
Semua acara berlangsung dengan baik serta lancar. Kedua insan yang sudah sah menjadi suami istri duduk di kursi pelaminan. Pasangan yang terlihat serasi. Apalagi baik Arkha maupun Aira terus menyunggingkan senyum bahagia. Para tamu yang hadir mendapatkan kedamaian pernikahan cinta beda negara.
Apalagi di saat para teman-teman datang memberikan ucapan selamat. Tyo dan kawan-kawan berjalan antri seperti gerbong kereta api. Ucapan selamat dari setiap kawan diterima sepenuh hati. Mereka turut berbahagia atas segala sesuatunya.
"Aira, kamu ambil dari mana nih cowok?" Sisi yang berdiri di depan Arkha sengaja menyentuh pipi mempelai pria hingga membuat semua yang di panggung tertawa.
Lia menahan diri untuk tetap tidak terkekeh, sedangkan Aira menatap Sisi sedikit kesal. Akan tetapi bukan berarti marah. "Suamiku bukan kue yang bisa diambil. Anggap saja jodoh."
Jawaban singkat, jelas dan padat. Sisi menggelengkan kepala tanpa merasa tersinggung karena itu memang hanya candaan saja. Obrolan singkat yang dipahami semua orang. Satu persatu bergeser berpamitan untuk kembali ke tempat duduk lagi seraya menikmati jamuan.
"Congratulations, Ra. Kebahagiaan untuk kalian berdua." Dipeluknya sang sahabat yang tampak begitu bahagia tanpa bisa diragukan lagi tetapi pasutri justru saling pandang. "Please deh, tahan dulu. Kalian masih punya banyak waktu. Jangan sampai aku bawa lari."
Aira terkekeh pelan akan godaan sahabatnya. "Lihat sana deh, banyak cowok. Ngapain mau bawa kabur suamiku? Single juga pada antri."
"Ogah, bukan tipeku." Langkah kaki pergi meninggalkan panggung tetapi lirikan mata terpatri pada Rei yang sejak acara dimulai hanya diam tanpa ekspresi.
__ADS_1
Jujur saja, selama mengenal Rei baru pertama kali ini melihat pria satu itu begitu sedih. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah karena sedih dengan pernikahan Aira atau karena hal lain? Ingin sekali bertanya tetapi apa haknya? Serba salah meski kaki trus mendekati Rei.
Ditepuknya lengan Rei, "Bangun, Rei! Masih siang ini, kamu terbang ke alam mana?"
"Aduh, apa-apaan sih kamu?" Rei melorot ke arah Lia.
Tatapan mata yang tidak bersahabat dibalas tatapan mata tajamnya. "Kamu yang kenapa? Bukannya kasih selamat, eh malah diem trus kaya patung. Nggak ikhlas lihat Aira nikah duluan?"
Apa yang bisa dikatakan? Ketika pikiran terus melayang dan hati seperti tercabik. Sakit tapi tak seorangpun bisa melihat. Apalagi merasakan emosinya. Suasana bahagia di sekitarnya semakin mencekik kedamaian jiwa. Ingin sekali berkata terus terang hanya saja untuk apa?
Kenyataan tidak akan berubah yaitu Aira mencintai Arkha dan kini sudah menjadi istri dari pria lain. Bukankah status sudah jelas? Kenapa masih saja memikirkan hal tidak seharusnya? Bingung akan emosi milik cinta tak terbalaskan. Sakit menohok tanpa bisa diusap agar mereda rasa nyarinya.
Gadis itu menghentakkan kaki, "Huft, kamu pikir saja sendiri." Ia berjalan meninggalkan Rei tanpa ingin menoleh ke belakang.
Sesaat setelah kepergian Lia. Tiba-tiba tatapan matanya tak sengaja melihat seseorang dengan wajah familiar. Akan tetapi, ia tahu bahwa Aira tidak mungkin mengundang orang itu untuk datang ke acara. Langkah kaki berjalan mendekati arah panggung, sontak ia ikut beranjak dari tempat duduknya mengikuti sekedar untuk menjaga keadaan.
__ADS_1
Ditariknya tangan orang yang hampir mengulurkan tangan ke Aira, "Lex, kamu ngapain disini? Jawab!"
"Aku hanya ingin memberikan ucapan selamat saja tapi sekaligus ingin minta maaf. Tenang saja karena kedatanganku tidak memiliki niat jahat." Alex melepaskan tangan Rei yang mencekal lengan kirinya.
Yah, orang itu adalah Alex. Sang mantan kekasih hati yang memberikan luka di hati Aira. Meski sang mempelai wanita tidak lagi mencintai pria itu, tetap saja Rei tidak mau ambil resiko. Masa lalu sudah cukup menjadi pelajaran yang berharga.
Apapun permata Alex. Baginya semua itu hanya alibi, "Siapa yang kasih tahu kamu? Aira tidak mungkin mengundangmu setelah semua yang terjadi."
"Rei, stop! Biarkan dia melakukan apa yang ingin dilakukan. Acara ini untuk berbagi kebahagiaan dan bukan perdebatan." ucap Aira memberikan peringatan agar kedua pria itu berhenti dengan keras kepala masing-masing.
Terdiam bukan karena sudah kalah hanya saja benar apa yang dikatakan oleh Aira. Acara pernikahan tidak seharusnya menjadi tempat penghakiman. Akan tetapi bukan berarti ia ingin menyerah tanpa melakukan sesuatu. Bagaimanapun acara tidak boleh ada kendala.
"Okay, silahkan ucapkan selamat dan segera tinggalkan acara." tegas Rei tanpa ragu meski menjadi tontonan beberapa tamu undangan.
"Selamat atas pernikahan kalian. Ku harap kebahagiaan selalu menyertaimu. Maaf atas semua keegoisanku yang dulu, dan untuk kamu." Ditepuknya pundak Arkha dengan ikhlas. "Jaga Aira baik-baik karena dia berbeda dari wanita lain. Selalu sayangi dia tanpa keraguan."
__ADS_1
Ikhlas adalah satu kata tetapi banyak kata untuk memberikan maknanya. Masa lalu tak mungkin beranjak pada masa kini begitu juga sebaliknya. Kenyataan akan selalu menyandarkan diri akan arti perjuangan, pasrah dalam doa dan bertahan di tengah badai yang menerpa.
"Semua sudah berakhir sejak saat itu. Terimakasih atas doamu. Lepaskan semua rasa bersalah di hatimu karena aku sudah ikhlas." balas Aira tanpa rasa sakit di hatinya lagi. Yah ia sudah sembuh dari masa lalu.