Meet Up Jodoh

Meet Up Jodoh
Part 30#Rumah Milik Aira


__ADS_3

Perbedaan tingkah dulu dan sekarang benar-benar menjadi pertanyaan ulang. Kenapa Aira berubah? Seakan dunia gadis itu hanya ada di dalam ponsel. Pikiran berkelana ke arah tak bertuan. Apa semua hanya perasaan dia saja atau memang dia yang kurang memahami siapa istrinya?


Tanpa sadar perjalanan selama empat puluh lima menit berakhir ketika mobil memasuki halaman sebuah rumah mewah dua tingkat bergaya modern dengan warna tembok seperti lukisan pelangi berpadu cakrawala yang indah secerah langit di atas sana. Rumah dengan taman kecil yang ada di sisi sudut menjadi keindahan tersendiri.


Kedua bersaudara yang sudah turun terlebih dahulu hanya terdiam menatap bangunan di depan mereka, sedangkan Danish mengeluarkan barang agar bisa memindahkan semuanya tanpa menunggu diperintah. Aira menyimpan ponselnya, lalu ikut turun.


"Ekhem!" dehem Aira membuat lamunan Arkha dan Arsha buyar.


Bagaimana tidak terpana? Ketika didapat mata tersaji seni yang indah untuk dipandang. Rumah itu benar-benar terlihat hidup seakan yang mendisainnya menuangkan rasa ke dalam setiap pondasinya. Akan tetapi langkah kaki Aira yang menjauh membuat kedua pria itu berlari kecil menyusul.


Ketiganya masuk bersama-sama dan disambut oleh beberapa pelayan. Selain Arkha dan Arsha, Aira sendiri baru pertama kali memasuki rumahnya. Tatapan mata menelusuri setiap sudut rumah. Semua tampak rapi, apalagi banyak hiasan di depan jendela dan hiasan dinding berupa lukisan alam.


"Selamat siang, Bu. Semua sudah siap. Apa masih ada yang bisa saya bantu, Bu?" lapor sang pelayan yang bernama Lilis tetapi dipanggil Bi Lis.


Tak ingin menambah tanda tanya. Ia memilih untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu, "Tolong antarkan Tuan Arkha ke kamarku dan Arsha ke kamar lainnya. Apa semua barang sudah diantar ke kamar masing-masing?"


"Sudah, Bu. Pak Danish mengatakan sesuatu permintaan Anda." jawab Bi Lis dengan pasti membuat Aira mengangguk paham.


Sesaat menoleh kearah samping, tatapan mata menatap wajah tampan suaminya. "Arkha, dia adalah Bi Lilis dan dipanggil Bi Lis. Beliau yang mengatur semua keperluan dan menjadi kepala pelayan rumah ini hanya saja Bi Lis tidak bisa bahasa Inggris. Maka jika kalian ingin sesuatu katakan padaku atau pada Danish."


"Kalian bisa ikuti dia untuk menemukan kamar masing-masing." sambung Aira dengan penjelasan sederhana agar tidak menjadi pikiran bercabang.


Arsha yang ingin istirahat memilih ikut permintaan sang kakak ipar sedangkan Arkha justru menarik tubuh Aira hingga jatuh ke dalam pelukannya. Pelukan yang erat hingga tanpa menyisakan jarak. "Sekarang katakan padaku segalanya."


"Ayo, kita pergi ke kamar saja. Semua pertanyaanmu akan mendapatkan jawabannya di sana." ajaknya membuat Arkha melepaskan pelukan. Pria itu pasrah ketika diajak berpindah tempat ke kamar yang belum pernah ditempatinya.


Semua itu karena rumah baru saja selesai dibangun sekitar dua minggu sebelum hari pernikahan. Mengingat masa yang singkat maka Aira memutuskan untuk menikmati waktu di rumah orang tua saja tetapi meminta Danish untuk mencarikan pekerja yang bisa diandalkan agar merawat rumahnya.


Sebenarnya gadis itu ingin memberikan orang tuanya kejutan tetapi pernikahan terjadi begitu saja sehingga membuat dia menunda memberitahu kedua orang tua tentang rumah barunya. Sebelum semua semakin jauh, ia ingin Arkha tahu kehidupan sibuk yang bisa menjadi kesulitan komunikasi diantara hubungan mereka berdua.


Langkah kaki terhenti sesaat, lalu mengangkat tangan memegang knop pintu yang diputar. Kemudian didorong ke depan. Pemandangan yang pertama adalah ruangan luas dengan desain khusus menyambut keduanya. Tempat tidur ukuran king size menghadap ke jendela. Dimana di depan sana adalah balkon yang sengaja dihiasi beberapa tanaman hias.

__ADS_1


Ayunan kayu juga menjadi salah satu barang yang diwajibkan oleh Aira sebagai tempat bersantai saat di balkon. Sementara di depan tempat tidur ada sofa panjang dengan meja kaca. Tak lupa sebuah kamar mandi yang yang bersatu dengan kamar ganti.


Kamar yang juga dihiasi banyak gantungan seperti kristal. Jendela bertirai merah muda berpadu warna biru langit cerah tapi di kamar yang tidak memiliki lemari di samping tempat tidur itu semakin terlihat luas. Kamar itu memiliki seni keindahan seperti impian Aira. Seulas senyum tersungging menghiasi wajah sang pemilik kamar.


Digandengnya tangan Arkha, lalu berjalan menghampiri sofa depan kaca balkon yang setengah terbuka. Keduanya duduk bersebelahan, "My Rain, rumah ini adalah milikku. Aku sengaja membangun rumah sesuai dengan impian yang selama ini ku harapkan. Semua keinginan terwujud karena rumah ini karena semua pekerjaan yang lakukan maka rumah bisa menjadi kenyataan."


"Sejujurnya, aku ingin orang tuaku juga tinggal disini. Akan tetapi pembangunan baru selesai beberapa waktu yang lalu dan kita juga menikah. Jadi semua rencana dibatalkan tapi sekarang aku membuatmu tinggal disini bersamaku. Yah tentu semua ini karena aku tidak ingin tinggal terlalu lama di hotel. Aku harap kamu tidak keberatan karena tinggal di rumah baru yang masih terlihat asing." sambung Aira mengakhiri penjelasannya membuat Arkha termenung sesaat.


Kini Arkha memahami bahwa rumah yang indah dengan nilai seni tinggi adalah milik istrinya. Perbandingan dari rumah orang tua sang istri sangatlah jauh berbeda. Tentu itu mengejutkan, "Apa benar ini rumahmu, Aira?"


Satu pertanyaan cukup menjadi awal kepastian. Tanpa ingin menjelaskan lanjut. Aira beranjak dari tempat duduknya, gadis itu berjalan mendekati sebuah lukisan. Lalu menurunkannya hingga tampak brankas besi. Tanpa menunggu lama memasukkan password, kemudian membuka brankas hanya untuk mengambil beberapa dokumen kepemilikan bangunan yang memang atas namanya.


Dokumen diserahkan ke Arkha. Biarlah suaminya memeriksa tanpa harus mendengar kata dari bibirnya saja. Sembari menunggu kesibukan sang suami yang membaca dokumen. Aira memilih menikmati hasil kerja kerasnya yang alhamdulillah bisa menjadi kebanggaan sendiri hingga dokumen diletakkan ke atas meja.


Arkha menatap wanitanya dengan tatapan tak bisa diterjemahkan. "Boleh aku tanya sesuatu padamu, Aira?" Anggukan kepala sang istri membuatnya tidak tahu untuk bertanya hal sensitif. "Siapa kamu sebenarnya? Sebelum ini, aku tidak tahu seberapa sibuk kehidupan seorang Aira."


"Jujur saja, aku tidak pernah berpikir kamu memiliki kehidupan yang sangat sibuk karena selama ini selalu memberi waktu untuk hubungan kita dan sekarang tiba-tiba kamu mempunyai rumah. Aku tahu untuk membangun rumah semewah ini biaya tidaklah sedikit. Bagaimana kamu mewujudkan semua ini?" tanya Arkha mengakhiri curahan hatinya.


"Kamu akan tahu segalanya karena aku tidak sibuk di depanmu melainkan untuk kehidupanku. Tidak sekalipun ada niat untuk membuatmu merasa aku memiliki kesibukan yang jauh lebih sibuk darimu. Semua hal akan bisa dikontrol tanpa harus mengabaikan orang-orang yang kita sayangi.


"Tentang pekerjaan dan rumah ini, semua hanya hasil dari kerja keras. Jadi pekerjaanku insya allah cukup untuk mewujudkan semua impianku agar menjadi kenyataan. Apa masih ada pertanyaan lagi, Sayang?" tanyanya karena hari ini akan memberikan semua jawaban atas keraguan yang terlihat dari sorot mata sang suami.


"Katakan padaku, apa pekerjaanmu karena setelah semua yang kamu katakan. Pastinya pekerjaan yang diambil tak sesederhana seperti yang kamu jabarkan."


Aira mengulurkan tangan mengajak Arkha untuk pergi bersamanya. Suara langkah kaki berjalan meninggalkan kamar. Keduanya menyusuri lantai marmer dalam diam hingga sampai di sebuah ruangan kaca. Begitu dibuka tampak kantor ruang bekerja dengan ukuran luas.


Sebuah ruangan yang diisi rak buku, dan file berkas pekerjaan. Di dekat pintu masuk ada set sofa yang dilengkapi dengan meja kaca. Sementara di tengah ruangan menjorok ke belakang sebuah meja besar kayu dengan kursi kerja bersandar menambah kesan ruangan kerja menjadi pas. Di atas meja ada laptop dan beberapa file yang tertumpuk rapi.


"Ini? Ruang kerjamu 'kan?" tanyanya hanya untuk memastikan. Aira tak sungkan menunjukkan apapun yang ingin diketahuinya.


Tanpa pemaksaan Aira menjelaskan apa pekerjaan yang menjadi pusat pencarian nafkah bahkan tak ingin menyembunyikan tentang bisnis yang tengah digelutinya. Kini dihadapan seorang wanita karir, Arkha hanya bisa menyimak karena istrinya tampak jauh berbeda. Aura kepemimpinan yang jelas bisa menundukkan lawan bicara tanpa harus membuang tenaga.

__ADS_1


Seketika merasa bersalah atas semua sikap posesifnya. Bagaimana cara Aira mengatur waktu? Ia benar-benar menyesal karena selama berhubungan LDR justru lebih sering merajuk hanya karena hal sepele, sedangkan di kehidupan nyata kekasihnya harus memutar otak hanya agar semua tetap baik. Yah, sadar akan ego yang tinggi.


Dipeluknya Aira dari belakang seraya membenamkan kecupan hangat. "Maafkan atas kebiasaan dan tindakanku yang seringkali menuntut tanpa memikirkan akibatnya. Jika aku tahu kesibukan lebih dari kesibukanku, mungkin egoku bisa ditahan tetapi sungguh kamu mengajarkan arti melengkapi. Semoga aku bisa belajar untuk memahami dirimu sebagaimana kamu memahamiku."


"Tidak masalah, Rain. Kita ini memiliki kepribadian yang berbeda. Tetaplah jadi diri sendiri karena itulah kamu. Aku selalu mencintaimu tanpa syarat, My hubby Arkha Khan." balas Aira tulus membuat pelukan Arkha semakin erat dengan bisikan cinta yang menghangatkan hati keduanya.


Setelah mendapatkan semua jawaban dari pertanyaannya. Aira mengajak Arkha untuk berkeliling rumah dengan obrolan ringan penuh canda tawa. Meski sebenarnya Aira sendiri pernah datang beberapa kali tetapi hanya untuk pekerjaan dan akan selalu pulang ke rumah orang tua saat sore hari.


Keduanya berhenti di taman menikmati pemandangan segar nan alami hingga kedatangan Arsha semakin melengkapi kebersamaan mereka. Ketiga tampak asyik dengan obrolan random ditemani minuman segar dan cemilan hangat yang diantar Bi Lis.


Dimana pelayan itu juga memberitahu bahwa makan siang sudah siap dan hanya menunggu semua orang berkumpul. "Tolong panggil Danish untuk ikut makan bersama. Bilang padanya untuk meninggalkan pekerjaan dulu dan makan bersama kami."


"Baik, Bu. Saya permisi," pamit Bi Lis menundukkan pandangan, lalu pergi berlalu menjauh dari keluarga majikannya.


Aira beranjak dari tempat duduknya, "Ayo, kita makan siang bersama. Bi Lis sudah selesai memasak. Jadi kita harus makan sekarang."


Langkah kaki kembali menyusuri halaman bersambut pintu kayu tinggi yang setengah terbuka. Mereka berjalan menuju ruang makan, dimana terdapat meja kayu panjang dan cukup untuk menampung enam kursi. Sementara meja terisi dengan menu makanan lengkap ditemani minuman tiga macam.


Aira sengaja meminta Bi Lis untuk memasak khusus hari ini sebagai bentuk penyambutan keluarga baru. Ditariknya satu kursi paling utama, lalu membimbing Arkha agar duduk di kursi tersebut. "Kamu adalah seorang suami dan kepala rumah tangga. Tempatmu disini."


"Seperti keinginanmu Aira," jawab Arkha menurut, sedangkan Arsha duduk dikursi sebelah kiri. Lalu Aira duduk di sebelah kanan.


Danish yang baru saja datang langsung duduk di sebelah Arsha. Ia tahu posisinya dimana dan tidak akan melewati batasan. Setelah semua orang duduk. Aira melakukan kewajiban seorang istri dengan melayani kebutuhan suaminya terlebih dahulu. Akan tetapi Arsha dan Danish memilih untuk mengambil makanan sendiri.


Makan siang berlangsung khidmat meski sejak awal. Danish merasa agak risih karena diperhatikan oleh Arkha bahkan hingga sesi makan berakhir. Suami sang bos masih mencuri pandang ke arahnya. Ia tahu, pria itu memiliki pertanyaan sebagai sesama pria.


"Rain, berhentilah memandang Danish seperti itu. Dia tidak akan menculikku darimu." ujar Aira tanpa mengalihkan perhatiannya dari gelas yang ada ditangan kanannya. Ia juga sadar situasi menegangkan diantara tatapan dua pria asing yang ada di dekatnya.


Arkha menghela napas panjang, "Siapa dia dan kenapa berada disini bersama kita? Bukankah ini rumahmu."


Pertanyaan itu menyudutkan Danish tetapi Ia bisa apa? Aira tidak akan memberikan izin untuk menjawab karena sang bos hanya akan bertindak sesuai dengan caranya sendiri. Selain pasrah menanti kebenaran yang ada, maka akan lebih baik berpura-pura tidak mendengar apapun.

__ADS_1


__ADS_2