Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 37#Ungkapan Hati


__ADS_3

Gadis yang ia pikir hanya seorang gadis rumahan dengan berjualan dirumah. Ternyata seorang pebisnis dan memiliki nama yang banyak dilirik oleh pebisnis lain. Padahal masih terbilang baru, dia saja yang mendirikan usaha lebih dulu harus mengakui keberhasilan Aira yang memang mumpuni.


"Ra, apa kamu serius? Ini gak bercanda 'kan?" Rei masih kebingungan, bukan karena tidak percaya pada sahabatnya tetapi ia hanya terkejut bukan main.


Reaksi tak terduga Rei, membuat Aira tersenyum tipis. "Lupakan soal itu, ayo kita makan bersama. Ibu dan bapak juga ada disana." Langkah kaki bersiap meninggalkan tempatnya berdiri tiba-tiba Rei menahan tangannya. "Ada apa?"


"Salahkah aku begitu mencintaimu? Ra, sejak awal pertemuan kita. Disitulah aku mulai tertarik denganmu. Awalnya hanya suka, lalu mulai ingin mengenal hanya saja hubungan kalian membuat ku mundur. Alex sahabatku dan tidak mungkin menjadi pengkhianat.


"Kedua kali aku jatuh cinta ketika menyadari Alex melukaimu dan hati ini tak bisa merelakan itu. Apakah aku munafik? Menjadikan status sahabat sebagai alasan untuk dekat denganmu hingga waktu membuat jarak diantara kita.


"Rasanya sangat hampa bahkan tak kuasa untuk bangkit. Yah, aku terlalu sering merindukanmu tanpa ada hak untuk memilikimu. Rasa yang kuanggap kebahagiaan hingga waktu mempertemukan kita lagi di tengah malam.


"Malam itu seharusnya menjadi malam kita tetapi berubah menjadi malammu bersama Arkha. Aku pikir bisa menjadikanmu sebagai pendamping hidupku ternyata takdir berkehendak lain. Jodohmu dia dan bukan aku.


"Lalu sekarang, kemana hati ini akan kubawa? Aku lelah terus berlari di antara kenyataan dan impian semu. Aku tahu, kamu tidak memberikan harapan apapun dan selalu menjadikanku sebagai sahabat. Kali ini saja, biarkan semua yang tersimpan di dalam benak pikiran dan lubuk hati tertuang melalui ungkapan kata.


"Apakah aku mencintaimu atau hanya sekedar mengagumimu? Kupikir, jika kagum tidak akan sampai di titik sekarang. Maaf ya, karena mungkin setelah ini kamu menganggap aku sama seperti pria lain di luar sana." Rei menyudahi semua keluhannya yang menjadi kelegaan hati.


Jujur saja, rasa yang selama ini hanya bisa dibatin tiba-tiba diungkapkan membuat jantung kembali berdetak dengan normal. Lega seperti semua beban terangkat dari pikiran, sedangkan Aira hanya bisa menghela napa pelan mencoba menerima semua kenyataan tersebut dengan berpikir positif.


"Semua orang berhak jatuh cinta, Rei. Cinta itu tidak salah tetapi terkadang waktu, tempat dan tujuan bukanlah takdir kita. Tak peduli seberapa jauh hati kita mencintai seseorang. Jika memang jodoh pastilah bersatu. Seperti hubunganku dan Arkha yang beda negara.


"Perbedaan budaya dan latar belakang. Kamu pasti paham maksudku 'kan? Allah menjadikan kami jodoh sebagai pasangan di dunia sehingga semua urusannya dipermudah. Itu pasti yang terlihat tapi apa kamu tahu sebenarnya tak semudah itu.


"Kehidupan menuntun untuk kita berjuang. Arkha berusaha mendapatkan restu keluarga terutama orang tua hingga hampir satu bulan hilang tanpa kabar. Itu cobaan yang membuat beberapa pekerjaanku berantakan. Bisa saja aku terbang ke Pakistan tetapi sebagai seorang wanita ingin tetap menjaga kehormatan.

__ADS_1


"Pada akhirnya aku harus menyetujui untuk dijodohkan tetapi di malam yang sama kami dipertemukan. Aku tidak menyangka dia datang tanpa memberitahu dulu. Kamu tau bagaimana kelanjutannya. Yakinlah jika jodoh kita tidak tertukar. Suatu saat nanti kamu akan bertemu jodohmu sendiri." tutur Aira menyudahi ungkapan hatinya membuat Rei tersenyum tulus.


Obrolan kedua insan itu tak luput dari telinga seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Tak terasa setetes air mata membasahi pipi, "Pantas saja aku tidak pernah dianggap ternyata dia mencintai sahabatku sendiri. Lia, sabarlah karena jodoh tidak mungkin salah jalan."


Buru-buru Lia menghapus air matanya seraya menatap hati. Menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan. Berharap sensasi panas yang terus menyeruak ingin menghantarkan air mata. Ikhlas itu ternyata tak semudah saat diucapkan.


Langkah kaki berjalan menghampiri Aira dan Rei. "Guy's, kalian gak laper, ya? Hayuk, kita semua nungguin loh."


"Astagfirullah, sampai lupa. Ayo!" Aira menggandeng tangan Lia tetapi meninggalkan Rei yang hanya bisa menggelengkan kepala dengan langkah berjalan mengikuti kedua sahabatnya.


Liburan hari ini berubah menjadi pengungkapan isi hati yang sudah terpendam sejak lama. Rasanya seperti membuka buku diary tetapi bagi Rei dan Aira merupakan keterbukaan yang patut dihargai. Hubungan mereka tidak berubah menjadi canggung justru lebih dekat sebagai keluarga.


Suara canda tawa menyelimuti sesi makan siang bersama ditemani sepoi angin. Terlihat seperti keluarga harmonis dengan banyak anggota yang saling mengasihi. Akan tetapi di antara semua orang hanya Danish seorang yang terdiam tanpa ingin ikut campur apapun selain menyuapi makanan hambar.


Aira memperhatikan bagaimana asistennya bertingkah, begitu juga dengan Rei yang menyadari diamnya Danish pasti karena memikirkan Mawar. Ternyata orang jatuh cinta selalu memiliki ujiannya sendiri. Satu sisi dia mencintai gadis benar tetapi bukan jodohnya, sedangkan di sisi lain Danish mencintai gadis yang memiliki tabiat akan menjadi bahan peledak.


Piring milik Danish masih berisi separuh makanan, sedangkan yang lain sudah hampir habis bahkan Arsha baru saja nambah lagi. Aneh sih, padahal setahu dia, asisten Aira kalau makan tidak sedikit. Meski ya tidak menambah berat badan juga hanya saja terlihat aneh karena tidak biasanya.


"Sayang, mau tambah?" tawar Arkha mengalihkan perhatian Aira yang menggelengkan kepala.


Acara makan kembali dilanjutkan tanpa ada obrolan hingga tiba-tiba terdengar suara dering ponsel dari salah satu benda pipih yang tergeletak di samping Rei. Akan tetapi tangannya sudah kotor semua karena menikmati ayam bakar saus padang. Bingung bagaimana caranya mengangkat telepon tapi dilayar tertera nama sang ayah.


"Ra, boleh tolong angkatin telfonku? Tanganku kotor." pinta Rei tanpa maksud apapun membuat Aira mengambil ponsel yang memang masih berdering. Lalu menerima panggilan, kemudian mendekatkan ke telinganya. "Assalamu'alaikum, Yah."


[Waalaikumsalam, Nak. Kamu dimana? Ayah kan sudah bilang buat ketemu calonmu di pantai. Jangan bilang kamu gak dateng.]~cecar Ayahnya dari seberang seketika mengingatkan Rei akan tujuannya datang ke pantai Menganti.

__ADS_1


"He-he-he, maafin Rei, Yah. Aku lupa soal itu tapi beneran sudah di pantai kok. Sebaiknya ayah kirim nomornya ke aku saja, biar bisa ketemuan." balas Rei tak ingin menjadi anak durhaka karena menentang permintaan kecil sang ayah.


[Ayah langsung kirim, kamu hubungi dia. Kasian gantungin anak orang.]~ucap Ayah langsung mematikan sambungan telepon, lalu tak lama kemudian terdengar dering notif pesan masuk.


Lagi-lagi Rei meminta tolong Aira untuk mengirim pesan pada nomor yang baru dikirimkan sang ayah. Pesan singkat yang meminta si pemilik nomor untuk datang ke saung tempat mereka berada. Tampaknya pria itu sengaja agar tidak melakukan pertemuan seorang diri.


"Aku cuci tangan dulu, kalian lanjutkan." ujar Rei turun dari saung tetapi disusul Arkha dan juga yang lainnya.


Aira yang makan menggunakan sendok aman tanpa harus cuci tangan hanya saja mengelap jemarinya menggunakan tisu basah, begitu juga dengan Lia dan Ibu Sonia. Danish yang sudah tidak berselera makan menyudahi makannya, lalu ikut pergi cuci tangan menyusul para pria kecuali Arsha.


Pria satu itu santai seperti di pantai, ya memang lagi di pantai sih. Makannya begitu dinikmati tanpa memikirkan gangguan di sekitarnya seakan yang lain hanya angin lalu. Senang rasanya ketika melihat ada yang seperti itu karena lebih baik makanan dihabiskan daripada mubazir.


"Lia, kamu kenapa sedih?" Tatapan mata sendu sahabatnya tidak bisa tersingkirkan meski senyuman terus tersungging menghiasi bibir. "Ada masalah di pekerjaan atau sudah mulai naksir cowok?"


Tebakan yang tidak jauh dari fakta kehidupan. Akan tetapi bagaimana mengatakan pada Aira bahwa pria yang berhasil mencuri hatinya adalah Rei. Sementara pria itu mencintai sang sahabat bahkan tidak sekalipun melirik ke arahnya. Lalu kini akan ada wanita lain yang masuk tanpa permisi karena permintaan ayah dari si pria.


Jelas sekali panggilan tadi cukup mengusik ketenangan pikirannya. "Aku baik, Ra. Cuma panas aja cuacanya jadi agak malas."


Alibinya sudah cukup tepat karena keadaan memang begitu adanya. Meski Aira hanya ber oh ria. Gadis itu hanya ingin memberikan hak privasi bagi sang sahabat agar mau jujur ketika merasa sudah siap. Sementara di tempat cuci tangan, para pria berebut sabun cair seperti anak kecil.


Entah siapa yang memulai tapi kelakuan mereka jadi tontonan pengunjung lain. "Anak zaman sekarang pada kagak punya mainan kali ya."


"Ganteng sih, tapi kenapa malah jadi tontonan gara-gara kek anak kecil sih. Jadi pengen ngarungin bawa pulang." sahut pengunjung lain.


Kehebohan itu tak luput dari perhatian seorang gadis berhijab yang hanya tersenyum simpul, lalu beranjak dari tempat keramaian. Langkah kakinya berjalan terus menyusuri setapak hingga melihat saung yang dikirim oleh seseorang melalui pesan singkat.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, maaf apa bener disini ada Rei?" tanyanya begitu sopan sembari mengucap salam.


__ADS_2