
Arsha yang melihat kedatangan Rei membisikkan sesuatu pada Lia tetapi gadis itu enggan tuk beranjak dari dekapannya. Tak ingin mengusik karena ia sadar sahabat sang kakak ipar tengah membutuhkan sandaran tuk berbagi rasa sedih di hati.
"Dia kenapa?" tanya Rei begitu sampai di dekat Lia dan Arsha.
Arsha hanya memberi kode semua baik dan tidak ada masalah hingga kedatangan Danish dan seorang wanita lain mengalihkan perhatian mereka. Lia yang tak melihat reaksi Rei masih nyaman berada di dalam dekapan sang pria muda bule.
"Kamu bukannya asisten klienku kemarin?" ujar Rei yang masih mengingat jelas wajah Danish tetapi tatapan mata tak suka tertuju pada wanita yang berdiri menggandeng tangan Dan. "Apa wanita murahan ini pacarmu?"
"Maaf, jangan bicara sembarangan. Namanya Mawar dan bukan wanita murahan." elak Danish dengan nada ketus tak suka tuduhan Rei.
Suaranya cukup membentak membuat Lia melepaskan diri dari pelukan Arsha, lalu menatap ke sekitarnya. Ternyata banyak orang yang berkumpul bahkan Rei terlihat marah, Danish kesal menahan diri, sedangkan wanita yang menundukkan wajah menunjukkan wajah sendu.
"Kalian ini kenapa?" Lia mencoba memahami situasi tetapi nihil karena saat ini hati dan pikirannya tidak ditempat yang seharusnya.
Apa gunanya berdebat? Ketika kenyataan tidak bisa diubah hanya saja sebagai sesama pria. Rei tak ingin ada pria lain yang terjebak pada wajah polos Mawar. Bagaimanapun ia tahu sakitnya patah hati. Jadi tanpa basa-basi langsung melakukan panggilan telepon.
"Lex, kamu kenal dia gak?" Layar ponsel di balik hingga menatap kearah Mawar yang semakin mencengkram tangan Danish erat. "Katakan yang kebenarannya karena korban bisa semakin berjatuhan."
__ADS_1
"Rei, sudahlah. Seperti apapun Mawar saat bersamaku, itu tanggung jawabnya. Jika pria lain terjebak karena sikap manja dan manisnya, maka harus berusaha melihat dengan mata terbuka." tukas Alex yang memang enggan berurusan lagi dengan Mawar.
Siapa sih yang ingin mengingat memiliki mantan tunangan seorang wanita penikmat tubuh pria lain. Apalagi seingatnya, setelah hari penggerebekan di hari itu juga orang tua mengirim anaknya ke pondok pesantren untuk bertaubat. Setelah itu, dia tidak tahu apapun hanya saja info yang di dapat mengatakan Mawar hamil di luar nikah.
"Sorry, aku gak mau buat kamu kesulitan mencari pasangan tapi sampai kapan main bareng cowok sana sini tanpa kejelasan? Mawar, kamu itu wanita, calon ibu dan kamu bro, kenali siapa yang ingin kau ajak hidup serumah." Alex menutup panggilannya lalu melanjutkan pekerjaan, sedangkan Dan melirik ke arah sang kekasih hati.
Hubungan mereka bisa dibilang jarang ketemu bahkan hanya sekedar berbalas pesan karena waktu bekerja memang sangat menguras kehidupan. Akan tetapi bukan bermaksud langsung menilai tanpa bukti hanya saja pengakuan dua orang asing cukup menjadi alarm agar berhati-hati.
"Rupanya kalian disini. Ayo balik! Kita makan bersama." ucap seseorang dari arah belakang Danish yang membuat Mawar berbalik menatap wanita yang kini sangat jauh lebih cantik.
Aira mengulurkan tangan kanannya, "Hai Mawar, apa kabarmu?"
"Aku baik, bagaimana dengan mu Aira?" tanya balik Mawar tanpa menyambut uluran tangan Aira.
"Alhamdulillah baik," Sesaat tak memahami situasi hingga tatapan mata terpatri pada tangan yang masih enggan berpisah. "Apa kalian pacaran? Bagaimana dengan Alex?"
"Mawar apa kamu kenal ...," niat hati ingin bertanya namun tiba-tiba tangan Mawar terlepas begitu saja.
__ADS_1
"Aku pamit dulu, Dan." ucap Mawar berusaha menghindar dari situasi yang akan menyulitkannya.
Tanpa menunggu jawaban gadis itu melangkahkan kaki menjauh dari semua orang membuat Aira berpikir keras. Bagaimana, kenapa dan sejak kawan sang asisten mengenal Mawar. Pertanyaan itu bukan bermaksud kepo melainkan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Arsha, ajak Lia, dan Dan kembali ke saung!" titahnya tak ingin dibantah, membuat adik iparnya mengangguk lalu melakukan pekerjaan yang diminta.
Lima menit kemudian hanya tersisa Rei dan Aira yang berdiri dengan jarak empat meter. Tatapan mata saling terpaut seakan mencurahkan isi hati terdalam. Gejolak di jiwa tak memungkiri akan kesepian di dalam hidup seorang pujangga tetapi bagi Aira hanya ada rasa bersalah.
"Alex dan Mawar sudah putus karena keluarga baru tau kebiasaan menyimpang wanita itu. Saat pesta pernikahanmu, Alex cerita semuanya secara detail." jelas Rei tanpa ditanya membuat Aira maju berjalan mendekatinya.
Langkah demi langkah kian mendebarkan hati yang terluka. Kenapa semakin mendekat? Ia tak sanggup menahan diri sehingga hanya bisa menundukkan pandangan tapi tiba-tiba sentuhan tangan hangat membimbingnya tuk saling memandang.
"Rei, apa kamu begitu kaku? Sampai kapan menyembunyikan perasaan di hati karena merasa takut? Aku tidak ingin terus berpura-pura polos setelah tahu bagaimana isi hatimu. Maaf atas semua luka yang kuberikan." ucap Aira lirih menahan rasa sesak di dada.
Deg. Apakah Aira tahu akan perasaanku padanya? Bagaimana bisa tahu? Selama ini berusaha bersikap sewajarnya tanpa menunjukkan keposesifan. Lalu darimana pujaan hatinya tahu akan cinta yang terpendam di hati? Sungguh sangat mengejutkan hingga satu pernyataan mengubah embusan semilir angin.
"Rei sebenarnya aku pemilik AF company." ucap Aira membuka jati dirinya membuat Rei terbelalak tak percaya.
__ADS_1