
Setelah memberikan ucapan selamat. Alex turun begitu juga dengan Rei sedangkan Arkha yang masih tidak paham hanya tersenyum membiarkan tamunya pergi meninggalkan panggung. Kedua pria itu berjalan beriringan tetapi jarak hubungan mereka semakin renggang sejak Aira terluka.
Alex berbalik menghadap ke arah Rey yang mengikutinya, "Bisakah kamu berteman lagi denganku? Aku tahu, disini semua karena egoku saja. Apa kamu tidak mau memaafkan teman lamamu?"
"Selama kamu tidak melukai Aira lagi." ucap Rei memastikan terlebih dulu niat Alex.
Alex menundukkan kepala, ia tahu benar betapa terluka dan tersiksanya Aira atas ego yang diutamakan. "Rei, aku tidak ingin memberikan luka baru. Niatku hanya untuk meminta maaf dan berharap kebahagiaan untuk wanita yang bisa menjadi gadis dewasa."
"Sebaiknya kita duduk, lalu bicara sebagai laki-laki, ayo!" ajak Rei tak ingin menjadi tontonan karena mereka bisa menghalangi orang lain yang ingin mengucapkan selamat pada pasangan.
Keduanya memilih duduk di sudut dan saling berhadapan. Sesaat terdiam mengatur kata di dalam pikiran agar tidak salah bicara. Apalagi setelah lama terpisah karena masalah Aira. Jujur saja kedua pria itu tidak lagi dekat.
Tiba-tiba Rei mengulurkan tangan, "Mari berteman, lagi. Kurasa masa lalu untuk dijadikan pelajaran dan bukan untuk di genggam. By the way bagaimana kehidupanmu sekarang? Kenapa gak bawa istrimu. Kalian sudah nikah kan?"
Pertanyaan itu seketika menghadirkan kekehan pelan. Ingin sekali berkata bagaimana roda waktu berputar tetapi semua adil dalam cinta dan perang. Garis takdir yang dipertemukan waktu akan selalu terulang hingga kembali ke titik semula.
"Rei, kamu pergi terlalu lama sampai tidak tahu hubungan kami sampai mana. Alam masih memberi tabur tuai." ujar Alex setelah menghentikan kekehannya.
Sebenarnya apa maksud dari Alex? Bingung karena tidak peham sehingga hanya menatap sang teman dengan tanda tanya yang membuat Alex membenarkan posisi duduk seraya menghela napas panjang. Suara deru napas terdengar begitu lelah.
__ADS_1
"Semua tidak sesuai dengan harapan. Mawar tidak seperti Aira. Meskipun Aira dingin tapi dia tahu cara menjalani serta menjaga hubungan, sedangkan Mawar? Gadis itu sangat suka bermain." Pikiran melayang menikmati ingatan yang bergulir di dalam kepalanya.
"Mawar bertunangan denganku agar bisa bebas dari peraturan keluarganya bahkan terlalu sering mengatasnamakan aku sebagai alasan untuk jalan. Dia sering bepergian dengan pria lain tetapi izin dengan kedua orang tua, pergi denganku. Sampai suatu hari kedatanganku yang mendadak untuk memberikan oleh-oleh dari bunda berhasil menguak satu kebenaran.
"Aku ingat selama satu minggu pergi ke luar kota bersama bunda dan saat pulang, aku diminta mengantar oleh-oleh. Kedua orang tua Mawar senang melihatku tapi saat aku duduk, tiba-tiba mereka tanya keberadaan Mawar. Bagaimana aku tahu? Kami saja tidak memiliki janji temu.
"Jadi aku tanya balik, apa Mawar tidak dirumah. Jawaban yang kudapat sangat mengejutkan karena Mawar pamit jalan bersamaku. Meski tidak di jemput, tetap saja dengan menggunakan namaku sudah cukup izin diberikan. Tentu saja situasi seperti membingungkan.
"Tanpa ingin membuat masalah. Aku berterus terang jika selama seminggu berada di luar kota bersama bunda bahkan Mawar sangat jarang menghubungi selama kami berjauhan. Melihat keraguan dimata mereka, ponsel kujadikan sebagai bukti. Komunikasi yang bisa dihitung jari memperjelas segalanya.
"Kami dibuat bingung karena Mawar selalu izin ke luar setiap hari. Akhirnya kesepakatan terjadi yaitu melakukan pencarian bukti nyata. Rencana yang sempurna dibuat hanya untuk tahu kegiatan Mawar selama di luar rumah. Hanya dalam waktu tiga hari, semua terpampang begitu jelas di depan mata.
"Disaat Mawar pergi dengan laki-laki lain. Ayahnya menyuruh seseorang sebagai penguntit dan bertugas mengambil semua gambar serta informasi yang bisa di dapatkan sedangkan aku hanya boleh duduk di ruangan khusus ditemani orang tua gadis itu. Pada hari ke-tiga kami semua memutuskan untuk mengikuti Mawar.
"Kami melihat pergulatan ranjang yang tidak pantas untuk di tonton. Yah Mawar tengah memberikan kepuasan pada pria lain yang entah datang darimana. Bunda tak ingin memiliki menantu seorang wanita murahan jadi pertunangan dibatalkan saat itu juga." pungkas Alex menyudahi ceritanya.
Rei ikut merasa sakit karena tak menyangka karma yang didapatkan Alex lebih menyadarkan keegoisan itu tidak baik untuk dipelihara. "Sabar ya, lalu apa sekarang sudah ada penggantinya?"
"Nanti saja, sulit mencari wanita dengan kedewasaan seperti Aira. Kamu tahulah maksudnya." balas Alex menyunggingkan seulas senyum keikhlasan.
__ADS_1
"Jangan mulai deh, masih banyak wanita di luar sana. Semua hanya masa lalu. Jadi lanjutkan hidupmu. Lihatlah dia tersenyum bahagia dengan binar mata indah." tutur Rei mengalihkan tatapan mata ke arah panggung membuat Alex memaksakan diri untuk tetap semangat.
Aira terlihat bahagia dengan pilihan yang menurutnya memang jauh berbeda dirinya dalam segi apapun. "Aku tahu, dia pantas bahagia. Ternyata melupakan orang yang tulus begitu sulit."
Obrolan kedua teman lama berangsur-angsur santai tanpa ada tekanan. Satu per satu tamu mulai meninggalkan kediaman Aira tetapi pasutri itu memutuskan untuk menginap di hotel yang sama dengan tempat adik mempelai pria tinggal. Selama beberapa hari hanya sekedar menikmati masa pernikahan sah.
Malam pengantin yang selalu diharapkan dengan berbagi cinta untuk pasangan baru. Justru menjadi keheningan karena Aira terlihat larut dalam pemikiran sendiri bahkan tidak mendengar panggilan Arkha. Sang pria berjalan menghampiri istrinya, lalu menyentuh pundak gadis itu.
"Istriku, apa yang terjadi? Kenapa tidak mendengar panggilanku. Apa yang kamu pikirkan?" tanya Arkha mencoba mencari tahu masalah yang dimiliki istrinya.
Tatapan mata mengerjap. Ia baru menyadari keberadaan suaminya. Tubuh yang berdiri di hadapan menjadi sandaran sebagai tempat ternyaman bersambut usapan lembut di kepala. "Maaf, Rain. Beberapa hal tiba-tiba saja datang ke dalam pikiran dan aku tidak bisa mencegahnya."
"Katakan apa yang mengusik pikiranmu? Aku ingin istriku tersenyum dan tenang." tanya Arkha benar-benar penasaran melihat wajah manis istrinya tertutup awan mendung.
Melepaskan pelukan, lalu menarik tangan sang suami agar duduk di sebelahnya. Pasutri itu duduk berdekatan tapi Aira masih terdiam sedangkan Arkha menatap wanitanya seraya menunggu ucapan yang akan menjadi jawaban setelah kesunyian.
Perlahan Aira menjelaskan kisah masa lalunya. Tentang Alex yang menjadi kekasih pertama tetapi dia memastikan tidak mengundang sang mantan ke acara pernikahan. Ia juga mengatakan telah memaafkan serta melupakan semua itu hanya saja tidak memungkiri luka masih bisa terasa.
Cerita singkat tapi tepat sasaran membuat Arkha membimbing istrinya agar duduk menghadap ke arahnya. Tatapan mata saling terpaut menenggelamkan diri dalam kepercayaan. "Aira, semua itu hanya masa lalu dan tertinggal di belakang. Tidak satupun akan datang ke masa depan.
__ADS_1
"Aku tahu, hati masih bisa merasakan lukanya tapi aku disini untuk menjadi obatmu. Hatimu akan melupakan rasa sakit itu, sekarang kita ada untuk saling mencintai. Semua masalah bisa kita selesaikan bersama. Aku sangat mencintaimu, istriku Aira Khan." sambung Arkha lalu membenamkan kecupan hangat di kening wanitanya.
Tubuh yang lelah hanya mampu bersandar dalam pelukan hangat sang suami. Rasa nyaman untuk menghabiskan malam dengan melupakan masa lalu. Malam akan selalu panjang ketika hati jatuh dalam duka tetapi terasa singkat berkah hati yang jatuh cinta.