
Setelah memastikan waktu dan dirasa tidak perlu lagi memegang ponsel. Aira hanya membiarkan pesan dari Arkha yang terakhir tanpa membukanya. Gadis itu memilih menikmati kesibukan dunia nyata, lalu meninggalkan sejenak dunia maya.
Akhirnya semua pekerjaan selesai, bahkan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih lima menit. Itu berarti tepat waktu nya Arkha istirahat untuk menunaikan ibadah dan makan siang di sela jadwal pekerjaan yang memang memiliki peraturan ketat serta memberikan kebebasan untuk menjalankan kewajiban seorang muslim.
Benar saja sesuai dugaannya. Pemuda itu sudah mengirim pesan mengucapkan salam beserta bertanya tentang kabarnya. Bahkan Arkha tengah menunggu dirinya agar segera membalas pesan tersebut.
\[Wa'alaikumsalam, me fine. Now tell, how I can help you?\]~ balasku tanpa basa-basi.
[ Alhamdulillah, before already I say, I love a girl with you na and now I want tell to her. If I just want her in my life.]~jawab Arkha memberikan emoji berpikir seakan masih belum siap dan mencoba mempertimbangkan kembali tentang tindakan yang akan ia ambil.
Melihat sikap Arkha yang tampak bimbang, membuatku berpikir untuk offline kembali. Akan tetapi, pemuda itu membutuhkannya untuk menemukan solusi atas kasus cinta yang tidak ia pahami. Sontak saja, ku balas kembali dengan meminta dia untuk jujur pada gadis yang menjadi pemilik hatinya.
[Aira, honestly I am not interested with other girls because I see you in your profile. I want to be closer with you. My heart wants you and when you give me believe in your group to handle the group. Actually I am very happy, but I know you are just always simple. Aira, I Love You. You different Aira]~ungkap perasaan Arkha menambahkan emoji hati dan bunga sebagai bentuk penyataan nyatanya.
Aira mencoba membaca pesan Arkha sekali lagi. Pemuda itu mengatakan cinta padanya hanya karena melihat sekilas dari foto profil facebook. Memang benar, pertemanan mereka semakin memiliki peningkatan tapi jujur saja tidak sekalipun berpikir ke arah lain. Apalagi mengingat kehidupannya terlalu rumit untuk dijabarkan. Sehingga kepercayaan itu masih di ujung perbatasan pertemanan.
[Hmm! No joke with me, we know each other from group. I not want talk about heart.]~balasku enggan menanggapi lebih dari sekedar memahaminya. Tentu ada rasa sedikit shock karena selama ini hanya berbicara soal masalah di grup bukan masalah pribadi di antara ia dan Arkha.
[I never joke about heart, Ra. I really love you since I see you but for talk with you very difficult that time and slowly I can more talk with you. Honestly i not want make you think I love other girls because I only love you, Aira.] ~ jawab pesan Arkha tanpa menambahkan emoji apapun karena ia benar-benar serius dengan pernyataan cintanya untuk sang wanita pujaan hati.
Sebagai seorang pemuda dari negara Pakistan yang notabene merupakan orang luar dibandingkan para pemuda Indonesia. Arkha sadar bahwa kehidupannya sudah cukup sulit. Apalagi jika mencintai gadis beda negara tetapi hati tidak peduli perbedaan itu. Cinta bukanlah tentang jarak dan waktu, melainkan tentang rasa yang menyeruak menghantarkan semangat baru.
[Thanks.]~balas Aira mengakhiri obrolan pesan yang cukup menyentak kesadarannya akan hubungan di antara mereka berdua. Sehingga ia langsung meletakkan ponsel ke atas meja kembali, walau terdengar nada dering yang pasti sebuah pesan telah masuk menunggu dibukanya.
Hati memang tidak bisa dipaksakan. Perasaan itulah yang tengah dialami Aira. Setelah hari itu, keduanya tetap komunikasi baik dan lebih menjaga perasaan satu sama lain. Hal itu dilakukan bukan karena saling mencintai, tapi teruntuk Aira. Gadis itu merasa bahwa Arkha pantas mendapatkan kepercayaan dan juga toleransinya.
Tiga bulan kemudian, sesuatu terjadi. Dimana keadaan memaksa Aira untuk memahami dirinya sendiri. Semua itu karena akhir-akhir ini ia merasa tak tenang. Apalagi ketika mengetahui Arkha semakin sibuk dengan pekerjaan, tetapi seringkali mengirim pesan ingin selalu bersamanya. Padahal yang di dapat pemuda itu selalu sikap acuh bersama ucapan terimakasih saja sebagai balasan atas pernyataan cinta yang diberikan.
Sementara di grup dihebohkan dengan pembicaraan mengenai kekasih. Termasuk Arkha yang lebih sering berbincang serius dibandingkan bercanda. Entah apa yang merasuki pikiran hingga sebuah candaan terlempar dengan typing untuk seorang pemuda di group chat tersebut. Tanpa sadar Aira melemparkan bahan bakar yang membuat Arkha cemburu.
Bagaimana tidak? Diam menjadi penyimak atas perbincangan sepasang kekasih bohongan yang berlagak sebagai pasangan romantis. Tentu rasanya benar-benar panas dengan rasa sakit hati yang tertahan. Sehingga akhirnya Arkha hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun bahkan ia tidak sempat mengirim pesan sekedar bertanya kabar pada wanitanya.
Perubahan Arkha, membuat Aira heran sekaligus bingung. Sontak ia mengirim pesan sekedar untuk bertanya tentang kabar pemuda yang selama beberapa bulan menjadi orang terdekatnya.
[Assalamu'alaikum, Arkha what happened with you?Since yesterday you online but not chat. I do something wrong with you?]~satu pesan pembukaan dikirim tanpa keraguan.
Lagipula, ia merasa tidak biasanya Arkha bersikap begitu pendiam bahkan ketika sangat sibuk melakukan pekerjaan saja. Pemuda itu masih sempat memberinya kabar. Apa salah untuk menanyakan hal yang di luar kebiasaan?
[Wa'alaikumsalam, nothing happen and i am fine.]~balas pemuda itu yang langsung dibaca Rara. Si gadis tak menyadari isi hatinya yang masih sangat kesal mengingat obrolan chat di group.
Balasan yang begitu singkat. Lagi dan lagi menimbulkan pertanyaan, "Ini anak kenapa, ya? Sakit atau lagi sariawan? Bingung aku jadinya." Aira hanya bisa menggelengkan kepala seraya mengetik sesuatu untuk menjadi balasan si pemuda luar negeri itu.
__ADS_1
[Suddenly short message. If I make mistake, so tell clearly what happens?] ~ balasnya mencoba mencari tahu alasan perubahan sikap seorang Arkha.
Namun, siapa sangka jawaban Arkha justru mengejutkannya. Pemuda itu tengah kesal karena melihat obrolan di group yang notabene hanyalah candaan. Bukan hanya itu saja karena Arkha merasa sakit hati dengan kedekatan gadis pujaan hatinya akrab dengan pria lain. Sementara setiap kali mengutarakan cinta hanya dijawab ucapan terimakasih saja.
Tak ingin memperpanjang masalah. Aira berusaha menjelaskan pada Arkha bahwa apapun yang terjadi di grup hanyalah candaan. Gadis itu juga meminta maaf tetapi sayangnya si pemuda tetap tenggelam dalam rasa kecewa. Terlalu sulit untuk mengatakan hubungan mereka bukanlah sepasang kekasih yang memiliki kewajiban untuk saling menjaga perasaan.
[ If you can't love me it's ok. But remember, me always love you Aira. You can do what you want and I will always waiting you.]~balas Arkha mengakhiri perdebatan di antara keduanya.
Cinta? Pernyataan Arkha membuat Aira kembali berpikir. Apa perasaan itu sedemikian rupa hingga tak bisa dijabarkan? Jujur saja sejak mengenal pemuda itu, ia bisa tahu bahwa Arkha cukup dewasa dan bisa diandalkan. Akan tetapi, hati tak pandai berbohong. Dimana masih ada keraguan yang tersimpan. Tidak mungkin memulai hubungan tanpa memiliki kepercayaan.
Setelah pembicaraan singkat bersama Arkha. Aira merasa sangat gelisah. Gadis itu sadar berbicara dengan sang pemuda asing sudah menjadi kebiasaan, tetapi hati masih tenggelam pada kisah yang telah lalu. Sebuah kisah yang kini menyapa ingatan nyatanya. Semua bermula pada satu nama yang tak luput dari goresan tinta kelam kisah tak bertuan.
Dia, seseorang yang tampak asing menjadi dekat dengan seluruh usaha keras selama masa pendekatan bahkan pemuda itu bertahan dalam penantian selama satu tahun. Namanya Alex. Seorang pemuda yang tinggal satu kota tetapi beda desa. Kisah yang terjalin begitu saja karena mengalir seperti air.
Disuatu hari kala mentari bersinar begitu terik. Aku pergi sendiri hanya untuk sesaat mencari suasana selain rumah sehingga memilih mendatangi sebuah taman yang berjarak cukup jauh dari rumah. Sepeda yang selalu menjadi teman seperjalanan menghapus jarak semakin singkat. Andai berjalan kaki bisa saja menghabiskan waktu satu jam lebih.
Sesampainya di taman. Gadis itu mencari meja di sekitar tempat yang teduh. Dimana pemandangan di depan mata ada tiga ayunan yang tengah dimainkan oleh beberapa anak. Penampilan bak pria tak mengurangi sisi wanita seorang Aira. Meski rambut panjang terikat menjadi satu bahkan wajah tanpa polesan make up.
Suasana taman cukup ramai karena hati weekend. Beberapa anak muda lain pun ikut duduk bersantai tersebar di beberapa sudut ruangan area taman. Aira tak peduli dengan sekitarnya karena tatapan mata fokus memainkan gawai yang menjadi teman bermainnya. Tiba-tiba saja beberapa orang menegur sekedar meminta izin agar diperbolehkan duduk di bangku yang sama.
"Hmm." jawab Aira tanpa ekspresi.
Ia membiarkan para anak muda yang jauh diatasnya itu untuk duduk di meja pilihannya. Dimana setiap meja bisa disini enam atau bahkan delapan orang karena tersedia empat bangku yang saling menghadap satu sama lain. Sehingga satu bangku bisa di duduki oleh tiga orang. Hanya saja dari kelima orang di kelompok itu tak berani duduk di sebelah Aira. Si gadis yang stay sibuk memainkan ponsel tanpa menoleh ke arah lain.
Mereka sibuk dengan pembicaraan yang tak Aira mengerti. Tiba-tiba saja orang yang meminta izin mengalihkan pandangan ke gadis yang duduk sendirian. Si gadis menyadari ketika Ia diperhatikan, tapi tak ambil pusing bahkan diam mengabaikan seakan tak sadar tengah menjadi pusat perhatian.
"Emm, boleh kenalan. Siapa namamu dan kenapa sendiri disini?" Tatapan mata memandang ke sekitar. Dimana tidak ada orang selain Aira, lalu Ia kembali menyodorkan tangan untuk berkenalan. Sementara yang lain hanya memperhatikan.
Tanpa mengindahkan tangan yang diam menggantung di depannya. Aira beranjak dari tempat duduk, "Aku sendiri, silahkan lanjutkan saja urusan kalian." Langkah kaki berjalan meninggalkan meja seraya menutupi kepala menggunakan tudung jaketnya. Ia merasa tak nyaman sejak kehadiran orang-orang asing yang mengganggu waktu liburnya.
Kepergian Aira membuat semua ke empat orang dari anggota itu hanya tertawa karena temannya diacuhkan bahkan ditinggal pergi begitu saja. Tak ada yang menyadari disaat salah satu diantara kelompok itu merasa tertarik dengan sikap Aira. Meski sedari tadi hanya diam menyimak.
*Aku salut dengan sikap tenang gadis itu. Apalagi caranya menolak berkenalan dan tampak tidak tertarik dengan pemuda tampak seperti temanku. Sementara di sekolah banyak siswi antri untuk dijadikan sekedar teman kencan sekali pakai.~ batin seorang pemuda dengan pemikirannya yang berhasil menarik garis senyum di bibir*.
"Sebenarnya Aku masih ingin disana, tapi malas dengan pandangan semua anak tadi." Aira menghela napas panjang seraya mengedarkan pandangan mencari tempat duduk lain di taman itu.
Setelah pencarian beberapa saat. Gadis itu menemukan tempat teduh yang kosong. Tanpa berlama-lama Ia duduk menempati bangku yang cukup nyaman dengan pemandangan deretan bunga mekar berwarna oranye. "Alhamdulillah, lebih baik disini saja. Sepertinya mendengarkan musik bisa menetralkan pikiran agar kembali tenang."
__ADS_1
Dua jam kesendiriannya hanya berteman dengan irama nada yang mengalun merdu melalui earphones di kedua telinganya. Musik seperti hembusan angin yang menyegarkan di kala terik matahari terasa membakar raga. Disisi lain anak-anak yang tadi siap pergi dari taman. Langkah kaki berjalan beriringan menyusuri jalan setapak taman tetapi seseorang tidak sengaja melihat keberadaan Aira yang memejamkan mata dengan tangan sebagai penopang.
Melihat itu, entah kenapa dia tiba-tiba meminta temannya untuk kembali pulang terlebih dulu. Sedangkan Ia mengatakan ada urusan lain. Sehingga semua teman mengiyakan barulah Ia berinisiatif mendekati Aira. Tak ingin bertindak gegabah, pemuda itu membeli dua minuman sebagai basa basi nanti karena ia yakin tidak mudah mendekati seorang gadis yang tidak terpengaruh oleh ketampanan wajah. Apalagi ia seorang pemuda yang tak pandai berbicara.
Si pendiam itu lah yang mendekati Aira. Meski pendiam, pemuda itu berusaha sebaik mungkin saat menginginkan sesuatu tanpa mengenal rasa lelah maupun putus asa.
«────── « ⋅ʚ♡ɞ⋅ » ──────»
My Diary
Dibalik sebuah senyuman
Ribuan cerita tak terungkap
Dibalik sebuah persetujuan
Tersimpan kesadaran
Dibalik sebuah kebisuan
Tersirat sebuah harapan
Tak semudah kata-kata
Terucap dari bibir
Kenyataan akan selalu sama,
Keikhlasan yang meluluhkan hati.
Bukan nya tak mendengar
Bukan nya tak melihat
Bukan nya tak menghargai
Bukan nya tak peduli
Namun Hati ini,
Hanya satu tak mungkin dibagi.
Hati ini memilih untuk tetap sendiri..
__ADS_1
Hingga sang pemilik hati datang menghampiri tuk memenangkan hati ini.