
Satu senyuman mampu meluluhkan hati. Tatapan mata yang menjadi daya tarik tersendiri ditemani keangkuhan yang nyata tanpa keegoisan. Bagaikan rembulan yang ternoda, tinggi tak tergapai.
Semalaman Rei tidak bisa memejamkan mata hingga pagi hari sudah disibukkan memasak sarapan pagi. Ia berpikir ingin memberikan kejutan pada Aira sebagai bentuk ungkapan hati. Setidaknya sang pujaan hati bisa merasakan sedikit cinta darinya.
Ia pun tak lupa meminta salah satu anak buahnya untuk mengirimkan kebutuhan Aira dan Lia. Dimana pagi hari, Aira dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang mengetuk pintu dengan beberapa paper bag di tangan.
"Selamat pagi, maaf mengganggumu. Tolong terima semua titipan dari bosku dan ini undangan untuk sarapan bersama di balkon hotel." Diserahkannya paper bag yang dia bawa serta sepucuk surat berbentuk noted.
Aira mengernyit berusaha mengerti situasi yang ada tetapi tetap harus bertanya. "Siapa bosmu? Dimana dia sekarang?"
"Nanti Nona akan tahu, siapa bosku. Sekarang aku permisi untuk kembali bekerja. Oh iya, undangan ini hanya untuk nona saja dan sarapan untuk sahabat nona akan diantar ke kamar." pamit wanita itu lalu berbalik meninggalkan Aira.
Dibukanya noted yang bertuliskan harapan kedatangannya. Undangan untuk breakfast dengan segenap hati. "Ada-ada saja, lebih baik aku masuk lagi." Tatapan mata tertuju pada ranjang, dimana Lia masih terlelap. "Bangun!''
Ditariknya selimut sehingga menampilkan tubuh memeluk guling yang enggan meninggalkan kehangatan ranjang. "Anak gadis harus bangun pagi. Ayo, bangun!"
__ADS_1
"Ish, biarkan aku tidur. Kamu bangun cuma buat ketemu Arkha 'kan?" sindir Lia tanpa membuka mata.
Tak ingin berdebat panjang kali lebar. Ia pergi membiarkan Lia menang dan kembali tidur tanpa gangguan. Lebih baik mandi untuk menyegarkan diri. Beruntung paper bag yang diberikan secara cuma-cuma sudah diperiksa dan ternyata semua kebutuhannya.
Lima belas menit waktu yang singkat untuk menyudahi ritual mandi. Kini gaun yang dikirim sudah melekat ditubuhnya. Tak lupa memoles make up tipis agar terlihat segar. Tatapan mata terpatri pada sebuah kotak perhiasan. Didalamnya terdapat liontin dan anting sederhana yang elegan.
Hanya saja ia tak ingin memakainya. Selain parfum yang menjadi sentuhan terakhir. Baginya cincin yang melingkar di jari dengan gelang pemberian Arkha. Sudah cukup untuk mempercantik penampilan. Baru saja beranjak dari tempat duduk, sudah dilema harus menemui Arkha terlebih dulu atau tidak.
Akan tetapi, jika bertemu Arkha. Bagaimana ia akan datang ke tempat undangan? Bukan karena ia peduli tapi sebagai seseorang yang diperhatikan, tentu ingin tahu siapa dibalik pemberi kenyamanan yang kini dinikmatinya. Jujur saja ia tak ingin merepotkan orang lain. Akhirnya ia memilih menuliskan pesan agar Lia bisa membantu di saat dibutuhkan.
Sebuah meja makan tertata rapi dan menu makanan sudah tersaji diatas meja ditemani minuman menyegarkan. Tiang-tiang yang melingkar berselimut tirai nan menjuntai. Dimana tirai menutupi pemandangan yang ada. Aira baru saja sampai balkon, gadis itu melihat ke seluruh penjuru tetapi tidak ada siapapun.
Tanpa disadari di belakangnya ada Rei yang sengaja bersembunyi. Ditatapnya Aira yang tampak kebingungan mencari keberadaannya. Ingin sekali tetap berdiam diri di tempat tetapi tidak mungkin. Menghirup udara dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. "Selamat pagi, wanitaku. Apakah kamu menyukai kejutan dariku?"
Aira berbalik dan menatap sosok pria yang sangat familiar di matanya. Rei Andika sang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. "Apa semua ini, kamu yang buat, Rei?"
__ADS_1
"Tentu pelayan yang membuat semuanya mungkin, Tuan Putri." jawab Rei seraya bergaya seperti pangeran menyambut putri kesayangan mereka.
Tatapan mata menelisik mencoba memastikan. Tidak ada keraguan tetapi yasudahlah. Ia ingin tahu alasan pria itu menyiapkan kejutan yang di luar ekspektasi. Apalagi setelah lama tidak berjumpa.
"Apa yang kamu pikirkan? Sebenarnya ibu mengabariku kalau kamu sudah pulang. Jadi aku lakukan sebagai bentuk sambutan hangat. Apa kamu tidak suka? Jika iya, aku bisa buatkan yang baru." sambung Rei yang memahami Aira tengah menatap tanya kearahnya.
Siapa yang tidak suka diberikan kejutan? Hanya saja semua itu berlebihan. Apalagi kan bisa mengajak Lia. Meskipun tujuannya untuk menyambut kepulangan dirinya. "Terimakasih, Rei. Lain kali datang saja kerumah dan uangnya bisa disumbangkan ke panti asuhan. Itu akan lebih membantu anak-anak."
"Ra, sekali saja biarkan aku melakukan seperti keinginan hati. Satu waktu hanya untuk memanjakan orang yang ku sayangi. Ini bukan tentang uang tetapi perasaan." ucap Rei tenang meski menahan gemuruh di dalam hati.
Aira menghela napas merasa bersalah karena bersikap berlebihan juga. "Sorry, terimakasih sekali lagi. Kejutan yang indah, Rei."
Diajaknya Aira untuk duduk ke kursi yang sudah tersedia, tak lupa memberikan pelayanan yang dia anggap sebagai bentuk kasih sayang. "Jangan khawatir karena Lia mendapatkan menu makan yang sama karena aku sudah meminta pelayan mengirim makanan tepat waktu."
Pagi yang temaram tanpa sinar mentari. Semilir angin sepoi menambah suasana semakin romantis. Rei sengaja memperlakukan Aira bagaikan putri kerajaan. Dimana semua kebutuhan dilayani bahkan Aira tidak menolak. Gadis itu seakan tahu bahwa hari ini ia tak ingin menerima penolakan.
__ADS_1