
Ketenangan itu berasal dari dalam pikiran turun ke hati untuk menyambut kedamaian. Seperti pelukan cinta yang menetralkan gemuruh gelisah di hati. Arkha menenggelamkan Aira ke dalam kehangatan bukan sekedar untuk kepuasan melainkan demi pengalihan suasana.
Sebagai seorang suami meski baru mengenal selama beberapa waktu. Ia tetap menyadari akan bagaimana suasana hati seorang Aira. Diam termenung bukanlah sikap yang baik karena wanita itu lebih aman ketika jahil dengan wajah ceria.
Siang yang nyaman dengan berbagi peluh di atas ranjang. Pergulatan panas yang menggairahkan tak elak membuat kedua insan itu harus membersihkan diri, lagi. Sementara di sisi lain, Rei baru saja pulang ke rumah orang tuanya. Meski ia sukses bukan berarti meninggalkan keluarga seorang diri.
Apalagi sebagai anak tunggal maka wajib menjaga orang tua yang hanya tinggal seorang saja. Yah, ia hanya berharap bisa mendapatkan sedikit ketenangan di sisa hari yang begitu membosankan. Akan tetapi ketika merebahkan tubuh di atas ranjang. Sesuatu datang mengusik pikirannya.
"Apa cuma perasaanku saja atau memang hanya kebetulan?" Sesaat mengingat setiap detail pertemuan hingga ia menemukan hal yang cukup menyentak kesadarannya. "Aira!" Sontak saja ia terperanjat bangun dari posisi nyamannya.
"Tidak mungkin Aira. Bukankah gadis itu masih di hotel untuk bulan madu? Kenapa tidak tanya langsung saja tapi bagaimana jika mengganggunya? Sudahlah Rei. Hentikan semua pemikiran konyolmu." monolog Rei pada dirinya sendiri.
Pria itu merasa benar-benar pusing akan apa yang terjadi. Tak ingin semakin larut dalam perasaan yang bercampur aduk. Ia memilih kembali merebahkan tubuh menjemput mimpi yang mungkin memberi sedikit kebahagiaan. Meski itu kebahagiaan semu.
__ADS_1
Detik berganti menit beranjak waktu yang terus berputar. Keesokan harinya Lia sengaja datang ke rumah orang tua Aira. Seperti yang sudah direncanakan dimana dia akan mengajak jalan-jalan pasutri itu dengan alasan membutuhkan teman. Yah, alibi yang bagus karena sudah dianggap sebagai anak.
Apapun akan dilakukan agar Aira bisa memberikan kejutan seperti yang sudah dijelaskan. Perjalanan dari rumah orang tua sang sahabat menuju ke rumah baru Aira cukup memakan waktu hampir satu jam. Perjalanan yang cukup lama dengan rasa penasaran tinggi.
Mobil yang memasuki halaman luas membuat tatapan mata tanya kedua orang tua Aira terpatri pada Lia. Gadis yang menyadari itu hanya tersenyum, lalu membuka pintu mobil karena sudah berhenti tepat di depan pintu rumah. Kemudian turun, ia tak lupa untuk membukakan pintu belakang.
"Ayo turun, Pa, Bu. Kita sudah sampai." ajak Lia seraya mengulurkan tangan yang bersambut tangan Ibu Sonia.
Sebagai anak muda harus tau arti melayani orang yang lebih tua. Apalagi sebagai sahabat Aira. Ia sangat hapal betapa Aira selalu bersikap hangat dan hati-hati menjaga kedua orang tua yang telah menjadi bagian penting kehidupan. Langkah kaki berjalan beriringan menapaki lantai marmer yang tampak begitu bersih.
Seorang ibu yang sangat hapal kesukaan sang putri semata wayang. Wanita itu masih belum menyadari rumah yang ia masuki adalah hasil dari kerja keras putrinya sendiri. Perjuangan Aira demi membuat keluarga bangga sudah bisa dilihat dengan bukti nyata.
Ketukan pintu dari luar membuat Aira yang duduk di ruang tamu melirik ke arah jam dipergelangan tangannya. "Dan, sambut orang tuaku. Aku dan lainnya akan menunggu di tempat yang sudah disiapkan. Kamu bisa sendiri atau mau ditemani Bi Lis?"
__ADS_1
"Bos, aku cuma kedepan rumah. Bisa sendiri jadi jangan aneh-aneh, ya." Danish beranjak dari tempatnya. Ia tak ingin lebih lama mendengarkan sindiran sang atasan yang beberapa waktu terlihat begitu sensitif.
Penyambutan dilakukan dengan begitu baik baik tamu tak diundang yang datang ke jamuan makan. Lia dan Danish seperti pemain drama yang handal sampai kedua orang tua Aira merasa tidak curiga. Mereka semua masuk seraya mendengarkan penjelasan Dan yang menunjuk beberapa ruangan.
"Nak, kenapa memberitahu semua itu? Kami kan cuma tamu dan bukan tinggal disini." ucap Bu Sonia begitu polos.
Andai saja tidak sedang bersandiwara. Sudah pasti ia mengatakan rumah itu milik putrinya. Yah lagi dan lagi hanya bisa menyimpan kebenaran di dalam hati, tetapi bibir mengatakan apa yang harus dikatakan. "Semoga Allah memberikan rumah yang sama untuk ibu. Jadi nanti tidak bingung lagi kalau mau ke dapur."
"Memangnya rumah seperti ini bisa dibuat sama persis? Bukannya hanya perumahan saja yang seperti itu?" tanya Bu Sonia lebih kritis membuat Danish tersedak.
Jika putrinya memiliki sikap to the point. Sang ibu justru sebaliknya karena memiliki banyak pertanyaan yang logis hanya saja benar-benar speechless. Tak mampu berkata, beruntungnya masih ada Lia yang mau menjelaskan tanpa dimintai tolong.
Langkah kaki terhenti begitu sampai di ruang keluarga. Danish memegang kedua sisi gagang pintu besi, "Selamat datang di rumah," Perlahan mendorong pintu ke depan yang bersambut pemandangan hangat dengan wajah bahagia.
Keberadaan Aira, Arkha, Arsha dan anak-anak panti asuhan membuat Ibu Sonia dan suaminya tertegun sesaat. Keduanya mencoba mengamati isi ruangan yang terasa begitu nyaman tapi sebuah bingkai besar foto keluarga terpasang di dinding sisi kiri menyadarkan akan sesuatu. Tak terasa air mata jatuh membasahi pipi.
"Selamat datang di rumah baru, Bu, Pak." sambut Aira bersama yang lainnya sepenuh hati menyambut kedua orang tua yang selalu menjadi semangat hidup sang pemilik rumah.
__ADS_1