
"Hah apa umi? Diantarkan sama Dia?" sambil menunjuk kearah Ustadz fahri
"Benar nak, akan lebih aman" jawab umi
"Hah? Tapi kan umi, bukankah seorang lelaki dan perempuan yang bukan mahram dilarang berduaan?" tanya naura.
"Huh.. untung gue ingat kata-kata si kutub ini, kan lumayan jadi alasan gue" batin naura
"Tenang saja kalian gak berdua kok, karena akan ada yang nemani kalian selama di perjalanan" terang umi lalu memanggil seseorang.
...
"Sayang, ayo kesini" datang lah kearah mereka semua anak laki laki kecil yang tidak asing bagi naura
"Arzam?.." lirih pelan naura
"Jika anak ini ikut, kemungkinan besar istri ustadz fahri akan ikut dong?" Pikir gadis itu
"Dia akan ikut bersama kalian" ucap umi dan diangguki oleh anak itu, sementara naura kini bersuara kembali.
"T-tapi umii.. bagaimana dengan..." Ucapan naura berhenti saat umi langsung berbicara
"Tapi apalagi sayang? Semakin lama kalian berangkat, kalian akan semakin larut pulang nya... kasihan arzam, Yakan zam?" Ucap umi
"Iya, tapi tak apa alzam mau jalan-jalan sama aunty antik" jelas anak itu dengan logat bocah nya.
Akhirnya naura mengikuti perintah umi dan memilih masuk duluan ke mobil itu setelah berpamitan dengan umi.
.
__ADS_1
.
Saat diperjalanan tidak ada yang memulai percakapan, keduanya hanya terdiam, kecuali arzam yang sejak tadi berceloteh dengan tangan terus menunjuk setiap yang dia lewati.
"Aunty.. aunty liat ada kelbau, kelbau nya cepelti Abi...Diam saja dali tadi" ucap anak itu sambil tertawa menggemaskan
"Hahah kamu benar, Abi kamu memang seperti kerbau" sahut naura sambil tertawa puas
"Kalau saya kerbau berarti kamu kerbau betina" jawab singkat ustadz fahri dan jangan lupakan ekspresi datar nya.
"Ck..gak lucu, gak asik ngobrol sama lu, enakan sama arzam" balas naura kesal, karena dia merasa ustadz fahri tidak dapat masuk ke dalam guyonan mereka.
....
Setelah mendengar ucapan dari gadis itu ustadz fahri tampak berpikir, sementara naura dan arzam kini asik berbicara sambil melihat ke arah luar jendela. Sesekali naura mencubit pipi anak itu karena pipi gembul milik arzam mudah di jangkaunya. Saat ini anak itu duduk dipangkuan Naura.
"Arzam tau gak, dibalik pelangi itu ada banyak bidadari yang lagi mandi" tutur naura
"Bidadali mandi? Emangna bidadali mandi ya aunty?" Pertanyaan anak itu
"Ya mandi dong, Kalau gak mandi dia gak cantik lagi... terus bau" jawab naura sambil mengendus ke arah arzam.
"Arzam belum mandi ya?" sambung naura
"Syudah, alzam syudah mandi...Abi yang mandikan, biasanya umi" jawab arzam dan diangguki oleh gadis itu
"Tapi aunty, bidadali itu kan telus tantik, tinggal di syulga aunty telus napain dia mandi di balik pelangi itu?" tanya anak itu dengan celotehan khas anak kecil
Tetapi sayangnya naura tidak dapat menjawab pertanyaan itu, jadi dia kini hanya diam.
__ADS_1
"Khem... arzam, maksud Tante Naura bidadari yang di cerita dongeng, bukan bidadari yang ada dalam ayat Alquran" jelas Ustadz fahri, dia sengaja menjawabnya karena tahu gadis itu tampak berpikir
"Ohhh...gitu, jadi umi telmasuk bidadali syulga kan Abi? Soalnya umi alzam tantik kayak bidadali" ujar arzam dan dibalas senyuman oleh ustadz fahri.
Sedangkan naura yang mendengar itu terlihat kesal. "Bisa-bisa nya dua umat ini memuji Perempuan lain yang tidak ada disini, sedang kan ada gue disini... seperti apa sih cantiknya umi bocah ini" kesal naura dalam batinnya
.
.
Saat ini naura bersama ustadz fahri dan arzam telah sampai di rumah Naura.
"Dengar ya lu tunggu disini aja, gue mau masuk dulu" ujar naura meninggalkan dua pria itu diruang tamu.
"Papa..." sapa naura ke arah kamar papanya, kebetulan saat itu dokter pribadi keluarga naura sedang memeriksa pak Satyo
"Ingat pesan saya tadi pak, harus makan-makanan yang sehat, banyak istirahat dan ingat...jangan terlalu banyak pikiran karena bisa membuat penyakit anda kambuh" tutur dokter itu
"Baiklah saya permisi dulu...Non naura saya permisi dulu" ucap dokter itu saat melihat kearah gadis yang baru saja sampai
"Terima kasih banyak dok" balas naura
....
"Pa..papa sakit apa sih? Kenapa tiba-tiba papa seperti ini" beberapa pertanyaan dilontarkan gadis itu yang kini melihat papanya terbaring lemah di atas kasur, berbeda dengan pak Satyo yang hanya diam sejak tadi.
"Papa masih marah ya sama naura atas kejadian waktu itu?" tanya gadis itu kembali dan tetap saja tidak mendapatkan jawaban
"Ya udah apa yang harus naura lakukan supaya papa maafin Naura, dan juga papa cepat sembuh" dengan suara tercekat menahan tangis. Sejak tadi mata gadis itu telah berbinar karena pak Satyo sama sekali enggan berbicara kepadanya.
__ADS_1