
Dua puluh menit kemudian. Aira keluar dari kamar mandi tetapi anehnya Arkha masih berada di ruang ganti dan duduk di kurau yang tersedia. Apalagi begitu melihat ia masuk, pria itu bergegas mendekati hanya untuk menutup pintu ruang ganti.
"Rain, apa yang terjadi?" tanyanya bingung akan tingkah suaminya yang mendadak seperti posesif.
Seulas senyum tersungging menghiasi wajahnya, "Cukup dengarkan aku. Sekarang tutup matamu dan aku akan membantumu bersiap hari ini. Setidaknya istriku harus tampil cantik."
Perlahan dilepaskannya handuk yang menutupi tubuh Aira. Sentuhan lembut dengan hati-hati mengeringkan sisa air yang masih melekat membasahi tubuh. Aira yang menurut diperlakukan seperti boneka, sedangkan Arkha harus menahan diri akan hasrat yang bergejolak.
Bagaimana tidak berhasrat? Pria normal akan tergoda ketika melihat tubuh istri sendiri tanpa sehelai benang pun. Akan tetapi kali ini tetap ditahan dan perlahan memakaikan pakaian pilihannya. Sesekali menghirup aroma wangi memabukkan. Setelah berusaha dengan keras akhirnya selesai, lalu ia memposisikan Aira berdiri di depan cermin.
"Sekarang buka matamu, My Sweetheart." bisiknya membuat Aira membuka kelopak matanya.
Perlahan mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk menghantarkan pemandangan barunya. Gaun hitam lengan panjang tetapi bawahnya jatuh dan tidak ketat. Siapa sangka, Arkha belajar gaya pakaiannya.
"Suamiku, kamu belajar semua ini sendiri?" tanya Aira dan membiarkan Arkha merengkuh pinggangnya dari belakang.
Tatapan mata saling bertaut walau hanya melalui pantulan cermin. "Bagiku, kamu selalu cantik sayang. Aku sangat mencintaimu Aira." Kecupan hangat terbenam ke bahu sang istri yang tampak sedikit terbuka.
"Aku juga mencintaimu," Pelukan yang tak seerat biasanya membuat Aira dengan mudahnya berbalik. "Terima kasih untuk semuanya."
Tak ada kata lagi selain pagutan bibir yang saling berperang menikmati rindu akan belenggu cinta sah mereka. Kecupan bibir tanpa pemaksaan membuat keduanya larut dalam rasa sesaat yang menghadirkan keinginan lebih.
Bibir basah sebagai tanda akhir, "Gajimu, sayangku."
"Jika ini gajiku, aku siap melakukan melayanimu sepanjang waktu." goda Arkha membuat Aira terkekeh pelan.
Pelukan dilepaskan, lalu kembali melanjutkan persiapan dengan memoles wajah memakai make up tipis serta aksesoris. Arkha hanya mengagumi tanpa ingin mengganggu karena dia tahu waktu semakin mepet.
Setelah selesai dengan persiapan. Aira tak lupa mengambil mantel karena hari ini harus melakukan rapat sendiri. Tentu saja pergi dengan izin dari suaminya. Gadis itu meninggalkan rumah tanpa harus main kucing-kucingan. Kali ini rapat diadakan di salah satu cafe yang ada di kotanya.
Akan tetapi Aira hanya menunggu di luar cafe sampai Danish datang menjemputnya untuk menemui klien. Pertemuan akan berlangsung di ruangan VIP dengan keamanan yang memang selalu dijaga. Selain itu tetap menjaga privasinya. Meski bukan pebisnis kelas atas. Tetap saja ia mengedepankan namanya hidden life.
"Bos, klien sudah menunggu di ruangan private lain. Ayo, aku antarkan." lapor Dan begitu datang, membuat Aira berpamitan pada Arkha yang memang mengantarkan hingga cafe.
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat hingga derit pintu mengalihkan perhatian seseorang yang sudah duduk di kursinya selama beberapa puluh menit lalu. Aroma parfum familiar tetapi tak ingin kembali tenggelam dalam rasa yang bukan haknya.
"Permisi, perkenalkan ini Bos saya pemilik dari AF company. Bos, beliau pemimpin RA company." ucap Danish memperkenalkan kedua pemimpin dari beda perusahaan.
Pria dengan masker yang duduk mengulurkan tangan dan disambut Aira. Keduanya tampak memiliki kesamaan dengan menutupi wajah agar tetap menjaga identitas masing-masing. Sungguh kebetulan langka. Apalagi pertemuan pertama berubah menjadi kesan misterius.
"Aku hanya ingin bicara dengan Anda saja tentang kerja sama. Bisa?" tukas sang klien yang membuat Aira mengkode Danish untuk pergi dari ruangan tersebut.
Kepergian Danish meninggalkan dua insan beda pemikiran yang saling memiliki tanda tanya. Akan tetapi mereka langsung duduk berhadapan dan tanpa basa basi mendiskusikan masalah kerjasama yang akan menjadi masa depan kedua perusahaan.
"Ini hal yang menyenangkan. Selama ini banyak klien yang pesimis hanya karena aku memberikan kritikan pada mereka dan pasti menolak hasil akhir. Baru kali ini ada yang mau sabar mendengar kritikan ku. Jadi, apakah Anda akan menyetujui atau menolaknya?" pungkas orang itu merasa senang mendapatkan lawan main yang bisa diajak berdebat tanpa ada amarah.
"Setiap insan memiliki karakter masing-masing. Aku tidak berhak menilai, tapi untuk kerja sama. Aku setuju." ucap Aira memberikan keputusan final.
__ADS_1
Kontrak kerja sama yang ada di atas meja menjadi tujuannya. Satu tanda tangan menjadi awal kerja keras. "Aku juga setuju, silahkan."
Satu tanda tangan lagi menjadi lengkap dan kontrak sudah sah hanya menunggu pengacara melakukan pemeriksaan sebagai bukti kesepakatan.
"Bagaimana jika kita ngopi dulu? Kurasa tidak masalah untuk merayakan kerja sama kita." tawar sang klien tetapi Aira menggeleng kepala pelan.
Gadis itu tidak ingin melakukan apapun karena mengingat Arkha masih menunggunya di luar sana. "Maaf, saya tidak minum kopi."
"Baiklah, tidak masalah tapi bisa temani saya minum kopi 'kan? Setidaknya membicarakan masalah proyek sebentar saja." bujuk sang klien yang kali ini tidak bisa dibantah karena itu permintaan kecil.
RA memesan secangkir kopi hitam dan tak berapa lama pelayan datang mengirimkan pesanannya. Pria itu memastikan pelayan telah berlalu meninggalkan ruangan. Lalu melepaskan masker yang menutupi wajahnya seraya menghirup udara kebebasan. Tanpa disadari akan tatapan mata Aira yang terbelalak tak percaya. Gadis itu berusaha menahan diri untuk tetap tenang.
RA meletakkan maskernya di samping berkas, lalu beralih mengambil cangkir kopi. "Apa kamu tidak gerah dengan tetap memakai masker? Aku saja merasa panas sejak tadi." Perlahan menyeruput kopi sesekali meniup asap yang mengepul.
"Aku tidak masalah karena sudah terbiasa." tatapan matanya masih menatap pria yang ada di depannya.
RA mengangguk paham dan tak mempermasalahkan keputusan Aira karena ia tahu bahwa itu hak sang partner kerjanya. "By the way, kenapa namanya AF company?"
"Semua kerja kerasku hanya untuk keluarga jadi aku beri nama AF company. Lalu bagaimana dengan nama perusahaanmu. Kenapa RA company?" tanya balik Aira membuat RA tersenyum tipis menahan rasa yang nyatanya masih ada di lubuk hati.
Sejenak terdiam mengingat awal mula perjuangan akan bisnis yang kini sudah cukup untuk memberikan kehidupan nyaman. Nama yang akan selalu menjadi pecutan semangat ketika merasa lelah dengan kejamnya dunia. Inspirasi itu ada dan nyata.
"Bisnisku karena dia yang selalu menjadi kebahagiaan dan semangat ku. Aira, wanita manis dengan pendirian kuat. Jadi ku berikan nama Rei Aira company. RA company." jawab Rei tanpa rasa takut membanggakan diri atas prestasinya tetapi pria itu tidak menyadari akan fakta Aira berada di depannya saat ini.
Tersentak akan pengakuan Rei. Kenapa sahabatnya memberikan hubungan mereka perasaan lebih? Apalagi selama ini dia tak melihat gelagat aneh, tapi semua itu tak menjadi keegoisan Rei. Ingin rasanya melepas masker, lalu membesarkan hati sang sahabat hanya saja ia masih menahan diri.
Rei menggeleng pelan, "Perusahaan ini milikku sendiri. Aira adalah alasanku berhasil sampai seperti ini."
"Begitu rupanya, selamat jika begitu, Pak Rei. Saya harus pergi untuk menemui asisten karena masih ada pekerjaan." ucap Aira seraya berpamitan undur diri karena tidak tahan lagi tetap berada di ruangan itu.
Keduanya tak lupa berjabat tangan sebelum pergi meninggalkan ruangan. Hati harus bersabar ketika menyadari klien yang penting adalah Rei Andika. Setelah masker dibuka yang menyatakan identitas asli. Ia tak ingin pria itu menyadari tengah berbincang dengan siapa. Langkah kaki berjalan kembali memasuki ruangan yang ditempati oleh Danish dan Arkha.
"Istriku, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Arkha menyambut istrinya dengan senyuman tampan bahkan membantu wanitanya melepaskan masker.
Senyuman tipis bersambut pelukan hangat. "Dan, tolong buat salinan dokumen ini! Setelah siap berikan padaku dan satunya lagi pada Rei Andika."
"Rei Andika? Siapa dia?" tanya Dan berpikir keras karena masih tidak memahami siapa yang dimaksud bosnya. Tatapan mata tajam Aira menusuk membuat Dan menciut. "Baiklah akan ku berikan informasinya sore ini."
Pelukan di lepas lalu mereka bertiga kembali duduk, sedangkan Arkha menatap istrinya dengan penasaran. Rei Andika jelas ia kenal tapi kenapa tiba-tiba nama itu disebut? Itu yang tidak bisa dipahami olehnya.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa bicara tentang Rei? Dia itu sahabatmu 'kan." tanya Arkha sedikit hati-hati.
"Benar, Rain. Akan tetapi klienku hari ini adalah dia. Aku tidak tahu bagaimana bisa seperti itu tapi sudahlah. Kita lupakan itu karena saat ini rasanya lapar sekali." jawab Aira mengalihkan topik pembicaraan dengan tatapan mata memelas menatap Arkha.
"My cute wife," Tangan mengusap pipi sang istri, ia merasa kasihan karena kesibukan Aira semakin padat. "Aku akan pesan makanan untuk kita. Apa yang kamu inginkan untuk makan siang?"
"Actually, aku ingin makan masakanmu, Rain. Jadi sebaiknya kita pulang dan bisakah memasak sesuatu untukku?" bujuk Aira dengan seulas senyum manis yang langsung melumerkan hati Arkha.
__ADS_1
Tak kuasa menahan diri untuk tetap diam di tempat. Dicubitnya pipi sang istri, "Apapun untukmu, Sayang. Ayo, kita pulang. Come!" Ia beranjak dari tempatnya seraya menggandeng tangan Aira.
Aira, Arkha dan Danish kembali ke rumah tetapi begitu sampai di rumah. Sang asisten pergi untuk melanjutkan pekerjaan sedangkan Arkha dan Aira masuk ke dalam rumah.
"Pergilah ke kamar dan bersihkan dirimu, Sayang. Aku akan memasak dulu. Jangan paksakan diri karena kamu lelah setelah rapat." Satu kecupan terbenam menjadi salam perpisahan sementara.
Aira menyetujui apapun itu, "Okay, Sayang."
Aira bergegas kembali ke kamar untuk melakukan permintaan suaminya, sedangkan Arkha pergi ke dapur untuk memasak makan siang. Benar kata suaminya, ia membutuhkan kesegaran agar bisa kembali tenang. Pikirannya benar-benar terkontaminasi akan kenyataan yang ada.
Jujur saja saat ini masih memikirkan kenapa Rei menggunakan namanya atau ada wanita lain dengan nama yang sama? Pertanyaan itu, siapa yang akan menjawab? Selama ini semua baik bahkan Rei juga yang menyiapkan semua acara pernikahan.
Jika benar ada perasaan lebih di hati pria itu, maka semua yang terjadi selama ini pasti menyakiti hati Rei. Setelah mengetahui kebenaran itu. Masihkah harus berpura-pura tidak tahu? Atau harus berterus terang? Ingin melupakan sejenak hingga ritual mandi berakhir.
Penampilan sederhana menghantarkan rasa nyaman untuk bersantai berteman hiasan natural yaitu anting kecil dengan yang menjuntai panjang dengan liontin bulat menyentuh bahu. Sesaat mengedarkan pandangan ke ranjang untuk menemukan barang yang dibutuhkan.
Si benda pipih yang ternyata berada di atas nakas. Tanpa pikir panjang ia mendial sebuah nomor yang sejak beberapa hari tak dihubungi. "Assalamu'alaikum, Lia. Kapan kamu bebas?"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. InsyaAllah weekend. Kenapa? Tumben bener telpon. Pasti ada maunya tuh." jawab Lia dari seberang ditemani suara tawa pelan.
Seperti biasa candaan itu diabaikan. "Datanglah ke rumah baruku dan tolong ajak orang tuaku bersamamu. Sudah waktunya untuk terbuka."
"Baiklah, semua akan kuatir. Jangan khawatir apapun ok, sampai bertemu sayangku." balas Lia yang langsung menerima panggilan berakhir dari sahabatnya.
Setelah melakukan yang seharusnya. Kini tatapan mata beralih pada file di atas meja. Sekali lagi mencoba memeriksa file berharap menemukan sesuatu atau mungkin ada yang terlewat. Akan tetapi isi file tetap sama. Di saat bersamaan Arkha masuk ke dalam kamar hanya saja Aira tidak menyadarinya.
Nampak makanan diletakkan ke atas meja kaca, lalu menghampiri istrinya yang terlihat merenung dengan memegang file. Berkas yang setahunya berisi informasi klien itu diambil tanpa permisi. "Sekarang waktunya makan. Aku sudah memasak khusus untukmu jadi ayo makan dulu."
Arkha mendudukkan Aira ke sofa, lalu ikut duduk ke sebelah tempat sang istri. Kemudian mengambil piring makanan. "Hari ini, aku akan menyuapi istriku." Sesendok nasi dengan tumis sayur terbang melayang menunggu pendaratan, membuat Aira membuka mulut menerima suapan pertama darinya.
"Kamu juga harus makan, Sayang." pinta Aira membuat Arkha mengedipkan mata setuju tetapi tidak ikut makan karena masih merasa kenyang.
Sesi makan siang yang berakhir dengan rasa kenyang. Aira berterima kasih atas perhatian Arkha yang memberikan kasih sayang untuknya. Yah sebagai seorang istri, ia merasa bersyukur karena memiliki suami lembut yang mau memahaminya.
"Selalu bahagia, Istriku. Kamu itu kebahagiaanku, My Aira Khan." ucap Arkha dengan tatapan sayang penuh cinta menatap Aira.
Hanya ingin mengangguk tanpa memberikan jawaban. Apalagi Arkha beranjak dari kamar untuk mengeluarkan nampan yang berisi bekas alat makan kembali ke dapur. Kepergian Arkha menghantarkan kesendirian dan pemikiran ulang. Tiba-tiba terdengar suara dentingan hiasan gantung mengalihkan perhatiannya.
Lagi dan lagi, Arkha melihat Aira tengah melamun. Entah apa yang begitu mengusik pikiran istrinya. Tak ingin mengejutkan. Perlahan jemari tangan menelusup memeluk pinggang seraya menyandarkan kepala pada bahu yang terasa begitu hangat. "Apa semua baik? Jika ada masalah, katakan padaku."
"Tidak ada, Rain. Aku hanya berpikir tentang rencana bulan depan. Hanya itu." jawab Aira tak ingin larut dalam ketidakpastian emosi hati.
Ia tahu bahwa istrinya tengah merasa gundah gulana hanya saja tidak mungkin memaksakan diri agar mau bercerita. "Semua akan baik, Sayang. Sekarang jangan terlalu dipikirkan. Kita ada untuk satu sama lain. Okay?"
"Okay, Suamiku." balas Aira menyunggingkan senyum manisnya. Semburan warna merah muda menggoda Arkha, membuat pria itu tak melepaskan Aira dari penyatuan rasa.
__ADS_1