Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 34#Membujuk_Ibadah


__ADS_3

Kebahagiaan seorang ibu adalah ketika melihat anak-anak mereka mampu berdiri di kakinya sendiri. Kesuksesan Aira seperti hadiah yang sangat membahagiakan. Betapa terkejutnya ketika mendapatkan sambutan hangat yang berlanjut acara syukuran bersama anak yatim piatu dari panti asuhan terdekat.


Acara do'a berjalan dengan lancar bahkan semua orang menikmati tanpa ada keluhan. Semua itu karena kekompakan dan kerja sama team. Acara selama satu jam akhirnya selesai ketika mobil jemputan anak panti melaju meninggalkan halaman rumah. Kini yang tersisa hanya keluarga saja.


"Apa ibu menyukai rumahnya?" tanya Aira yang sibuk memeluk ibunya dengan manja.


Ibu Sonia tersenyum menikmati kebersamaan mereka setelah beberapa hari terpisahkan. "Kenapa ndak bilang dari awal, Nak? Sekarang sudah main rahasia ya?" Usapan tangan terus dilakukan tanpa mengenal lelah.


Sebagai seorang ibu dari Aira. Ia hapal bagaimana putrinya berusaha keras untuk mewujudkan mimpi besar seperti membangun rumah mewah. Rasanya masih seperti mimpi dengan kenyataan yang ada. Yah, sebagai orang tua hanya bisa memberikan doa terbaik untuk anaknya.


"Aira cuma mau kasih bukti dan bukan omongan saja. Jadi, kapan ibu dan bapak akan pindah kesini?" tanya balik Aira berharap akan mendapatkan jawaban pasti.


Pertanyaan itu terdengar sangat jelas tetapi bagaimana meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat mereka berteduh dari terik matahari dan hujan deras. Rumah dengan kenangan suka duka selama bertahun-tahun. Jika diukur dari nilai kenangan maka sudah pasti berat meninggalkan hanya saja tetap tidak semudah itu.


"Apa harus pindah, Nak? Bukankah bisa berkunjung seminggu sekali misalnya." ucap Ibu Sonia hati-hati karena masih memikirkan keputusannya dengan matang.


Aira melepaskan diri dari pelukan sang ibu. Lalu beranjak mendekati ayahnya. Ketika satu jalan tidak bisa menjadi akhir maka jalan lain bisa diambil alih. Gadis itu membujuk dengan rayuan yang seperti biasa. Sehingga membuat ayahnya setuju tanpa pemaksaan.

__ADS_1


Melihat kelakuan Aira yang lebih manja ketika bersama kedua orang tua. Jujur di sudut hatinya ikut merindukan kebersamaan keluarga besar. Meski begitu hati berusaha memahami bahwa situasi yang ada mengharuskan untuk bersabar.


Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa malam datang menyapa. Setelah semua mendapatkan kamar, Aira dan Arkha ikut masuk ke kamarnya sendiri. Pasutri itu tampak lelah tetapi masih menikmati rasa bahagia.


"Sayang, mandi yuk!" ajak Arkha menatap Aira yang tengah melepaskan aksesoris ke dalam wadahnya kembali.


Kotak kaca ditutup, lalu menggeser posisi duduknya hingga berhadapan menatap Arkha yang duduk di tepi ranjang. "Mau mandi atau?" Lirikan mata menurun hingga terhenti pada tonjolan yang terlihat begitu jelas. "Suamiku ingin ibadah?"


"Jika istriku mengizinkan. Mari kita ibadah." Arkha mengulurkan tangan dan dengan senang hati Aira menyambutnya.


Tatapan mata saling bertaut dengan raga kian mendekat. Sentuhan tangan mulai berkelana menanggalkan helai benang yang menghalangi pandangan mata. Suara decak pagutan mengawali perjalanan panjang nan panas


"Sayang, kenapa malah menatapku?" tanya Aira bingung dengan perlakuan Arkha kali ini tetapi tak menunggu lama. Sentuhan lembut menerjang lembah tak berdaun yang mengejutkan. "Sayang ...,"


Suara panggilan manja yang terabaikan. Kini Arkha menenggelamkan diri sibuk memporak-porandakan lembah milik istrinya. Tangan yang menggenggam selimut dengan bibir tergigit mencoba menahan gelenyar aneh yang mulai menguasainya. Sang suami benar-benar menghujam pusat langsung.


"Saaayaaaang ... Ouh hurry." Lenguhan panggilan manja tak lagi tertahan membuat Arkha tersenyum seraya melepaskan bibirnya dari lembah sang istri.

__ADS_1


Tanpa basa basi ikut melepaskan semua penghalang yang akan menyulitkan perjalanan panas mereka. Sentuhan lembut dari bibir kenyal menjalar menikmati mulusnya lapangan pendaratan dengan tangan yang mulai memainkan squash nan menggemaskan.


"Want more, Honey?" bisik Arkha menggoda istrinya yang mulai kelimpungan akan sentuhannya.


Kali ini bukan jawaban melainkan satu gerakan berhasil mengubah keadaan. "Will see, who want more."


Tangan terus berkelana dengan liar mencoba mencari tempat ternyaman hingga menemukan junior yang tegak lurus. Tak ada permintaan khusus selain mencoba menikmati memainkan dengan sepenuh hati. Naik turun secara perlahan mengikuti irama detak jantung.


Semakin lama gerakan semakin dipercepat membuat Arkha merintih dengan mata terpejam. Nikmat yang tidak bisa dijelaskan. Aira mencoba menguasai miliknya dengan cara yang ampuh. Sentuhan lembut mengalihkan perhatiannya.


"Honey, I want more." pinta Arkha tak tahan lagi membuat Aira mengangguk paham, lalu beranjak dari tempatnya untuk memposisikan diri.


Perlahan mencoba untuk memasukkan junior ke lembah miliknya tetapi terlalu sulit karena ukurannya memang besar. Melihat itu, Arkha tak tinggal diam. Sekali lagi posisi keduanya berubah. Kaki yang terangkat bersandar di pundak kekar bersambut hentakan keras yang menyatukan raga.


"Honey, ready?" tanya Arkha merengkuh tubuh Aira begitu mengubah posisi keduanya lagi.


Malam ini dibiarkannya Aira yang menjadi pemain utama. Sengatan listrik yang tak bisa dihindari ketika sensasi luar biasa mulai mengalihkan akal sehat. Gerakan pelan mulai berubah frontal mengikuti adrenalin yang kian meningkat. Suara derit ranjang mulai terdengar.

__ADS_1


Hawa panas semakin meningkat meninggalkan peraduan malam tak berbintang, sedangkan di sisi lain obrolan hangat tengah berlangsung melalui sambungan telepon. Suara cerita panjang kali lebar menjadi warna kesunyian malam.


"Baiklah, met istirahat. Aku juga mau istirahat. Apa besok kita bisa bertemu?" tanyanya dengan menggigit kuku karena cemas akan ditolak oleh lawan bicaranya.


__ADS_2