
Malam berlalu menyisakan cinta dalam dekapan. Cinta yang mengalir di setiap aliran darah. Berdetak merasuk ke dalam jiwa berteman rembulan yang menyaksikan kisah cinta pasangan baru.
Pelukan begitu erat menghantarkan kenyamanan. Tatapan mata tak lepas dari wajah yang setia bersandar ke dalam dekapan. Kebersamaan pertama tanpa menyisakan jarak antara mereka berdua. Kisah cinta yang akan memulai perjalanan baru.
Merasakan pergerakan sang istri. Arkha terbangun hingga tatapan mata bertemu netra coklat Aira. "Kenapa tidak tidur, Istriku? Apa kamu memikirkan sesuatu lagi? Katakan padaku."
"Apa kamu tidak mau tidur lagi, My Rain? Aku hanya ingin mengatakan aku mencintaimu." ucap Aira membuat Arkha tersenyum.
Tatapan mata kian melekat tak terpisahkan bertaut saling melengkapi. Deru napas kian mendekat hingga aroma mint menguar menyentak kesadaran pasutri itu, "Bolehlah kita melakukan itu? Bersatu dalam rasa untuk menyatukan jiwa dan raga."
"Melakukan apa? Aku milikmu karena sekarang sah menjadi istri Tuan Arkha Khan. Lalu apa yang kamu mau?" Gadis itu tidak menyadari maksud dari ucapan Arkha yang mengajak melakukan hubungan suami istri.
Seulas senyum penuh semangat tersungging menghiasi wajah Arkha, "Kamu milikku dan aku milikmu." Direngkuhnya dagu sang istri dengan perasaan seraya menyapa kenyalnya kelopak bibir nan menggoda.
Aira hanya terkejut tetapi tidak mundur menolak sentuhan Arkha. Ciuman pertama tanpa pemaksaan melelahkan perasaannya. Laki-laki yang tidak pernah ia jumpai tiba-tiba menjadi pasangan hidup dalam sekali pertemuan. Arkha mencoba memberikan pengalaman pertama penuh kasih sayang.
Perlahan sentuhan menyusuri perjalanan panjang. Setiap sentuhan absen yang membangkitkan gairah keduanya. Raga hanyalah tempat menyalurkan rasa cinta mereka dalam pelabuhan penyatuan seutuhnya. Malam kian menjelaga diiringi suara manja bersahutan.
Aliran darah yang membuat keduanya enggan tuk melepaskan jejak kenikmatan. Kecupan manja yang terus menyambut sentuhan Arkha setiap kali menahan rasa tak karuan dalam pergulatan panas mereka hingga satu hentakan keras menghapus jarak yang tersisa.
Suara jeritan sesaat terdengar bergema dengan tangan menjambak rambut suaminya. Sontak saja, Arkha membungkam bibir Aira menikmati kecupan manja. Malam ini akan menjadi malam panjang dengan kehangatan berselimut kebahagiaan.
Penyatuan cinta panjang hingga puncak pelepasan. Tubuh keduanya tumbang setelah pergulatan yang melelahkan tetapi Arkha masih setia memeluk istrinya. Sesekali memberikan ciuman puncak kepala dengan pelan agar wanitanya tetap terlelap.
"Aira, kamu segalanya untukku. Selalu menjadi milikku ya sayang. Sungguh diriku tak bisa hidup tanpamu. Kaulah alasan hidup ini menjadi lengkap." bisik Arkha membiarkan malam berlalu tanpa ada keluhan.
Sinar mentari menyilaukan mata. Ia mencoba melihat ke sekeliling tetapi tidak menemukan keberadaan Aira. Niat hati ingin beranjak tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dengan kemunculan raga yang kini sudah berpenampilan rapi dengan gaun manis. Cantik meski rambut tampak basah.
Kesibukannya mengeringkan rambut membuat Arkha hanya diam menatap tanpa kata. Sedangkan yang ditatap tidak menyadari sampai selesai melakukan perawatan yang apa adanya. Ketika beranjak dari kursi depan meja rias. Barulah menyambut pagi sang suami dengan seulas senyum manis.
"Selamat pagi, My Rain." Langkah kaki berjalan menghampiri ranjang dengan niat baik ingin memberikan sapaan pagi. "Ayo, bangunlah! Cepat pergi mandi, lalu kita bisa sarapan bersama."
Untuk apa mandi? Yang dibutuhkan hanyalah sambutan pagi penuh kehangatan. Tubuh yang mendekat mempermudah harapannya. Satu tarikan menjatuhkan Aira ke dalam pelukan lalu tak lupa mengeratkan kedua tangan ke pinggang agar gadis itu tidak bisa melarikan diri.
Ia tahu apa yang diinginkan Arkha dan tanpa permintaan mendaratkan kecupan hangat menyentuh kepala. "Aku selalu milikmu tapi sekarang bangun dan mandi!"
Tak ingin istrinya menunggu lebih lama. Akhirnya pria itu menurut untuk pergi membersihkan diri. Lima belas waktu yang singkat. Arkha keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk menutupi bagian bawahnya saja sehingga dada kekar terpampang begitu jelas menjadi pemandangan yang menggiurkan tetapi sayang Aira sibuk menyiapkan sesuatu.
Pikiran jahil datang menyapa, "Aw," rintihanya mengalihkan perhatian Aira yang langsung menghampiri tanpa diminta.
"Rain, apa yang terjadi? Are you okay?" Tangannya sibuk memeriksa tubuh Arkha yang terasa dingin dengan aroma wangi sabun. Gadis itu tidak tahu jika Arkha sengaja berpura-pura agar diperhatikan olehnya.
__ADS_1
Arkha memegang bahunya seolah-olah kram, "Tanganku rasanya tidak baik. Sekarang bagaimana memakai kemejaku?" Tatapan mata memelas membuat Aira tersenyum tipis.
Sadar akan apa yang terjadi tapi lebih baik membiarkan. Diambilnya kemeja yang sudah ia siapkan, lalu membantu Arkha mengenakan pakaian atas tanpa ingin melakukan lebih. "Lain kali fokus ketika melakukan sesuatu. Bagaimana jika tidak ada aku di dekatmu? Sekarang lihat, sudah siap."
Arkha tersenyum seraya terus memandang Aira dengan puas. Perlakuan manja yang didapatkan begitu terasa nyaman. Ditengkuhnya tubuh wanita itu tanpa ingin melepaskan. Kebahagiaan kian terasa. Rasa syukur akan selalu dipanjatkan atas kebersamaan sah mereka.
"Rain, sekarang apa yang terjadi? Jika kamu memelukku seerat ini maka tanganmu bisa sakit lagi." Aira melepaskan diri dari pelukan Arkha.
Lengan kemeja yang terlihat menganggu dilipat. Sentuhan tangan yang berlanjut sedikit memberikan pijatan membuat Arkha merasa nyaman akan perlakuan Aira memanjakan dirinya tanpa banyak bicara. Wanita yang selalu menghiasi benaknya kini semakin merasuk ke dalam hati.
"Sekarang tanganku lebih baik, Sayang." Arkha menarik tangannya lalu melakukan olahraga kecil dengan putaran bahu agar Aira merasa lebih baik.
Tak tega melihat tatapan sendu sang istri karena pagi ini menjadi pagi pertama mereka bersama. Bagaimana bisa memberikan duka meski hanya sekedar candaan. Tetap saja akan lebih baik untuk mendapatkan senyum manis dari bibir yang selalu menggoda di hadapannya.
Setelah sesi keromantisan berakhir. Keduanya beranjak meninggalkan kamar hotel untuk menuju ke restaurant. Sarapan pagi itu sangat penting karena aktivitas sehari sangat membutuhkan tenaga. Sebagai awal hari maka harus mendapatkan nutrisi yang mencukupi. Setidaknya mencegah sakit yang menyerang kekebalan tubuh.
Pasutri itu memesan makanan dan minuman yang disajikan tanpa menunggu begitu lama. Suapan demi suapan mengalihkan perhatian. Sesekali terdengar obrolan ringan di antara keduanya hingga kedatangan sang adik menjadi lebih hangat.
Seorang pria muda dengan wajah dewasa menarik kursi, lalu duduk menghadap pasutri yang selesai menikmati sarapan. "Morning, Bro, Aira."
Lirikan mata tertuju pada saudaranya yang terlihat begitu bahagia. Melihat itu tentu sebagai adik ikut bahagia meski menyadari bahwa hubungan sang kakak akan lebih sulit dari yang terpikirkan. Pernikahan memang sudah disetujui hanya saja ayah mereka terlalu keras kepala dan itu bisa saja menjadi pemicu masalah di masa yang akan datang.
"How tonight? All great na?" tanya Arsha dengan maksud terselubung. Seakan paham maksudnya Arkha mengedipkan mata dengan senyum kebahagiaan.
Sementara Aira yang tengah sibuk memeriksa pekerjaan diponsel. Gadis itu mengabaikan pembicaraan absurd antara kakak beradik. Arkha menyadari kesibukan sang istri. Entah kenapa setiap kali melihat Aira diam, hati justru merasa tak tenang.
Disentuhnya bahu sang istri agar tidak sibuk bermain ponsel saat mereka bersama. Teguran halus melalui tatapan mata Arkha, membuat Aira terpaksa menghentikan pemeriksaan pekerjaan. Ponsel diletakkan ke atas meja tetapi sebelum itu ia sudah mengirim pesan pada seseorang untuk menemuinya pagi ini.
Sejenak terdiam sebelum mengutarakan keinginan hatinya. Apa kakak ipar akan keberatan jika ia tetap di Indonesia sementara waktu? Jujur saja selama bertahun-tahun hanya di Pakistan dan hari ini memiliki kesempatan untuk menghirup udara di negara lain. Bukankah kesempatan langka harus dimanfaatkan?
"Sebenarnya aku masih ingin disini dan tetap bersama saudaraku tapi jika kamu tidak memiliki masalah." ujar Arsha sedikit lirih meski tetap terdengar jelas.
Ternyata ia memiliki adik ipar pemalu. "Aku tidak keberatan karena sekarang kita keluarga. Kamu juga saudara laki-laki bagiku."
"Kamu yang terbaik istriku." puji Arkha mengusap kepala Aira dengan rasa syukur di hati.
Seakan mendapatkan kesempatan. Gadis itu menggeser posisi duduknya hingga menatap ke dalam netra yang kini menjadi pagi dan malamnya. "Rain, bisakah kita tinggal di rumahku saja? Aku tidak ingin tinggal di hotel terlalu lama."
__ADS_1
Rumahku? Itu berarti rumah orang tua sang istri. Apakah benar harus tinggal bersama mertua? Bukan karena tidak suka tetapi apa kata orang? Menikah dengan orang luar sampai tidak punya tempat tinggal sendiri. Akan tetapi tatapan mata penuh harap membuatnya tak tega untuk menolak.
"Apa kamu yakin ingin tinggal bersama kedua orang tua setelah menikah?" tanyanya hati-hati agar tidak menyinggung hati Aira.
Satu pertanyaan yang menyadarkan Aira ajah pemikiran suaminya. Tentu saja berpikir ke arah sana karena pria itu masih terlalu jauh mengenal dunianya yang asli. "Sayang, aku ingin tinggal dirumahku dan bukan rumah orang tuaku. Jangan khawatir karena semua sudah kupikirkan dengan matang."
"Rumahmu? Maksudnya bagaimana? Aira, bisa jelaskan denganku secara rinci!" tukas Arkha lebih serius tetapi Aira terlihat hanya tenang menghela napas pelan.
"Kita akan check out dari hotel sekarang, lalu datang ke tempat seharusnya. Arsha tolong bantu aku melakukan check out." pinta Aira membuat Arkha dan Arsha saling pandang tak mengerti apa yang akan dilakukannya.
Permintaan Aira mengakhiri sesi obrolan karena Arsha beranjak pergi meninggalkan meja pasutri agar bisa melakukan keinginan sang kakak ipar sedangkan Arkha sendiri masih berharap akan mendapatkan penjelasan dari istrinya. Akan tetapi itu hanya menjadi penantian semu.
"My Rain, jangan banyak berpikir. Semua akan ku jelaskan tapi setelah kita sampai di rumah." Usapan lembut diberikan agar prianya tetap tenang tanpa beban pikiran.
Kepergian Arsha berlanjut dengan pasutri itu yang juga kembali je kamar. Tentu saja hanya untuk membereskan semua barang bawaan. Aira melakukan segala sesuatunya sendiri karena Arkha masih dalam mode merajuk. Pria itu duduk seorang diri dengan tatapan mata lurus ke depan.
Selama tiga puluh menit sesi beberes berakhir tetapi Arkha masih diam bak patung, membuat Aira berjalan menghampiri suaminya. Lalu duduk menghalangi pemandangan yang mencuri perhatian sang suami. "Rain, apa yang kamu pikirkan?"
"Kemana kamu akan pergi? Aku tidak ingin kita tinggal di rumah orang tuamu. Setidaknya kita bisa tinggal di hotel sampai waktunya berangkat ke Pakistan ...," tutur Arkha yang terhenti karena tangan Aira membungkam bibirnya.
Tatapan mata tajam terpaut tak ingin mendengarkan penolakan. "Apa kamu tidak percaya denganku? Aku hanya minta dengarkan dan kamu akan paham setelah sampai di rumah kita nanti. Just it."
"Sorry, aku sangat percaya padamu lebih dari diriku sendiri, My wife." ucap Arkha tak bisa lagi memperdebatkan keputusan Aira yang sudah final.
Disaat bersamaan terdengar suara dering ponsel yang mengalihkan perhatian Aira. Gadis itu memeriksa yang ternyata pesan dari asistennya. Dimana pesan itu mengatakan sang asisten sudah menunggu di lobi bahkan sudah bersama Arsha.
"Ayo, kita harus keluar hotel sekarang. Seseorang sudah menunggu kita di lobi hotel." ajak Aira menarik tangan Arkha.
Diamnya bukan karena marah tetapi hanya kebingungan yang melanda tapi ia tak ingin menyusahkan Aira. Tanpa kata diambilnya dua koper yang berisi barang pribadi. Lalu melangkahkan kaki meninggalkan kamar hotel untuk turun ke lobi dan benar saja di bawah sudah ada Arsha yang juga membawa koper.
Mereka bertiga jalan bersama-sama menuju mobil yang terparkir di depan pintu hotel. Sebuah mobil yang menanti kedatangan sang pemilik karena terlalu lama dianggurkan. Awalnya Arsha berpikir mobil itu milik tamu hotel lain tapi begitu seorang pria muda turun menyapa Aira. Pemikirannya berubah.
"Dan, apa semua sesuai keinginanku?" tanya Aira membuat Danish mengangguk memastikan semua perintah sudah dilaksanakan. "Tolong, masukkan semua koper ke bagasi."
Danish hanya hormat, lalu menarik pintu belakang agar Aira dan suaminya masuk terlebih dahulu. Setelah itu baru mengambil koper untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Akan tetapi Arsha masih mencoba mencerna situasi yang ada. Apalagi ia tidak paham obrolan dari kedua lawan jenis itu.
"Arsha, kamu ingin ikut atau tetap berdiri disitu? Cepatlah! Kita tidak bisa pergi meninggalkanmu sendirian." tukas Aira menyadarkan Arsha yang langsung terkekeh pelan.
Pria muda satu itu ikut masuk ke dalam mobil tapi duduk dikursi depan menemani Danish. "Sorry, aku hanya sibuk memikirkan apa yang terjadi disini."
Perjalanan dimulai dengan suasana sepi berselimut ketenangan. Danish fokus menyetir, Arsha sibuk melihat jalanan sekedar ingin mengingat lingkungan yang mungkin suatu hari nanti akan dilewatinya lagi, sedangkan Arkha sibuk menatap istrinya yang kembali fokus melakukan sesuatu menggunakan benda pipih yang terus menyala.
__ADS_1
Anehnya selama sebulan bersama. Ia jarang melihat Aira sibuk dengan ponsel tapi hari ini. Kenapa istrinya begitu larut untuk memainkan si benda pipih? Apa isi dari dunia canggih itu?