
"Na, bangun" terlihat sebelum adzan berkumandang dua perempuan mencoba membangunkan seseorang yang tidak lain adalah naura
"Hem," lirih naura. "Ayok bangun na" ucap mira
"Iya, bentar lagi" tetapi dengan suara yang lebih pelan. "Kamu gak lupa kan sama rencana kita semalam? Hari ini kamu harus ke masjid untuk temui ustadz fahri" ucap mira. "Iya" balas naura tanpa bangun dari posisi nyamannya
"Oke berarti kamu harus relakan semua followers Ig kamu, barangkali hp kamu sudah dihancurkan ustadz fahri sekarang" ucap je, sontak naura terbangun setelah mendengar kata followers dan hp yang hancur
"Jam berapa sekarang?" tanya naura
"Jam 04.45. Sebentar lagi adzan kita harus sholat subuh ke masjid" tutur je
"Demi followers, gue sekarang mau mandi lagian gue juga udah gerah denger ocehan kalian, minggir..." ucapnya ketus sambil membawa handuk
Untung saja antrian tidak sepanjang waktu itu, mungkin semua santriwati sudah bersiap untuk ke masjid.
....
Suara gedoran pintu terdengar dari luar. Dan kalian tau rasa kantuk naura sepertinya berhasil menguasai dirinya meskipun didalam kamar mandi.
"Mata gue kenapa sih berat amat dibuka?, malah ketiduran lagi di kamar mandi, untung ada orang dari luar yang gedor pintunya" gumam naura
Allahu Akbar Allahu Akbar... Lailaha illallahu
Suara adzan kini telah selesai berkumandang. Mira kini telah menarik naura agar segera keluar dari kamar untuk menuju masjid, sementara je kini telah pergi duluan. Saat ini mira membantu memasangkan mukenah naura sambil berjalan.
Ketika hampir sampai di masjid langkah mira menjadi pelan dan menundukkan pandangan. Sementara naura, dia terus berjalan sesekali menoleh kebelakang melihat mira yang sejak tadi menunduk.
"Ehmmm" suara deheman terdengar dari arah depan, saat naura menoleh ia melihat pak kyai sedang bersama pria tinggi tampan, berwajah putih berseri dan sangat menyejukkan, alis matanya yang tebal, matanya yang sedikit sipit dan hidung nya yang mancung menambah kharisma nya
"Assalamualaikum pak kyai, ustadz" sapa mira
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh" jawab mereka
"Mira...dan kamu naura kan? Kenapa kalian lama ke masjidnya nak? Bukankah biasanya kalian selalu mengaji subuh?" tanya pak kyai
__ADS_1
"Nggih pak kiyai... tadi kami lama membereskan kamar" ucap mira
"Ohhh gitu, ya sudah segera siap siap didalam" ujar pak kiyai
"Nggih pak kiyai, kami kedalam. Assalamualaikum... " ucap mira
Sementara naura tatapannya tetap terpukau kepada laki-laki di samping pak kiyai.
"Ada apa dengan gue, kok gue jadi candu liat wajahnya?...Ehh tunggu apa apaan sih gue, dia itu ota* mes**, ingat na lo gak boleh tertipu oleh tampangnya" sambil memukul sebelah pipi kirinya kemudian menatapi pria itu dengan tatapan sinis.
....
Setelah selesai sholat subuh mira mengajak naura dan je kearah Ustadz fahri. Saat itu kebetulan sekali ustadz fahri berada diluar lingkungan masjid dan baru selesai berbicara dengan salah seorang santriwan juga
"Assalamualaikum ustadz" salam mira
"Wa'alaikumussalam, ada yang bisa ana bantu?" tanya ustadz fahri
"Begini ustadz, maksud ana mengganggu waktu ustadz karena salah satu teman ana, Naura...ada yang mau dia bicarakan kepada ustadz" terang mira
Sudah 30 detik berlalu sementara naura hanya melihat kearah mira dengan mata dan alis yang saling bertaut dan senyum tipisnya.
"Jadi bagaimana? jika tidak ada yang ingin dibicarakan ana akan pergi" ucap ustadz fahri sambil beranjak untuk pergi
"Eh tunggu, tunggu..." hadang naura dengan kedua tangan yang memanjang
"Astaghfirullah" ucap ustadz dan tentunya diikuti oleh kedua temannya
"Eh sorry..." cengir naura. "Hmm jadi gini Ustadz boleh ya untuk hukumannya, hp gue jangan dihancuri, disimpan aja ya ustadz, nanti kalau gue butuh gue pinjam...ya ustadz?" ucapnya dengan wajah imut dan puppy eyes sedangkan Ustadz fahri dan kedua temannya seperti terpesona.
Saat ini ucapan dan ekspresi dari naura bukanlah ingin melakukan penawaran melainkan ekspresi menggoda.
"Astaghfirullah" gumam Ustadz fahri
"Ehemm...baik, akan ana pertimbangkan, jika tidak ada yang mau dibicarakan lagi ana pergi dulu... Assalamualaikum" tukas Ustadz dan berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Naura, itu tadi beneran kamu?" tanya mira tak percaya
"Hah, ya iyalah... maksud lu apa?". "Cara kamu tadi langka sekali, sampai sampai ustadz cuman jawab begitu" jelas mira tidak percaya, sedangkan wajah naura tampak bingung menyerap kalimat mira
"Maksudnya mira, jarang sekali ustadz cuman jawab gitu, biasanya akan banyak kalimat interogasi bahkan sampai santriwati ataupun santriwan lelah dan merelakan hp nya dihancurkan" jelas je
"Oh gitu, tapi bagus kan?" tanya naura polos, sementara mira dan je hanya tersenyum heran
POV ustadz fahri :
Saat ini kami tepat berada didepan masjid. Entah sudah berapa santriwati mengucapkan salam kepada kami. Ya, memang saat ini kami berdiri diujung pintu depan. Sedangkan dibelakang kami tepatnya arah samping tempat para santriwan untuk masuk kedalam masjid.
"Jadi gini fahri, Abi harap kamu mengawasi..... " dengan sangat rinci Abi menjelaskannya kepadaku. Dan tidak mungkin begitu detail aku menggoreskan nya disini.
"Nggih bi, akan fahri usahakan.. InsyaAllah fahri bisa merubahnya" balasku
"Abi percaya sama kamu nak, kamu anak lelaki Abi yang paling besar. Dan kamu tahu sendiri kalau adikmu fajar sebaya dengan nya, akan sangat sulit untuk mengubahnya.
"Orang tuanya menitipkan dia kepada kita nak, jadi kita harus membantu merubah adabnya" tambah abi
"Na'am bi, semoga dia segera diberi hidayah untuk berubah" ujar ku
"Aamiin"
Samar Samar aku melihat di seberang sana 2 orang perempuan kearah aku dan abi. Setelah hampir terlihat jelas langkah kaki seorang perempuan itu diperlambat sedangkan satu perempuan lagi menoleh kearah belakang tetapi tetap berjalan kearah kami. Dengan berjalan mundur, dia hampir saja menabrak ku dari belakang jikalau Abi tidak berdehem untuk menghentikan langkahnya.
Setelah mereka berlalu aku melihat perempuan itu terus menatap ku. Aku pun mengalihkan pandangan karena aku tau semua zina itu berawal dari mata. Saat ku lihat kembali kearahnya, ternyata wanita itu tetap melihatku. Kemudian memukul pipi kirinya lanjut dengan tatapannya menjadi sangar sambil memainkan secara bersamaan jari telunjuk dan jari tengah kearah matanya kemudian ke arahku. Kalau aku tidak salah... Itu seperti pertanda mengancam ataupun mengawasi. Aku heran melihat tingkah perempuan itu....
Tak hanya itu kejadian paling mengejutkan saat dia berbicara kepada ku untuk penawaran hukumannya, tapi aku rasa itu bukanlah penawaran melainkan sebuah paksaan dengan teknik godaan.
"Astaghfirullah, ampuni hamba yang tadi sempat terpesona"
Sampai sini aku paham, akan cukup sulit mengubah karakter perempuan itu. Karena karakternya juga sulit untuk ditebak. Tapi Wallahu a'lam bish-shawab (Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya)
Kalau boleh kuberikan satu julukan untuknya ....
__ADS_1
kamu, "Perempuan Yang Aneh"