
Kedatangan seorang gadis dengan penampilan begitu ceria, membuat Aira tersenyum tipis. Gadis itu tampak bahagia akhirnya bisa melihat temannya yang datang setelah penantian cukup lama. Yah, hari ini Aira janjian dengan Lia teman SMP karena sang teman meneruskan pendidikan ke jenjang SMA jadi mereka jarang bertemu. Tentu hanya bisa menghabiskan waktu bersama di saat tidak sibuk saja.
Aira menutup buku, lalu beranjak seraya merentangkan kedua tangannya. "It's ok, Aku juga baru nunggu sebentar." Pelukan hangat melepaskan rasa rindu yang terpendam selama beberapa waktu.
Begitu pelukan terlepas. Lia beralih menatap pemuda yang berdiri mematung melihat kebahagiaan sepasang kawan lama. "By the way, kamu siapa? Teman atau pacar Rara?"
"Kamu dateng-dateng bicara ngawur!" Tatapan mata tajam menatap Lia. Sehingga gadis yang baru datang itu nyengir kuda dengan wajah tak bersalah. ''Dia, Alex. Teman duduk aku ada di taman."
Jawaban asal Aira sontak membuat Lia terkekeh. Lucu sekali mendengar gadis dingin mendadak kesal. Raut wajah tak suka jelas mengubah suasana menjadi tak nyaman tetapi itu tidak menjadi alasan untuk merasa dibebani rasa bersalah. Lagi pula ia hanya bertanya dan bukan menyudutkan. Iya 'kan?
"Aku, Alex." Pemuda itu menyodorkan tangannya ke Lia yang disambut hangat.
"Lia. Kenapa kamu disini? Memangnya kamu kenal Aira?" tanya Lia tanpa sungkan tanpa melepaskan genggaman tangannya. Ia tengah mencoba mencari tahu apa yang terjadi karena tidak biasanya sang teman mau dekat dengan seorang lelaki.
Bukan berarti kelainan hanya saja sangat menjaga jarak. Terutama tentang lelaki karena bagi Aira kehidupan bukanlah kisah cinta, melainkan tugas membahagiakan kedua orang tuanya. Maka tidak heran ketika gadis itu selalu memilih sibuk membaca buku, dibandingkan pergi bermain sekedar mencari hiburan bersama teman-teman.
Alex sejenak terdiam, lirikan mata menatap Aira. "Iya, Aku kenal temanmu satu ini tapi hanya selalu menjadi tempat berdiam diri."
"Kasihan sekali, Rara, kamu apakan anak orang?" Lia tertawa renyah menanggapi pengakuan Alex. Ia tahu hasil dari pertemanan lawan jenis bagi seorang Aira. "Sayang, senyum yang manis. Ngapain pasang wajah es batu? Serius deh gak enak dilihatnya."
Lia berusaha membujuk Aira meski tahu tidak dianggap bahkan ikut diabaikan sang teman. Setidaknya ia sudah mencoba. Iya 'kan? Apalagi melihat Alex juga pemuda pendiam sehingga sulit untuk dijabarkan. Apalagi didekatkan. Apa bisa memiliki hubungan lebih dari pertemanan?
Aira memilih kembali duduk, "Kamu mau aku ngapain? Jadi pelawak atau jadi badut?"
__ADS_1
"Ra, kamu ini ... Huft, sabar Lia. Kawanmu satu ini langka. Inget pedoman rumus segitiga biar bisa ngerjain PR nanti malam." gumam Lia bermonolog pada dirinya sendiri sambil mengusap dada agar bisa kembali tenang.
Alex hanya mencoba memahami situasi karena ia seperti di tengah dua sifat yang saling bertolak belakang. Aira yang dingin dan Lia periang. Kedua gadis itu seperti satu koin dua sisi yang menyatu tanpa ada rasa beban hati. Lia yang menyadari diamnya Alex. Ia sadar atas kebingungan pemuda itu.
"Ra, Aku kesana dulu ya." Lia menunjuk sebuah toko, "Mau beli minuman. Kamu pesen apa? Biar tak beliin sekalian tapi biar Alex sama aku. Mager mau jalan sendiri."
Aira bodo amat tetapi lirikan mata sekilas menatap sang teman. "Hmm, terserah. Balik cepat atau aku pulang."
Suara yang terdengar jelas bentuk dari ancaman. Sayangnya Lia tak mau ambil pusing selain mengiyakan apapun perkataan Aira. Tanpa menunda waktu, ia mengkode Alex agar ikut dengannya. Dimana pemuda itu merasa bingung. Ditengah rasa ragu, tangannya sudah ditarik tanpa permisi.
Alex hanya diam dan berjalan mengikuti langkah kaki Lia. Perjalanan tak seberapa lama menjadi momen interogasi. Dimana gadis itu tanpa sungkan bertanya hubungan yang ada di antara si pemuda dengan Aira.
"Kamu ngapain di dekat Rara? Apa kalian cuma teman? Karena Aira enggak cerita kalau punya temen baru cowok lagi, jadi sejak kapan kalian berteman?" Lia menoleh ke samping menatap Alex sungguh-sungguh. Sedangkan yang ditatap bingung merasa canggung.
"Gitu ya? Aku saranin mending cari gadis lain deh. Selain bakal mental, aku khawatir kamu cape aja menghadapi Aira. Dia unik dengan karakter yang susah ditebak. Jadi bisa dikatakan rumit." ucap jujur Lia mengatakan kebenaran yang harus diketahui Alex.
Pernyataan seorang teman tentang temannya terdengar begitu jelas. Entah hati tidak mau paham atau bagaimana? Ia bingung sendiri bahkan lebih tidak tahu harus berbuat apalagi. Niat hati hanya ingin lebih dekat dengan Aira karena gadis itu berhasil mengusik ketenangan pikirannya selama ini.
Diamnya Alex membuat Lia berhenti. Lalu menatap je arah Aira yang sibuk membaca novel. "Coba lihat gadis itu! Kalau kamu tidak sanggup diabaikan, maka percuma mendekati temanku. Dia bukan gadis biasa sehingga seseorang harus jadi sekuat besi dengan keyakinan hati agar masuk dalam kehidupan sederhana si gadis dingin. Masa gitu aja gak paham?"
"Trus, gimana mau paham ucapan Aira? Dia saja sekali bicara bukan seperti orang biasa, tapi penuh teka teki. Bukan cuma fokus yang dibutuhkan karena mengerti makna dan tujuan menjadi dua jalan berbeda." Lia kembali melanjutkan perjalanannya hingga sampai di toko, lalu mengambil minuman. Kemudian membayar, di saat ingin pergi Ia melihat Alex termenung.
Alex masih sibuk dengan pikirannya, sedangkan Lia pergi begitu saja. Gadis itu tak ingin membuyarkan perenungan yang bisa menjadi penentu masa depan. Bagaimanapun Ia mengenal Aira. Yah sudah sewajarnya untuk mempermudah segala sesuatu demi kebaikan bersama.
__ADS_1
"Ra, minum ini dan buku mu biar aku yang baca." Disodorkannya sebotol minuman rasa strawberry seraya mengambil alih buku novel yang berkisah dunia fantasi. "Harry Potter? Masih saja buku tebal favoritmu. Tidak mau coba genre horor atau komedi gitu?"
Aira mengambil minumannya, lalu membuka tutup botol tanpa kesulitan. "Hmm. Pertanyaanmu itu, tidak harus kujawab. Katakan saja, bagaimana sekolahmu? Apa sesibuk itu hingga tiga minggu sekali baru bisa bertemu dengan kawan." Sesekali Ia ingin menggoda Lia sebagai bentuk rindu.
"Hooh, Aku sendiri terkejut dengan jadwal yang panjang mirip jajan lidi itu. Maaf ya karena benar-benar cukup sibuk." balas Lia mengatakan bagaimana keadaan masa sekolah yang memang menyita seluruh waktu untuk adaptasi dengan lingkungan baru.
Aira menganggukkan kepala paham. Wajar saja jika Lia memiliki kehidupan yang sibuk, sedangkan dia hanya bisa berdiam diri di rumah setelah lulus sekolah. Obrolan keduanya diselingi canda tawa. Tanpa sadar melupakan Alex yang masih tenggelam dalam rasa ragu bercampur halu. Pemuda itu tersentak kembali ke dunia nyata ketika mendengar suara celotehan anak kecil yang lewat.
Alex yang sudah sadar tetap diam berdiri di tempatnya. Tatapan mata menatap dari kejauhan bagaimana Aira yang tiba-tiba menjadi sangat hangat bahkan sikapnya tidak dingin kepada Lia. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan hanya saja melihat Aira tertawa. Sungguh jauh berbeda di saat bicara dengannya. Apakah yang dikatakan Lia semua benar?
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa sudah pukul empat sore, membuat Aira mengajak Lia untuk pulang bersama. Kedua gadis itu masih menikmati kebersamaan sampai di parkiran taman. Tak disangka mereka berpapasan dengan Alex yang ternyata berdiam diri duduk di trotoar salah satu sudut tempat parkir.
Aira masih diam dan memilih pergi mengambil sepedanya yang kebetulan agak jauh, sedangkan Lia menghampiri Alex sekedar ingin menegur. "Alex kamu belum pulang dulu? Kirain sudah dari tadi."
"Belum, masih betah aja disini. Kalian mau pulang 'kan? Gimana kalau aku antar saja." tawarnya setengah bercanda, membuat Lia tersenyum simpul.
Gadis itu menggelengkan kepala pelan, "Tidak perlu karena masih ada yang nemenin Aku. Lagian kami ingin bersepeda sebelum balik ke rumah."
"Ouh begitu ya, kalau boleh Aku minta nomor sahabat kamu. Bisa tidak?" tanya Alex ragu tetapi jujur saja sudah tidak memiliki ide lain lagi. Ia tak mengharapkan lebih tetapi Lia meminta ponselnya menuliskan sesuatu tanpa kata.
Ponsel dikembalikan, "Itu nomor ku. Simpan saja dan nanti akan ku coba tanya pada Aira. Sudah dulu, Aira datang." Lia bergegas menghampiri Aira yang kian mendekat. Langkah kaki keduanya meninggalkan taman dengan seperti masing-masing hingga keluar gerbang.
Ditatapnya barisan digit angka yang tak diharapkannya. Andai itu nomor Aira, sudah pasti menjadi hari bahagia setelah mengetahui nama sang gadis pujaan seperti waktu yang telah berlalu. Namun yang bisa dilakukan saat ini hanya tetap sabar tanpa harus memaksa perubahan arah angin.
__ADS_1