
Satu minggu telah berlalu. Masa penantian yang panjang kian menyesakkan dada hingga suara notif pesan masuk mengalihkan perhatiannya. Rasa malas membuatnya enggan untuk mengambil ponsel dari atas ranjang. Lagi-lagi terdengar dering yang mengusik waktu istirahatnya. Tak ingin menyia-nyiakan waktu di sambarnya si benda pipih.
Baru saja melihat notifikasi pesan di layar ponsel. Ia terlonjak kaget kegirangan karena akhirnya Lia memberikan nomor Aira. Rasa bahagia jelas mengubah suasana hatinya yang mendung. "Apa aku harus SMS gadis dingin sekarang juga?"
"Tidak, tidak. Lebih baik besok pagi saja. Jadi sekarang mau apa? He-he-he bingung sendiri jadinya." gumam Alex bermonolog pada dirinya sendiri.
Kebahagiaan yang telah lama dinanti harus ditunda tenggelam dalam alam mimpi. Waktu yang berlalu begitu cepat hingga terdengar suara adzan membuat Alex terbangun. Rasanya tidak sabar ingin berselancar menuliskan isi hati pada gadis pujaan hatinya. Ditengah rasa kantuk dan semangat, pemuda itu menatap layar ponsel bahkan tak berkedip.
Ia bingung mau menulis apa sehingga jari jemari mengetik asal. Satu pesan sukses dikirim tanpa memikirkan apa balasannya nanti, lalu memulai aktivitas seperti biasa saat pagi hari. Sementara di sisi lain Aira tengah sibuk meracik bumbu untuk membuat sarapan pagi. Celemek hitam menutupi kaos longgar yang dikenakan dengan rambut bergelung.
Tak lupa sambil mendengarkan musik melalui earphones. Tiba-tiba terdengar lagu lain yang mengubah suasana hati. Sontak diletakkannya pisau kemudian mengambil ponsel dari saku celemek untuk mengganti lagu sesuai keinginan tetapi sebuah pesan dari nomor asing membuatnya mengernyit. Siapa yang mengajak bertemu di hari libur?
Ternyata sudah ada dua pesan dari nomor yang sama dan kini ia tahu Lia lah yang menjadi alasannya bingung. Ternyata anak satu itu sudah memberikan nomornya pada Alex. Padahal ia pikir hanya candaan semata saat menanyakan perihal nomor yang ingin dibagi ke teman. Lia serius dengan hal tersebut.
Aira membaca pesan, lalu membalasnya dengan menolak bertemu karena tengah memiliki kesibukan. Gadis itu tak ingin memberikan harapan apapun bahkan ia enggan menyimpan nomor Alex. Kemudian beralih mengirim pesan ke Lia. Sekedar memastikan apa benar temannya itu membagi nomor pada si pemuda bangku taman.
[Iya, Ra. Aku memang memberikan nomormu pada Alex. Maaf, ya, tapi ayolah dia orang baik. Kamu bisa coba jadi temannya dulu. Bagaimana?]~balas Lia membujuk Aira yang pasti kesal atas tindakannya.
Kini jelas sudah semuanya. Tentu saja ia kesal karena Lia bertindak sesuka hati. Padahal tahu seperti apa dirinya. Pesan yang hanya dibaca tanpa dibalas, "Lanjut masak lebih baik. Semangat Aira."
Hari pertama semua baik, tetapi di hari-hari berikutnya kehidupan Aira berubah menjadi lebih tidak bersahabat. Bagaimana ingin tenang? Jika setiap hari Alex selalu mengirim pesan. Pemuda itu tidak jera meski pesan hanya dibaca tanpa mendapatkan balasan. Sungguh terlalu keras kepala hingga di suatu sore keduanya dipertemukan kembali.
Gadis itu tengah mendengarkan musik seraya memainkan ayunan. Tiba-tiba Alex datang dan duduk di ayunan sebelah kanannya. "Kamu disini sendiri. Kenapa tidak mengirim pesan kalau kesini? Aku kan bisa nemenin kamu, Aira." Tatapan mata menatap wajah manis sang pencuri hati.
"Aku suka sendiri." jawab Aira tanpa beban. Ia kembali mengacuhkan Alex tetapi pemuda itu tetap bertahan.
Kebiasaan Aira mendiamkan Alex hanya dengan satu harapan agar pemuda itu kehilangan harapan dan bisa pergi dari kehidupannya. Kenyataan justru berkata lain, Alex tak bergetar memperhatikan gadis yang duduk di sebelahnya. Sejak pertemuan pertama hanya ada kebisuan kecuali suara tawa yang terdengar saat bersama Lia.
Kesabaran ekstra? Benar kata Lia. Aira itu seperti ladang penguras emosi. Bukan hanya sabar tetapi juga ego yang harus ditekan. Meskipun demikian, ia tahu gadis seperti Aira memiliki harapan sederhana sehingga sangat pemilih karena demi menjaga diri dan hati.
Waktu berlalu cepat, tak terasa tiga jam sudah berlalu. Matahari saja sudah beranjak dari singgasana, "Aira, ini sudah hampir magrib. Apa kamu tidak mau pulang?" Lirikan mata melihat jam di tangan yang menunjukkan pukul delapan belas kurang tiga menit.
"Aku mau sholat dulu, baru pulang." Ditutupnya buku novel yang ada di atas meja, lalu ia beranjak dari tempat duduknya.
Langkah kaki seirama berjalan menyusuri setapak hingga di mushola tampak begitu sepi. Keduanya mengambil air wudhu di tempat yang memang dibedakan untuk pria dan wanita. Lalu menunaikan ibadah sholat dengan khusyuk tanpa menjadi imam dan makmum. Alex yang menyelesaikan sholat lebih awal menoleh ke samping. Dimana Aira masih duduk dengan kedua tangan terangkat.
__ADS_1
Tampaknya gadis itu tengah dalam masalah tapi apa? Ingin sekali menghampiri bertanya apa yang terjadi. Sayangnya ia ingat dimana mereka berada sehingga menunggu waktu yang tepat. Di saat langkah kaki meninggalkan mushola dengan jalan setapak sebagai alas. Barulah berani mengucapkan basa-basi.
"Apa kamu mau langsung pulang? Jika iya, ayo aku temani karena ini sudah petang dan anak gadis tidak baik pulang sendiri." ujar Alex memulai obrolan dengan niat tulusnya.
Aira yang menghentikan langkahnya, lalu menunjuk ke sebuah pohon di dekat tempat parkir sepedanya. "Kita bicara disana."
Alex hanya mengikuti Aira dan mendengarkan tanpa menjawab, setelah keduanya duduk di bangku dekat parkiran. Tatapan gadis itu menelisik ke arahnya. Hanya sesaat tapi jelas mengungkapkan rasa tidak nyaman sebagai seorang wanita. Apa ia sudah keterlaluan?
"Alex, sebenarnya apa maumu? Apa sikapku masih kurang jelas?" Aira menghela napas panjang mengalihkan perhatiannya dengan menatap tembok di sisi seberang depannya.
Alex tersentak mendengar suara Aira yang lelah karena ulahnya. "Aku ingin dekat dengan mu agar bisa memahami gadis yang mencuri hati ku. Apa salah, jika aku menyukaimu?"
"Kamu orang baik tapi Aku tidak tertarik dengan cinta. Mari kita berteman saja." balas Aira dengan keputusan yang lebih baik dibandingkan harus menjalin kisah cinta.
Gadis itu mengulurkan tangan yang disambut hangat Alex. Seulas senyum tipis di. Wajah Aira membuat Alex meredam rasa di hatinya. Rasa kecewa yang dirasakan tak sebanding dengan pemandangan yang kini ada di depan mata. Kapan lagi bisa melihat si gadis dingin tersenyum. Bersyukur atas satu fase yang memiliki kemajuan setelah diabaikan selama beberapa waktu.
Pertemanan bentuk lain dari pengenalan yang bisa mendekatkan dua orang asing agar saling memahami. Meski tak semua pertemanan bisa menjadi jalan kebersamaan. Apalagi berubah menjadi cinta. Setelah mendapat nama baru dalam hubungan mereka berdua. Aira beranjak pergi setelah berpamitan mau pulang. Tiba-tiba Alex menawarkan diri untuk menemani sebagai bentuk kepedulian.
"Aira, aku akan mengantarmu. Lihatlah ini sudah gelap." ujar Alex seraya mengeluarkan kunci motor dari balik saku celana.
Alex yang melihat itu hanya bisa mengikuti Aira dari jauh karena ia takut Aira kenapa-kenapa. Perjalanan selama tiga puluh menit cukup menegangkan. Bagaimana bisa gadis itu bersepeda seorang diri dengan setengah status jalan sepi seakan tidak ada kehidupan. Di saat ia melihat Aira masuk ke sebuah gang. Barulah ia berani memutar haluan motor. Pasti rumah sang pujaan hati ada di desa tersebut.
Meski sudah berteman bukan berarti Alex bisa dekat dengan Aira. Selama beberapa waktu tidak ada banyak perubahan. Selain berkirim kabar melalui pesan yang kini tidak sering diabaikan. Meski selalu mendapatkan jawaban singkat, tetap saja itu lebih baik daripada tanpa balasan. Bukankah kesabaran masih harus diuji?
Beberapa bulan kemudian pertemanan semakin membaik hingga rencana teman-teman liburan saat weekend memberi sebuah gagasan yang cemerlang. Tanpa menunda ia mengirim sebuah pesan ajakan agar Aira bersedia ikut berlibur bersamanya. Gadis itu harus memiliki suasana baru selain taman. Obrolan singkat di ponsel justru mengubah haluan.
Aira akan pergi, jika Lia setuju ikut pergi juga. Secara tidak langsung, gadis itu enggan bepergian dengan orang-orang asing. Cukup bisa dipahami karena selama ini memilih sendiri dan tenggelam membaca novel kesayangan. Maka suka, tidak suka. Pesan beralih ke nomor Lia. Gadis yang ia tahu sibuk dengan sekolah.
[Lia, Aku minta tolong donk. Besok minggu ajakin Aira ke pantai karena dia bakalan ikut asalkan kamu juga ikut.]~Pesan pertama tanpa basa-basi, membuat si penerima pesan mencebik kesal.
Ia tahu kenapa Aira melibatkan dirinya dalam urusan lelaki. Apa lagi jika bukan ingin menghindar dari namanya cinta. Entah harus diapakan gadis satu itu karena terlalu menjaga jarak. Apalagi seringkali ia mendengar keluhan Alex tentang sikap Aira yang memang super duper menarik kesabaran sampai batas ubun-ubun.
[Lihat saja nanti, semoga tugasku tidak banyak.]~balas Lia tanpa ingin memberikan harapan. Lalu ia beralih ke nomor sang teman yang suka sekali menjadikan dia sebagai umpan.
[Rara, kamu ngapain nggak mau ikut ke pantai? Biasanya aja ngajak pas weekend, lah ini ada tawaran malah ditolak. Sudan bosan dengan tempat favoritmu?]
__ADS_1
Pesan yang ditunggu akhirnya datang juga. Aira membuka pesan dari Lia, bibirnya tersenyum tipis. "Anak satu ini, apa perlu menjelaskan hal pasti? Heran deh."
[Up to you, Lia. Tidak ada drama yang harus dijabarkan.]~ pesan singkat yang pasti di pahami sang teman karena mereka sudah berteman begitu lama sehingga mengenal karakter satu sama lain.
Lia terkekeh membaca pesan Aira. Benar seperti dugaannya, "Baiklah, seperti keinginanmu. Semua di tanganku. Siapa yang bisa memahami nona es kutub utar?"
Setelah memeriksa semua jadwal dan tugas sekolah. Lia memutuskan untuk ikut ke pantai menemani Aira. Gadis itu bahkan harus membawa motor sendiri karena ia tak ingin merepotkan yang lain. Sebenarnya alasan utama agar si gadis kutub mau pergi ke pantai.
Pagi itu Alex sudah membuat janji untuk bertemu di parkiran pantai dan bukan berkumpul di tempat lain. Sesampainya di pantai Lia mengirim pesan ke Alex bahwa dia sudah di pantai bahkan menunggu di tempat janjian. Sementara yang ditunggu justru masih dalam perjalanan bersama teman lainnya.
Alex yang mendapatkan pesan berhenti sesaat dan tersenyum, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Disisi lain Aira tidak suka hanya duduk menunggu sehingga memilih jalan-jalan ke pantai tanpa mempedulikan janji yang sudah disepakati. Gadis itu justru meminta Lia yang menunggu di parkiran seorang diri.
Aira tersenyum manis menatap Lia, "Aku bosan, kamu yang nunggu ya. Aku mau ke pantai duluan, tapi nggak jauh kok karena cuma jalan kesitu dan menunggu disana." Tangannya menunjukkan jalan di depan yang terlihat menuju pantai.
Gadis itu melambaikan tangannya ke Lia tanpa menunggu jawaban. Sontak saja membuat sang teman menggelengkan kepala, "Begitulah Aira yang selalu kalau ada maunya lari sendiri." Ingin kesal tetapi lebih baik membiarkan senyuman si gadis dingin menghiasi bibir.
Penantian selama lima belas menit akhirnya membuahkan ketidaksabaran. Untung saja Alex dan kawan-kawan menampakkan batang hidung mereka. Rombongan anak-anak yang sengaja memarkirkan motor di dekat Lia berada. Alex bersama dua perempuan dan tiga lelaki yang pasti teman sekolah. Semua wajah tampak asing hingga diperkenalkan secara khusus.
"Lia, maaf buat kamu nunggu lama. Kenalin ini teman sekelasku. Tyo, Rei, Ahmad, Sisi dan Lisa." Alex menunjuk temannya sesuai nama yang disebutkan agar Lia tidak salah panggil.
Lia menerima sambutan tangan dari setiap teman Alex, tapi tatapan matanya menangkap gelagat aneh yang ia tahu apa alasan dibalik sikap cemas seorang Alex. Hanya saja ia memilih berpura-pura tidak tahu.
Alex tak tahan lagi untuk diam. "Dimana Aira? Aku kira kamu mengajaknya juga." Sorot mata terlihat kehilangan semangat. Pemuda itu sedih karena Lia hanya seorang diri sedangkan yang diharapkan tidak ada bersamanya.
"Ouh, jadi yang ditanya penuh harapan cuma sahabat ku doank, ya? Kalau gitu mending aku balik aja deh." goda Lia membuat Alex salah tingkah.
Pemuda itu terpaksa menyunggingkan seulas senyum, "Bukan begitu, ya udah ayuk ke pantai saja karena semua sudah berkumpul. Sebaiknya kita jalan bareng."
Lia berjalan di dekat Alex. Ketika sampai di pantai semua mulai mencari tempat dan suasana yang dianggap nyaman, sedangkan Lia memisahkan diri mencari Aira. Pantai yang luas dengan deburan ombak pasti membawa hati sang sahabat pada kenyamanan. Langkah kaki berjalan menyusuri pantai dengan kaki telanjang. Begitulah kebiasaan Aira.
Sementara Alex dan kelima temannya tidak paham kenapa Lia pergi. Mereka berpikir gadis satu itu mencari toilet. Setelah berjalan sepuluh menit. Tatapan mata terpatri pada gadis yang duduk di hamparan pasir pantai. "Aira!"
...⊶⊷⊶⊷⊶⊷⋆⊶⊷⊶⊷⊶...
Ketenangan itu hadir dari dalam hati. Namun kekacauan yang melanda hanyalah ujian yang harus dilewati. Jiwa yang terlantar nyatanya tersesat tanpa arah tujuan. Selain kesabaran untuk diperjuangkan.
__ADS_1