
Ia paham maksud Lia bahkan sadar akan itu tetapi kenapa kekasihnya itu tidak mengerti bahwa dirinya sudah berusaha sebisa mungkin untuk membujuk sang ayah. Hanya saja keputusan tidak bisa diganggu gugat dan anehnya justru memberikan syarat khusus jika ingin menikah dengan gadis pilihan sendiri. Syarat cuma satu yaitu menikah dengan Jihan untuk dijadikan istri pertama.
Tidak masuk akal jika dipikirkan ulang. Ia sudah mencoba berulang kali untuk bertanya kenapa harus seperti itu. Akan tetapi sang ayah justru selalu menghindar dan hanya mengatakan karena itu tanggung jawab seorang anak untuk memenuhi permintaan orang tuanya. Untuk pertama kalinya merasa diasingkan hanya karena masalah perjodohan.
Tak ingin mengubah mood hari ini. Rei menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan. Kenapa harus memarahi Lia? Wanitanya berkata benar dan hanya ingin menjaga nama baik semua orang. Bukankah wanita yang baik akan memahami arti mengalah.
"Jadi, kamu akan tetap disini 'kan?" Kepala mendekat tanpa melepaskan tatapan matanya dari sang kekasih membuat Lia tersenyum dengan anggukan kepala pasti. "Aku tidak akan memaksakan keinginanku tapi bayaran yang kudapatkan?"
"Apa yang kamu mau, Rei?" tanya balik Lia seraya mengalungkan kedua tangannya ke pundak sang pria yang dengan sigap menggendongnya berpindah dari ruang makan ke kamar.
Kedua insan itu lupa akan kebersamaan yang kini sudah menjadi candu. Perjalanan kembali dimulai dengan pagutan saling membelit menguasai. Kenikmatan sudah menanti menghapus jarak yang tersisa.
"Rei, boleh minta sesuatu." bisik Lia ketika kekasihnya baru selesai menanggalkan semua pakaian mereka. Pria itu hanya tersenyum menunggu ucapannya, "Lakukan dengan pelan saat penyatuan, aku ingin lebih merasakan keberadaanmu."
"Why not, aku akan memberikan keinginanmu." jawab Rei menghirup aroma tubuh Lia yang harum sabun.
Tanpa permisi mulai membenamkan diri menikmati ceruk leher wanitanya secara memainkan squash yang kini terlihat semakin besar dari sebelumnya. Entah kenapa ia merasa tubuh Lia semakin berisi dan menggoda. Apa itu perasaannya saja?
Sementara Lia hanya pasrah memberikan candu obat untuk Rei. Pergulatan semakin menurun menghantarkan gelenyar aneh yang merenggut kewarasannya. Tangan menggenggam sprei sekedar tuh menahan diri agar tetap bertahan dari kekacauan yang dilakukan kekasihnya itu.
Semakin terasa lebih hingga tak mampu lagi menahan lenguhan manja yang lolos dari bibirnya membuat Rei kian bersemangat menaklukkan perjalanan panjangnya. Tangan liar dengan bibir dingin yang terus meninggalkan jejak kepemilikan.
"Sayang, apa kamu yakin baik-baik kita melakukan ini?" tanya Rei sesaat sebelum memasukkan junior ke dalam rumahnya tetap yang ditanya hanya memberikan jalan dengan melebarkan kakinya. "Malah menggodaku, baiklah mari kita bertemu."
Tanpa basa-basi ia memasukkan junior seraya memegang kedua kaki Lia agar bisa menenggelamkan diri ke dalam rumah yang kini menjadi candu. Sekali hentak dengan sensasi luar biasa kembali memulai olahraga intinya.
Ritme pelan permainan benar-benar dinikmati keduanya bahkan bisa menikmati pagutan bibir yang saling mengimbangi. Semakin lama tak lagi bisa menahan hingga hentakan menambah kerasnya suara derit ranjang. Lenguhan manja kembali terdengar memecut Rei tuk memompa Lia lebih kuat lagi hingga junior berkedut kencang melepaskan seluruh benih cinta tanpa sia-sia.
Kali ini tak ada niat untuk membuangnya seperti beberapa hari yang lalu. Justru ia berharap akan ada berita baik yang bisa menjadi akhir dari perjodohan. Hanya saja terlihat membingungkan ketika ia sudah mencapai puncak kenikmatan tapi kekasihnya belum.
"Sayang, mau lagi?" tanyanya pada Lia membuat wanita itu mengangguk malu. "Sepertinya ada yang sangat merindukanku. Aku siap mengobati rindumu." Dibiarkannya junior bersemayam tanpa melepaskan diri.
Lia benar-benar menikmati sentuhan Rei dari awal dengan memejamkan mata. Wanita itu juga heran karena pergulatan sekali yang biasanya sudah melelahkan tapi kali ini terasa seperti kurang. Perlahan mulai hanyut dalam permainan sang kekasih yang mahir memporak-porandakan ketenangan.
"More, Rei ...," pintanya manja membuat Rei semakin menikmati jelly kenyal yang ada di bibirnya. "Ouuuh, moreee ...," tangannya tak sungkan mengarahkan Rei untuk semakin bergerak liar.
Kenikmatan yang tak terelakkan membuat kedua insan itu tenggelam dalam kehangatan. Tanpa sadar melakukannya berulang-ulang hingga Rei merasa kelelahan tetapi setelah permainan yang terakhir. Barulah Lia benar-benar bisa merasakan puas hingga tak membiarkan tubuh prianya lepas dari pelukan.
"Kamu kenapa, Yank? Posisi seperti ini biasanya membuatmu tak nyaman." Rei mencoba bertanya lembut agar Lia tidak tersinggung.
Tatapan mata terpejam berteman seulas senyuman. "Sekali saja, aku hanya ingin dimanja. Biarkan aku merasakan milikmu memenuhi lembah gua yang akan selalu menjadi rumah junior."
"Jangan bikin aku deg-degan, apa kamu takut aku menyentuhnya?" terka Rei yang seketika membuat Lia membuka matanya.
Ketika suami menyentuh istrinya. Siapa yang bisa melarang? Pria itu tidak menyadari akan waktu yang sengaja Lia berikan sekedar sebagai salam perpisahan. Olahraga ranjang yang menghabiskan semua tenaga di pagi hari hanya dijadikan hadiah sebelum pernikahan.
__ADS_1
Setelah ini, Rei harus mendapatkan obat candu dari istrinya. Ia tak akan ada untuk melayani hasrat sang kekasih yang terkadang memang bisa membuat kewalahan. Selain itu ia ingin hidup normal bersama sang calon buah hati.
Kehangatan di atas ranjang masih diteruskan, sedangkan ditempat lain pertemuan rahasia tengah dilakukan. Tangannya terangkat untuk melepaskan hijab, lalu beralih menurunkan resleting gamis yang dikenakannya. Langkah kaki berjalan meliuk-liuk bak wanita profesional mendekati pria yang duduk di tepi ranjang.
Pria itu merentangkan kedua tangannya menyambut teman ranjang yang begitu menggoda dengan tubuh berisi yang siap digempur sepuas hati. "Kenapa lama? Apa kalian bertemu?"
"Ayolah kita disini bukan untuk membicarakan hal itu." Wajahnya cemberut tetapi tetap duduk dipangkuan pria yang langsung dengan sigap mengecup manja bukit kembarnya. "Hanya itu saja, Om? Aku kangen banget loh masa dianggurin sih."
"Kau ini, tidak sabaran. Ingat beberapa hari lagi pernikahanmu, bagaimana membuat jejak ... Emmpptt ...,"
Bibir terbungkam oleh bibir merah merona yang langsung membungkamnya dalam pagutan tuntutan. Tangan putih mulus bergerilya membuat pria yang awalnya menolak mulai terpancing ikut mencari titik kepuasan yang bisa dilakukan. Pagutan masih saling menguasai tanpa rasa ingin melepaskan.
Dibimbingnya tubuh wanita itu berbaring di atas ranjang tanpa melepaskan pagutan seraya melepaskan kacamata penghalang. "Surga nyata bagiku," Bibir nan basah mulai melakukan penjelajah sesekali merasakan gesekan di bawah sana yang semakin meningkatkan harapan penyatuan.
Pergulatan baru dengan ritme cepat yang membuat tubuh menggeliat bersambut lenguhan manja. Derit ranjang bergoyang terus menerus terdengar hingga satu jam berlalu saling melepaskan cairan kenikmatan. Tubuh ambruk saling berpelukan.
"Om selalu bisa memuaskanku, nanti boleh lagi." Jemari menari diatas pahatan wajah yang memang sudah begitu dewasa karena pria yang ada di hadapannya memang berusia empat puluh tahun.
"Kamu ini aneh, Om sengaja menjodohkanmu dengan Rei agar bisa mendapatkan lawan yang seimbang tapi masih saja balik minta jatah dariku." tukas pria itu yang sebenarnya adalah Ayah Rei.
Jihan terkekeh pelan karena keluhan itu dianggap sebagai alarm. "Anak om itu bahkan tidak melirik ke arahku. Pernah aku tes hanya dengan pakaian malam. Rasanya hambar."
"Dia memang masih seperti itu, maka dari itu aku menjodohkan kalian. Bukankah kamu bisa menikmati dua pria sekaligus? Gadis nakal." celetuk ayah Rei tanpa hati.
Jihan tak mempermasalahkan mau menikah dengan siapa karena yang dibutuhkan hanyalah olahraga ranjang yang memuaskan. Bersama ayah Rei yang sudah berpengalaman membuat jiwa mudanya ingin lebih. Meski semua berawal dari satu malam kesalahan tetapi berujung kenikmatan.
Awalnya tidak terjadi apapun hingga tanpa sengaja ia memasuki kamar ayah Rei ketika ingin mengucapkan terima kasih karena sudah diizinkan untuk berteduh di rumah pria itu sembari menunggu hujan reda. Kondisi kamar tanpa cahaya membuat pandangannya harus ekstra hingga dari arah kamar mandi keluar seorang pria dengan handuk membelit pinggang.
Ayah Rei tidak menyadari keberadaannya sehingga melemparkan handuk ke atas ranjang begitu saja. Pria itu bersiul seraya mencari pakaian ganti tetapi keadaan Jihan tak baik-baik saja ketika singkong yang menunduk terlihat begitu menarik perhatiannya. Entah keberanian dari mana hingga ia menghampiri pria itu dan bertanya hal terkonyol di dunia.
"Om, apa itu bisa digunakan?" tanyanya sambil menunjuk singkong yang benar-benar terlihat menggemaskan.
Keterkejutan Ayah Rei hanya sesaat, lalu berusaha menghindar dengan mengambil handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Akan tetapi Jihan justru berjongkok dan tanpa permisi menggenggam singkong yang tak muat di tangannya. Sentuhan wanita yang sudah lama tidak dirasakan membuat pria itu kehilangan kesadaran.
"Lebih erat lagi sambil diurut nanti akan berfungsi." ujarnya membuat Jihan menurut melakukan sesuai arahannya.
Tak disangka satu sentuhan menjadi rasa penasaran yang kian melanda. Jihan memberikan treatment dengan sangat baik sesuai arahan tanpa keluhan hingga singkong berkedut kencang menyemburkan cairan membuat pakaian sang wanita basah.
Melihat itu, ia tanpa sungkan membantu melepaskan dan justru mendapatkan bonus tambahan. Akhirnya keduanya saling belajar menyatukan kenikmatan yang sudah dinantikan. Tak ayal suara derit ranjang kamar itu kembali terdengar bersambut lenguhan manja nan menggairahkan.
"Singkong milik om lebih bisa memuaskanku. Bagaimana dengan milik Rei? Aku tidak penasaran karena sudah menemukan ukuran yang pas untuk dijadikan tongkat keajaiban. Om, lagi." Jihan memang merasa semua sudah cukup ketika bersama ayah Rei.
__ADS_1
Begitulah yang akan terjadi ketika berada di ddalam satu ruangan dengan pria yang bisa memuaskan diri tanpa harus menoleh rumah tetangga. Pertemuan yang akan menjadi rahasia di antara keduanya. Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa siang berganti malam.
"Ayo, makan! Sejak tadi kuamati malah melamun trus. Crita kalau ada masalah, bukannya dipendam." Aira menghela napas panjang karena untuk ketiga kalinya membujuk Lia tetapi hanya diabaikan.
Sikap tak biasa sang sahabat membuatnya semakin khawatir. Apalagi wajah Lia begitu pucat seperti orang sakit. Anehnya lagi gadis yang jarang mengenakan pakaian kedodoran, kali ini justru memakai sweater tanpa melepaskan tudung dari atas kepala. Bukan Lia banget gaya penampilan seperti itu.
Tiba-tiba seorang pelayan melewati meja pemesanan mereka. Saat itu pula Lia menampakkan gelagat aneh. Bagaimana tidak? Lia terlihat menahan mual tetapi ujungnya lari ke kamar mandi. Sontak saja ia ikut berlari untuk membantu sahabatnya itu.
"Lia, kamu sakit kenapa gak bilang sejak awal. Tau gitu, aku yang ke kostmu." Diberikannya tisu basah agar Lia mengelap wajah yang baru saja dibasuh air. "Ayo, kita bungkus makanan saja trus ke apotek buat dokter buat periksa."
"Ra, aku cuma masuk angin kok. Jangan berlebihan deh. Kita makan dikost saja." Lia tak ingin mengambil resiko sehingga memilih untuk berpura-pura baik. Padahal kepala terasa berputar tak mampu lagi ditahan.
Langkah kaki yang baru saja keluar dari kamar mandi mendadak terasa berat dengan kepala sakit yang seperti dihantam benda keras. Seluruh ruangan yang ada di depannya tampak mulai samar dengan suara panggilan dari arah belakang. Baru saja ingin menoleh tapi kesadarannya hilang menjemput kegelapan.
Aira berteriak minta tolong karena Lia tiba-tiba tak sadarkan diri ambruk ke belakang meski bersandar padanya. Beberapa pelayan dan tamu cafe dengan cekatan membantu membawa sahabatnya itu masuk ke dalam mobil. Dan yang baru saja selesai telfonan harus kembali menyetir menuju rumah sakit terdekat.
Perjalanan selama lima belas menit dilanjutkan penantian selama sepuluh menit untuk dokter melakukan pemeriksaan. Rasa panik tak mampu hilang dari wajahnya hingga dokter mengajaknya untuk bicara tentang kehamilan Lia. Seperti petir yang menyambar dengan suara menggelegar.
"Dok, sahabatku hamil berapa bulan?" tanya Aira ingin memastikan sesuatu.
Dokter menyerahkan hasil laporan kepada Aira agar bisa diperiksa, "Tiga minggu usia kandungan dan jalan minggu ke empat. Saya menyarankan agar sahabat Anda tidak melakukan hubungan suami istri selama tiga bulan pertama."
"Bukan untuk melarang hanya saja kondisi rahim tidak sekuat itu. Jadi dikhawatirkan saat berhubungan badan justru memberikan tekanan pada si calon buah hati." ucap lanjut dokter itu membuat Aira terdiam tak mampu berkata-kata lagi.
Bagaimana bisa kecolongan? Lia tiba-tiba hamil tapi anak siapa? Selama ini tidak sekalipun menunjukkan gerak gerik yang aneh bahkan terlihat semakin bahagia di waktu pertemuan beberapa waktu yang sudah berlalu. Siapa pria yang menjadikan sahabatnya seorang ibu?
Tanda tanya itu hanya ia genggam tanpa ingin menanyakan. Dibiarkannya Lia melakukan apapun yang dimau sedangkan ia memilih meminta seseorang untuk melakukan penyelidikan. Selama dua hari informasi mulai menunjukkan kejelasan membuat hati kian panas membara.
"Kenapa kalian sampai sejauh ini?" Tatapan mata nanar melihat kemesraan Rei dan Lia yang tengah berciuman dengan posisi sangat intens. Lalu berpindah ke foto lain yang lebih jelas lagi mempertontonkan adegan ranjang.
Terkejut karena kedua sahabatnya saling bertemu lalu melakukan olahraga ranjang demi kepuasan. Geram karena merasa hal yang dilakukan kedua insan itu sudah salah jalan. Sekarang sudah jelas bayi yang dikandung Lia adalah anak Rei.
"Apa yang harus kulakan? Pernikahan hanya tinggal dua hari lagi dan kalian justru sibuk mencetak pahatan masa depan." Ia tak habis pikir dengan tindakan tanpa tanggung jawab kedua sahabatnya. Kini beberapa bukti bisa diandalkan.
Cinta dan obsesi selalu selapis dari beda garis yang membuat siapapun lupa akan kenyataan yang ada. Alih-alih mengungkapkan kebenaran secara langsung. Aira justru mencoba mencari momen yang tepat agar bisa berbincang dengan ayah Rei.
Seperti malam ini di acara terakhir yaitu pesta lajang yang sengaja disatukan dengan menyewa hotel, membuat Aira datang bersama Arka, Lia dan Danish. Ketiganya datang sebagai pasangan untuk memenuhi undangan. Acara yang cukup meriah menyatukan seluruh tamu undangan.
__ADS_1
"Aku ke toilet dulu." pamit Aira meninggalkan ketiga insan yang duduk di salah satu meja khusus.