
Keesokan harinya. Aira sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah lebih awal. Gadis itu hanya tinggal menikmati sarapan pagi sambil membaca novel. Baru setelah itu pergi membersihkan diri. Tentu sebelum Lia datang ia sudah tidak memiliki pekerjaan lain. Apalagi sang sahabat mengatakan akan datang pukul sepuluh pagi yang berarti kurang satu jam dari waktunya sekarang.
Suara deru motor terdengar berhenti di depan rumah, membuat Aira yang kebetulan di rumah sendiri menghentikan bacaannya. Gadis itu menunggu di ruang tamu. Ia sudah mengirim pesan pada Lia agar membuka pintu sendiri tanpa harus mengetuk pintu. Awalnya semua tampak santai hingga Rei melihat wajah manis dari si pemilik rumah.
Lia bahkan sampai menepuk pundak Rei agar kembali tersadar ke dunia nyata. Ekspresi wajah tak percaya dengan mata mengerjap serta bibir melongo benar-benar lucu untuk di abadikan. Apalagi ketika suara lembut menyapa gendang telinga mempersilahkannya duduk diruang tamu.
"Rei, bukankah kamu mengatakan Alex akan bertunangan beberapa hari lagi. Jika iya, apa buktinya?" tanya Aira to the point. Bagaimanapun Ia tidak bisa bertindak gegabah karena Alex saja masih bersikap seperti biasa.
Rei yang menyadari maksud apa Aira bertemu dengannya tersenyum tipis, lalu mengambil ponsel menunjukkan sebuah riwayat pesan yang terjadi semalam. "Aku akan kumpul bersama kawan yang lain. Bukti akan ada di depan mata tanpa bisa diganggu gugat. Apa kamu sanggup melihat kebenarannya?"
Aira hanya menganggukkan kepala pelan tapi Lia berusaha mencerna maksud dari Rei. Alex bertunangan? Berita itu pasti hanya salah paham. Apalagi pembahasan terakhir kali cukup menyakinkan hati bahwa hubungan sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Hari ini kebetulan kami akan berkumpul dengan agenda merayakan pertunangan Alex. Dia juga diwajibkan datang bersama calonnya. Jika kamu mau, bergabunglah bersama kami." ucap Rei menekankan setiap kata agar Aira memikirkan segala sesuatunya tanpa harus menyakiti hati.
Aira termenung sesaat mencoba memikirkan sesuatu yang bisa menjadi kebaikan untuk bersama. Jika datang ikut berkumpul malah menjadi masalah baru. Apapun yang Alex putuskan pasti sudah tahu konsekuensinya. Jadi Ia pun harus berpikir jernih, "Kalian berkumpul dan rayakanlah tanpa kehadiranku. Aku akan melihat dari tempat lain dan membuat bukti yang bisa menjadi akhir dari kisah tak berujung kami."
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Rei penasaran karena gadis dingin di depannya terlihat sangat tenang tetapi sorot mata memancarkan kesedihan.
__ADS_1
Aira tersenyum tipis dengan alis sedikit terangkat, "Hadiah istimewa untuk orang terkasih di hari bahagia."
Pertemuan yang berlangsung sore hari di sebuah cafe, membuat Aira, Lia dan Rei datang lebih awal. Kedua gadis itu bahkan memakai pakaian tertutup dengan wajah memakai masker serta memesan tempat yang bisa dijadikan spot terbaik untuk menjadi pengamat. Pertemuan yang berlangsung cukup lama tampak berjalan sempurna.
Dimana Alex datang membawa seorang gadis yang dikenalkan sebagai calon istri. Pertemuan itu menjadi undangan resmi agar para teman sekelas datang ke acara yang akan diadakan dua hari lagi. Semua percakapan direkam termasuk mengambil beberapa foto yang patut untuk diabadikan. Ketegaran Aira membuat Lia mengusap punggung sang sahabat agar tetap kuat.
Gadis itu tidak tahu jika Alex melakukan pertunangan atas pemaksaan sang bunda. Akan tetapi karena hati hanya mencintai Aira. Pemuda itu nekat menjalin kasih di belakang tanpa sepengetahuan keluarga bahkan hubungan baru dijadikan alasan sebagai tempat kesibukan. Padahal tidak setiap pertemuan Ia benar-benar menemui calon istrinya.
"Lex, kenalin tuh calonnya, masa mau dianggurin sih." Leo menggoda Alex dengan sengaja karena ia berpikir pertunangan yang dilakukan sang teman begitu buru-buru.
"Maafin Ka Alex, ya. Kenalin namaku Mawar." Mawar mengulurkan tangan mendapatkan sambutan hangat dari teman-teman Alex kecuali Rei yang menolak bersalaman dengan memilih menikmati minuman segar.
Suasana semakin hangat hingga Rei yang penasaran mencoba untuk mencari informasi yang bisa didengar Aira secara langsung. Sontak saja ia menanyakan sesuatu yang membuat semua teman menatap ke arahnya horor. "Lex apa kamu sudah putus dengan Aira?"
"Entahlah. Bahas yang lain saja." jawab Alex seraya menghembuskan napas kasar tetapi Mawar merasa aneh dengan perubahan suasana hatinya yang mendadak sedih tanpa alasan.
Ditatapnya Rei tanpa berkedip, "Ka Rei, boleh tahu siapa itu Aira? Apa dia salah satu teman ka Alex? Trus yang mana orangnya?"
__ADS_1
Rei sebenarnya kasihan juga dengan Mawar karena dibodohi Alex tetapi yang paling terluka dari semua itu adalah Aira. Gadis yang saat ini hanya bisa diam menyimak tanpa berupaya menunjukkan jati diri. Bukan masalah ia suka Aira melainkan hati menyadari Alex lah yang bertindak diluar batas.
"Tanya saja sama calonmu. Lex, ku harap kisahmu tidak menyakiti orang yang tulus mencintaimu karena aku tidak bisa membiarkannya terluka." tutur Rei menyudahi sesi ingin tahunya.
Mawar menatap Alex meminta penjelasan tapi yang ditatap hanya terdiam. "Apa kamu memiliki kekasih, Ka?"
"Tidak." jawabnya tegas menahan rasa yang memberontak di dada.
Rasanya begitu sakit harus berbohong pada diri sendiri. Jika ia tidak mengingat janjinya pada sang ibu. Sudah pasti akan mengakui Aira sebagai ratu di hatinya. Nasi sudah menjadi bubur, kini tak bisa diubah lagi selain menerima kenyataan yang ada. Namun permasalahannya adalah kapan bisa jujur pada Aira? Ia merasa tak sanggup kehilangan sang penyemangat hidup yang selalu menemani dikala suka dan duka.
"Aku percaya padamu, Ka. Semoga hubungan kita langgeng. Aamiin." Mawar tersenyum bahkan ia tak sungkan menggandeng tangan pria yang duduk di sebelahnya.
Semua yang ada di meja itu hanya bisa diam dengan jawaban Alex. Mereka tahu Alex mencintai Aira bahkan rela nunggu berbulan-bulan untuk dekat dengan seorang gadis kutub utara. Lalu tiba-tiba dengan mudah mengatakan hal yang diluar ekspektasi. Sebagai teman hanya bisa mendukung meski mereka juga kecewa atas tindakan Alex yang tidak gentleman.
Disisi lain hanya ada keheningan. Dimana Aira berusaha tetap tenang dengan emosi yang meledak di dalam hati. Sakit mendengar secara langsung atas apa yang tengah diperjuangkan. Mungkin ini dinamakan bukan jodoh sehingga rasa sakit menghiasi kisah tanpa nama.
Aku bertahan dengan sepenuh hatiku. Namun kau hancurkan tanpa ampun. Aku pasrah atas nama cinta, tetapi kau goreskan luka di dada. Hati menyisihkan asa berharap kau kembali. Tanpa kusadari, diri ini tak lagi berarti.
__ADS_1