berada di taman sejak beberapa jam lalu." jelas si resepsionis tanpa ragu, membuat Rey memesan kamar kamar sekaligus dua.


"Jangan biarkan mereka pulang malam ini karena sudah larut dan jangan bilang aku yang memesan kamar mereka." ucap Rei setelah menyelesaikan pembayaran langsung.


Resepsionis menyodorkan satu kunci, "Seperti keinginan pelanggan. Ini kuncinya dan kamar Non Aira ada di depan kamar tempatmu menginap."


Langkah kaki berjalan menuju kamar. Ruangan yang baginya tak memiliki kenyamanan apapun karena suasana hati tak menentu. Pikiran hanya tertuju pada Aira. Sebenarnya siapa pria asing itu? Apa hubungannya dengan Aira? Meskipun ada Lia diantara pasangan itu, tetap saja hati tidak tenang.


Sementara disisi lain. Arkha, Aira dan Lia sudah lelah dan ingin beristirahat. Awalnya berniat untuk pulang tetapi bukankah sudah izin menginap di rumah sang sahabat? Jadi tidak masalah pulang terlambat. Yah karena Lia tinggal di kost bukan rumah keluarga.


Namun Arkha membujuk Aira untuk menginap saja karena malam sudah larut. Sayangnya ditolak dan mengharapkan pengertian. Siapa sangka di saat ingin keluar dari hotel. Justru seorang resepsionis memberikan sebuah kunci kamar untuk menginap.


"Maaf, siapa yang memesan kamar?" tanya Aira seraya melirik Arkha.


Resepsionis mencoba bersikap profesional. "Bukan dia, Nona. Sebenarnya seorang pria datang untuk menemui Anda. Mungkin karena melihat Anda sibuk sehingga dia memilih untuk pulang tapi memesan kamar agar Anda tidak berjalan dimalam yang sudah larut."


"Begitu, baiklah. Kami akan menginap. Terimakasih." Aira mengajak Lia mencari kamar mereka, sedangkan Arkha yang bingung ikut berjalan di belakang kedua gadis itu.


Begitu melihat kamar dengan nomor yang sama dimasukkannya kunci, lalu melihat ke dalam bilik. Ternyata kamar yang cukup besar dan cukup untuk dua orang. "My Rain. We will stay here for tonight and you also needs rest. Good night, My Rain."


"Okay my heart, you sleep and sweet dreams." Dipeluknya Aira seraya mengecup kening wanitanya. "I love you, my Aira."


"Love you too, My Rain." Aira mengantarkan Arkha hingga ke depan pintu bahkan menunggu pria itu hilang dari pandangan. Ternyata kamar Arkha hanya berjarak dua kamar dari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2