
Lia berharap penantian panjangnya akan menjadi awal hidup yang baru. Meski menyadari perasaannya memang bertepuk sebelah tangan. Bagaimana lagi? Setelah mengenal satu sama lain, nyatanya bukan berarti bisa saling memahami.
Mengenal dan memahami itu dua hal berbeda. Tentu banyak kawan mengenal tetapi bukan memahami, sedangkan posisi Lia adalah belajar memahami kebekuan hati seorang pria yang kini hanya diam di ujung sebrang panggilan.
"Ya sudah kalau tidak mau. Aku pamit saja, night." pamit Lia menyudahi panggilan tanpa ingin mengusik ketenangan orang lain. Tatapan mata menatap keluar jendela dimana rembulan menghiasi langit malam. "Jatuh cinta sakit juga ternyata. Apa iya harus melupakan tanpa mengutarakan?"
Lia berusaha menahan diri selama ini untuk tetap menjadi sahabat tapi semakin kesini perasaan itu kian tumbuh pesat. Tidak tahu bagaimana dan kenapa hanya saja jelas ingin bisa menghabiskan waktu bersama sang pujaan hati. Sementara dia tahu, keinginannya adalah hal di luar jangkauan.
Malam berlalu berganti hangatnya sinar sang surya. Terlihat semua orang sudah duduk di kursi masing-masing dan tengah menikmati sarapan pagi bersama. Kali ini tidak ada pekerjaan yang berarti bahkan Danish juga diberikan hari bebas sebagai bentuk ucapan terimakasih Aira.
"Ndu, kenapa tidak liburan? Pergi kemana gitu biar kalian bisa nikmati hari libur bersama sebagai anak muda." ujar Ibu memberikan saran yang bagus membuat Lia sumringah.
Tidak masalah jika gagal mendapatkan janji temu orang yang diharapkannya. Asal bisa liburan yang akan mengeluarkan semua beban pikiran dan hatinya. Memang sih terlalu berlebihan tetapi healing itu penting dan sangat perlu. Jadi berlibur bukanlah bentuk pemborosan.
"Kita akan libur bersama karena kebetulan hari ini mobilku akan diantar ke rumah. Jadi cukuplah menggunakan dua mobil." jawab Aira menyanggupi ide ibunya tapi pernyataannya membuat sang ibu terdiam sesaat.
Yah bagaimana tidak diam ketika melihat putrinya dengan cepat mendapatkan semua barang mewah. Baru saja tahu tentang rumah mewah yang kini ditempatinya, lalu sudah bertambah mobil baru. Bukankah itu terlalu mencolok? Bukan suudzon hanya saja ia tak ingin putrinya sibuk mengejar harta dunia yang bisa menjadi melupakan kewajiban seorang istri.
Tanpa sungkan menggenggam tangan sang ibu, "Bu, jangan berpikir aneh. Semua halal dan insya Allah berkah. Ayo habiskan makannya. Lalu kita bisa bersiap." Sesuap nasi terakhir masuk ke mulut menyudahi sesi sarapannya, kemudian meneguk segelas jus strawberry. "Aku permisi dulu untuk memeriksa beberapa berkas."
"Hadeh, anak satu ini emang kelewatan batas." sindir Lia tapi diabaikan Aira yang tetap melenggang pergi meninggalkan meja makan. "Dan, apa yang bekerja itu cuma kalian berdua?"
Dan melirik ke arah Lia yang sibuk mengaduk makanan seakan enggan untuk sarapan. "Tidak. Kenapa memangnya?"
"Tidak kamu, tidak bosmu. Keduanya super sibuk. Katanya mau jalan, eh masih sempat memeriksa pekerjaan. Gimana aku gak geleng kepala." seloroh Lia berhasil membuat Danish terkekeh pelan.
Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu dijawab. Ya karena memang sudah adanya begitu. Mau diapakan lagi? Jika bosnya memanglah tidak suka menunda pekerjaan tapi dia sendiri hanya ingin bertanggung jawab pada kewajiban yang memang dipercayakan oleh Aira.
Apalagi mengimbangi cara kerja Aira bukanlah hal mudah. Sesaat mengingat bagaimana cara bosnya memberikan penjelasan sampai tiga kali dengan kesabaran penuh. Sayangnya karena terlalu polos maka berakhir ujian dadakan. Setumpuk analisis data sampai buku cara menjadi detektif pun harus dipelajari.
Ujiannya tidak berat tapi sangat membosankan tapi berkat bimbingan yang bisa dijadikan sebagai ilmu. Pada akhirnya kini bisa menjadi orang kepercayaan yang tidak harus melaporkan diri setiap waktu pada atasannya. Yah bersyukur atas pekerjaan yang memberikan kenyamanan di hati serta pikiran.
__ADS_1
"Kalian ini, kenapa gak nikah saja? Cocok loh." Ibu Sonia menggoda Danish dan Lia yang langsung salting dengan pipi memerah. "Haduh ada yang malu. Buruan halalin, Dan."
"Ibu bisa saja tapi maaf karena sebenarnya saya sudah ada calon." jawab Danish berterus terang. Seulas senyum bahagia tersungging menghiasi wajah pria itu. "Namanya ...,"
"Kalian belum selesai? Mau liburan atau tidur?" Aira yang sudah kembali dari ruang kerja hanya ingin menegur agar semua segera bersiap.
Satu per satu meninggalkan ruang makan begitu langkah kaki Aira mulai menjauh. Tidak ada obrolan yang bisa menghangatkan kesibukan dunia. Tiga puluh menit telah berlalu hingga tampak semua orang berkumpul di ruang tamu. Mereka sudah siap untuk bepergian entah kemana.
"Sayang, kamu tidak mau pakai gaun saja?" tanya Arkha yang untuk pertama kalinya melihat perubahan penampilan sang istri.
Outfit hari ini begitu simple dengan celana jeans, atasan oversize bahan rajut, sepatu sneakers hitam, tas selempang biru muda dengan rambut di gerai yang berhias jepit kupu-kupu. Tampak casual meski agak terkesan tomboy. Padahal selama tinggal bersama justru selalu mengenakan gaun yang bisa dibilang feminim.
Aira menggelengkan kepala, "Ayo, kita berangkat. Dan kamu semobil dengan Arsha, dan Lia. Biarkan ibu dan bapak bersamaku."
"Woke, Bos. By the way siapa yang mau nyetir?" tanya Dan untuk memastikan karena ia tidak ingin mengambil resiko keselamatan keluarga dalam bahaya.
Arkha menunjukkan kunci mobil yang sudah ada ditangannya pada Danish. Yah, siapa lagi yang akan menyetir? Melihat itu membuat sang asisten tidak cemas lagi. Satu per satu pergi meninggalkan rumah menuju luar. Dimana mobil sudah menunggu mereka untuk menikmati perjalanan panjang.
Arkha yang memang tidak paham percakapan antara ibu dan anak yang berhenti sejenak sehingga ia memilih masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Begitu melihat istrinya menyusul tetapi duduk di kursi belakang. Bagilah ia paham perdebatan tentang apa. Tanpa ingin mempermasalahkan hal sederhana, ia mulai fokus untuk mulai menyetir.
Perjalanan kali ini akan menuju ke sebuah tempat yang indah yaitu Pantai Menganti di Kebumen, New Zealand-nya Indonesia. Pantai Menganti terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Pantai Menganti merupakan pantai yang memiliki pemandangan indah di jajaran pantai selatan
Pantai Menganti terkenal karena keindahan alam dan kejernihan lautnya. Keindahan pantai ini menempati salah satu pantai terindah di Provinsi Jawa Tengah. Bahkan, keindahan pantai dapat disejajarkan dengan keindahan pantai yang ada di Selandia Baru.
Bentangan alam perbukitan berupa tebing karst menjadikan pantai yang berpasir putih ini semakin menyejukkan mata. Selain itu, wisatawan yang berkunjung juga disuguhi pemandangan di atas tebing yang menawan serta spot sunrise dan sunset.
Jembatan merah yang sengaja disediakan pengelola dapat menjadi spot foto-foto terutama menjelang sunset maupun sunrise. Spot untuk melihat sunset dan sunrise adalah Puncak Mercusuar dengan ketinggian kurang lebih 20 meter. Ada juga Lembah Menguneng
Salah satu spot foto dengan pemandangan pantai yang lebih luas.
Yah, akhirnya pilihan jatuh pada pantai Menganti. Dimana pantai itu menjadi incaran para pelancong yang mencintai keindahan alam nyata. Suara deburan ombak terasa begitu menenangkan seakan mengajak berlari bersama. Birunya air dalam tetapi menenangkan. Begitu mempesona layaknya bintang bersinar di kegelapan malam.
__ADS_1
Perjalanan selama beberapa jam cukup melelahkan tetapi begitu sampai mulai terbayarkan dengan pemandangan yang menakjubkan. Langit cerah menambah suasana kian mendukung. Satu keluarga yang memilih tempat untuk berteduh dengan gubuk yang muat untuk tujuh kepala.
"Sayang, mau selfie?" tanya Arkha sembari merangkul istrinya yang berdiri di depannya.
"Boleh saja tapi kita jalan dulu, yuk." ajak Aira merasa ingin merenggangkan tubuhnya yang agak pegal duduk di mobil.
"Uhuk, jangan berdua aja donk. Masa aku ditinggal." sindir Lia membuat Aira terkekeh pelan. "Gak lucu ya, Ra."
Aira berusaha menahan diri agar kembali tenang, "Dan, ajak Lia jalan gih! Aku tahu kamu punya pacar tapi temani dia hari ini sebagai teman."
"Seperti keinginanmu, Bos." jawab Danish seraya menarik tangan Lia yang memang berdiri disebelahnya.
Namun tak ingin membuat siapapun pacar Dan salah paham. Aira juga meminta Arsha untuk ikut keduanya jadi jalan bertiga, sedangkan ia dan Arkha mengalah tetap di tempat yang sama dan menikmati obrolan ringan bersama kedua orang tua. Kebersamaan akan lebih baik daripada mencari kesenangan sendiri.
Sementara ketiga muda mudi yang menyusuri pantai hanya terus berjalan tanpa tau akan melakukan apa. Di saat menikmati sepoi angin tiba-tiba terdengar suara panggilan dari arah belakang. Sontak mereka bertiga berbalik serentak. Padahal yang dipanggil hanya Danish seorang.
Senyum sumringah membuat Danish terlihat begitu tampan. Pria itu dengan sukacita menyambut kedatangan seorang wanita yang berjalan begitu kemayu. Langkah kaki goyang kanan kiri dengan tubuh dibuat ke depan. Bukan tegak tapi seperti memamerkan asetnya saja. Wajahnya yang tampak familiar menyita perhatian Lia.
Namun ia lupa pernah melihat dimana dan bersama siapa. Ditengah lamunan Danish memperkenalkan kekasihnya dengan panggilan Wawa. Tak ingin terlalu sibuk memikirkan pacar orang lain, akhirnya masa bodo dan membiarkan sepasang kekasih itu saling melepas rindu. Kini hanya tinggal dia bersama Arsha.
"Mau tetap disini atau balik?" tanya Arsha berbalas tatapan sendu Lia karena hati merasa sangat kesepian. "Kamu kenapa?"
"Apa salah mencintai sahabat sendiri?" Tatapan mata menunduk tak mampu menemukan jalan kebenaran. Sentuhan lembut tangan kekar mengajarkannya untuk kuat menghadapi kenyataan. "Aku ...,"
"Sebagai manusia hanya bisa mengikuti alur takdir. Tidak seorangpun mampu bertindak mengambil keputusan sesuai keinginan hati atau pikiran. Lihatlah pernikahan kakakku dan kakak ipar. Pernikahan yang mustahil tetapi semua menjadi kenyataan karena Allah telah menjodohkan mereka sebagai sepasang kekasih halal.
"Jika sahabatmu adalah jodohmu. InsyaAllah dia akan datang tuk menghalalkan sang kekasih halal pada mahligai pernikahan. Berdoalah untuk kepasrahan lillahi ta'ala." sambung Arsha, lalu melepaskan dagu Lia. Ia berharap gadis yang berisi di depannya sanggup menghadapi masalah percintaan rumitnya.
Tak ada kata yang bisa dia ucapkan. Bibir terasa kelu. Tanpa permisi menghamburkan diri mendekap pria yang kini mau menerima keluh kesahnya dalam diam. Usapan hangat dikepala semakin menghantarkan rasa ingin menangis lebih dari sebelumnya.
"Lia!" panggil seseorang dari belakang tetapi terabaikan.
__ADS_1