Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 15#Luka Nyata


__ADS_3

Acara pertunangan sudah berakhir. Keheningan yang melanda menenggelamkan Alex pada rasa sakit. Pemuda itu terduduk di lantai dengan kotak hitam ditangannya. Sesaat ia mengingat acara terburuk dalam hidupnya. Hati ingin mengatakan Aira adalah cinta pertama yang pantas diperjuangkan tetapi bibir kelu tak mampu melakukan pembelaan.


Apa arti ucapan cinta yang selama ini diucapkannya? Rasa itu telah menjadi abu. Dibukanya ponsel, lalu ia menekan tombol play yang ternyata video acara tukar cincin beberapa waktu yang telah berlalu. Bagaimana bisa Aira setegar itu? Apalagi setelah melihat video dari Rei. Dimana bunda meminta maaf sekaligus berterima kasih atas kehidupan yang hancur.


Dua hadiah yang menyekap emosi tanpa mampu diutarakan. Tatapan mata beralih menatap kotak kado hitam. Perlahan dibukanya dengan sesak di dada. Kotak terbuka dan ternyata hanya berisi sebuah card memory. Apa maksud Aira? Tanpa bisa bertanya, dipasangkan pada memori ponselnya hingga hadiah pertama berhasil memporakporandakan semua pemikiran.


Tubuh terkulai tak berdaya. Suara nyata dengan cuplikan flashback yang menyayat hati. Bagaimana bisa Aira memiliki video pertemuan di cafe? Rasa itu masih ditahan hingga video menunjukkan sang pujaan hati membakar semua kenangan mereka. Video terakhir sekaligus ucapan selamat atas pertunangan yang dilakukan.


Semua sudah berakhir dan tidak ada tempat lagi bagimu dalam hidup ku. Ucapan Aira masih saja berputar di kepala seketika pusing tak terkira. Andai saja ia jujur, apakah saat ini sang pujaan hati masih bersamanya? Hanya kata andai tetapi kenyataan tak mampu ia rubah. Cinta yang berubah menjadi keegoisan.


Sejauh apapun kakiku melangkah, tujuanku tetaplah kamu, Aira. Rasa takut ini tak lagi mampu terbendung.~ batin Alex seraya memeluk ponselnya sendiri. Derai air matanya tak mampu terhenti.


Sementara disisi lain, Aira terdiam menikmati malam duduk di atas ayunan. Apa yang tersisa? Malam kian menjelaga nyatanya hati kian hambar tanpa rasa. Rei sudah berusaha mengajak gadis itu untuk ngobrol tetapi yang terjadi hanya diabaikan hingga ide terakhir berubah menjadi kepasrahan diri.


Rei menyodorkan minuman ke Aira, "Bersedih juga butuh tenaga. Minum dulu!"

__ADS_1


Tanpa kata, gadis itu menerima minuman dari Rei. Kedua insan yang kembali diam menikmati semilir angin malam di tengah hati yang sakit. Kebisuan yang menyesakkan dada, membuat Rei beranjak dari tempatnya. Lalu merengkuh tubuh si gadis kutub utara.


Diusapnya kepala Aira berharap itu bisa menyalurkan kekuatan. "Menangislah sepuasnya karena esok kamu harus lebih kuat, Aira. Jangan tahan perasaan mu saat ini. Biarkan rasa sakit pergi bersama air mata."


Aira hanya menangis bahkan ia tidak menolak pelukan Rei. Sesakit itukah orang patah hati? Dunia begitu kejam tetapi semua hanya karena keegoisan Alex. Semua yang terjadi tak mampu mengubah rasa cinta yang selama ini menjadi bagian hidupnya. Tiga puluh menit telah berlalu, pelukan berakhir.


"Rei, terima kasih sudah berada disampingku. Kehadiranmu sangat berarti untukku." Tatapan mata mencoba mencari ketenangan pada netra pemuda yang kini setia menemani kesedihannya.


Seulas senyum tampan menghiasi wajahnya seraya mengerlingkan mata. "Apapun untukmu, Aira. Aku senang melihatmu baik-baik saja. Apalagi senyumanmu itu seperti candu tetapi air mata? Jangan lagi menangis karena itu sangat tidak cocok menghiasi wajah manis ini."


"Segitunya kah diriku?" tanya Aira menahan diri tanpa emosi.


Rei memperagakan bagaimana seorang Aira. "Seperti ini kamu," Tatapan matanya datar tanpa senyum dengan kepala selalu menjaga pandangan. "Sayangnya tidak ada cermin. Sekali saja tanya pada orang-orang yang mengenalmu. Mereka pasti mengatakan kamulah si gadis kutub utara."


"Lanjutkan menjadi diri ku dan anggap aku sebagai penonton." ujar Aira dengan kekehan pelan melihat aksi Rei yang tidak gengsi meniru sikapnya.

__ADS_1


Suara tawa terdengar hambar tetapi nyata. Rei ikut tersenyum melihat Aira yang bisa tertawa. "Cantik, tetaplah tersenyum dan bahagia. Semua pasti indah pada waktunya. Aira, kamu adalah gadis kuat."


"Terkadang manusia hanya ingin merenung mengembalikan kesadaran diri. Ayo, kita pulang."


Tangannya terulur disambut genggaman hangat yang enggan menunjukkan kesedihan hatinya. Kedua insan itu berjalan menyusuri setapak taman menikmati kegelapan malam yang kian menjelaga. Malam nan dingin tetapi bukan milik hati yang patah. Inilah malam milik sang pemberi jalan kehidupa.


Sesampainya dirumah Aira turun bahkan Rei mengantarkan sampai ke depan pintu. Langkah kaki berniat meninggalkan sang gadis tetapi tiba-tiba ia tertahan. Sentuhan hangat tanpa rasa terdiam dalam pelukan raga. Aira tanpa kata mendekapnya. Kegelisahan yang bisa ia rasakan semakin menyudutkan hati.


Entah apa yang Aira pikirkan gadis itu, ia hanya membiarkan tanpa keluhan. Jika pelukan mampu meringankan hati Aira maka kenapa tidak?


Aira melepaskan pelukan, "Thanks untuk semuanya. Sorry karena memelukmu tanpa izin."


"Peluk saja sesukamu dan anggap aku boneka panda. Jangan khawatirkan yang lain, dan pastinya aku kan jomblo. Jadi slow aja, pamit dulu lah. Takecare," pamit Rei berjalan menjauh dari Aira seraya melambaikan tangan.


Seandainya kamu melihat hatiku. Kamu akan melihat pecahan yang sama karena rasa sakitmu. Aku rela menjadi sandaranmu, asalkan kamu tetap tersenyum seperti biasa, Aira.~batin Rei setelah menyela gas membiarkan deru kendaraan menghempaskan kesadarannya.

__ADS_1


__ADS_2