Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 38#Pertemuan


__ADS_3

Ibu Sonia, Aira dan Lia serempak menjawab salam, lalu mempersilahkan wanita itu untuk ikut duduk bersama mereka. Terlihat begitu polos bahkan dengan penampilan hijab semakin anggun. Apakah dia yang dimaksud oleh ayah Rei? Sepertinya begitu.


"Nona namanya siapa?" tanya Ibu Sonia hanya ingin membuat suasana tidak setenang air lautan yang ada di depan sana.


Gadis itu tersenyum manis dengan tatapan mata lembut yang mengagumkan. "Jihan, Bu. Apa ibu ini tantenya Rei?"


"Bukan, Nak. Saya ibunya Aira," Ibu Sonia menunjuk ke arah Aira yang ternyata tengah fokus memeriksa berkas di ponsel, "Kalau Rei itu sahabat anak saya dan Lia."


Lia mengulurkan tangan dan disambut oleh Jihan dengan hangat. Obrolan kecil berlanjut tetapi hanya Aira yang sibuk sendirian. Gadis satu itu bahkan pamit undur diri untuk melakukan panggilan darurat urusan pekerjaan. Sehingga meninggalkan ketiga wanita yang asyik ngobrol.


"Okay, aku akan urus semuanya tapi pastikan semua beres seperti yang kuminta dan ya. Jangan buat kesalahan apapun karena ini menyangkut masa depan orang-orang yang kusayangi." putus Aira mengingatkan orang diseberang untuk menuntaskan pekerjaan yang baru saja diberikan.


Entah kenapa masa lalu kembali dalam bentuk yang berbeda. Niat hati ingin damai tanpa memikirkan apa yang sudah terjadi tapi setelah melihat Danish sedih hanya karena percintaan tak sehat. Tentu ia harus bertindak dengan cepat. Bukan bermaksud sok melainkan mengantisipasi hati agar tidak semakin terluka.


Yah, ia sengaja langsung menyewa seseorang untuk melakukan pekerjaan menjadi mata-mata dengan tujuan mencari informasi kehidupan Mawar sejak bersama Alex hingga hari ini dan juga tentang hari esok. Semua bukti yang bisa didapat, maka harus dijadikan satu. Salahkah peduli para asisten sendiri?


"Sebagai seorang bos bisa saja memberikan perintah pekerjaan, lalu sebagai seorang adik harus melakukan apa? Yah hanya tanggung jawab menunjukkan jalan pulang yang benar. Danish pantas mendapatkan kebahagiaan karena selalu menjadi pria sederhana bahkan memikirkan kebahagiaan orang lain terlebih dulu."


Tatapan mata menatap jauh ke depan. Dimana tenangnya air lautan sebiru langit lazuardi. Indah memikat tetapi bisa menenggelamkan. "Kehidupan memang selalu menjadi misteri. Apalagi jodoh, yah seperti yang terjadi pada takdir setiap insan. Sudah digariskan."


Menikmati pemandangan alam yang indah tentu semua orang suka. Aira juga salah satunya. Gadis itu akan selalu terbuai pada deburan ombak yang terpecah menghantam karang. Sepoi angin berembus menghantarkan aroma kesegaran khas. Di atas langit sana burung-burung beterbangan menghias angkasa.


Sudah lama tidak duduk sembari mendengarkan musik kesukaannya. Jadi ia duduk beralaskan rumput liar yang sudah diperiksa tidak akan menyakitinya, lalu mencari musik yang enak untuk di dengarkan. Kali ini lagu dari Kumar Sanu tetapi dinyanyikan oleh Darshan Raval menjadi pilihan hatinya. Suara irama melodi dengan lagu yang lembut menambah suasana menjadi semakin damai.


Ae Kaash Kahin Aisa Hota


-Akan menjadi luar biasa


Ke Do Dil Hote Seene Mein


-Jika kita memiliki dua hati dalam dada


Sach Kehte Hai


-Itu kebenaran


Sach Kehte Hai Log Ke Peekar


-Orang mengatakan kebenaran, setelah minum


Rang Nasha Ban Jaata Hai


-Warna berubah menjadi mabuk

__ADS_1


Koi Bhi Ho Rog Yeh Dil Ka


-Penyakit apa pun yang mungkin dipertahankan hati


Dard Dawa Ban Jaata Hai


- Rasa sakit berubah menjadi obat


Aag Lagi Ho Is Dil Mein Toh


-Jika ada api di hatimu


Sepenggal lirik yang sangat menyentuh ketika mengetahui artinya. Akan tetapi tiba-tiba suara lagu terdengar lebih lirih dibandingkan suara nyanyian dari arah belakangnya. Suara yang sangat familiar bersambut dekapan hangat dari samping. Arkha begitu fasih menyanyikan lagu yang sama.


Aira tak sungkan memberikan tepuk tangan, "Teruskan, mau lagu yang lain?" tawarnya membuat Arkha mengusap kepalanya dengan gemas. "Jangan berantakin rambutku atuh."


"Kenapa duduk di sini sendiri hmm? Kan bisa tunggu aku jadi duduk berdua seperti sekarang." tegur Arkha tak suka melihat istrinya sendirian di tempat yang memang tampak sepi.


Bukannya menjawab, Aira justru merebahkan kepalanya bersandar pada bahu sang suami. Tatapan mata terpejam menikmati semilir angin yang menyapa menyentuh wajahnya. Dingin, segar mengingatkan akan ketenangan itu sangat diperlukan. Apalagi ketika pikiran mulai di serang masalah tanpa antrian.


Sementara di saung. Rei terlihat hanya menyimak obrolan semua orang tapi tidak sekalipun melirik ke arah Jihan, sedangkan wanita itu sesekali mencuri pandang mencoba mengenali wajah sang calon suami. Meski pertemuan pertama ditemani banyak orang. Nyatanya tak mengubah kenyataan yang ada.


Tak terasa waktu sudah semakin sore tetapi mereka hanya duduk berdiam diri tanpa menikmati perjalanan bahkan belum melakukan sesi foto bersama. Lia yang mengingatkan sudah pukul tiga sore membuat Arsha bergegas mencari kakaknya yang ternyata masih duduk menemani sang kakak ipar yang terlelap.


Kepergian Arsha membuat Arkha disibukkan menjaga Aira. Pasutri itu tampak begitu menikmati waktu kebersamaan mereka, sedangkan yang lainnya menikmati jalan-jalan sekaligus berfoto bersama. Jihan yang ikut hanya bisa berdekatan dengan Lia. Rasanya seperti yah lebih ke pertemuan keluarga dan bukan pertemuan pribadi.


Selama satu jam beberapa tempat spot foto didatangi sampai lelah merasakan tenggorokan kering barulah mereka berhenti. Cukup menjadi pengalaman dengan pemandangan yang tak terlupakan. Pasti hati ingin datang berkunjung kembali suatu saat nanti. Setelah puas dengan semua yang menjadi tujuan. Semua kembali ke saung tetapi tidak ada siapapun.


"Bos sudah di mobil karena lelah, jadi sebaiknya kita pulang sekarang. Ayo!" Danish mengajak semua berpindah ke parkiran karena Arkha mengirim pesan menunggu di dalam mobil sebab Aira sibuk menikmati alam mimpi.


Rombongan itu menghampiri mobil masing-masing tetapi Rei menyempatkan diri bertanya pada Jihan agar tahu gadis itu naik apa hingga sampai ke pantai Menganti. Ternyata Jihan menggunakan ojek langganan yang sudah pulang duluan karena ayahnya mengatakan untuk pulang bersama saja.


"Lia, kamu ikut denganku!" seru Rei tanpa sungkan menatap ke arah sebuah mobil yang hampir dimasuki sahabatnya itu. "Kuharap kamu tidak keberatan karena wanita yang berhijab pasti menjaga dirinya sendiri dan tidak ingin hanya berduaan bersama yang bukan muhrim."


Sebagai seorang wanita berhijab memang menjalankan banyak adab serta ketentuan yang berlaku. Termasuk menjaga diri dari godaan syetan yang seringkali nyolong tanpa permisi membisikkan tindak kecurangan.Sebagai wanita muslimah maka tidak berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki bukan mahramnya.


Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Tidaklah seorang wanita itu berkhalwat dengan seorang laki-laki, kecuali setan menjadi pihak ketiganya” (Riwayat Ahmad)


Dia dilarang bepergian jauh kecuali dengan mahramnya, sebagaimana pula dia tidak boleh menghadiri pasar-pasar dan tempat-tempat umum kecuali karena mendesak. Itupun harus berjilbab. Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:


Artinya: “Seorang wanita dilarang mengadakan suatu perjalanan sejarak sehari semalam keculai disertai mahramnya” (Mutafaq Alaih)


Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Diizinkan bagi kalian keluar rumah untuk keperluan kalian (wanita)” (Mutafaq Alaih)

__ADS_1


Perintah agama untuk para wanita muslimah agar menjadi wanita sholehah yaitu mengenakan hijab sebagaimana yang tercantum pada ayat dengan terjemahan seperti di bawah ini.


Artinya: “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab:59)


"Tentu saja tidak karena itu juga yang saya harapkan." jawab Jihan lugas tanpa menatap Rei.


Akhirnya Lia berpindah mobil dengan duduk di sebelah Rei sedangkan Jihan memilih di belakang. Perjalanan pulang dimulai. Anehnya hanya ada keheningan hingga rasa bosan melanda membuat Lia memainkan ponselnya. Gadis itu merasa tak nyaman dengan situasi yang ada.


"Lia sejak kapan kamu main game?" tanya Rei tanpa menoleh ke samping karena harus fokus ke jalanan tapi yang ditanya hanya melirik sekilas tak ingin memberikan jawaban.


"Ketika ada yang bertanya hendaklah untuk menjawabnya." tegur Jihan tanpa sungkan mengingatkan hanya saja gadis itu tidak menyadari suasana hati Lia benar-benar tengah kacau.


Teguran yang nylekit seketika menohok hatinya. "Jika orang tidak menjawab berarti lagi bosan bicara. Jadi peka saja! Siapa yang mau sabar, ya sabar kalau gak mau, ya sudah." Ditekannya tombol volume hingga semakin terdengar keras suara dari permainan yang tengah dimainkan.


Sikap tak biasa Lia menarik perhatian Rei karena selama ini gadis satu itu selalu santai seperti di pantai. Jangankan marah, berbicara ketus saja bisa dihitung jari. Sekarang yang jadi tanda tanya adalah apa yang terjadi dan kenapa menjadi seperti itu? Padahal semua terlihat baik-baik saja.


"Lia, are you okay?" tanya Rei sekilas melirik ke arah sang sahabat yang terlihat fokus memainkan game tapi ia tahu bahwa gadis itu seperti Aira yaitu bosan memainkan game.


Helaan napa panjang seraya meletakkan ponsel tanpa keluar dari permainan. Lia menurunkan jendela kaca mobil membiarkan semilir angin sore menerpa wajahnya. "Fokus saja nyetirnya! Aku cuma mau diem."


"Baiklah, jangan julurkan tanganmu keluar." ucap Rei dengan perhatian kecilnya sebagai sahabat. Pria itu tak sadar ada Jihan yang memperhatikan interaksi keduanya seakan tengah saling marahan.


Ia tidak tahu, apakah kedua insan itu hanya sekedar bersahabat atau memiliki status lain yang biasanya disembunyikan. Yah kenyataan itu terkadang jauh dari pemahaman singkat. Sesaat pikiran melalang buana mencari kesimpulan tanpa arah arah tujuan yang jelas. Ia yang seharusnya mencoba mengenal Rei, justru berada di posisi serba salah.


Sementara di mobil lain hanya ada ketenangan. Apalagi di mobil Arsha dan Danish. Kedua pria itu tidak melakukan obrolan apapun selain mendengarkan berita dari radio yang diselingi oleh request musik dari para penelepon sang penggemar penyiar radio. Lagu-lagu yang tidak dipahami tetapi enak didengarkan.


"Dan, apa Lia punya kekasih?" tanya Arsha tiba-tiba mengalihkan fokus Danish dari jalanan. Sesaat menoleh ke arah samping menatap adik ipar bosnya yang tampak kalem selama ini. "Aku cuma tanya, kenapa dilihatinnya begitu banget."


"Setahuku tidak, tapi coba tanya orangnya langsung. Selama kenal gadis itu, tidak sekalipun membicarakan pria. Justru yang ada hanya soal makanan, pekerjaan atau belanja. Kupikir dia suka seseorang." jelas Dan membuat Arsha manggut-manggut seolah paham saja.


Meski Danish menggunakan bahasa Inggris yang fasih. Tetap saja ia masih belajar memahami setiap kata yang diucapkan karena ia tak sepintar kakaknya yang memang lebih sering berbahasa asing. Obrolan kembali dilanjutkan tetapi beralih pada destinasi wisata yang bisa menambah ilmu pengetahuan.


Perjalanan panjang dilewati selama beberapa jam hingga suara adzan magrib terdengar berkumandang sedangkan mereka baru sampai daerah kota sebelah yang dikenal dengan kota Gombong. Danish meminta Arsha membuka ponselnya karena ia tak ingin diganggu dan ternyata pesan singkat dari Aira yang meminta mereka semua untuk berhenti di masjid terdekat.


Tiga mobil dengan merk tetapi warna sama terparkir berjejer rapi tanpa menyisakan ruang kosong untuk mobil lainnya. Satu per satu turun untuk menunaikan ibadah sholat berjamaah di sebuah masjid kota. Ibadah wajib yang mereka lakukan untuk mendapatkan pahala dari Sang Maha Pencipta.


Dua puluh menit kemudian, satu per satu keluar dari masjid dan kembali berkumpul di dekat tempat parkir mobil mereka. Aira yang terus di jaga Arkha hanya bisa pasrah memiliki suami posesif, "Mas, mau pulang atau makan di luar saja? Pasti sudah lelah kalau sampai rumah nantinya."


"Bos, sebenarnya di dekat sini ada cafe temenku. Kenapa tidak makan disana saja? Selain berbagi rezeki, kita juga bisa silaturahmi. Bagaimana?" ujar Danish memberikan saran yang diterima oleh semua orang.


Semua kembali ke mobil masing-masing seperti sebelumnya, lalu mobil melaju meninggalkan area pelataran masjid. Perjalanan kali ini Danish yang berada di depan dan benar saja hanya memutari satu block sudah memasuki pelataran sebuah cafe modern dengan tulisan wisata kuliner Indonesia Celin.


"Selamat datang di cafe WKI Celin," sambut penjaga dengan pakaian badut panda begitu ramah.

__ADS_1


__ADS_2