Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 21# Menjadi Penguntit


__ADS_3

Hari ini, kedua gadis itu akan pergi bersama dengan agenda berbelanja. Sebenarnya bukan masalah tidak memiliki gaun untuk acara pertemuan keluarga. Melainkan Aira memanfaatkan waktunya sekedar untuk menikmati udara segar. Maka dengan alibi pergi mencari gaun cukup sebagai izin keluar rumah.


Kedua gadis itu meninggalkan rumah menggunakan motor dengan Lia yang di depan, sedangkan Aira dibonceng. Tanpa mereka sadari diikuti oleh Arkha serta Rudi yang hari ini justru berubah menjadi penguntit. Seorang kekasih hanya ingin tau bagaimana kehidupan wanitanya. Meski dengan cara menjadi pengagum rahasia.



Demi penyamaran yang sukses, Arkha sampai memakai masker, topi dan juga kacamata. Begitu juga dengan Rudi, sehingga tidak mencolok dan mudah dikenali oleh Lia atau Aira. Pria itu juga ingin membelikan sesuatu untuk sang kekasih sebagai hadiah kedua setelah bunga.


Aira menghentikan langkah kakinya ditempat deretan dress, "Lia, bukankah pesan tadi cukup aneh? Tiba-tiba saja ada kiriman bunga ke rumah. Apa menurutmu aku harus datang?"


"Itu memang benar, tapi bagaimana jika penting? Begini saja, bukankah nanti malam calonmu juga akan datang. Jadi minta dia ke tempat yang sama saja. Setidaknya kamu bisa bertemu dengan dua orang yang kita sendiri tidak tahu siapa mereka." balas Lia dengan sarannya, membuat Aira menghela napas pelan.


Tangan hanya sibuk memainkan gantungan beberapa dress tanpa niat ingin mencobanya karena pikiran masih tertuju pada hal lain. "Not bad, baiklah akan ku coba. Nanti malam biar aku telfon ibu minta ganti tempat pertemuan sesuai keinginanku."


Percakapan itu sejenak terjeda ketika Lia memberikan dua gaun agar Aira mencoba, tetapi bukannya ditanggapi justru diabaikan. Melihat itu, Lia mencoba mencari gaun lain untuk sang sahabat. Langkah kaki menjauh, membuat Aira mengalihkan perhatiannya pada deretan gaun di sudut ruangan.


Sebuah gaun cantik dengan warna peach terlihat begitu elegan. Mewah tetapi tidak berlebihan dan untuk acara formal pasti sangat cocok hanya saja letak gaunnya terlalu tinggi. Sehingga ia tak bisa meraihnya. Ingin meminta tolong pada karyawan, sayangnya tidak ada siapapun selain seorang pria yang berdiri jauh dari tempat dia berdiri.


Seakan terpanggil, langkah kaki Arkha berjalan mendekati Aira. Suara lembut yang selama ini hanya terdengar dari balik layar ponsel. Akhirnya dia bisa mendengar secara langsung. Ingin memeluk tubuh sang kekasih tapi hati menahan untuk tetap bersabar karena sebentar lagi akan ada pertemuan.



Aira meminta tolong untuk diambilkan gaun yang ditunjuknya, "Maaf, bisa tolong ambilkan gaun itu, Ka.''



Entah apa yang dikatakan Aira hanya saja arah tangan menuju gaun mempermudah Arkha memahami keinginan sang pujaan hati. Diambilnya gaun indah, lalu diberikan pada wanitanya. Seulas senyum dengan ucapan terimakasih terdengar begitu manis. Meski tak sanggup berucap. Ia membiarkan Aira pergi berlalu keruangan ganti.



Arkha dan Rudi masih stay mengikuti kedua gadis yang ternyata hanya menghabiskan waktu kurang dari dua puluh lima menit untuk berbelanja satu gaun yang dibeli oleh masing-masing. Keduanya langsung berpindah tempat di cafe menikmati jus alpukat segar. Keempat insan itu duduk di meja bersebelahan hanya untuk mempermudah pengawasan.


Jarak meja tidak begitu jauh sehingga membuat obrolan kedua gadis itu terdengar dengan jelas. Obrolan basa-basi yang diselingi canda tawa, tiba-tiba Aira mengeluarkan ponselnya. Gadis itu menghubungi seseorang dengan obrolan serius. Ia meminta untuk orang diseberang untuk membawakan berkas-berkas pekerjaan yang tertunda.


Semua itu karena ketika dirumah tidak bisa bebas. Ia masih ingin menyembunyikan pekerjaan lain yang bisa dianggap sebagai pekerjaan utama. Lia sudah tau semuanya sejak beberapa hari terakhir tapi hanya sekedar saja. Apapun pekerjaannya cukup untuk memberikan kehidupan layak bagi keluarga.


"Ciyee yang super sibuk. Sebentar lagi aku jadi patung nih." celetuk Lia menyindir Aira.


Sindiran yang tidak menyakiti hati karena mereka sudah seperti saudara. "Siapa jadi patung? Jangan khawatir, nanti asisten ku bakalan temenin kamu, kok. Beberapa pekerjaan harus diselesaikan, kamu tahu lah gimana kacaunya aku akhir-akhir ini."

__ADS_1


Lia terkekeh merasa menang, "Santai saja, siapa yang bisa nolak dikasih asisten sebagai bahan godaan? Aku seneng malah."


Lima belas menit kemudian. Seorang pria dengan penampilan kalem datang dengan membawa setumpuk map, membuat Lia terbelalak. Tak lupa mengucapkan salam, baru setelah itu langsung memberitahu deadline setiap berkas yang dibawanya. Aira diam menyimak, sedangkan Lia sibuk menyeruput minumannya.


"Danish, kamu disini temani sahabat ku dan pesan makanan. Kalian bisa makan siang dulu, aku akan bekerja di meja lain. Sekalian pesankan aku cappucino dan antar ke meja sana." ucap Aira beranjak dari tempat duduknya, lalu mengangkut berkas yang harus dikerjakan.


Danish memberikan hormat, "Siap, Boss." Lalu ikut beranjak untuk memesan keinginan Aira dan juga makanan sebagai penghabis waktu bersama sahabat bosnya.


Sementara Aira berpisah tempat dan justru duduk semakin dekat dengan meja Arkha. Gadis itu meletakkan semua berkas ke atas meja, lalu mengambil earphones yang biasa menjadi teman di setiap ingin fokus bekerja. Akan tetapi karena tak ingin melupakan hal yang harus dilakukan, Ia mengirim pesan kepada sang ibu meminta agar pertemuan dipindahkan.


Tangan sibuk membolak-balikan halaman berkas. Sesekali memberikan catatan dan beberapa berkas mendapatkan tanda tangan. Kesibukan Aira yang sesekali menyeruput cappucino, membuat Arkha heran. Sebenarnya Aira tengah melakukan apa?


Ketika sahabatnya dan pria yang baru datang sibuk menikmati makan siang. Justru kekasihnya tenggelam mendengarkan musik serta memeriksa pekerjaan. Bukankah itu aneh? Padahal bisa saja meminta bantuan yang lain. Iya bukan?



Arkha tidak tahu, jika pekerjaan membuat Aira melupakan masalahnya sejenak. Bukan karena tidak bisa membatalkan perjodohan tetapi janjinya terhadap orang tua lebih penting dari apapun. Ia tidak ingin mengecewakan, meski hati masih mengharap akan ada keajaiban di dalam kehidupannya.


Selama satu jam Arkha hanya menatap kesibukan Aira, sedangkan yang ditatap tidak menyadari kehadirannya. Bagaimana bisa gadis itu sangat tenang? Bahkan tidak peduli dengan sekitarnya. Dilihatnya sang kekasih mengambil file terakhir.


Namun tiba-tiba Aira berhenti dengan tatapan mata memandang ke arah lain. Sontak ia ikut mengalihkan perhatian. Dimana seorang anak kecil berdiri seorang diri tetapi wajah imut itu terlihat kebingungan. Aira melepaskan earphones, lalu beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu menghampiri si anak kecil tanpa rasa sungkan.


Anak itu tiba-tiba menunjuk ke arah dalam mall dengan mata berkaca-kaca, "Ibu disana."


Sepertinya anak itu tengah ketakutan. Tak ingin memberikan pertanyaan lagi, direngkuhnya tubuh mungil ke dalam pelukannya. "Jangan menangis, Cantik. Kakak ada, ayo kita makan ice cream. Apa rasa favoritmu? Setelah itu, kita cari ibu."


Anak itu hanya mengangguk. Pelukan dilepaskan tetapi berganti saling bergandengan tangan. Lia dan Danish yang juga melihat itu memilih berpindah tempat duduk dan bergabung di meja kerja Aira. Si anak didudukkan di tempat duduknya. Lalu ia meminta sang asisten untuk memesan ice cream seperti yang diucapkan anak manis.


Danish memesan ice cream rasa Coklat untuk si anak, rasa alpukat untuk Aira, rasa vanila untuk Lia dan ia sendiri memilih diam karena tidak ingin menikmati ice cream. Mereka hanya menunggu pesanan diantar, sehingga bisa duduk bersama terlebih dahulu.


Danish merapikan file agar tidak bercampur menjadi satu dan mengganggu pemandangan. "Bos, apa semua sudah selesai? Jika iya, biar ku bawa ke kantor sekarang."


"Dan, tinggalkan semua file itu! Bantu aku cari ibu anak ini. Seorang ibu harus bertanggung jawab, bagaimana bisa anak sebesar ini ditinggal begitu saja." pintanya menahan kesal karena sikap orang tua yang tidak bertanggung jawab.


Danish tahu betapa sensitifnya sang bos. Bukan karena merasa memiliki kekuasaan tetapi hatinya memang selalu baik. "Tentu, Bos tapi namanya siapa? Supaya aku mudah konfirmasi ke dalam dengan meminta bantuan pak satpam."


"Nak, siapa namamu? Katakan pada kakak ini, nanti ibu diajak kemari." Aira menatap anak itu tanpa rasa ragu, membuat sang anak tersenyum.


"Keisha." jawabnya pelan meski masih terdengar jelas.

__ADS_1


Diusapnya kepala Keisha, "Nama yang cantik seperti wajahmu. Dan, cari baik-baik ibunya. Setelah ketemu langsung bawa kemari. Tidak peduli sedang berbelanja atau melakukan hal lain karena anaknya lebih penting."


Danish yang memahami sikap Aira sehingga langsung pergi mencari orang tuanya Keisha. Hanya berbekal nama dan foto yang baru dia ambil. Pria itu berburu pencarian orang, sedangkan Arkha yang melihat perlakuan Aira terhadap Keisha. Hatinya ikut merasa bahagia karena memiliki kekasih berhati baik.


Padahal ia sudah berpikir Aira mengabaikan sekelilingnya dan ternyata dugaan itu salah besar. Meski tidak memahami apa yang menjadi obrolan. Tetap saja Rudi berusaha menjadi penerjemah secara profesional. Dimana sang pelayan menjelaskan Aira menolong anak itu dan berusaha bersikap sebagai sahabat.


Tiga puluh menit telah berlalu, terlihat Danish datang bersama sepasang pasutri yang terlihat santai saja. Melihat itu, kekesalan di hati mulai memanas. Bagaimana bisa kehilangan anak tapi tidak sadar? Bukankah itu tidak mungkin? Jika waras tentu saja sadar atas kehilangan nyata.



Aira turun dari tempat duduknya. Gadis itu menyambut kedatangan kedua orang tuanya dengan pelukan hangat, "Ayah, Ibu."


"Keisha, apakah benar mereka itu kedua orang tuamu?" tanya Aira memastikan tetapi terdengar menyindir di telinga orang dewasa yang mendengarkan.


Senyum manis tersungging menghiasi wajah Keisha, "Iya, Ka. Ayah dan ibunya Kei,"


"Baiklah tapi habiskan dulu ice creamnya cantik. Setelah itu baru boleh pulang sama ibu dan ayah." ucap Aira berusaha lembut meski tatapan matanya tak bisa berbohong menatap tajam ke arah pasutri yang menundukkan kepala.


Keisha menurut. Gadis itu kembali duduk dan tenang memakan ice cream, sedangkan Aira beranjak. Langkah kaki berjalan menghampiri kedua orang tua Keisha. "Apa kalian melupakan anak sendiri atau sengaja meninggalkan Keisha? Wajah kalian masih muda tapi sudah menjadi pelupa." suara begitu pelan tapi menusuk tepat sasaran.


Orang tuanya Keisha menunduk malu, "Maaf karena kami memang salah. Kami yang sibuk dengan perdebatan dan melupakan Keisha."


"Jika kalian bisa melupakan Keisha hampir satu jam lebih. Apa jaminan anak kalian akan aman? Sanggupkah kalian menanggung akibatnya? Jika sesuatu terjadi pada putri yang masih membutuhkan pengawasan. Dit tempat seramai ini anak kalian sendirian. Sepertinya aku harus membawa kalian ke kantor polisi untuk membuat kalian sadar tanggung jawab kalian." tutur Aira tanpa basa-basi bahkan tidak memberikan kesempatan untuk di sela.


"Maaf, kami tidak akan mengulangi lagi." ucap serempak kedua orang tua Keisha membuat Aira merasa jengah.


Situasi tak bisa diubah, selain berharap tidak akan diulang. Apa yang bisa dilakukan? "Jaga anak kalian baik-baik. Jangan sampai terulang lagi! Anak adalah anugerah dan nyawa kedua orang tuanya." Tak ingin larut menikmati emosi hati, ia memilih kembali mendekati Keisha. "Pintarnya, Kei."


Keisha tersenyum dan masih melihat ice cream miliknya, melihat hal itu Aira tanpa basa-basi menawarkan ice cinta baru. Danish yang memahami kode sang boss dengan cepat melakukan perintah tanpa kata. Digenggamnya tangan Kei seraya mengusap kepala anak gadis itu.


"Keisha saat pergi ke tempat ramai seperti mall. Ingat ya, harus selalu menggandeng tangan ayah atau ibu dan jangan berjalan sendiri. Jika ingin sesuatu bilang pada mereka, paham?" Aira hanya ingin anak itu mulai belajar hal sederhana di saat di luar rumah.


Keisha bangun dari tempat duduknya, lalu memeluk Aira. "Terimakasih, Ka. Kei paham kok."


Aira melepaskan pelukan Kei, lalu jongkok hanya untuk membuatnya bisa sejajar dengan Keisha. Dikecupnya pipi si gadis sebagai salam perpisahan. Disaat bersamaan Danish datang membawa ice cream agar dibawa pulang Keisha.


Aira memberikan ice cream ke Keisha membuat gadis itu mencium kedua pipinya. Lalu berlalu pergi bersama kedua orang tua yang sudah menunggu. Arkha merasa dirinya mencintai orang yang yang tepat. Setelah hari ini, rasa cinta kian tumbuh mekar.


Pertemuan berakhir. Dimana Danish membawa berkas kembali ke kantor, sedangkan Aira dan Lia memilih untuk kembali ke rumah. Sementara Arkha ikut pulang ke hotel dan mempersiapkan kejutan. Namun sebelum ke hotel, pria itu sudah membeli hadiah yang pantas untuk didapatkan Aira yaitu sebuah gelang emas.

__ADS_1


Debaran jantungku menyebut namamu. Apakah rindu ini milikmu? Atau hanya milikku. Kesunyian hadir ketika kamu menjauh dariku, sayang. Kehadiranmu menjadi kebutuhanku. Detakan jantung mengharapkan kasih sayangmu. Datanglah tuk menetap dalam kehidupan fanaku. _Arkha Khan.


__ADS_2