Memikat Hati Ustadz Dinginku

Memikat Hati Ustadz Dinginku
BAB 63. Seharian Bersamanya


__ADS_3

....


"Dih, suami macam apa bukannya ditunggu" Gumam Naura dibelakang Ustadz Fahri karena saat ini mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal


"Ustadz.." Panggil gadis itu dengan suara lembutnya sehingga pria didepannya seketika berhenti melangkah. Gadis itu segera mensejajarkan tubuhnya disamping pria itu


"Ustadz, kita harus jalan beriringan, Ustadz lihat sekeliling kita" Ujar gadis itu


Dimana terlihat banyak sepasang kekasih disekitar mereka


"Dan bandingkan dengan kita?" Tambah gadis itu dengan tersenyum


"Maksud kamu?" Tanya Ustadz yang membuat senyuman gadis itu seketika luntur


"Dihh ampun deh ni kutub, kapan mencairnya sih" Batin Naura kesal bercampur sedih


....


"Kita duduk dibawah pohon itu saja" Potong gadis itu tak ingin melanjutkan


"Ustadz, air kelapa itu segar ya Ustadz" Pernyataan Naura sambil menunjuk kelapa muda yang dibelah oleh penjual diujung sana setelah netranya kembali ke pria itu, gadis itu menjadi kesal kembali.


Bagaimana tidak kesal? hanya respon anggukan kecil yang diberi pria itu


"Ck. Begini banget nasib" Lirih Naura


"Kamu mau?" Tanya Ustadz


"Gak usah Ustadz, saya cuma haus aja kok, gak butuh air kelapa" Sahut Naura


"Jadi kamu mau apa? Atau mau jus?" Tanya Ustadz Fahri sudah mulai perhatian

__ADS_1


"Haduh, lama. Minta uangnya aja Ustadz, Saya beli sendiri aja" Tutur Naura karena jika terus terusan ditanya membuat kesabarannya yang setipis tissue pasti akan habis tersobek menjadi lebih kecil


Setelah pria itu memberikan uang dia segera menuju tempat jualan kelapa muda itu


"Nah ini untuk Ustadz, dan ini kembaliannya" Terang Naura langsung meminum air kelapa muda itu


"Tadi kamu bilang gak mau air kelapa? Kenapa kamu beli?" Tanya Ustadz Fahri membuat gadis itu membelalakkan matanya


"Terlanjur haus Ustadz" Ucap Naura


"Sampai kapan dia begini?" Batin Naura tersenyum kecut


.


.


"Ustadz terima kasih untuk hari ini" Ucap Naura di malam harinya saat mereka hendak tidur


"Saya yang harusnya berterima kasih sama kamu" Balas Ustadz


"Berterima kasih sama Naura? Untuk apa?" Tanya gadis itu


"Karena sudah mau mengajak saya kebanyak tempat indah disini" Ucap Ustadz Fahri


"Oh itu, karena saya sudah beberapa kali kesini Ustadz, sama papa dan mama. Makanya Naura paham betul tempat yang bagus disekitar sini" Jelas Naura


....


"Ini untuk kamu" Ustadz Fahri menyodorkan sebuah kotak handphone kepada gadisnya


"Handphone? Untuk apa Ustadz? Bukannya Naura tidak boleh menggunakan handphone sampai tamat nanti?" Tanya Naura bingung

__ADS_1


"Ini hanya handphone mode lama, hanya bisa untuk menelpon dan mengirim pesan biasa" Terang Ustadz


"Ck. Pantas saja. Gak mungkin dia belikan handphone baru dengan cuma-cuma" Batin Naura


"Hmm, gak usah Ustadz, Naura sudah terbiasa sekarang gak pakai begituan" Jawab Naura dengan senyuman senatural mungkin padahal dia kesal dengan pemikiran pria itu


"Saya memberikan handphone ini supaya kamu bisa menghubungi saya jika memerlukan bantuan"


"Saya takut disaat kamu dalam bahaya, kamu tidak bisa mengabari saya" Terang Ustadz Fahri


Deg


Deg


Deg


"Ini beneran? Dia khawatir sama gue?" Batin Naura ingin berteriak


"Jadi kamu terima ya" Pinta Ustadz Fahri menyadarkan gadis itu


"Ehh iya Ustadz. Terima kasih" Balas Naura


"Dan satu lagi, di handphone itu hanya ada nomor saya supaya kamu kalau perlu bantuan tidak susah mencari nomor lain" Jelas Ustadz


"Ck. Padahal ini trik nya supaya gue hanya ngasih kabar ke dia aja" Batin Naura yakin dengan tersenyum geli


"Aduh, apa-apaan sih gue, kenapa gue terus mikirin yang aneh-aneh dari tadi?" Batin dirinya menyadarkan pikirannya.


Belum sempat dia berpikir jernih, lagi-lagi dia dikejutkan dengan kontak yang tertulis dilayar handphone jadul itu.


"Apa ini? Suamiku?" Batin Naura sembari mengukir senyuman di bibirnya

__ADS_1


"Hmm itu, kamu bisa ubah kontak nama saya senyaman nya kamu" Terang Ustadz Fahri sehingga kini kondisi keduanya menjadi canggung


__ADS_2